The Broken Ring

The Broken Ring
Pengakuan Tak Terduga


__ADS_3

Larisa mengikuti langkah Zayn memasuki kediaman keluarga Zamir Harkam, sosok yang kini tengah menunggu mereka berdua di dalam. Perasaannya kembali gelisah, meski sebelumnya Zayn telah meyakinkan jika tak akan ada hal buruk yang terjadi.


"Silakan. Bapak sudah menunggu di dalam," ujar seorang pelayan sambil membukakan pintu sebuah ruangan yang tampaknya adalah ruang kerja Zamir.


Panggilan 'bapak' adalah panggilan kebesaran untuk ayah mertua Larisa itu. Tentu sebagai tokoh publik yang berkuasa, dia mesti menampilkan kesan bersahaja pada orang lain.


Zayn menggenggam jemari Larisa yang terasa dingin karena tegang. Ditatapnya sejenak istrinya itu, seolah mengisyaratkan dengan sorot mata jika tak ada yang perlu Larisa khawatirkan. Setelah itu, barulah Zayn melangkah masuk. Diiringi oleh Larisa dari belakang.


Zamir duduk di sebuah kursi yang tampak seperti singgasananya. Rupanya dia tak sendirian menunggu kedatangan Larisa dan Zayn, tapi dengan kedua kakak lelaki Zayn. Izak dan Haydan, dua orang yang juga punya jabatan penting di pemerintahan.


"Duduk," titah Zamir pada Larisa dan Zayn. Suaranya yang berat dan dalam, kali ini terdengar jauh lebih menyeramkan di telinga Larisa.


Zayn duduk di kursi yang masih kosong. Disusul oleh Larisa. Situasi terasa sangat menegangkan. Entah kenapa, Larisa merasa jika saat ini dirinya sedang menjadi terdakwa di ruang persidangan.


"Jelaskan padaku, Zayn, apa yang sedang kamu dan Larisa lakukan?" Zamir bertanya tanpa basa-basi.


"Maaf sebelumnya, tapi aku tidak mengerti dengan apa yang Papa maksud." Zayn menyahut dengan santai dan tanpa beban.


"Zayn!" Suara Zamir naik satu oktaf.


"Apa saat ini Papa sedang ingin tahu tentang Zidan?" tanya Zayn masih dengan gaya santainya. Menolak terintimidasi.


Tampak Zamir menggeram. Sudah pasti dia merasa kesal, tapi mengatup mulutnya demi untuk mendengarkan penjelasan dari putra bungsunya itu.


"Aku dan Risa mengadopsinya karena saat melihatnya di panti asuhan, kami berdua jatuh cinta padanya. Dia menatap kami seolah hendak mengatakan jika dia ingin menjadi anak kami," ujar Zayn memberikan alibi. Terdengar asal saja.


"Omong kosong macam apa itu, Zayn? Kalian bahkan baru menikah sebulan, tapi sudah buru-buru mengadopsi anak. Apa kalian tak bisa punya anak sendiri?" Zamir memberikan tembakan, yang menembus tepat di jantung Larisa.


Dada Larisa bergemuruh hebat mendengar itu. Tangannya juga terasa menjadi agak bergetar. Zayn yang merasakannya semakin mengeratkan genggamannya pada jemari istrinya itu, seakan ingin memberikan kekuatan.


Mata Zayn terlihat menajam dan raut wajahnya pun berubah menjadi muram. Hal itu membuat Zamir dan kedua kakak Zayn berpikir jika ada yang tidak beres pada pasangan pengantin baru itu.

__ADS_1


"Ada apa dengan kalian berdua? Sepertinya apa yang dikatakan oleh Papa benar?" Izak, kakak tertua Zayn ikut membuka mulut. "Larisa tidak bisa memberimu anak, Zayn?"


Zayn beralih menatap tajam ke arah kakaknya itu. Izak adalah anak kebanggaan sekaligus kesayangan Zamir. Tentu saja sifat mereka berdua hampir tak ada beda. Sejak kecil, Zayn memang tak terlalu akur dengan kakaknya yang satu ini. Berbeda dengan Haydan yang lebih suka bersikap cuek dan tak terlalu peduli dengan urusan orang lain, sehingga membuat Zayn lebih merasa nyaman.


"Pa, apa sungguh aku mesti memberitahu yang sebenarnya di depan Kak Izak dan Kak Haydan?" Zayn kemudian bertanya.


Tubuh Larisa seketika memegang mendengar apa yang Zayn katakan. Memberi tahu semuanya? Apa maksudnya Zayn akan mengungkap fakta jika Larisa tak memiliki rahim? Tapi sebelumnya dia bilang tidak akan mengatakan itu pada siapapun selain mamanya, kan?


"Memangnya hal memalukan apa yang ingin kamu beritahukan, sampai kakak-kakakmu tidak boleh mendengar?" Zamir kembali bertanya.


Zayn tertegun sejenak melihat tatapan sang ayah padanya. Lelaki paruh baya itu terlihat seperti hendak mengulitinya hidup-hidup. Selama ini, Zayn memang anak yang paling tidak patuh pada Zamir. Dia juga satu-satunya yang berani menentang keinginan Zamir di rumah itu. Zayn pernah menolak mentah-mentah saat akan dicalonkan sebagai kepala daerah, yang jelas saja kemenangannya sudah dipastikan sembilan puluh persen. Meski marah, Zamir tak bisa berbuat banyak karena Zayn mampu bersinar dengan caranya sendiri. Berbeda dengan kedua anak lelakinya yang lain yang masih sangat bergantung pada nama besarnya.


"Sudahlah. Kalau begitu, tampaknya aku mesti pergi dulu." Haydan yang sejak tadi hanya diam, akhirnya bersuara juga. Dia bangkit, berniat hendak pergi.


"Siapa yang menyuruhmu pergi, Haydan? Duduk!" seru Zamir.


Haydan mematung sejenak. Dia pun tak ada pilihan selain kembali duduk seperti yang dikatakan oleh Zamir. Meski seringkali merasa kesal, tapi dia tak mampu melawan kata-kata Zamir karena masih membutuhkan kekuatan ayahnya itu saat pemilu mendatang.


Zayn tak langsung menjawab. Dia menoleh pada Larisa sejenak, lalu melepaskan genggaman tangannya dari jemari sang istri. Dia tersenyum tipis dengan sorot mata lembut, seakan ingin menenangkan.


"Baiklah, kalau memang mau Papa begini." Zayn pun bangkit sembari mengeluarkan sesuatu dari balik jas yang dia kenakan. Sebuah amplop yang sebelumnya diambil dari lemari di kamarnya.


Sembari menatap ke arah Zamir lekat, Zayn meletakkan amplop tersebut di atas meja kerja sang papa.


"Apa ini?" tanya Zamir.


"Papa bisa baca isinya," sahut Zayn.


Zamir meraih amplop tersebut dengan mata yang masih tertuju pada Zayn. Dia lalu mengeluarkan isinya, lalu membacanya dengan enggan. Namun, sejurus kemudian kening Zamir terlihat mengerut.


"Apa maksudnya ini?" tanya Zamir sambil menunjukkan isi kertas tersebut.

__ADS_1


"Itu hasil pemeriksaan kesehatan reproduksi milikku, Pa. Tadinya aku ingin menunjukkan itu hanya pada Papa saja, tapi Papa sepertinya ingin supaya Kak Izak dan Kak Haydan tahu juga." Zayn menyahut.


Larisa sendiri tampak sedikit bingung, seperti halnya Izak dan Haydan.


"Setelah menikah, aku dan Risa ingin cepat-cepat memiliki anak dan berniat melakukan program kehamilan segera. Makanya, kami sama-sama memeriksakan diri. Tapi ternyata ada masalah." Zayn berujar.


"Kamu infertil?" Zamir terlihat tak percaya.


Zayn terlihat menghela napas, membuat ekspresi wajahnya saat ini terlihat meyakinkan.


"Benar. Setelah memeriksakan diri, dokter mengatakan kalau ada beberapa masalah serius pada organ reproduksiku. Aku tidak memungkinkan membuat istriku hamil. Dan dokter bilang, kondisiku tidak bisa diatasi dengan obat-obatan ataupun tindakan medis lainnya. Bahkan untuk melakukan program bayi tabung pun akan sangat sulit," ujar Zayn.


Tentu saja semua orang yang mendengar pengakuan Zayn terkejut. Bahkan Larisa pun sama. Hanya saja, Larisa memilih untuk menunduk agar ekspresi wajahnya tak terlihat oleh orang lain. Dia sungguh tak menyangka Zayn akan mengatakan kebohongan sebesar ini untuk melindunginya.


"Situasi ini sangat sulit untuk Risa. Dia ingin punya anak, sedangkan aku tidak bisa membuat dia punya anak. Makanya, kami memutuskan untuk mengadopsi Zidan," tambah Zayn lagi.


Hening. Tak terdengar satu orang berbicara.


"Risa bisa saja langsung meninggalkanku setelah mengetahui kekuranganku, Pa. Tapi dia tidak melakukannya. Dia menerima keadaanku. Kenapa aku mengadopsi Zidan, itu karena istriku ini sangat ingin memiliki anak, tapi aku tidak bisa memberinya keturunan. Apa sekarang itu masalah untuk Papa? Atau Papa ingin Risa pergi meninggalkanku dan mencari lelaki lain yang bisa memberinya anak?" Zayn bertanya pada Zamir dengan agak memelas, namun tajam.


Mata Zamir membeliak ke arah Zayn. Jelas dia tak terima mendengar tudingan putra bungsunya itu, tapi tak ada yang bisa dia katakan.


"Jadi, aku mohon, Pa. Jangan usik kami dengan hal-hal seperti ini lagi. Situasi yang kami hadapi sudah cukup menguji kesabaran Risa. Aku tidak mau Risa sampai menyerah menjadi istriku," punya Zayn dengan nada yang melemah. Terdengar seperti sedang memohon.


"Kak Haydan, Kak Izak." Kali ini, Zayn beralih pada kedua kakaknya juga. "Saat istri kalian bertemu dengan Risa beberapa kali, aku tak sengaja mendengar mereka sering sekali bertanya apa Risa sudah hamil. Bukan hanya sekali, tapi pertanyaan itu diulang terus-menerus. Aku harap, hal itu tidak terjadi lagi, Kak. Karena saat mereka terus bertanya seperti itu pada Risa, itu artinya mereka sedang menghinaku."


Kali ini Izak dan Haydan yang dibuat terkejut. Tapi seperti halnya Zamir, kedua kakak lelaki Zayn itu juga tak mampu berkata-kata.


"Sepertinya sekarang semuanya sudah jelas. Tidak ada lagi yang perlu dibicarakan. Kalau begitu, aku dan Risa permisi dulu. Zidan menunggu kami di rumah," ujar Zayn kemudian.


Zayn lalu meraih tangan Larisa dan mengajak istrinya itu untuk pergi. Pasangan itu pun meninggalkan ruang kerja Zamir, menyisakan keheningan tak biasa bagi Zamir dan kedua anak lelakinya yang lain.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2