The Broken Ring

The Broken Ring
Rahasia Zayn


__ADS_3

"Apa yang mau kamu bicarakan, Zayn?" Larisa bertanya memecah kebisuan. Saat ini, mereka telah duduk di sudut sebuah kafe, tak terlalu jauh dari kediaman keluarga Baskara.


Zayn menoleh ke arah Larisa sejenak. Ada banyak hal yang sepertinya hendak disampaikan oleh lelaki itu, tapi tertahan entah karena apa.


"Jika kamu ingin menarik kembali kata-katamu yang sebelumnya hendak melamarku, tidak perlu repot-repot datang menemuiku seperti ini. Kamu bisa menelepon. Atau kirim pesan saja cukup," ujar Larisa lagi, berusaha untuk terlihat baik-baik saja.


"Bukan begitu ... Aku benar-benar minta maaf dengan reaksiku tempo hari." Zayn akhirnya mengeluarkan suaranya.


"Tidak apa-apa, Zayn. Lagipula, kamu bukan orang pertama yang bereaksi seperti itu setelah tahu bagaimana aku yang sebenarnya," sahut Larisa.


"Tidak, Risa. Aku sungguh tidak bermaksud seperti itu."


"Zayn." Larisa menatap Zayn dengan raut wajah memohon, seolah meminta agar lelaki itu tidak mengatakan apapun lagi. Dia takut akan semakin terluka jika mendengar Zayn berusaha untuk mencari-cari alasan.


"Risa, aku memang terkejut mendengar pengakuanmu tempo hari, tapi yang membuat aku tidak tahu bagaimana mesti bersikap saat itu, bukan kebenaran atas dirimu, melainkan keberanianmu mengatakan itu padaku," ujar Zayn.


Larisa sedikit mengerutkan kening.


"Aku tidak tahu apa yang sebenarnya ingin katakan," ujarnya kemudian.


"Bukan hanya kamu, Risa. Aku juga ...." Zayn menghela napas sejenak. "Aku juga sebenarnya punya sisi kelam."


"Ya?" Sekali lagi Larisa mengerutkan keningnya tak mengerti.


"Aku juga punya hal buruk yang berusaha aku sembunyikan dari semua orang, Risa. Bahkan padamu, perempuan yang ingin kujadikan teman hidup, aku juga tidak berniat memberitahukannya. Aku pikir, lebih baik untuk terlihat bermartabat di hadapanmu. Kalau aku jujur, aku takut kamu tidak akan mau memberikan aku kesempatan." Sekali lagi Zayn menghela napas.


"Aku tidak menyangka, kamu justru dengan berani menceitakan sejujurnya tentang keadaanmu," tambah Zayn lagi.

__ADS_1


"Aku memang harus mengatakannya sejak awal, karena jika kita sungguhan menikah, hal itu juga akan terbongkar. Aku tidak ingin membuatmu kecewa setelah terlanjur ada ikatan. Lebih baik kamu tahu sebelumnya." Larisa menyahut.


"Hal yang berusaha kusembunyikan juga lambat laun akan ketahuan jika kita menikah, tapi aku tetap tak memiliki keinginan untuk memberitahumu. Setidaknya sampai aku menikahimu. Itulah yang aku pikirkan sebelumnya. Tapi kejujuranmu kemarin benar-benar telah menamparku dengan keras. Itulah kenapa aku sampai tidak tahu harus bereaksi seperti apa."


Larisa terdiam sejenak, berusaha mencerna apa yang Zayn katakan padanya.


"Sebenarnya rahasia apa yang sembunyikan?" tanya Larisa kemudian.


Zayn tak langsung menjawab. Dia menatap Larisa sejenak, lalu membuat pandangan ke arah lain sembari menghela napas panjang sekali lagi.


"Aku ... punya seorang anak," ujar Zayn dengan agak tertahan.


Untuk ke sekian kalinya Larisa menunjukkan ekspresi tak mengerti.


"Maksudmu, kamu sudah pernah menikah sebelumnya?" Larisa mengoreksi.


"Tidak." Zayn menggeleng. "Anak yang lahir tanpa ikatan pernikahan ...."


"One night stand, kamu pasti pernah dengar istilah itu, kan?" Zayn memulai ceritanya dengan ekspresi yang sulit dijelaskan.


"Aku menghabiskan malam dengan seorang gadis tanpa sengaja. Kami sama-sama tidak sadar dan tahu-tahu terbangun dalam keadaan yang ... kamu tahu sendiri." Zayn tersenyum kecut sembari menghela untuk ke sekian kalinya.


Larisa diam dan mendengarkan, tak menyela sedikit pun.


"Selang sebulan kemudian, gadis itu datang dan mengatakan jika dia hamil anakku. Tentu saja aku tidak percaya karena setelah kuselidiki, gadis itu bukan perempuan baik-baik. Sudah banyak yang sudah menjadi korban penipuannya. Tapi ternyata dia memang sungguhan hamil. Dia juga bersikeras kalau aku adalah ayah dari anak yang dikandungnya itu. Aku masih tetap tidak percaya begitu saja, jadi aku melakukan tes DNA pada janinnya setelah berumur lima belas minggu. Dan ternyata, janin itu memang anakku ...."


Zayn mengatup mulutnya sejenak, sedangkan Larisa masih menyimak sembari menatap ke arah Zayn dengan perasaan yang rumit.

__ADS_1


"Kamu tahu yang aku rasakan saat itu, Risa? Aku sangat bingung. Aku bahkan tidak mengenalnya, tapi dia terus menuntut supaya aku segera menikahinya. Aku merasa jika dia memang sengaja menjebakku. Gadis itu telah merencanakan semuanya. Aku menolak masuk ke dalam jebakannya, tapi di sisi lain aku juga tidak bisa lepas tanggung jawab karena bagaimanapun anak yang dikandungnya adalah darah dagingku. Jadi aku menyembunyikan gadis itu sambil berpikir apa yang harus aku lakukan."


"Lalu kamu tetap tidak menikahinya sampai akhir?" Larisa akhirnya bertanya setelah sejak tadi terdiam.


Zayn menggeleng sembari menundukkan pandangannya.


"Aku terlalu berprasangka buruk pada gadis itu, jadi yang aku pikirkan saat itu hanya bagaimana caranya agar aku bisa lepas darinya. Kamu tahu bagaimana keluargaku begitu menunjung tinggi nama baik. Jika keberadaan gadis itu serta keterlibatannya denganku itu sampai diketahui oleh orang luar, itu akan menjadi skandal yang akan menghancurkan citra keluargaku. Hanya ibuku satu-satunya keluargaku yang tahu. Beliau meminta agar aku bisa mencari jalan keluar tanpa diketahui oleh keluarga yang lain, terutama ayahku," sahut Zayn.


"Jadi gadis itu memang benar-benar sengaja menjebakmu?" tanya Larisa lagi.


Sekali lagi Zayn menggeleng. Kali ini ekspresi wajahnya berubah menjadi sangat mendung.


"Semua yang terjadi murni sebuah kecelakaan. Tapi sayangnya, aku mengetahui semua itu saat semuanya sudah terlambat. Gadis itu meninggal saat melahirkan anakku. Dia mengalami pendarahan hebat dan ....." Zayn tak bisa melanjutkan kata-katanya. Dia mengusap wajahnya dengan kasar. Ekspresi menyesal dan merasa bersalah jelas terlihat di wajahnya itu.


Kali ini Larisa yang menghela napasnya. Sungguh tak disangka Zayn menyimpan sebuah rahasia begitu menyesakkan seperti ini.


"Dan yang semakin membuat aku miris, ternyata selama ini gadis itu hanya menjadi pion orang lain. Dia dimanfaatkan oleh orang yang merawatnya sejak kecil. Dia melakukan penipuan sebelumnya bukan atas kemauannya sendiri, tapi karena tekanan dari orang lain." Zayn kembali menambahkan.


"Lalu anak yang dia lahirkan?" Sekali lagi Larisa bertanya.


"Aku menitipkannya di sebuah panti asuhan," jawab Zayn.


Mata Larisa sontak membeliak.


"Aku tidak punya pilihan. Hanya itulah jalan keluar yang bisa aku pikirkan. Aku menitipkannya di panti asuhan itu karena kenal baik dengan pengurusnya. Aku memberikan donasi yang tidak sedikit setiap bulannya pada panti asuhan itu dengan catatan, anakku tidak boleh kekurangan apapun dan dia tidak boleh diadopsi oleh siapapun, karena suatu hari nanti, aku sendiri yang akan mengadopsinya. Itulah cara yang terpikirkan di kepalaku agar bisa membawanya secara legal tanpa dicurigai oleh siapapun." Zayn bergumam dengan tatapan yang mengarah lurus ke depan.


"Risa," panggil lelaki itu kemudian sembari menoleh ke arah Larisa.

__ADS_1


"Sejak awal, aku menipumu dengan tidak berniat menceritakan padamu tentang keberadaan anakku. Sekarang kamu tahu, aku bahkan jauh lebih buruk. Meski aku tidak melakukan semuanya dengan sengaja, tapi aku tidak punya keberanian untuk jujur padamu, padahal aku ingin menjadikanmu sebagai teman hidup. Aku tahu, Risa, aku sungguh bukan lelaki yang layak. Aku pengecut, tapi setiap harinya menjalani hidup berlagak seperti orang yang paling berani. Lalu apakah kamu masih mau mempertimbangkan lelaki pengecut ini?"


Bersambung ....


__ADS_2