
Belum pernah selama ini Erick menyaksikan kemarahan Riani, apalagi terhadap dirinya. Kesalahannya memang telah benar-benar fatal, sehingga wajar saja jika perempuan paruh baya itu menjadi amat sangat murka padanya. Setelah memberikan tamparan dua kali padanya, Riani juga melontarkan kalimat-kalimat makian yang tajam dan tak terbayangkan.
Erick hanya bisa diam. Itu karena dirinya tak memiliki hak sedikit pun untuk menyangkal. Semua yang dikatakan oleh Riani memang benar adanya. Lagipula, mau sebanyak apapun Riani memberikan tamparan dan makian terhadapnya, hal itu masih tak akan sebanding dengan kesalahan fatal yang telah Erick lakukan.
"Setelah Lita, sekarang Risa juga yang harus menderita karenamu, Erick. Memangnya apa kesalahanku padamu sampai kamu harus menyakiti kedua putriku?"
Pertanyaan terakhir masih begitu membekas di kepala Erick, membuatnya mematung lama meskipun setelah Riani berlalu dari hadapannya. Riani benar, dirinya memang lelaki yang brengsek. Bagaimana bisa dia menghancurkan kehidupan dua kakak-beradik sekaligus. Dua perempuan yang sama-sama pernah mencintainya bahkan sampai rela memberikan apa saja.
Rasa bersalah dan penyesalan mulai menyusup memenuhi setiap sudut hati Erick, tapi tentu saja itu tak ada gunanya. Mau sebanyak apapun dirinya meminta maaf, semuanya sudah terlanjur hancur. Entah apa yang harus dia lakukan untuk menebus kesalahannya, baik pada Lalita maupun Larisa. Sepertinya memang tidak ada karena kesalahannya memang sudah terlalu besar.
Sikap dingin Riani terhadap Erick masih terus bertahan, meski Erick tetap berusaha untuk mengajak bicara perempuan paruh baya itu. Bahkan saat Larisa masuk ke dalam ruang operasi, Riani masih tetap dengan ekspresi bekunya. Dia dan Erick duduk di ruang tunggu operasi dengan atmosfer yang sangat tak mengenakkan.
"Risa akan baik-baik saja, Ma. Operasinya pasti akan berjalan lancar," ujar Erick kemudian memecah keheningan. Setelah sekian lama diam, dia memberanikan diri memberikan kata-kata penyemangat untuk Riani. Erick tahu, saat ini Riani sedang menunggu dengan perasaan cemas, sama seperti dirinya.
"Bahkan jika setelah ini Risa kembali sehat seperti sedia kala, dia tetap akan menjadi gadis yang tak memiliki rahim," sahut Riani tanpa menoleh. Nada suaranya masih terdengar tajam seperti sebelumnya.
Erick terdiam. Bahkan tanpa Riani katakan pun dia sangat tahu dengan kenyataan itu.
"Kamu tahu nasib dari seorang gadis yang tidak memiliki rahim, Erick? Dia tidak memiliki masa depan. Tidak akan ada lelaki yang sudi menikahinya. Tidak akan ada lelaki yang mau mencintainya. Dia tidak bisa membangun keluarga dan selamanya tidak bisa menjadi seorang ibu ...," tambah Riani lagi dengan tak kalah tajam. Namun, kali ini suaranya terdengar agak bergetar.
Erick menundukkan kepalanya dengan mata yang mengembun. Kedua tangannya tampak saling tertautan dan mencengkram satu sama lain. Berjuta emosi kini memenuhi hati lelaki itu, tapi rasa bersalah dan penyesalanlah yang paling besar. Dulu, dia begitu mengagungkan rasa cintanya pada Larisa, bahkan sampai mengabaikan Lalita yang saat itu menjadi istrinya. Tapi justru rasa cinta itu yang membuat dirinya menghancurkan Larisa. Ironisnya, sekarang justru dirinya tak lagi merasakan rasa cinta terhadap Larisa sedikit pun. Jika memang cinta hal yang seperti itu, bukankah itu sangat tak berarti? Atau mungkin yang dirasakannya selama ini bukan cinta?
"Saya ... akan bertanggung jawab ...." Erick akhirnya bergumam setelah terdiam selama beberapa saat.
__ADS_1
Terang saja Riani langsung menoleh mendengar itu.
"Saya akan bertanggung jawab pada Risa," ulang Erick lagi.
"Dengan cara apa?" tanya Riani dingin.
"Saya akan menikahinya dan menjaganya selama sisa hidup saya."
Di luar dugaan, Riani justru tertawa lirih mendengar penuturan Erick. Tentu saja Erick agak bingung dibuatnya.
"Kamu ingin menikahi Risa?" tanya Riani setelah tawanya mereda.
"Iya." Erick mengangguk.
"Saya tidak akan melakukan itu lagi ...."
"Atas dasar apa? Bukankah sebelumnya kamu tidak memperlakukan Lita dengan baik karena kamu merasa tidak mencintainya? Apa kamu menganggap aku tidak tahu kalau sekarang kamu juga sudah tidak mencintai Risa lagi?" Sekali lagi Riani melontarkan kalimat yang begitu menohok.
"Jangan berani bilang untuk menikahi Risa lagi, Erick. Jika kamu memang masih punya hati nurani, maka menghilangkan dari pandangan Risa, Lita maupun aku," tegas Riani.
Erick menunduk dan tak menjawab lagi. Hanya helaan napas panjang nan berat yang terdengar. Dia ingin meyakinkan Riani kalau dia tak mungkin mengulangi kesalahan yang sama, tapi hatinya sendiri pun meragu. Ingin bertanggung jawab pada Larisa, tapi perasaannya justru terpaut pada Lalita dan calon anak yang dikandung mantan istrinya itu. Entah dia harus bagaimana.
Keheningan terus tercipta hingga operasi Larisa selesai. Sontak Riani dan Erick langsung berhambur ke arah dokter yang keluar dari ruang operasi. Beruntung semuanya berjalan lancar. Operasinya berhasil dan kondisi Larisa terbilang stabil. Hanya saja, saat ini dia masih tak sadarkan diri karena pengaruh bius.
__ADS_1
Larisa ditempatkan ke ruangan observasi untuk memantau perkembangan kondisi tubuhnya. Beberapa jam kemudian, dia sudah sadar dan bisa diajak berkomunikasi. Kondisinya fisiknya membaik dari hari ke hari, tapi sepertinya mentalnya yang mengalami masalah. Raut wajahnya tak menunjukkan semangat hidup sedikit pun. Dia juga hanya berbicara saat Riani mengajaknya bicara.
Sementara itu, Erick masih terus datang ke rumah sakit meskipun kehadirannya selalu ditolak oleh Riani. Lelaki itu seakan menulikan telinga setiap kali Riani mengucapkan kata-kata kasar padanya. Dia bahkan tak jarang membantu Riani mengurus Larisa, yang tanpa disadari justru membuat Larisa semakin merasa tertekan. Ya, Erick tak menyadari jika kehadirannya justru menambah beban luka di hati perempuan itu. Luka yang sudah terlalu dalam dan tak mungkin rasanya untuk disembuhkan lagi.
Pagi itu, setelah pemeriksaan rutin dokter, Riani membawa Larisa berjalan-jalan di taman rumah sakit dengan menggunakan kursi roda. Suasana pagi yang cerah diharapkan bisa membuat suasana hati Larisa sedikit membaik, tapi Larisa justru minta untuk dibawa kembali ke kamar rawat inapnya. Mau tak mau Riani menuruti permintaan putrinya itu dengan hati yang sedih. Larisa terpuruk, dia sangat tahu itu. Entah bagaimana caranya membuat Larisa kembali normal.
"Mau ke atas tempat tidur lagi?" tanya Riani setelah mereka berada di dalam ruangan.
Larisa menggeleng sembari menatap ke arah luar jendela. Hal itu membuat Riani berpikir jika Larisa sedang menikmati pemandangan di sana.
"Mama ke toilet sebentar, ya," ujar Riani kemudian pada Larisa.
Kali ini Larisa menjawab dengan anggukan, tapi dengan ekspresi datar seperti sebelumnya.
Riani pun berlalu menuju toilet, meninggalkan Larisa yang masih termangu dengan tatapan kosong. Sesaat kemudian, Larisa menoleh dan pandangan terhenti pada sebuah pisau buah yang tadi digunakan Riani mengupas apel. Benda itu tampak terselip di antara buah-buahan yang ada di atas nakas.
Larisa tertegun sejenak. Sesaat kemudian, dia mengarahkan kursi rodanya mendekati nakas. Dipandanginya pisau itu dengan tatapan yang sulit diartikan. Entah apa yang ada dalam pikirannya saat ini. Perlahan tangannya terulur mengambil benda tajam tersebut dan diarahkannya pada pergelangan tangannya yang lain.
Pisau kecil itu tampak sedikit bergetar karena tangan yang memegangnya agak gemetaran. Seketika air mata Larisa pun menetes tak tertahankan bersamaan dengan mata pisau yang terasa menyentuh kulit pergelangan tangannya.
"Maafkan aku, Ma ...."
Bersambung ....
__ADS_1
Terima kasih buat doa dari kakak semua. maaf karena ga bisa bls komennya satu persatu. Mungkin setelah ini di akhir bab akan sedikit saya selipkan curhatan ttg apa yg sedang saya rasakan, jadi sekalian buat terapi. Yang males baca bagian ini, skip aja😅