
Suasana hening menyelimuti Erick dan Lalita sejak beberapa saat yang lalu. Sepasang manusia yang pernah bersatu dalam ikatan penikahan itu tampak larut dalam pikiran masing-masing. Mereka berdua duduk saling berhadapan, tapi tak saling menatap satu sama lain. Jika Erick terlihat menunduk dengan segenap perasaan yang begejolak, Lalita sendiri terlihat membuang pandangannya ke arah lain sembari memperlihatkan ekspresi tak suka sekaligus tak nyaman.
Sebelumnya, Riani sempat menjelaskan pada Lalita jika Erick datang ke Singapura masih dalam keperluan bisnis hotel Arfan. Lalu karena sudah kepalang ada di sana, Erick berinisiatif untuk mampir terlebih dahulu ke apartemen yang ditinggali oleh Arfan, Riani dan Lalita. Tujuannya tak lain adalah untuk mengunjungi Arfan yang katanya sekarang sudah semakin membaik.
Setelah mengatakan hal itu pada Lalita, Riani pun masuk ke dalam kamar tempat Arfan beristirahat, memberikan ruang bagi Lalita dan Erick untuk membicarakan apa yang perlu dibicarakan. Namun, sudah beberapa menit berlalu, mantan pasangan suami istri itu justru hanya saling diam, tak ada yang bersuara sedikitpun.
"Sudah berapa bulan?" Erick kemudian bertanya memecah keheningan. Lelaki itu mengangkat wajahnya dan kembali menatap ke arah perut Lalita. Meski kini Lalita mengenakan atasan longgar, tapi perutnya yang sudah cukup membuncit sangat jelas terlihat di mata lelaki itu.
"Lima bulan. Seminggu lagi masuk bulan keenam," jawab Lalita jujur. Kehamilannya sudah ketahuan, jadi tak ada gunanya lagi berusaha untuk menutupi hal itu.
Erick tampak menghela napas sembari mengepalkan tangannya.
"Kapan kamu mengetahui kehamilanmu, Lita?" tanya Erick lagi dengan suara yang lebih pelan, tapi terdengar amat emosional.
"Saat menyiapkan anniversary kita." Lagi-lagi Lalita menjawab apa adanya.
Kali ini Erick mendongak dan menatap Lalita dengan ekspresi yang tak dapat dijabarkan.
"Lalu kenapa kamu tidak memberitahuku kalau kamu hamil?" Tanpa sadar Erick bertanya sembari meninggikan suaranya.
__ADS_1
"Untuk apa?" Lalita balik bertanya. Wajahnya masih terlihat tak suka. "Memangnya kalau saat itu aku memberitahukan kehamilanku padamu, kamu akan senang?"
Erick tampak sedikit tercengang mendengar pertanyaan Lalita. "Bagaimana mungkin aku tidak senang?" gumamnya.
"Saat anak ini lahir, dia akan mirip denganku, Erick, bukan mirip dengan Kak Risa. Bagaimana kamu akan senang melihat anak yang lahir dari rahim perempuan memuakkan seperti aku," sahut Lalita dengan sarkas.
"Apa yang kamu katakan?"
"Tidak usah pura-pura lupa atau tidak mengerti, Erick. Bukankah kamu sendiri yang bilang kalau kamu sudah muak denganku dan ingin secepatnya menceraikanku tanpa peduli apapun resikonya? Kamu sendiri juga yang bilang kalau pernikahan yang kamu jalani denganku adalah pernikahan terkutuk?" Lalita menatap Erick tajam.
Mata Erick sedikit melebar mendengar itu. Mulutnya tampak sedikit bergerak, hendak menyangkal apa yang Lalita katakan, tapi tak ada yang bisa dia katakan sebagai sangkalan karena semua ucapan Lalita benar adanya.
"Anak ini, ibunya adalah aku, bukan Kak Risa. Aku tidak ingin kamu membayangkan kalau dia anakmu dengan Kak Risa, seperti kamu membayangkan dia setiap kali menyentuhku," gumam Lalita dengan nada yang lebih rendah, tapi terdengar amat emosional. Tampaknya ucapan Erick bagian itulah yang paling dalam melukai hatinya.
"Maafkan aku, Lita ...," gumam Erick kemudian dengan suara yang terdengar agak bergetar. Sungguh, saat ini sejuta penyesalan tengah bersarang di setiap sudut hatinya. Terlebih, saat dia melihat dengan mata kepalanya sendiri perut Lalita yang membuncit. Ada calon anaknya yang sedang tumbuh di dalam sana.
"Tidak perlu meminta maaf, Erick. Semuanya sudah berlalu dan kita juga sudah berada di jalan masing-masing. Cukup jalani saja kehidupan kita tanpa saling mengusik satu sama lain. Sekarang kamu sudah bebas, jadi carilah kebahagiaanmu yang dulu terhalang oleh kehadiranku. Tidak perlu mengkhawatirkan anak yang aku kandung, karena aku tentu tidak akan membiarkan dia tumbuh tanpa kasih sayang." Lalita menyahut.
"Tidak, Lita. Kasih sayang yang didapatkan anak kita tidak akan sempurna jika ayah dan ibunya berpisah," sanggah Erick.
__ADS_1
Lalita mengerutkan keningnya sembari memberikan tatapan yang sedikit tajam pada Erick.
"Lalu? Maksudmu, aku mesti kembali padamu?" tanya Lalita dengan agak sarkas.
Erick melihat ke arah Lalita dengan tatapan nanar. Dapat dia lihat betapa besar kebencian yang terpancar di mata mantan istrinya itu untuknya. Mata yang dulu menatapnya lembut dan sangat memuja.
"Beri aku kesempatan, Lita. Aku berjanji akan memperbaiki semuanya. Aku akan melakukan yang terbaik agar kamu dan calon anak kita bahagia. Aku mohon, demi dia ....."
"Heh!" Lalita tersenyum mengejek, lalu mengembuskan napas kasar dengan sengaja.
"Demi calon anak kita katamu? Berani-beraninya kamu menggunakan dia untuk meraih kepentinganmu sendiri. Setelah dua tahun kamu menjadikan aku sebagai orang bodoh yang tak tahu apa-apa, menjadikan aku ini penjahat yang memisahkanmu dari perempuan yang paling kamu cintai, memperlakukanku dengan sesuka hatimu, sekarang bisa-bisanya kamu mengatakan ingin kembali padaku demi anak kita? Ingat, Erick! Anak ini hadir dari hasil kamu mendatangiku dengan membayangkan wajah Kak Risa. Ada pengkhianatan yang kamu sematkan di sana. Kamu sudah memberikan penghinaan terbesar untuk perempuan yang bergelar istri saat mengga_uli aku. Mendapatkan pengakuan dari anak ini jika kamu adalah ayahnya, itu satu-satunya hal yang bisa aku berikan untukmu. Jangan berharap lebih!" Lalita menolak keinginan Erick dengan tegas, membuat lelaki itu bungkam dan tak mampu mengatakan apapun.
"Kemana perginya cintamu yang agung itu untuk Kak Risa, Erick? Aku sudah memberikan ruang agar kalian bisa bahagia bersama, mestinya kamu menghargai usahaku. Tetaplah menganggapku perempuan manja yang memuakkan, itu jauh lebih baik untuk kamu lakukan ketimbang terus meminta kembali bersamaku seperti ini, " tambah Lalita lagi dengan tak kalah sarkas.
Erick menahan napas sejenak karena seketika merasakan nyeri tak terhingga di dadanya. Setiap kata yang Lalita ucapkan terasa bagaikan belati yang menghujam tepat di jantungnya. Baru lelaki itu sadari, ternyata seperti ini rasanya tak diinginkan. Sakit, benar-benar sakit. Sampai-sampai untuk sekedar menghela napas pun rasanya begitu sulit. Dia jadi bertanya-tanya dalam hati, inikah yang Lalita rasakan saat mengetahui selama dua tahun pernikahan, perempuan itu tak pernah diinginkan?
"Lita ...." Erick masih ingin memohon, tapi kata-katanya tertahan di kerongkongan saja. Tiba-tiba perasaan malu merayap memenuhi setiap sudut hatinya. Benar apa yang Lalita ucapkan, mestinya dia tak pernah memohon untuk kembali. Bukankah berpisah dari perempuan itu adalah keinginan terbesarnya selama ini? Bukankah bersatu dengan Larisa adalah impiannya? Lalu kenapa saat semuanya sudah dalam genggaman, dia seolah-olah tak pernah menginginkan hal itu? Kemana perginya cinta untuk Larisa yang selama ini begitu menggebu, sampai-sampai saat melakukan hubungan suami istri dengan Lalita pun dia sampai membayangkan melakukan semua itu dengan Larisa?
"Kamu datang kemari karena ingin melihat keadaan Papa, kan? Papa ada di kamar, temuilah dia di sana. Aku harap, kamu tidak akan datang lagi ke hadapanku dengan mengatakan omong kosong dengan mengatasnamakan demi anak yang sedang kukandung. Dengar dan ingatlah baik-baik, Erick. Apapun bisa terjadi di dunia ini, kecuali satu hal, yaitu kembali menjadi istrimu. Hanya orang idiot yang membiarkan dirinya jatuh ke lubang yang sama dan terus-terusan disakiti oleh orang yang sama!"
__ADS_1
Lalita bangkit dari duduknya, lalu meninggalkan Erick tanpa menoleh lagi, membuatkan Erick terpekur sendirian dalam penyesalan yang mulai menenggelamkan.
Bersambung ....