
Kalandra. Sebuah nama yang berarti anak yang periang dan menebarkan kebahagiaan bagi orang-orang di sekitarnya. Nama itulah yang Erick sematkan pada bayi lelaki yang dilahirkan Lalita. Dia berharap anaknya itu kelak menjadi sosok selalu memiliki wajah ceria dan jauh dari kesedihan. Dia juga berharap Kalandra akan menjadi obat bagi luka hati Lalita yang ditorehkan olehnya.
Keadaan menjadi semakin membaik seiring berjalannya waktu. Arfan dan Larisa sudah pulih sepenuhnya dan kembali aktif mengelola hotel. Erick juga sudah berhasil merintis usaha barunya, meski tentu masih dalam skala kecil. Hubungan Erick dengan Riani yang sempat memanas karena musibah yang menimpa Larisa juga kini mulai kembali membaik.
Lalu Erick dan Lalita sendiri, mereka memutuskan untuk menjadi teman dan rekan satu tim yang solid dalam membesarkan Kalandra. Lalita akan menerima kedatangan Erick kapanpun jika itu untuk sang putra. Erick juga akan menjadi orang pertama yang dia hubungi jika ada apa-apa menyangkut Kalandra.
Lalita mengesampingkan luka dan semua rasa sakit di masa lalu demi agar putranya tak kekurangan kasih sayang orang tua. Meski sepertinya hanya sebatas itu saja. Untuk yang lebih dari itu, Lalita tak pernah memikirkannya dan tak ada niatan juga. Erick juga sepertinya sangat menghargai hal tersebut dan mematuhi batasan yang Lalita berikan. Mereka berdua berinteraksi hanya untuk Kalandra, tidak lebih.
Hari-hari berlalu. Tak terasa Kalandra telah berusia enam bulan lebih. Dia tumbuh menjadi bayi yang sehat dan menggemaskan. Tentu saja dengan limpahan kasih sayang dari orang-orang di sekelilingnya, termasuk Riani, Arfan dan juga Larisa.
Pagi itu, Lalita tampak sibuk memakaikan pakaian pada Kalandra setelah memandikannya. Seperti biasa, akhir pekan adalah jadwal Kalandra jalan-jalan bersama Erick. Tentu saja Lalita ikut menemani karena Kalandra masih menyusu padanya.
"Hai, jagoan Bunda. Sudah ganteng sekali. Mau jalan-jalan sama Papa, ya?" Larisa yang baru masuk langsung mengambil alih Kalandra.
Kalandra mengoceh sambil tertawa riang, seolah mengerti jika dirinya akan dibawa jalan-jalan.
"Tolong jaga Kalan sebentar ya, Kak. Aku mau mandi dulu," pinta Lalita. Ibu muda itu memang terlihat masih belum bersiap-siap.
"Iya, cepat sana. Nanti Erick keburu datang," sahut Larisa.
Lalita mengangguk dan bergegas masuk ke kamar mandi. Dia memang mengurus Kalandra sendiri tanpa bantuan pengasuh, sehingga kadang agak kerepotan dibuatnya. Beruntung ada Riani yang sesekali menggantikannya. Terkadang Larisa juga jika sedang libur seperti sekarang. Yang jelas, rumah mereka kini terasa semakin hangat sejak kehadiran bayi lelaki itu.
Tak menunggu lama, Lalita selesai membersihkan diri. Dia langsung berganti pakaian dan memasukkan barang-barang keperluan Kalandra ke dalam sebuah tas khusus untuk dibawa berjalan-jalan. Setelah itu, barulah dia mengambil alih Kalandra lagi.
Erick datang bertepatan setelah Lalita selesai bersiap-siap. Lelaki itu masuk sebentar untuk berpamitan pada Arfan dan Riani. Dia juga bertemu dengan Larisa sekilas. Entah seperti apa perasaan mereka kini terhadap satu sama lain, tapi mereka telah bisa bersikap biasa. Meski memang Larisa sebenarnya lebih banyak menghindar dan sebisa mungkin untuk tidak bersinggungan dengan Erick.
"Kamu mau mengajak Kalan jalan-jalan kemana?" tanya Lalita pada Erick setelah mereka berada di dalam mobil.
"Cuaca sedang cerah. Kita piknik di taman kota saja," sahut Erick.
__ADS_1
Lalita mengangguk dan tak mengatakan apapun lagi. Baginya, mau pergi kemana pun tak masalah asalkan Kalandra merasa nyaman.
Tak menunggu lama, mereka pun sampai di taman kota yang maksud. Erick langsung turun membukakan pintu untuk Lalita, lalu menurunkan barang-barang yang dia bawa dari rumah. Tak lupa dia juga membawakan tas Lalita yang berisi keperluan Kalandra. Jika orang asing yang melihat, dia pasti dikira suami yang sangat perhatian, idaman para istri. Pasti tak ada yang menyangka jika statusnya dengan Lalita hanya sebatas mantan.
Setelah menemukan tempat yang nyaman serta teduh, Erick menggelar tikar yang cukup lebar, lalu menata barang bawaannya di samping tikar tersebut. Dia juga melapisi sebagian tikar dengan alas yang lembut untuk Kalandra.
"Duduklah. Kalo kamu lelah, dudukkan Kalan di sini," ujar Erick menunjuk ke arah tikar yang dia lapisi dengan alas lembut tadi.
"Iya," sahut Lalita. Dia pun duduk, lalu mendudukkan Kalandra juga. Bayi berusia enam bulan itu memang sudah bisa duduk sendiri tanpa dipangku, asalkan dijaga dari belakang.
Lalita memberikan Kalandra beberapa mainan yang dibawanya dari rumah, lalu membiarkan anaknya itu mengoceh dengan riang sembari memainkan mainan tersebut.
"Papapapah!" Kalandra berseru riang sambil menghentak-hentakkan mainannya, hingga terdengar suara gemerincing dari benda tersebut.
"Kalan sudah bisa panggil Papa, ya? Wah, pintar sekali sekali anak Papa," ujar Erick sembari membawa Kalandra ke pangkuannya. Lelaki itu tersenyum senang sembari menghujani wajah gambul Kalandra dengan kecupan ringan.
Lalita menatap pemandangan di sampingnya sembari tersenyum samar, sebelum akhirnya menatap lurus ke depan. Kalandra memang selalu lebih bersemangat mengoceh jika berada di dekat Erick, seolah dia sudah sangat memahami jika Erick adalah ayahnya.
"Lita, sepertinya kamu sedang memikirkan sesuatu," ujar Erick kemudian melihat Lalita yang hanya diam saja sejak tadi.
Lalita menoleh dan tersenyum, tapi mengatakan apapun. Dia memang sedang memikirkan sesuatu seperti yang Erick katakan. Sesuatu yang penting dan hendak dia sampaikan pada Erick, tapi dia bingung memulai pembicaraan dari mana.
"Aku akan pergi ke Paris," ujar Lalita kemudian setelah terdiam cukup lama.
"Kamu mau berlibur?" Erick menanggapi.
"Tidak, aku bukan mau liburan, tapi mau belajar fashion design." Lalita meralat.
Hening. Lalita dan Erick sama-sama terdiam selama beberapa saat. Bahkan Kalandra pun seperti sengaja menjeda ocehannya.
__ADS_1
"Kamu ... mau belajar fashion design?" ulang Erick setelah terdiam cukup lama.
"Iya. Sudah lama aku merencanakan ini, jauh sebelum melahirkan. Sejak dulu aku memang punya impian menjadi seorang fashion designer, tapi impian itu sempat aku kubur dalam saat kita menikah. Sekarang aku ingin melanjutkan kembali impian itu," sahut Lalita lagi.
Erick menatap Lalita sejenak, lalu menunduk menatap Kalandra yang kembali mengoceh di pangkuannya.
"Lalu Kalan bagaimana?" tanya Erick lagi.
"Tentu saja aku akan membawa Kalan. Kami akan tinggal sementara di sana selama aku belajar. Papa sudah menyiapkan apartemen yang dekat dengan kampus tempatku mendaftar. Aku juga akan membawa orang yang akan membantuku mengasuh Kalan saat aku kuliah." Lalita menjelaskan.
"Jadi orang tuamu sudah setuju dan sudah mempersiapkan semuanya?" Erick kembali bertanya.
Lalita mengangguk.
Erick kembali terdiam selama beberapa saat. Dia tak tahu mesti berkata apa. Jika orang tua Lalita saja tak merasa ada masalah dengan rencana Lalita, tentu saja dirinya yang hanya seorang mantan tak berhak untuk protes, kan?
"Apa kamu yakin, Lita? Tinggal di negara orang dengan membawa bayi. Itu pasti bukan hal yang mudah. Aku mengkhawatirkan keselamatan kalian," ujar Erick akhirnya.
"Kamu tidak perlu khawatir. Di sana ada beberapa kerabat ibu kandungku. Tempat tinggal mereka juga dekat dengan apartemen yang disiapkan Papa. Mereka sangat senang saat mendengar aku akan datang ke Paris bersama Kalan. Mereka akan membantuku dan juga melindungiku selama aku tinggal di sana," sahut Lalita lagi.
Erick tak langsung menjawab. Dia tak tahu harus menanggapi seperti apa.
"Berapa lama?" tanya lelaki itu kemudian setelah beberapa saat. " Berapa lama kamu dan Kalan akan tinggal di sana?"
"Entahlah ... mungkin tiga atau empat tahun," sahut Lalita.
Kali ini Erick menoleh ke arah Lalita dengan ekspresi yang sulit untuk dijabarkan.
Bersambung ....
__ADS_1