The Broken Ring

The Broken Ring
Layu Sebelum Berkembang


__ADS_3

Saat siang menjelang, suasana di dalam rumah mulai terasa tak bersahabat untuk Larisa. Mama dan papanya tampak asyik mengobrol di teras belakang sembari merawat tanaman bunga. Tak enak rasanya jika Larisa datang kenimbrung. Sedangkan Lalita dan Rainer sedang menonton film streaming di ruang keluarga. Pasangan pengantin baru itu tampaknya benar-benar menjadikan rumah sebagai tempat bulan madu. Tambah tak mungkin lagi bagi Larisa untuk bergabung.


Biasanya Kalandra yang akan menjadi teman Larisa di saat-saat seperti ini, tapi bocah itu barusan dijemput papanya untuk diajak jalan-jalan. Akhir pekan memang jadwal Kalandra menghabiskan waktu dengan Erick, bahkan tak jarang sampai menginap.


Suara dentingan ponsel sedikit mengejutkan Larisa. Sebuah pesan masuk membuatnya meraih benda pipih itu dengan enggan. Sejenak Larisa terdiam setelah membaca isi pesan tersebut. Sebuah ajakan makan siang bersama dari seseorang yang belakangan ini cukup dengannya membuatnya berpikir selama beberapa saat, sebelum akhirnya memutuskan untuk menerima ajakan tersebut.


Larisa pun bangkit dan berganti pakaian. Dia poles sedikit wajahnya dengan make up natural supaya terlihat lebih segar. Setelah itu, Larisa pun berpamitan dulu pada Arfan dan Riani, barulah kemudian beranjak pergi.


Saat melewati ruang keluarga, Rainer sempat menggoda Larisa, tapi tentu tak begitu ditanggapi oleh Larisa. Adik iparnya itu memang seringkali menunjukkan sisi menyebalkan, terutama jika dia sedang berduaan dengan Lalita seperti sekarang ini.


Larisa pun akhirnya berhasil keluar dari siksaan para pasangan harmonis di rumahnya. Tak butuh waktu lama bagi Larisa untuk sampai di sebuah restoran yang menjadi tempat seseorang menunggunya. Dia langsung masuk dan menemukan orang itu segera.


"Sudah lama menunggu?" tanya Larisa sambil duduk di hadapan orang itu.


"Tidak juga," sahut orang itu sambil tersenyum.


Namanya Zayn. Dia adalah salah seorang pengacara yang tergabung di firma hukum milik Hendro, sahabat Arfan. Beberapa waktu terakhir Larisa mesti mengurus pembebasan lahan untuk kepentingan perluasan hotel. Pekerjaannya itu sudah tentu didampingi oleh tim kuasa hukum, yang salah satunya adalah Zayn. Dari sana mereka sering bertemu dan akhirnya menjadi cukup dekat seperti sekarang.


"Mau pesan apa?" tanya Zayn sembari melihat daftar menu.


"Samakan saja dengan punyamu," sahut Larisa. Dia sebenarnya tidak terlalu lapar dan sedang tidak memiliki selera untuk makan.


"Baiklah," sahut Zayn sambil meletakkan buku menu. Dia lalu memanggil seorang pelayan dan memesan makanan serta minuman yang sama untuk dirinya dan Larisa.


Tak menunggu lama, pesanan pun dihidangkan. Larisa dan Zayn menyantap hidangan tersebut tanpa banyak bicara. Mereka memang selalu begitu saat bersama. Sangat jarang berbicara jika bukan tentang urusan pekerjaan. Entah hubungan mereka bisa benar-benar dibilang dekat atau tidak.


"Sebenarnya aku mengajakmu bertemu karena ingin membicarakan sesuatu," ujar Zayn kemudian setelah dia dan Larisa selesai makan.

__ADS_1


"Bukankah urusan pembebasan lahan tempo hari sudah selesai dan tidak ada tuntutan lagi?" tanya Larisa.


"Bukan urusan pekerjaan, tapi urusan pribadi," jawab Zayn.


Larisa terdiam. Tiba-tiba jantungnya berdegup tak beraturan hanya karena mendengar Zayn ingin membicarakan urusan pribadi. Setelah sekian lama menutup hati pada yang namanya lelaki, ini kali pertama dia tak terlalu waspada. Larisa bahkan merasakan getaran yang tak dia pahami setiap kali berdekatan dengan Zayn.


"Sebenarnya beberapa hari lalu keluargaku menghubungi dan mengabari jika penyakit jantung ayahku kambuh lagi. Aku pulang, lalu di sana aku malah diminta untuk segera menikah." Zayn membuka percakapan.


Larisa tak menyela meski dia tak terlalu mengerti arah pembicaraan Zayn.


"Bahkan jika aku belum punya calonnya, keluargaku bersedia menyiapkan calon istri agar aku bisa segera menikah seperti keinginan ayahku. Konyol sekali," tambah Zayn lagi.


Larisa tersenyum menanggapi. Sepertinya saat ini Zayn sedang ingin curhat dengannya. Terlihat sedikit lucu. Seorang pengacara handal yang biasanya memperlihatkan kesan tajam dalam setiap kesempatan, kini malah bertingkah receh di hadapannya.


"Sayang sekali, permasalahan keluarga seperti itu, aku tidak bisa membantu," ujar Larisa dengan nada menyesal.


Zayn diam dan menatap Larisa, membuat Larisa menjadi agak salah tingkah karenanya. Apa mungkin barusan dia salah bicara?


Hampir saja Larisa menyemburkan minuman yang disesapnya.


"Ya?" responnya tak percaya.


"Aku tahu, mungkin ini mengejutkan bagimu, tapi aku bersungguh-sungguh. Sejak awal, aku jatuh cinta dengan kepribadian serta kegigihanmu. Kamu orang yang berdedikasi tinggi. Aku benar-benar kagum padamu. Dan lama kelamaan perasaan itu menjadi jauh lebih dari sekedar rasa kagum," ujar Zayn lagi.


Larisa tak tahu harus merespon seperti apa. Dia juga sebenarnya menyukai Zayn, tapi dengan kekurangan yang dimilikinya sekarang, sepertinya hubungan dengan lelaki itu adalah hal yang mustahil.


Ini bukan kali pertama Larisa mendengar ungkapan perasaan dari seorang lelaki. Bahkan sudah tiga kali lamaran yang serius datang padanya. Ketiganya bukan datang dari orang sembarangan. Namun, pada saat Larisa mengatakan jika dirinya tak bisa memberikan keturunan, semuanya memilih untuk mundur teratur. Tak ada yang bisa menerima kondisi itu. Jadi sekarang pun mungkin tak akan jauh berbeda.

__ADS_1


"Risa, kita sudah sama-sama dewasa. Bukan saatnya bagi kita untuk menjalin hubungan asmara tanpa arah seperti yang dilakukan para anak muda. Jika kamu bersedia, aku ingin datang secara resmi untuk melamarmu." Zayn kembali menambahkan dengan nada serius.


Larisa mengangkat wajahnya dan menatap lelaki itu sekilas. Zayn adalah sosok yang nyaris sempurna dan memiliki latar belakang luar biasa. Ayahnya adalah seorang politikus yang menjabat sebagai seorang menteri selama tiga periode sekaligus. Dia anak bungsu dari tiga bersaudara. Semua kakak-kakaknya juga terjun ke dunia politik dan semuanya memiliki jabatan penting di pemerintahan. Hanya Zayn sendiri saja yang memilih jalan berbeda. Keluarganya begitu terpandang, bahkan bisa dibilang cukup berpengaruh. Lalu akankah lelaki dari keluarga seperti itu menerima dirinya yang tak sempurna serta memiliki masa lalu kelam?


"Jika kamu tidak bisa menjawab sekarang, pikirkan saja dulu. Aku akan menunggu jawabannya. Aku tahu kalau aku terlalu tiba-tiba mengatakan ini," ujar Zayn sekali lagi karena Larisa yang tak kunjung bersuara.


"Bukan begitu ...." Larisa akhirnya membuka suara dengan agak tertahan.


"Ada sesuatu yang kamu tidak tahu tentangku. Jika kamu tahu, mungkin kamu juga akan mundur seperti yang lain," tambah Larisa lagi.


Berganti Zayn yang menatap Larisa. Tidak mungkin saat ini Larisa sedang mencari-cari alasan untuk menolaknya, kan?


"Memangnya kekurangan macam apa yang bisa kamu miliki, Risa?" tanya Zayn kemudian sambil tersenyum simpul.


Ya, jika dilihat dari luar, sosok Larisa tentu saja terlihat sempurna. Cantik, cerdas dan selalu bersikap anggun dalam setiap kesempatan. Karirnya juga bagus, bahkan digadang-gadang sebagai pengganti Arfan dalam manajemen hotel di masa depan. Tak ada yang kurang sama sekali.


"Tapi sungguh, aku menyukaimu bukan karena semua yang kamu miliki, melainkan karena kepribadianmu. Kamu bisa pegang kata-kataku." Zayn meyakinkan.


"Aku tidak sebaik itu, Zayn," sahut Larisa. "Apa yang kamu harap bisa didapatkan dari sebuah pernikahan?" tanyanya kemudian.


Zayn sedikit mengerutkan keningnya.


"Kedamaian? Kasih sayang? Keturunan?" Larisa memberikan opsi.


"Bukankah pernikahan akan memberikan semua itu?" Zayn balik bertanya.


Larisa kembali menatap Zayn sembari tersenyum tipis. Dia sudah menduga, Zayn pasti akan memiliki pikiran yang sama dengan para lelaki sebelumnya.

__ADS_1


"Keturunan, aku tidak akan pernah bisa memberimu itu. Jadi lupakan saja niatmu untuk datang melamarku," ujar Larisa dengan nada getir.


Bersambung ....


__ADS_2