The Broken Ring

The Broken Ring
Terima Kasih, Lita ....


__ADS_3

Setelah saling meminta maaf hari itu, hubungan Arfan dan Erick tidak bisa dibilang menghangat, tapi setidaknya jauh lebih baik daripada sebelumnya. Yang jelas, Erick tidak dipersulit saat hendak menemui Lalita jika itu urusannya berkaitan dengan calon anak yang Lalita kandung. Dia juga berkesempatan menemani Lalita memeriksakan kandungannya, sehingga bisa melihat secara langsung bagaimana rupa calon anaknya melalui layar USG.


Ada perasaan ngilu yang menyusup di tengah-tengah rasa bahagia Erick. Untuk ke sekian kalinya dia menyesal telah menyia-nyiakan Lalita di masa lalu. Jika saja sejak awal dia membuka hati, mungkin saat ini dia masih berstatus sebagai suami dari perempuan yang akan melahirkan anaknya itu. Tapi sudahlah, nasi sudah menjadi bubur. Semua sudah terlanjur seperti ini. Lagipula, di sisi lain ada Larisa yang telah kehilangan sesuatu yang berharga dalam dirinya, itu karena Erick. Mungkin kondisi sekarang memang adalah jalan yang terbaik untuk mereka semua.


Erick tak mau lagi egois memaksa Lalita kembali padanya dengan alasan demi anak. Baginya, diizinkan untuk mendampingi Lalita menjelang persalinan saja sudah lebih dari cukup. Dia sadar diri dan tak menginginkan apapun lagi. Dia gagal menjadi suami, setidaknya jangan sampai gagal juga menjadi seorang ayah. Pun jika nantinya Lalita bertemu dengan lelaki lain dan menikah lagi, Erick memutuskan untuk mengikhlaskan mantan istrinya itu sepenuhnya, meski tentu hal itu tak akan mudah.


Beberapa hari setelah menemani Lalita memeriksakan kandungannya, Erick yang sedang sibuk merintis usaha baru setelah resign dari hotel Arfan mendadak mendapat berita mengejutkan dari Riani. Katanya Lalita mengalami kontraksi dan sekarang sudah berada di rumah sakit. Sepertinya mantan istrinya itu akan melahirkan lebih cepat dari perkiraan.


Bergegas Erick pergi ke rumah sakit yang dimaksud dengan perasaan yang bercampur aduk tak menentu. Di sana, dia mendapati Larisa dan Arfan sedang menunggu di depan ruang bersalin.


"Lita? Bagaimana keadaan Lita?" tanya Erick dengan napas yang masih terengah.


"Dia sedang menjalani proses persalinan di dalam. Dokter sudah menyarankan untuk caesar saja, tapi dia bersikeras untuk melahirkan secara normal," sahut Arfan. Raut cemas terlihat jelas di wajah lelaki paruh baya itu.


"Tidak ada yang mendampingi?" tanya Erick lagi.


"Ada Mama juga di dalam." Arfan menyahut lagi.


Erick mengangguk sembari menghela napas lega. Dia kemudian duduk di dekat Arfan dan juga Larisa, ikut menunggu dengan perasaan tegang.


"Kamu tidak masuk ke dalam?" tanya Larisa pada Erick.


"Aku?" Erick menoleh pada Larisa.


"Biasanya ayah dari calon bayi yang mendampingi selama proses persalinan," ujar Larisa.


Erick terdiam. Tentu saja dia sangat ingin berada di samping Lalita saat ini, tapi apakah dirinya memiliki hak?


"Masuklah jika kamu ingin masuk." Kali ini Arfan yang menimpali, membuat Erick menoleh ke arah mantan mertuanya itu.


"Apa boleh?" lirih Erick dengan perasaan yang tak dapat dijabarkan.


"Mungkin saja bayinya akan lebih cepat lahir kalau ayahnya yang mendampingi," sahut Arfan tanpa melihat ke arah Erick.


Untuk beberapa saat Erick tertegun, sebelum akhirnya dia bangkit dan melangkah masuk ke dalam ruang bersalin. Di sana dia menggantikan Riani yang sejak tadi berada di samping Lalita.


"Erick?" Lalita yang terlihat sangat kesakitan tampak sedikit terkejut dengan kehadiran Erick. Apalagi sang mama juga mengatakan kalau Erick yang akan mendampinginya.

__ADS_1


Belum sempat Lalita mengatakan apapun lagi, dia kembali merasakan kontraksi yang jauh lebih sakit daripada sebelumnya. Perempuan muda itu sedikit mengerang dengan peluh yang semakin bercucuran


"Sakit ...," desisnya dengan sedikit terengah.


Erick tak tahu mesti bagaimana. Dia ingin menggenggam tangan Lalita dan memberinya kekuatan, tapi posisinya yang hanya seorang mantan membuatnya urung melakukan itu. Yang bisa dia lakukan hanyalah menyeka keringat di dahi Lalita yang tak henti keluar.


"Kamu kuat, Lita. Sebentar lagi bayinya akan lahir. Sedikit lagi," ujar Erick kemudian setengah berbisik, berusaha memberikan semangat untuk mantan istrinya itu.


Dengan instruksi dari dokter yang menangani, Lalita pun mulai mengejan karena pembukaan di jalan lahirnya sudah cukup. Jelas terlihat di wajahnya jika rasa sakit itu terasa semakin tak tertahankan. Peluh yang membasahi dahinya pun semakin banyak.


"Sa ... kittt ...." Sekali lagi Lalita mengerang dengan napas terengah-engah.


Akhirnya tanpa sadar Erick menggenggam jemari Lalita erat. Matanya tampak berkaca-kaca dengan perasaan yang bergemuruh tak menentu. Kini melihat betapa menderitanya Lalita demi untuk mengantarkan calon anak mereka lahir ke dunia ini, rasa sesal di hati Erick pun berkali-kali lipat.


"Kamu pasti bisa, Lita. Sedikit lagi, kamu akan bertemu dengan anak kita ...." Ucapan Erick menggantung tatkala tanpa sadar mengucapkan kata 'anak kita' di telinga Lalita. Air matanya tiba-tiba saja jatuh tanpa terasa. Andai situasi antara dirinya, Lalita dan Larisa tak begitu rumit, tentu saja setelah ini dia tak akan melepaskan genggaman tangannya ini. Bahkan jika Lalita mendorongnya menjauh.


Lalita kembali mengejan dengan sekuat tenaga. Rasa sakit yang mendera semakin intens dan tak tertahankan. Hingga akhirnya, setelah sejak tadi berjibaku dengan rasa sakit itu, suara tangis bayi pun membahana memenuhi ruangan tersebut.


Erick terkesiap. Napasnya tertahan sejenak manakala dokter yang menangani Lalita menegakkan punggung sembari membopong bayi merah di tangannya, bayi yang baru saja Lalita lahirkan.


"Selamat Pak, Bu, bayinya lahir dengan selamat," ujar dokter itu pada Erick dan Lalita.


"Terima kasih, Lita. Terima kasih ...," ujar Erick dengan suara serak menahan tangis. Kedua tangannya tampak menggenggam jemari Lalita kuat, lalu dibawanya punggung tangan itu menempel di keningnya. Tak ada kata yang mampu menggambarkan perasaan Erick saat ini.


Lalita membiarkan apa yang Erick lakukan. Bagaimanapun, lelaki itu adalah ayah dari anak yang baru saja dia lahirkan. Erick berhak merasa bahagia dan terharu atas kelahiran anak itu.


Setelah Lalita dan bayi dibersihkan, Lalita kemudian di pindahkan ke ruangan rawat inap biasa. Bayi yang dilahirkannya pun lalu diantakan juga ke ruangan tersebut oleh seorang perawat.


Perawat tersebut lalu membantu Lalita memberikan ASI untuk pertama kalinya. Hal itu membuat Erick menyingkir perlahan, lalu keluar dari ruangan itu. Toh, sekarang di sana juga sudah ada Arfan, Riani dan Larisa. Dirinya sudah tidak dibutuhkan lagi. Tapi bagaimanapun, semuanya sudah lebih dari cukup.


"Erick." Tiba-tiba saja terdengar suara Larisa memanggil.


Erick yang baru saja hendak pergi, menoleh ke arah sumber suara. Tampak Larisa mendekatinya dengan agak tergesa.


"Mau kemana? Lita mencarimu," ujar Larisa.


"Lita mencariku?" ulang Erick.

__ADS_1


"Iya. Ayo, masuk lagi ke dalam." Larisa kembali melangkah ke arah ruangan sembari mengisyaratkan agar Erick ikut masuk juga.


Mau tak mau, Erick pun kembali masuk. Riani dan Arfan mengatakan mereka akan keluar dulu sebentar untuk makan siang, Larisa pun begitu. Mereka memang belum sempat makan siang karena sejak tadi hanya fokus menunggu Lalita melahirkan.


Sepeninggal semua orang, Erick duduk di sebuah kursi yang berada di samping brankar Lalita. Perempuan itu tampak sedang tersenyum tipis sembari memandangi bayi yang ada dalam gendongannya. Bayi yang terlelap dengan begitu damai setelah tadi diberi ASI untuk pertama kalinya.


"Katanya tadi kamu mencariku?" tanya Erick dengan sedikit ragu.


Lalita mengangkat wajahnya dan terdiam sejenak.


"Kamu mau menggendongnya?" Alih-alih menjawab pertanyaan Erick, Lalita balik bertanya.


Kali ini Erick yang terdiam. Tentu saja sejak tadi dia sangat ingin menggendong anaknya itu, tapi dia tak punya keberanian untuk mengutarakan keinginannya.


"Kemarilah," pinta Lalita.


Erick pun bangkit, lalu duduk di pinggiran brankar mantan istrinya itu.


"Lebih mendekat," pinta Lalita lagi.


Sejenak Erick menatap Lalita, sebelum akhirnya beringsut hingga mereka benar-benar saling berhadapan.


"Tanganmu." Lalita mengisyaratkan Erick untuk menengadahkan kedua tangannya. Setelah itu, dia pun menyerahkan bayi mereka ke dalam gendongan Erick.


Jantung Erick serasa berhenti berdetak saat menatap wajah mungil dalam gendongannya itu. Wajah yang memiliki paras perpaduan antara dirinya dan Lalita. Paras yang begitu rupawan hingga membuat dada Erick membuncah karena haru.


"Siapa namanya?" tanya Lalita, membuat Erick sontak mendongak.


"Apa kamu belum memberinya nama?" Erick balik bertanya.


"Kamu ayahnya. Kamu yang harus memberinya nama," sahut Lalita.


Untuk ke sekian kalinya Erick dibuat terdiam tanpa mampu mengatakan apapun. Setelah apa yang telah dirinya lakukan, semestinya dia telah kehilangan semua hak dan kehormatan sebesar itu atas anak mereka, tapi Lalita dengan besar hati masih tetap memberikannya. Sungguh, dia benar-benar tak tahu lagi mesti berkata apa.


Erick menghela napasnya sembari menengadahkan wajahnya, berusaha sebisa mungkin untuk tak kembali meneteskan air mata.


"Terima kasih, Lita ...." Akhirnya hanya itu yang bisa Erick ucapkan dengan dada yang terasa sesak tak terkira.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2