The Broken Ring

The Broken Ring
Kabar dari Arfan


__ADS_3

Babak baru pun dimulai dalam kehidupan Lalita. Status yang disandangnya saat ini bukanlah sesuatu yang membanggakan, meski tentu bukan pula sesuatu yang hina. Sebenarnya tak ada yang salah dengan predikat janda. Namun, masyarakat di negara ini sudah terlanjur membuat stigma negatif terhadap sosok janda, terutama janda cerai. Kesan buruk akan melekat di manapun seorang janda berada. Tak peduli sekeras apapun dia berusaha menjalani hidup dengan baik dan terhormat, perempuan yang berstatus janda akan tetap dianggap sebagai perempuan yang kurang bermartabat.


Karena itulah, Hendro terus mewanti-wanti Lalita untuk tak terlalu sering berpergian keluar jika tak benar-benar ada urusan yang penting. Sahabat Arfan itu juga terus menasihati Lalita untuk segera pulang ke rumah papanya saja.


Lalita termenung di kamar kostnya setelah mendengar nasihat yang diberikan Hendro lewat telepon barusan. Dia memang merasa kalau apa yang Hendro katakan banyak benarnya. Dia memang membutuhkan tempat bernaung dengan status baru yang disandangnya, terlebih dalam keadaan berbadan dua seperti sekarang ini. Namun, ada ketakutan dalam diri Lalita yang tentunya tak bisa dia ceritakan pada Hendro.


Jika kembali ke rumah Arfan, Lalita takut hidupnya dikendalikan lagi oleh papanya itu seperti yang sudah-sudah. Dia tak mau lagi diperlakukan bak boneka yang tak memiliki perasaan. Kekhawatiran Lalita juga bertambah setiap kali dia mengingat calon anak yang ada dalam kandungannya. Dia tak ingin anaknya kelak juga menjadi korban dari kasih sayang keliru yang dimiliki oleh Arfan. Ah, ada kalanya Lalita merasa kalau sikapnya saat ini terhadap sang papa agak berlebihan. Tapi kekhawatirannya saat ini benar-benar nyata. Niatnya bercerai dari Erick bukan hanya ingin terlepas dari pernikahan tak sehat yang menyiksa psikisnya, tapi dia juga ingin terlepas dari belenggu sang papa.


Lalita punya keinginan untuk kembali merangkai mimpinya yang tertunda. Dia ingin mendalami ilmu desain busana seperti yang dulu pernah dia cita-citakan sebelum memutuskan untuk menerima lamaran Erick. Semua itu memang terdengar mustahil jika dia tak mengandalkan papanya. Belum lagi, beberapa bulan ke depan anaknya akan lahir. Pasti akan sulit bagi Lalita untuk membesarkan anak itu sendirian saja, apalagi sambil berjuang mewujudkan cita citanya. Namun, jika kembali hidup dalam naungan Arfan pun Lalita juga tak yakin bisa menjalani hidup sesuai dengan keinginannya.


Sungguh sebuah dilema dan Lalita tak tahu harus memilih jalan yang mana.


Di tengah lamunannya, tiba-tiba Lalita dikejutkan dengan suara nada panggilan ponselnya. Kali ini nomor telepon rumah papanya yang menghubungi. Sejenak Lalita mengerutkan kening sembari menatap ke arah layar ponselnya. Jika itu panggilan dari Arfan, tak mungkin sang papa menghubunginya dengan menggunakan nomor telepon rumah. Kemungkinan besar ini panggilan dari Bi Ami, tapi kenapa pelayan di rumah papanya itu sampai menghubunginya?


Tak mau terus penasaran, Lalita pun akhirnya menggeser tombol terima di layar ponselnya.


“Halo, Non Lita?” Suara seseorang terdengar di seberang sana. Benar tebakan Lalita, Bi Ami yang menghubunginya.


“Iya, Bi. Ada apa?” Lalita menanggapi.


“Anu, Non, Tuan Arfan ….”


“Papa? Papa kenapa, Bi?” tanya Lalita sembari kembali menautkan kedua alisnya.

__ADS_1


“Tuan Arfan masuk rumah sakit, Non,” ujar Bi Ami dengan suara yang agak bergetar. Terdengar jelas nada cemas yang terselip dalam ucapannya barusan.


“Apa? Papa masuk rumah sakit?” ulang Lalita. Perasaan tak enak tiba-tiba langsung menyergap setiap sudut hatinya.


“Semalam Tuan mengeluh kepalanya pusing, tapi tidak mau diperiksa dokter. Tuan cuma minum obat sakit kepala saja. Terus tadi Tuan sempat bilang pandangannya gelap, sebelum akhirnya pingsan.” Bi Ami menjelaskan dengan agak emosional. Sepertinya keadaan Arfam cukup mengkhawatirkan.


“Papa dibawa ke rumah sakit mana, Bi? Tolong kirim alamatnya. Saya akan langsung menyusul ke sana,” ujar Lalita.


“Baik, Non. Saya akan kirim alamat rumah sakitnya,” sahut Bi Ami sebelum kemudian mengakhiri panggilan teleponnya. Tak lama kemudian, sebuah pesan singkat berisi alamat rumah sakit tempat Arfan dirawat masuk ke ponsel Lalita. Entah Bi Ami meminta tolong siapa, mengingat pelayan paruh baya itu tidak bisa mengirim pesan menggunakan ponsel.


Lalita pun langsung memesan sebuah taksi online, lalu bergegas mengganti pakaiannya. Setelah itu, dia langsung keluar dari kamar kostnya dan menunggu taksi online yang dipesannya di depan bangunan kost. Tak lama kemudian, taksi tersebut pun datang dan langsung membawa Lalita pergi menuju ke rumah sakit yang menjadi tempat sang papa dirawat.


Selama perjalanan, Lalita terlihat cemas. Pikiran-pikiran buruk terus berkelebat di kepalanya, tapi sebisa mungkin berusaha dia tepis. Dalam hati dia terus berdoa agar papanya itu baik-baik saja. Tak sanggup rasanya jika harus terjadi sesuatu sang papa saat hubungan mereka sedang tidak baik seperti sekarang ini. Sebesit penyesalan pun datang di hati Lalita. Dia sungguh merasa bersalah karena meyakini jika kondisi Arfan saat ini sedikit banyak berkaitan dengan perselisihan mereka tempo hari.


Tak terasa, taksi online yang membawa Lalita pun sampai di pelataran rumah sakit tempat Arfan dirawat. Segera dia membayar ongkosnya dan turun dari kendaraan tersebut. Dari pesan susulan yang dikirim oleh Bi Ami, Lalita bisa dengan mudah menemukan ruangan tempat papanya dirawat saat ini.  Tampak seorang lelaki yang merupakan asisten pribadi Arfan sedang berdiri di depan pintu ruangan tersebut.


“Pak Erlan.” Lalita menyapa lelaki yang berusia awal empat puluhan tersebut. Orang kepercayaan Arfan, selain Erick.


“Non Lita.” Lelaki bernama Erlan itu menyahut dengan hormat. Meski usianya jauh di atas Lalita, tentu saja dia tak lupa jika perempuan muda di hadapannya saat ini adalah putri kesayangan majikannya.


“ Papa … bagaimana keadaannya?” tanya Lalita dengan napas yang masih sedikit terengah karena melangkah secepat mungkin sepanjang koridor rumah sakit tadi.


“Tuan Arfan sudah ditangani pihak medis dengan baik dan sekarang sedang beristirahat di dalam. Tadi kondisinya memang sempat kritis, tapi sekarang sudah tidak apa-apa,” sahut Erlan.

__ADS_1


“Se-sempat kritis?” ulang Lalita dengan agak terbata.


“Begitulah.”


Lalita tercenung sembari menahan napas sesaat, sebelum kemudian dia mengembuskannya dengan agak kasar. Rasa bersalah itu kini semakin menyelimuti hatinya. Pasti karena dirinya yang keras kepala, papanya jadi seperti ini.


“Apa sekarang papa sudah boleh dibesuk? Saya mau melihat papa di dalam,” ujar Lalita kemudian dengan nada lirih.


“Sebenarnya boleh saja, Non. Tapi ….” Kalimat Erlan tertahan sejenak.


“Tapi apa, Pak?” tanya Lalita.


“Nyonya sedang membantu membersihkan tubuh Tuan.”


Lalita tertegun sejenak. “Nyonya … maksudnya mama?”


Erlan mengangguk mengiyakan.


Terang saja Lalita langsung melebarkan matanya, lalu berhambur membuka pintu ruangan tempat Arfan dirawat, sebelum Erlan sempat mencegah. Namun, Lalita urung masuk saat melihat pemandangan di dalam ruangan tersebut saat ini. Tampak papanya sedang berbaring di atas brankar rumah sakit dengan mata terpejam, sedangkan mamanya yang berdiri membelakanginya tampak sedang menyeka beberapa bagian tubuh sang suami menggunakan waslap dengan begitu telaten dan hati-hati.


Lalita mematung, tak tahu mesti maju menghampiri mama dan papanya atau mundur kembali agar mereka  berdua bisa bersama lebih lama di ruangan tersebut.


Bersambung ....

__ADS_1


Maaf ya, Gaes. Update masih semampunya. Ga bisa janji kapan bakal update dan berapa banyak, yang jelas diusahakan terus.


__ADS_2