The Broken Ring

The Broken Ring
Harapan Lalita


__ADS_3

Lalita masuk ke dalam sebuah restoran kekinian yang saat itu tampak ramai, karena memang kedatangannya bertepatan dengan jam makan siang. Dia memilih sebuah tampat duduk paling pojok sembari memperhatikan sekitar, seolah sedang ada yang dicarinya.


"Pesan apa, Kak?" Seorang pramusaji langsung menghampiri dan bertanya pada Lalita. Mungkin karena mengusung konsep anak muda, setiap pengunjung yang datang akan dipanggil kakak, entah itu tua ataupun muda. Tapi memang rata-rata yang makan di sana adalah kalangan mahasiswa, karena tak jauh dari tempat itu ada sebuah kampus.


"Sebentar." Lalita melihat daftar menu sejenak, lalu memesan satu porsi makanan dan juga minuman untuk dirinya.


"Baiklah. Tunggu sebentar, ya, Kak." Pramusaji itu tersenyum sebelum kemudian berlalu dari hadapan Lalita.


Lalita kembali celingukan memperhatikan sekitar. Tatapan matanya akhirnya tertuju pada sosok gadis muda yang datang dari arah ruang belakang dan langsung bergabung di meja kasir. Dia tampak berbincang dengan kasir yang sedang bertugas, sambil sesekali menunjuk ke arah mesin kasir. Terlihat seperti sedang memberi tahu sesuatu.


Gadis yang sedang Lalita perhatikan itu tak lain adalah Shelin, salah seorang karyawan yang bekerja di restoran milik Erick. Ya, saat ini Lalita memang sedang berencana makan siang di tempat mantan suaminya karena hendak menemui Shelin.


"Ini, Kak, pesanannya." Lalita sedikit tergagap saat mendengar pramusaji berbicara padanya. Rupanya pesanannya telah datang.


"Silakan menikmati," ujar pramusaji tersebut setelah selesai meletakkan pesanan Lalita.


"Iya, terima kasih." Lalita menanggapi sambil tersenyum. Dia pun memutuskan untuk mengisi perutnya terlebih dahulu sebelum mrnghampiri Shelin.


Tak butuh waktu lama bagi Lalita untuk menghabiskan makanan dan minuman yang dia pesan. Setelah selesai, dia pun bangkit untuk membayar tagihan pada kasir. Kebetulan saat ini Shelin masih terlihat di sana.


"Hai, Shelin, kan?" Lalita menyapa Shelin setelah membayar.


Shelin mendongak dan sedikit terkejut saat menyadari siapa yang sedang berada di hadapannya saat ini.


"Bu Lita, mamanya Kalan?" Shelin memastikan.


Lalita mengangguk sambil tersenyum.


"Punya waktu sebentar?" tanya Lalita.


"Ya?" Shelin terlihat sedikit bingung.

__ADS_1


"Saya mau bicara sebentar sama kamu. Tidak lama, kok. Lima menit saja," ujar Lalita.


"Oh ...." Shelin masih memperlihatkan raut wajah bengong. Dia masih tak menyangka akan melihat sosok mantan istri bosnya di sini, hendak berbicara dengannya pula. Ada apakah gerangan?


"Baiklah. Mari ikut saya, Bu. Kita ke samping," ujar Shelin akhirnya.


Lalita setuju, lalu mengikuti Shelin ke sebuah tempat yang berada di bagian samping dari bangunan restoran milik Erick. Tampaknya itu adalah tempat para karyawan beristirahat, pasalnya terdapat beberapa kursi dan juga sebuah sofa di sana.


"Silakan duduk, Bu. Tapi maaf, saya tidak bisa lama," ujar Shelin sopan.


Lalita duduk sembari tersenyum.


"Saya yang minta maaf karena sudah mengganggu kamu bekerja. Saya ke sini sebenarnya cuma mau memberikan ini," ujar Lalita sembari menyodorkan sebuah paper bag yang sejak dari dibawanya.


"Ini ... apa?" tanya Shelin sembari menerima benda tersebut dengan agak ragu.


"Anggap saja sebuah hadiah kecil sebagai ucapan terima kasih saya," sahut Lalita.


"Ucapan terima kasih?" Shelin terlihat tak mengerti.


Shelin tak mencerna kata-kata Lalita.


"Oh, itu. Saya tidak sengaja datang karena Pak Erick minta laporan keuangan restoran diantar ke rumah beliau. Saat saya datang, ternyata Pak Erick sedang demam." Shelin menjelaskan. "Itu bukan apa-apa kok, Bu. Tidak perlu sampai memberi hadiah seperti ini."


"Tidak apa-apa. Pokoknya saya berterima-kasih. Itu juga bukan hal besar. Cuma barang yang dipakai sehari-hari." Lalita berujar sembari tersenyum. "Terima kasih sudah menjaga Kalan hari itu, ya."


Shelin terdiam sejenak, sebelum akhirnya mengangguk. Tak lupa, dia juga ikut mengucapkan terima kasih pada Lalita.


"Kalau begitu, saya pamit dulu. Maaf, karena sudah mengganggu waktu kamu." ujar Lalita.


Shelin mengangguk sembari memeluk paper bag pemberian Lalita. Dia menatap kepergian Lalita dengan ekspresi yang sulit dijelaskan, sebelum kemudian dirinya juga kembali ke meja kasir.

__ADS_1


Sementara itu, Lalita yang sedang berjalan di parkiran tampak menghentikan langkahnya saat berpapasan dengan seseorang yang sedetik lalu baru keluar dari mobil yang terparkir. Siapa lagi kalau Erick. Lelaki itu tampaknya baru kembali dari suatu tempat.


"Lita?" gumam Erick. Dia terlihat menunjukkan raut wajah terkejut.


"Oh, hai. Aku baru saja selesai makan siang di restoranmu," sahut Lalita sambil tersenyum.


"Makan siang di restoranku?" ulang Erick. Lalita sengaja datang untuk makan siang di restorannya adalah hal yang tak terbayangkan sebelumnya.


"Iya. Sebenarnya aku datang untuk menyapa Shelin," ujar Lalita lagi.


Erick terdiam sejenak. Sekali lagi Lalita mengatakan sesuatu yang tak terbayangkan olehnya.


Lalita dan Erick akhirnya berbincang di sebuah tempat tak jauh dari restoran Erick. Setelah bercerai, inilah kali pertama mereka duduk bersisian, berbicara berdua tanpa ada Kalandra di antara mereka.


"Sudah saatnya kamu membuka hati lagi, Erick. Maaf, kalau terkesan terlalu ikut campur," ujar Lalita sembari menyesap minuman di tangannya.


Erick tak menjawab. Tatapan lelaki itu tampak lurus ke depan.


"Aku sudah bahagia dengan Rainer. Kak Risa juga sudah bahagia dengan suaminya. Kamu tidak perlu lagi terbebani dengan masa lalu, karena meski menyakitkan, semua itu sudah berlalu. Jangan terus terpuruk karenanya." Lalita kembali menambahkan.


Hanya helaan napas saja yang terdengar keluar dari mulut Erick sebagai jawaban atas kata-kata Lalita.


"Semuanya mungkin tidak bisa dilupakan, Erick, tapi setidaknya sudah tidak terasa sakit lagi saat diingat. Belajarlah untuk memaafkan diri sendiri." Lalita kembali berujar dengan tulus.


"Terima kasih karena telah mengatakan itu, Lita," gumam Erick akhirnya dengan suara yang berat dan dipenuhi dengan berjuta emosi. Dadanya bergejolak hebat. Setelah sekian lama menahan semua rasa bersalah seorang diri, kini dia mendengar kalimat penghiburan dari seseorang yang dulu pernah amat dia sakiti. Legakah perasaannya? Entahlah.


"Aku dan Kak Risa sudah bahagia. Sudah saatnya kamu menyambut kebahagiaanmu juga. Jangan terus menenggelamkan diri dalam kesendirian, karena memiliki teman hidup itu jauh lebih baik," ujar Lalita.


Hening. Tak ada yang bersuara lagi setelah itu. Lalita terdiam karena merasa telah cukup berbicara, sedangkan Erick sendiri menahan agar gejolak di dadanya tak semakin membuncah. Cerita antara dirinya dan Lalita memang telah usai, tapi perasaannya untuk mantan istrinya itu masih tersimpan rapi. Lalu mungkinkah dia bisa kembali merajut kisah bersama orang lain?


Lalita menoleh, lalu kembali tersenyum ke arah Erick.

__ADS_1


"Satu hal yang mesti kamu ingat, Erick. Kamu juga berhak bahagia." Lalita kembali berucap, sebelum akhirnya berlalu dari hadapan Erick. Ucapan tulus yang menyiratkan sebuah harapan untuk sang mantan suami.


Bersambung ....


__ADS_2