
Lima tahun Kemudian ....
"Papa!" Kalandra berseru riang saat melihat Erick turun dari mobil untuk menjemputnya. Tangannya tampak melambai ke arah sang papa.
Erick tersenyum dan cepat-cepat melangkah ke arah putranya itu.
"Hari ini papanya Kalan yang jemput, ya?" Guru TK yang mendampingi Kalandra di depan gerbang sekolah menyapa Erick.
"Iya, Bu. Tadi mamanya Kalan memberi tahu kalau dia sedang sibuk, jadi tidak bisa menjemput Kalan," sahut Erick. Dia meraih tangan Kalandra dan membantu bocah tersebut membawa tasnya.
"Oh, baiklah." Guru TK Kalandra menanggapi sembari tersenyum ke arah Erick.
"Kalan pulang dulu, Bu Guru," ujar Kalandra berpamitan pada gurunya.
"Oke, hati-hati di jalan, ya, Kalan," sahut guru itu.
"Iya, Bu Guru. Dadah!" Kalandra melambaikan tangannya sebelum kemudian berlalu dan masuk ke dalam mobil bersama Erick.
Mobil pun melaju. Sepanjang perjalanan, Kalandra bercerita tentang kegiatan yang dilakukannya hari ini bersama teman-temannya di sekolah. Erick mendengarkan sembari fokus menyetir. Sesekali dia menanggapi cerita Kalandra, sembari tersenyum dan menoleh sekilas ke arah putranya itu.
"Kalan hari ini mau makan siang apa?" tanya Erick kemudian setelah Kalandra selesai bercerita.
"Nggg ... apa aja. Mama bilang tidak boleh pilih-pilih makanan," sahut Kalandra sembari memperlihatkan raut wajah polosnya.
Erick tersenyum sembari mengusap sekilas pucuk kepala putranya itu. Kalandra memang sangat pandai dan mudah diajari.
__ADS_1
"Tadi Papa sudah bilang ke Mama kalau seharian ini Papa akan ajak Kalan jalan-jalan. Jadi sekarang, Kalan bisa bilang mau makan apa," ujar Erick.
"Wah, Kalan sama Papa jalan-jalan?" Kalandra terlihat antusias.
Erick mengangguk.
"Hore! Kalau begitu, Kalan mau makan burger sama pizza!" seru Kalandra girang.
"Oke." Erick kembali tersenyum sembari mengusap pucuk kepala Kalandra sekali lagi, sebelum akhirnya kembali fokus ke jalanan.
Erick melakukan kendaraannya menuju ke sebuah mall yang berada masih satu kawasan dengan sekolah Kalandra. Tak butuh waktu lama, mobil yang dikendarainya pun berhenti di parkiran mall tersebut.
"Kok kita ke sini, Pa?" tanya Kalandra tatkala Erick membantunya turun dari mobil.
"Kita main bom-bom car dulu, baru setelah itu beli burger dan pizza. Ini kan belum waktunya makan siang," sahut Erick.
Lagi-lagi Erick tersenyum senang. Menghabiskan waktu dengan Kalandra memang menjadi hal paling membahagiakan bagi dirinya saat ini, hingga rasanya ia tak membutuhkan apapun lagi.
Erick menggendong Kalandra agar putranya itu tak kelelahan berjalan. Mereka langsung menuju ke area permainan anak-anak. Tentu saja permainan yang menjadi favorit Kalandra adalah bom-bom car. Bahkan bukan hanya Kalandra yang bermain, Erick juga ikut masuk ke dalam mobil-mobilan tersebut serta mengendarainya seperti sang putra. Tak peduli jika hal itu membuat anak-anak yang lain melirik ke arahnya.
"Papa hebat! Terus, Pa! Terus, kejar Kalan!" Kalandra terus berseru kegirangan melihat kelakuan Erick. Bocah itu memacu kendaraan mainannya layaknya seorang pembalap. Tak lupa dia juga sesekali berseru ke arah Erick sembari tertawa riang.
Rasanya dunia Erick sekarang begitu sempurna. Setelah empat tahun lamanya hanya bisa berkomunikasi jarak jauh, setahun belakangan dia bisa kembali membersamai Kalandra. Hubungan mereka tetap erat. Lalita menepati kata-katanya dengan tetap membuat Erick sebagai sosok teristimewa bagi Kalandra.
Tiba-tiba saja Erick menepikan mobil mainan yang dikendarainya, lalu bangkit dan menjauh dari benda tersebut. Sekelebat ingatan tentang Lalita membuat kebahagiaannya sedikit terbuyar. Dia memberikan isyarat pada Kalandra untuk melanjutkan permainan, sedangkan dirinya memilih untuk menyudahi permainan itu. Ah, dia sadar jika kebahagiaannya karena Kalandra tak akan pernah lengkap. Selalu ada ruang kosong yang acapkali membuat hatinya terasa sendu, meski bibirnya tengah tersenyum. Itu karena ibu dari anaknya itu kini telah benar-benar tak bisa lagi dia miliki. Sudah tak ada harapan untuk kembali bersama, karena Lalita sebentar lagi akan menyambut kebahagiaan bersama lelaki lain.
__ADS_1
Erick menyesap minuman kemasan yang sebelumnya dia beli di outlet yang berada tak jauh dari arena permainan. Dipandanginya Kalandra yang masih asyik memacu mobil mainannya ke sana-kemari. Ingatannya terpatri pada kejadian beberapa waktu lalu, saat Lalita secara langsung memberikannya undangan pernikahannya.
"Aku harap kamu bisa datang, Erick. Kalan bahkan minta dibuatkan baju couple untuk kalian pakai berdua," pinta Lalita dengan wajah penuh harap.
Erick hanya mengiyakan sembari tersenyum. Tak ada yang bisa dia lakukan selain itu. Apapun akan dia lakukan asalkan Kalandra bahagia, termasuk hadir di hari pernikahan Lalita dengan lelaki lain, meski hatinya pasti akan hancur berkeping-keping.
"Oh, iya. Aku sendiri yang merancang jas untukmu dan Kalan," ujar Lalita lagi.
"Aku tidak sabar memakainya. Kapan lagi bisa dapat pakaian hasil rancangan Lalita Baskara. Gratis pula," sahut Erick dengan agak berseloroh. Dia berusaha menutupi hatinya yang tengah meringis perih.
Lalita tertawa kecil. Sejak kembali dari Paris, dia memang langsung merintis karir sebagai seorang desainer profesional. Setahun ini perkembangannya cukup pesat. Dia sudah mulai memiliki nama di kalangan pelaku mode dan sudah punya brand sendiri juga. Semua itu tak lepas dari dukungan orang-orang di sekitarnya, termasuk dari lelaki yang akan segera menikahinya.
"Baiklah. Kalau begitu, aku permisi dulu. Jangan ingkar janji, ya." Lalita menyudahi pembicaraannya dengan Erick hari itu, lalu pergi meninggalkan Erick yang masih termangu menatap selembar undangan di tangannya.
Rainer Gavin, itulah nama calon mempelai lelaki yang tertulis di undangan pernikahan tersebut. Lelaki yang akan menikahi Lalita beberapa hari lagi. Sosok luar biasa yang tak bisa Erick tandingi dari segi apapun. Dia seorang pebisnis muda yang sukses. Memiliki latar belakang pendidikan bagus serta paras yang rupawan. Dan yang paling penting, dia begitu mencintai Lalita serta sangat menyayangi Kalandra, layaknya menyayangi anaknya sendiri. Pertama kali bertemu Lalita tiga tahun lalu saat melakukan perjalanan bisnis ke Paris, Rainer jatuh hati pada perempuan muda itu. Butuh waktu yang tak sebentar baginya untuk menaklukan hati Lalita yang sudah terlanjur dingin, sampai akhirnya beberapa bulan yang lalu, Lalita menyambut perasaannya.
Awalnya, saat mengetahui hubungan Lalita dan Rainer, Erick takut hal itu akan berdampak buruk pada Kalandra. Dia juga takut Lalita hanya dipermainkan saja, mengingat Rainer bukan orang sembarangan. Tapi ternyata Rainer tulus, amat sangat tulus. Bahkan jauh lebih tulus daripada perasaan yang Erick miliki untuk Lalita. Bahkan, dengan segala kerendahan hatinya, Rainer berusaha untuk menjalin persahabatan dengan Erick, hanya demi Kalandra.
Erick akhirnya mengaku kalah. Dia menyerah untuk kembali mengharapkan Lalita. Selama mengenal mantan istrinya itu, dia adalah pihak yang selalu menerima, tak pernah memberi. Entah itu cinta, kasih sayang, perhatian ataupun materi. Lalita yang selalu memberikan semua itu kepadanya tanpa ada timbal balik darinya. Sedangkan Rainer, lelaki itu sanggup memberikan segalanya. Dia sanggup melakukan apa saja demi Lalita. Telah banyak yang Rainer buktikan sebagai keseriusannya terhadap Lalita, termasuk membuat Lalita diterima di keluarga besarnya dengan tangan terbuka, meskipun status Lalita seorang janda yang memiliki satu anak.
Lalu bagaimana mungkin Erick bisa bersaing dengan lelaki seperti itu?
Erick tersenyum miris sembari sekali lagi menyesap minuman di tangannya. Matanya masih melihat ke arah Kalandra yang asyik bermain bom-bom car, tapi tidak dengan rasa bahagia seperti tadi. Hatinya tak bisa dibohongi, dia amat sangat menyesal karena telah menyia-nyiakan perempuan seluar biasa Lalita di masa lalu.
"Lita, apakah kisah kita memang telah usai sejak lama? Benar-benar telah usai?" Erick berbisik dalam hati, bersamaan dengan perasaan tak rela yang perlahan menyeruak dari dalam hatinya. Tak rela jika perempuan yang dicintainya itu akan segera dimiliki oleh lelaki lain yang jauh lebih sempurna darinya.
__ADS_1
Bersambung ....