
Dua hari kemudian, hari persidangan terakhir pun digelar. Hakim mengabulkan gugatan cerai yang Lalita ajukan, serta memutus ikatan pernikahan antara Lalita dan Erick yang telah terjalin selama dua tahun terakhir ini. Tak ada hambatan apa-apa saat pembacaan putusan tersebut karena sampai akhir, Erick tetap memilih untuk tak menampakkan diri. Lalita juga tak menuntut harta gono-gini, sehingga tak ada yang perlu diperpanjang lagi.
Semuanya pun akhirnya selesai juga. Dengan langkah gontai, Lalita keluar dari gedung Pengadilan Agama sembari membawa sebuah map berisi dokumen perceraiannya. Hari ini, dia telah sah menyandang status baru yang tak pernah sekalipun dia dambakan, meski hanya dalam khayalan. Perempuan muda itu terlihat tenang, tapi siapa yang tahu jika dadanya sedang bergemuruh hebat. Berbagai rasa dan emosi kini bercampur aduk di dalam diri Lalita. Antara lega dan puas, tapi juga tetap merasa sedih. Tak bisa dipungkiri jika dirinya tetap saja terluka dengan perpisahan ini.
“Kamu baik-baik saja, Lita?” tanya Hendro sembari memperhatikan raut wajah klien sekaligus putri sahabatnya itu.
“Eh?” Lalita mengangkat kepalanya dan baru tersadar jika saat ini Hendro sedang menatapnya sembari memasang ekspresi khawatir.
“Saya baik-baik saja, Om,” sahut Lalita kemudian sembari berusaha mengulas sebuah senyuman.
“Muka kamu kelihatan pucat sekali. Kamu sedang tidak enak badan?” tanya Hendro lagi.
“Tidak kok, Om. Mungkin cuma kelelahan dan kurang tidur saja.” Lalita kembali menyahut. Dia tak berbohong karena semalam dirinya memang kesulitan memejamkan mata.
“Setelah ini, langsung beristirahat. Jangan sampai stres dan sakit, Lita. Papamu akan semakin sedih dan khawatir jika kamu tidak dalam keadaan baik-baik saja.” Hendro mengingatkan. Pengacara paruh baya itu tidak tahu kalau saat ini Lalita sedang hamil, sehingga tidak menyadari kalau kondisi fisik Lalita saat ini erat kaitannya dengan kehamilannya tersebut. Dia juga mungkin tidak tahu kalau Lalita dan Papanya sedang perang dingin.
“Iya, Om. Setelah dari sini, saya memang berencana untuk langsung beristirahat.” Sekali lagi Lalita menyahut.
Hendro menghentikan langkahnya tak jauh dari tempat mobilnya terparkir.
__ADS_1
“Kamu bawa mobil?” tanya lelaki itu lagi pada Lalita.
Lalita menggeleng, “Saya naik taksi.”
“Ya udah, kalau gitu, Om antar sekalian kamu pulang.”
Buru-buru Lalita menggelengkan kepalanya.
“Terima kasih, Om, tapi saya sudah terlanjur memesan taksi online,” tolak Lalita halus.
“Tidak bisa dibatalkan saja?”
Hendro terdiam sejenak. Sebenarnya, dia merasa sangat khawatir melihat wajah pucat Lalita saat ini. Tapi sepertinya tak etis juga kalau sampai harus memaksa Lalita membatalkan pesanan taksi onlinenya.
“Baiklah, Om duluan. Hati-hati,” ujar Hendro kemudian sembari masuk ke dalam mobilnya.
Sekali lagi, Lalita mengiyakan sembari tersenyum. Dia lalu melambaikan tangannya saat mobil milik Hendro mulai bergerak meninggalkan tempat itu.
Tak lama kemudian, taksi online yang dipesan Lalita akhirnya sampai. Perempuan muda itu bergegas masuk ke dalam kendaraan tersebut dan langsung menyebutkan sebuah alamat kepada sopir yang mengemudi. Bukan alamat kostnya, kali ini tempat yang dituju Lalita adalah rumah yang selama ini menjadi kediamannya bersama Erick. Ada beberapa barang yang hendak Lalita ambil sehingga dia mau mampir sebentar.
__ADS_1
Sekitar lima belas menit perjalanan, Lalita pun sampai di rumahnya. Dia langsung membayar ongkos taksi dan segera masuk ke halaman rumah tersebut. Tanpa dia sadari, kakinya sejenak berhenti melangkah dan matanya lurus menatap ke arah bangunan rumah yang pernah menjadi istananya bersama Erick dua tahun belakangan ini. Lagi-lagi rasa sedih itu kembali datang merayap, tapi segera dia tepis secepat mungkin.
Lalita tak mau kembali tenggelam dalam perasaan yang membuat hatinya bergejolak. Dihelanya napas panjang berulang kali, sebelum kemudian dia masuk ke dalam rumah. Sepi dan hampa, itulah suasana yang langsung menyambut kedatangan Lalita. Sebulan yang lalu, pelayan yang sebelumnya bekerja di sana memang telah mengabari Lalita jika dia tak lagi bekerja. Lalita juga sudah mengirimkan sejumlah uang sebagai pesangon, meksipun katanya Erick sudah memberi pesangon juga. Sudah terbayang di benak Lalita sebelumnya akan seperti apa suasana rumahnya tanpa ada orang yang menghuni dan mengurusnya, tapi sungguh tak disangka akan terasa sekosong ini.
Perlahan Lalita melanjutkan langkahnya dan menuju ke kamar tamu yang sempat menjadi kamarnya sebelum dia memutuskan untuk pergi dan menggugat cerai Erick. Ada beberapa benda kecil, namun dibutuhkannya yang mau dia ambil. Lalita pun memasukkan benda-benda tersebut ke dalam sebuah boks agar lebih mudah membawanya. Setelah itu, dia bergegas keluar dari kamar tersebut dan handak langsung pergi. Namun, lagi-lagi langkah Lalita terhenti. Kali ini, pandangannya tertuju pada tangga yang mengarah ke lantai atas rumahnya tersebut. Entah kenapa, hatinya tiba-tiba menjadi tergerak untuk melihat sejenak kamar yang pernah menjadi kamar tidurnya bersama Erick selama dua tahun terakhir.
Selangkah demi selangkah, Lalita akhirnya benar-benar menuruti apa yang dibisikkan hatinya, hingga tanpa sadar sampailah dia di depan kamar tidurnya. Lalita sendiri tak mengerti kenapa dia menjadi begitu impulsif seperti ini, bergerak hanya dengan mendengarkan kata-kata yang melintas di kepalanya. Dia kemudian benar-benar masuk ke dalam kamar yang penuh kenangan bersama sang mantan suami, bahkan sampai duduk di pinggiran tempat tidur dengan perasaan yang sulit dilukiskan.
Helaan napas panjang kembali Lalita embuskan. Nyatanya ini tetap saja terasa berat. Perpisahan, entah mau sebulat apapun tekad Lalita untuk melakukannya dan sebesar apapun kekuatan yang Lalita kumpulkan sebelumya, tetap saja dia merasa hancur, terutama hatinya. Untung saja, Lalita tak pernah lupa jika di dalam perutnya saat ini ada kehidupan baru yang mesti dia jaga. Calon anaknya itu selalu menjadi penyemangat di saat tergundahnya seperti sekarang.
“Maafkan Mama karena masih suka sedih tanpa sadar, Sayang. Mama janji, setelah ini akan lebih bersemangat lagi. Terima kasih karena telah hadir sebagai penguat Mama,” gumam Lalita sembari mengusap lembut perutnya yang mulai terlihat sedikit terisi, tapi dia tutupi dengan atasan longgar.
“Mama juga tidak mengerti, kenapa Mama bisa sampai masuk ke kamar ini,” ujar Lalita lagi dengan sedikit menggerutu. Mungkin karena terlalu emosional dan terbawa perasaan saat merasakan suasana rumah itu, makanya sekarang dia berakhir duduk di pinggiran tempat tidur yang penuh kenangan dirinya bersama Erick. Meski kalau diingat-ingat, tak ada kenangan yang benar-benar manis juga. Jika ada yang manis, tentu itu karena Lalita sendiri yang membuatnya menjadi seperti itu, bukan Erick.
Enggan berlama-lama tenggelam dalam kenangan yang tak ada gunanya untuk dikenang, Lalita pun bangkit dan keluar dari kamar tersebut. Dia langsung turun ke lantai bawah dan bergegas menuju ke ruang tamu. Namun, baru saja dia hendak membuka pintu utama untuk keluar dari rumah, pintu rumah tersebut lebih dulu terbuka dengan sendirinya.
Terang saja Lalita terkejut dibuatnya, mengingat saat ini dia sedang sendirian di sana. Dan yang lebih membuatnya terkejut lagi adalah saat dirinya melihat sosok yang muncul di balik pintu tersebut. Erick, sosok lelaki yang hari ini resmi menjadi mantan suaminya.
Bersambung ....
__ADS_1
Maaf baru update, gaess. Asam lambung kumat lagi beberapa hati terakhir. Mulai kemarin udah mendingan dan bisa makan. Diusahakan buat update terus, tapi semampunya, ya.