
Lalita akhirnya memilih mundur dan urung masuk ke dalam ruang rawat inap papanya. Perlahan ditutupnya kembali pintu ruangan tersebut dengan perasaan yang tak dapat dijabaran dengan kata-kata. Perasaannya menjadi bercampur aduk tak menentu. Antara senang, sedih dan juga terenyuh. Sungguh tak menyangka dia akan melihat mama dan papanya dalam bingkai yang sama lagi, meskipun saat ini situasi dan kondisinya tak bisa dibilang membahagiakan.
“Sudah sejak kapan Mama di sini, Pak?” tanya Lalita kemudian pada Erlan.
“Tentu saja sejak Tuan dibawa kemari, Non,” sahut Erlan.
“Maksudnya?” Lalita sedikit menautkan kedua alisnya.
“Nyonya yang membawa Tuan dari rumah ke rumah sakit. Saya dihubungi Nyonya setelah Tuan berada di sini.” Erlan menjelaskan.
Lalita tertegun sejenak. Tampak sedang mencerna apa yang dikatakan oleh Erlan barusan. Jika mamanya adalah orang yang membawa papanya ke rumah sakit, berarti besar kemungkinan Bi Ami yang menghubungi dan memberitahu Riani tentang kondisi Arfan. Bukankah itu artinya sejak awal Bi Ami tahu nomor kontak Riani yang sekarang?
Tak tahu mesti menanggapi bagaimana, Lalita pun hanya bisa menghela napasnya saja. Setelah itu, dihenyakkannya bobot tubuhnya ke salah satu kursi yang berjajar di pinggiran koridor rumah sakit. Sekarang bukan saatnya memikirkan yang lain-lain. Yang penting adalah kondisi papanya.
“Non Lita?” Suara panggilan Erlan membuyarkan lamunan Lalita.
“Non Lita baik-baik saja, kan?” tanya Erlan lagi dengan agak khawatir.
“Ah, iya, Pak.” Buru-buru Lalita mengiyakan dan menetralan raut wajahnya.
“Kita berdoa saja semoga Tuan cepat sadar dan kondisinya cepat pulih, Non,” ujar Erlan lagi.
“Iya.” Lalita kembali menjawab sembari menganggukkan kepalanya.
Sekali lagi Lalita menghela napas panjang. Di satu sisi dia memang merasa sedih dan mengkhawatirkan kondisi sang papa, tapi di sisi lain, dia juga merasa senang bisa kembali bertemu dengan mamanya lagi. Entahlah, dia jadi tak tahu mesti memasang ekspresi seperti apa.
Tak lama kemudian, pintu ruangan Arfan dirawat terbuka. Riani keluar dari sana dan langsung menghampiri Erlan.
“Erlan, tolong kamu belikan ….” Ucapan Riani tertahan begitu saja saat matanya tertuju ke arah Lalita yang duduk di kursi rumah sakit sembari menatap padanya.
“Lita?” ujar Riani dengan nada lirih.
__ADS_1
Lalita tersenyum tipis. Ada rasa rindu yang tiba-tiba saja terasa membuncah di dadanya terhadap sang mama. Tak peduli jika sebenarnya perempuan itu bukanlah ibu kandungnya, tapi Lalita sudah terlanjut menyayangi mamanya itu dengan segenap hati. Dia pun kemudian bangkit dan melangkah mendekat.
“Apa kabar, Ma?” tanya Lalita lirih.
Riani tak langsung menjawab. Perempuan setengah baya itu malah menghela napasnya panjang, seolah juga sedang neredam perasaan yang sedang Lalita rasakan saat ini.
“Mama baik,” sahut Riani akhirnya. “Apa kamu sudah datang sejak tadi?”
“Tidak juga,. Mungkin baru lima menit aku duduk di sini.” Lalita menjawab.
“Kenapa tidak langsung masuk saja ke dalam?” tanya Riani lagi.
“Mama tadi sedang membantu membersihkan tubuh Papa,” sahut Lalita.
“Hah?” Raut wajah Riani langsung sedikit berubah, tapi sejurus kemudian dia berdehem sembari membuang wajah ke arah lain. Entahlah, Lalita merasa kalau mamanya ini menjadi sedikit salah tingkah.
“Kalau begitu, sekarang masuklah ke dalam. Mama mau cari sarapan dulu,” ujar Riani kemudian.
“Mama tidak kepikiran. Baru sekarang ingat kalau Mama belum sarapan.”
Lalita menghela napasnya. Setelah apa yang terjadi, Riani tetap tak berubah. Dia tetap menjadi sosok seorang ibu dan istri yang mementingkan anak dan suaminya. Lagi-lagi perasaan Lalita menjadi campur aduk dibuatnya.
“Cepatlah makan dulu, Ma. Jangan sampai Mama juga ikut sakit. Aku akan masuk ke dalam.”
Riani mengangguk, lalu berlalu dari hadapan Lalita. Dia juga mengajak serta Erlan karena ada beberapa hal yang mau dibicarakannya dengan asisten pribadi Arfan itu.
Sepeninnggalan Riani dan Erlan, Lalita pun masuk ke dalam ruangan perawatan sang papa. Untuk ke sekian kalinya perasaannya menjadi bergemuruh tak menentu. Sosok yang biasanya memiliki tubuh yang tangguh itu kini tampak tergolek tak berdaya dengan mata terpejam rapat.
Lalita mendekati papanya itu, lalu duduk di sebuah kursi yang berada persis di samping brankar Arfan.
“Papa,” panggil Lalita lirih dan nyaris tak terdengar.
__ADS_1
“Maafkan aku, Pa. Gara-gara aku, Papa menjadi seperti ini.” Lalita bergumam sedih sambil menyentuh punggung tangan Arfan.
Tentu saja tak ada respon dari Arfan. Lelaki paruh baya itu seolah sedang tertidur lelap dan tak ingin terjaga.
“Bangunlah, Pa. Papa bisa marahi aku sepuasnya, asalkan Papa bangun,” ujar Lalita lagi dengan nada memohon.
“Aku janji akan kembali ke rumah Papa dan bersikap lebih baik lagi pada Papa. Aku janji, Pa. Aku akan melakukan apa saja yang membuat Papa senang, asalkan Papa mau bangun.” Tanpa sadar mata Lalita mengembun dan suaranya menjadi agak bergetar.
Tak ada respon dari Arfan. Lelaki itu tetap bergeming dengan mata yang tak juga terbuka. Entah mungkin dia lelah dengan semua skenario kehidupan yang dia buat sendiri, sehingga sekarang tampaknya hendak beristirahat lebih dari biasanya.
“Papa harus sehat lagi seperti sebelum-sebelumnya. Beberapa bulan ke depan, cucu Papa akan lahir. Papa harus kuat seperti biasa kalau mau menggendongnya.” Lalita kembali menambahkan.
Kali ini Arfan memberikan respon lewat gerakan jarinya. Meski matanya terejam rapat, mungkin dia bisa mendengar semua yang dikatakan oleh putrinya itu. Lalita tersenyum senang melihat hal itu. Dia pun terus mengucapkan kalimat penyemangat untuk sang papa memiliki keinginan kuat untuk lekas sadar.
Tak lama kemudian, Riani kembali dengan membawa bungkusan makanan dan langsung meletakkannya di atas nakas. Sepertinya, setelah dirinya makan tadi, Riani juga tak lupa membungkuskan makanan untuk Lalita, mengingat sebentar lagi tiba waktu makan siang.
“Makan dulu, Lita. Ini sudah siang,” ujar Riani. Benar saja, perempuan paruh baya itu memang membawakan makanan tersebut untuk Lalita.
“Sebentar lagi, Ma. Sekarang aku masih belum lapar,” sahut Lalita.
“Meskipun kamu tidak merasa lapar, kalau sudah waktunya makan, kamu mesti makan.”
Lalita mengangguk, “iya, nanti pasti aku akan makan.”
Riani tak mengatakan apapun lagi. Dia sangat paham kalau Lalita adalah orang yang tak bisa dipaksa, tapi akan melakukan apa yang diminta jika dia sudah mengiyakan. Sedikit banyak sifat-sifat Arfan memang menurun pada Lalita, meski tentu tak sepenuhnya.
“Kondisi tubuh papamu tidak pernah drop seperti ini meskipun bekerja keras siang dan malam. Satu-satunya yang membuat dia tumbang hanyalah saat dia terus memikirkan kamu, Lita,” ujar Riani kemudian setelah terdiam selama beberapa saat.
Lalita menoleh sekilas pada Riani tanpa tahu harus menjawab seperti apa.
“Setelah ini, jangan keras kepala lagi dan pulanglah ke rumah Papa. Mama tahu, kamu berseteru dengan Papa karena Mama. Mama mohon jangan lakukan itu lagi, Lita. Mama sungguh berterima kasih karena kamu masih memikirkan Mama. Tapi jangan membuat Papa terluka karena Mama. Di dunia ini, kamu boleh melawan siapapun, kamu boleh berseteru dengan siapapun, tapi jangan dengan papamu. Ingatlah itu.”
__ADS_1
Bersambung ....