
Riani menangis tersedu dengan perasaan yang tak dapat dijabarkan. Sudah satu jam sejak Erick menghubunginya dan memberitahukan tentang keadaan Larisa, tapi perempuan paruh baya itu masih tak juga mampu menghentikan tangisannya. Apa yang didengarnya tadi dari Erick benar-benar telah menghancurkan hatinya. Rasanya sungguh tak percaya jika saat ini Larisa-putri yang di matanya sangat baik dan penurut-sedang terbaring di rumah sakit dan harus segera diangkat rahimnya karena dulu pernah melakukan aborsi.
Sedih, marah, kecewa dan juga menyesal. Semua rasa itu kini bercampur menjadi satu di dalam diri Riani. Bukan hanya pada Larisa, tapi perasaan itu juga dia tunjukkan pada dirinya sendiri. Dia merasa telah gagal menjadi seorang ibu. Padahal tak mudah baginya untuk memastikan agar Larisa hidup dengan baik, di lingkungan yang baik pula. Sungguh tak disangka jika pada akhirnya semua akan menjadi seperti ini. Sekarang tak ada kata yang bisa menggambarkan perasaan Riani selain hancur.
“Ma.” Lalita menyentuh bahu Riani dengan lembut. Dia tadi juga ikut mendengar semua yang dikatakan Erick lewat panggilan telepon, dan saat ini perasaannya juga tak kalah hancur.
Riani membalik badannya. Matanya menatap ke arah Lalita sesaat tanpa mampu mengatakan apapun selain hanya mengeluarkan isakan.
Lalita merengkuh perempuan yang telah menjadi tempatnya berkeluh-kesah sejak kecil itu, lalu membiarkan Riani menumpahkan kesedihannya di sana. Jika selama ini Riani adalah tempat bagi Lalita untuk menumpahkan segala kegundahan hatinya, kini Lalita mengambil peran itu sejenak. Biarkan kali ini Riani juga yang melakukan hal itu dalam pelukan Lalita.
”Mama sungguh tidak menyangka jika dulu kakakmu dan Erick sudah sampai sejauh itu. Mama benar-benar tidak menyangka …,” ujar Riani kemudian di sela isakannya. Suaranya terdengar agak parau karena terlalu banyak menangis.
Lalita hanya menanggapi dengan mengusap lembut punggung Riani. Sama halnya dengan sang mama, Lalita juga tak menyangka jika Erick dan Larisa menjalani sebuah hubungan tak sehat di masa lalu, mengingat keduanya dikenal memiliki pribadi yang santun di hadapan orang lain. Bahkan, fakta jika keduanya pernah menjalin hubungan saja sudah cukup membuat Lalita terkejut, apalagi jika ternyata hubungan tersebut ternyata sudah melampaui batas, sampai-sampai Larisa mesti mengandung benih Erick dan terpaksa menggugurkannya.
“Mama tidak tahu harus bagaimana menghadapi ini, Lita. Kenapa semuanya jadi berantakan begini? Mama pikir, Erick dan Risa hanya menjalin hubungan percintaan biasa seperti anak muda pada umumnya, lalu akan saling melupakan saat telah berpisah. Tidak pernah terpikirkan oleh Mama jika mereka melakukan hal yang begitu hina. Mama bahkan tidak sanggup membayangkannya …,” tambah Riani lagi sembari terisak semakin pilu.
“Ini semua salah Mama. Mama telah gagal mendidik Risa ….”
__ADS_1
“Ma, sudah.” Lalita mengurai pelukannya dan menatap Riani sembari berusaha tak ikut emosional.
“Jika bicara soal salah, kita semua sudah bersalah. Mama, Papa, Erick, Kak Risa. Bahkan aku juga bersalah karena tidak tahu apa-apa. Padahal selama ini aku selalu menempel pada Kak Risa, tapi aku tidak peka sama sekali. Aku hanya selalu berfokus pada diriku sendiri, tanpa memperhatikan orang-orang yang ada di sekelilingku. Aku selalu minta diperhatikan dan didengarkan, tapi tak pernah memperhatikan dan mendengarkan balik. Jika saja aku dulu lebih peka, pasti aku menyadari kesedihan Kak Risa dan Erick saat harus berpisah demi keinginan Papa, meskipun mereka tak mengatakan apapun.”
Lalita menjeda kata-katanya sejenak.
“Apa yang terjadi sekarang, mungkin papa adalah orang yang harus paling bertanggung jawab, tapi kita semua juga bersalah,” ulang Lalita lagi.
“Tapi sekarang bukan saatnya mencari siapa yang salah atau siapa yang benar, Ma. Yang harus kita lakukan adalah menghadapi semuanya dan memastikan agar keadaan tidak menjadi semakin buruk. Kak Risa sedang sakit dan membutuhkan kehadiran Mama. Sebaiknya, besok Mama pulang untuk mendampingi Kak Risa. Katanya operasi tidak bisa dilakukan tanpa tanda tangan persetujuan dari wali, kan?”
“Kalau Mama pulang, lalu bagaimana dengan kamu dan papamu di sini? Tidak mungkin kalian ikut pulang juga. Terapi papamu masih harus terus dilakukan agar siklus pelatihan sarafnya tidak terputus. Sangat disayangkan kalau harus mengulang dari awal lagi.” Riani terlihat sangsi. Masih ada sisa isakan yang tertahan di bibirnya.
Hati Lalita begitu terenyuh. Bahkan pada saat seperti ini, mamanya ini masih memikirkan dirinya dan sang papa. Padahal, saat telah kembali sehat nanti, belum tentu juga Arfan akan berterima kasih atas apa yang telah Riani lakukan untuknya. Ah, sungguh rumit hubungan kekeluargaan mereka.
“Mama tidak perlu mengkawatiran aku dan Papa dulu. Yang perlu Mama khawatiran saat ini adalah Kak Risa. Aku sendiri yang akan mendampingi Papa menjalani terapi untuk sementara ini. Kalau memang aku merasa kerepotan dan tidak sanggup melakukannya sendirian, aku akan minta Om Erlan untuk mengirim orang yang bisa membantuku di sini,” ujar Lalita meyakinkan.
Riani terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan.
__ADS_1
“Aku harap, operasi Kak Risa berjalan lancar dan kak Risa bisa segera pulih,” ujar Lalita lagi dengan tulus.
Riani kembali mengangguk pelan. Air matanya kembali jatuh tanpa bisa ditahan saat mengingat lagi keadaan Larisa yang diceritakan oleh Erick tadi. Rahim putrinya itu rusak dan sekarang harus diangkat. Riani mengembuskan napas panjang dengan perasaan sakit tak terperi. Sekarang baru dia mengerti kenapa Larisa selalu menolak setiap lamaran dari lelaki yang menaruh hati padanya. Rupanya karena dia tahu jika dirinya tak akan pernah bisa memberikan keturunan untuk lelaki yang menjadi suaminya. Karena itulah dia tak pernah mau menikah.
Ah, Riani tak tahu apa yang akan dia lakukan saat bertemu dengan Erick nanti. Dia juga merasa marah dan kecewa dengan lelaki itu karena telah menyebabkan putrinya menjadi seperti sekarang. Tapi seperti yang Lalita katakan tadi, semua yang terjadi sekarang bukan hanya kesalahan dari satu orang saja. Semuanya punya andil dan melampiaskan kemarahan pada orang lain tak akan ada gunanya.
“Selama ini, Mama lebih banyak memperhatikan aku ketimbang Kak Risa. Sekarang ini pastilah saat-saat paling buruk untuk Kak Risa. Jangan sampai dia berpikir jika dirinya sendirian. Karena berbagai alaasan, aku mungkin tak bisa terlalu dekat lagi pada Kak Risa maupun Erick. Tapi aku harap, mulai sekarang Mama akan selalu ada untuk Kak Risa.” Lalita kembali menambahkan dengan nada yang lebih rendah daripada sebelumnya.
“Lita ….” Riani tak mampu lagi mengatakan apapun. Dia kembali memeluk Lalita dengan perasaan yang mengharu biru.
“Maafkan Mama dan kakakmu, Lita,” ujar Riani sembari kembali terisak.
“Kita semua punya rasa sakit masing-masing, Ma. Tidak ada gunanya saling menyalahkan. Berada di posisi Kak Risa juga pasti sulit. Bahkan hanya membayangkannya saja, aku tidak sanggup. Mama, Papa, Erick, Kak Risa dan juga aku, kita semua menyimpan luka tersendiri. Aku tidak sedang berusaha untuk terlihat baik, tapi aku ingin belajar untuk melihat semuanya dari segala sisi,” sahut Lalita sembari membalas pelukan Riani.
Seperti Riani yang menangis pilu, Lalita juga meneteskan air matanya meski dalam diam. Sejujurnya, fakta baru yang diungkap oleh Erick tadi kembali membuatnya terguncang, tapi sekarang dia belajar untuk lebih berlapang dada menerima kenyataan. Lalita berusaha untuk menjadi pribadi yang lebih dewasa. Pintu hatinya mungkin tak akan pernah terbuka lagi untuk Erick, tapi dia tak ingin hatinya dikuasai oleh kebencian. Bagaimana pun berengseknya Erick, lelaki itu tetap ayah dari calon anaknya. Meski dalam hati Lalita juga menegaskan, hanya sebatas itu saja hubungannya dengan Erick di masa depan. Tidak akan pernah lebih!
Bersambung ….
__ADS_1