The Broken Ring

The Broken Ring
Permintaan Maaf Arfan


__ADS_3

"Tidak masuk ke dalam, Tuan?" tanya Erlan pada Erick yang sejak tadi mematung di depan pintu ruangan tempat Larisa dirawat.


Beberapa saat yang lalu, Erick memang bergegas menuju ke rumah sakit karena mendengar Larisa sudah diperbolehkan pulang. Dia berniat untuk ikut mengantar Larisa pulang. Namun, sesampainya di rumah sakit, Erick melihat Erlan berdiri di luar ruangan Larisa. Mengingat Arfan sudah kembali dan kondisinya sudah sangat membaik, sudah pasti di dalam ruangan pasti ada mantan mertuanya itu.


Erick hendak masuk, tapi diurungkan niatnya karena sepertinya pembicaraan di dalam sedang sangat serius. Bahkan terdengar suara tangisan Riani. Meski tak bermaksud menguping, tapi apa yang dibicarakan di dalam ruangan tersebut terdengar di telinga Erick. Rupanya Arfan sedang meminta maaf pada Riani dan Larisa, serta meminta mereka untuk kembali pulang ke rumah kediaman keluarga Baskara.


Untuk sesaat Erick merasa tak percaya dengan pendengarannya sendiri. Bagaimana bisa seorang Arfan yang dikenalnya keras serta memiliki harga diri tinggi sampai memohon untuk dimaafkan seperti itu. Tapi kemudian Erick bisa merasakan jika nada bicara Arfan terdengar begitu tulus dan penuh penyesalan. Mungkinkah Arfan memang sudah menyesali apa yang telah dilakukannya, serta ingin berubah menjadi lebih baik untuk Larisa dan Riani? Entahlah, Erick juga tak begitu yakin, mengingat selama ini hanya Lalita saja yang dipedulikan oleh Arfan, bahkan sampai menghalalkan segala cara demi untuk membahagiakan putrinya itu.


"Tuan Erick." Erlan kembali memanggil Erick.


"Iya," sahut Erick akhirnya sambil menoleh ke arah Erlan.


"Kenapa Tuan tidak masuk saja?" tanya Erlan lagi.


"Tidak perlu. Sepertinya Risa sudah dijemput oleh Papa ...." Erick terdiam sejenak setelah memanggil Arfan dengan sebutan papa di hadapan Erlan.


"Maksud saya, dijemput oleh direktur," ujar lelaki itu meralat. Setelah resmi bercerai dengan Lalita, rasanya memang tak sepantasnya dirinya memanggil Arfan dengan sebutan papa lagi.


"Saya akan pulang saja. Tidak perlu bilang ke siapapun kalau saya datang," ujar Erick lagi sembari membalik badannya.


Erlan terdiam sejenak, sebelum akhirnya mengiyakan. Dia memahami posisi Erick.


"Saya permisi, Pak Erlan." Erick pun berlalu dari hadapan Erlan sambil membawa kembali buah tangan yang tadinya dia beli untuk Larisa.


Erlan hanya bisa menatap kepergian Erick tanpa mengatakan apapun. Sedangkan Erick sendiri terus melangkah gontai dengan tatapan lurus ke depan. Masih terngiang kembali di telinganya bagaimana tadi Arfan meminta maaf dengan amat sangat memohon pada Riani, bahkan pada Larisa. Kini keluarga itu telah kembali utuh karena sepertinya baik Larisa maupun Riani, keduanya bersedia memberikan Arfan kesempatan untuk menebus kesalahan-kesalahannya selama ini.


Baguslah. Erick ikut merasa senang meskipun di sisi lain dirinya juga merasa sesak. Lalita pasti semakin tak membutuhkan kehadirannya. Bahkan mungkin juga dirinya tak akan bisa untuk terlalu dekat dengan anak yang akan segera dilahirkan oleh mantan istrinya itu. Sepertinya dia akan benar-benar tersingkir dari kehidupan Lalita setelah ini.

__ADS_1


Senyum pahit tersungging di bibir Erick. Mungkin memang sudah tidak ada tempat lagi baginya untuk tetap berada di sekitar Lalita, kecuali hanya untuk status dari anak mereka. Dia juga tak mau memaksa kembali diterima karena hubungan yang ada di antara mereka sangatlah rumit. Ada Lalita yang akan segera melahirkan anaknya, lalu ada pula Larisa yang kini telah kehilangan rahim karena perbuatannya di masa lalu. Mungkin bisa saja Erick kembali pada salah satu dari mereka jika dia gigih berjuang. Tapi jika itu terjadi, maka hal itu akan menyisakan luka untuk yang lain. Rasa cintanya terhadap Lalita yang baru ia sadari saat ini juga tak cukup baginya untuk memperjuangkan mantan istrinya itu. Entahlah, mungkin hanya bertanggung jawab sebagai ayah bagi anak mereka saja yang bisa dia lakukan. Satu-satunya cara bagi dirinya untuk menebus kesalahannya di masa lalu, meski rasanya itu jauh dari kata cukup.


***


"Pa, ada Erick di ruang tamu. Mau bertemu Papa," ujar Riani pada Arfan yang sedang membaca laporan dari Erlan. Lelaki itu sekarang memang telah kembali bekerja, tapi masih dari rumah. Hubungannya dengan Riani juga sudah jauh lebih hangat. Mereka bahkan sudah tak sungkan dengan panggilan layaknya suami istri yang telah memiliki anak-anak.


Arfan mendongak dan terdiam sejenak.


"Erick?" ulangnya kemudian.


Riani mengangguk. "Katanya ada yang mau dia bicarakan."


Arfan kembali tertegun. Sejak kembali dari Singapura, dia memang belum bertemu dengan Erick sama sekali. Seperti ada sesuatu yang kini terasa mengganjal di hatinya saat mendengar nama mantan menantunya itu. Antara merasa bersalah, tapi juga ada rasa marah dan kecewa yang masih tersisa.


"Baiklah," ujar Arfan kemudian sembari bangkit dari duduknya. Dia kemudian melangkah meninggalkan ruang kerjanya, diikuti dari belakang oleh Riani. Setelah beberapa bulan berlalu, kini lelaki itu telah bisa berjalan tanpa menggunakan tongkat lagi, tapi untuk jarak yang tidak terlalu jauh.


Menyadari kehadiran Arfan dan Riani, Erick langsung berdiri dan menunduk dengan hormat. Sikap yang selalu dia tunjukkan saat masih menjadi orang kepercayaan Arfan, sebelum menikahi Lalita.


"Duduklah," titah Arfan sembari duduk di hadapan Erick. Disusul oleh Riani.


Erick pun kembali duduk di tempatnya semula.


"Katanya kamu ingin bicara denganku?" tanya Arfan membuka percakapan.


"Iya," sahut Erick.


Erick kemudian mengeluarkan sebuah berkas dan diberikannya pada Arfan.

__ADS_1


"Ini adalah laporan proyek pembangunan hotel baru yang saya tangani beberapa bulan ini. Semuanya sudah hampir rampung, sudah tahap penyelesaian," ujar Erick.


Arfan memeriksa berkas yang diberikan Erick sejenak, lalu menatap ke arah mantan menantunya itu dengan raut wajah yang tak bisa dijabarkan. Sejak awal, proyek itu memang Erick dan Larisa yang menangani. Sempat tersendat karena semua yang terjadi. Tapi kemudian saat dirinya jatuh sakit, mereka kembali bergabung di manajemen hotel miliknya dan melanjutkan semua pekerjaan itu.


Terang saja berbagai macam perasaan kini berkecamuk di hati Arfan.


"Saya sudah menyelesaikan apa yang harus saya kerjakan, jadi setelah ini saya akan kembali mengundurkan diri. Niat awal saya kembali bergabung memang hanya untuk membantu sampai Direktur kembali pulih," tambah Erick lagi.


Arfan masih bergeming. Panggilan direktur yang keluar dari mulut Erick membuat mata lelaki itu kembali melirik ke arah mantan menantunya itu. Erick terlihat sedikit menunduk. Tak ada nada sarkas dari kata-katanya. Dia murni hanya ingin menunjukkan rasa tahu diri akan posisinya saat ini di hadapan keluarga Baskara.


"Saya ... minta maaf atas semua kesalahan saya selama ini. Baik pada Lita, maupun pada Risa." Erick kembali menambahkan. Kali ini dengan suara yang terdengar lebih rendah dari sebelumnya.


Arfan menghela napasnya sembari memejamkan mata sejenak. Benar, Erick telah melakukan kesalahan yang amat fatal, tapi semua itu juga karena dirinya. Arfan menyadari itu sehingga dia merasa tak memiliki hak untuk menghakimi Erick. Kesalahan yang dilakukannya juga tak kalah besar.


"Terima kasih atas semua kebaikan Direktur pada saya selama ini. Saya sungguh tidak akan pernah melupakannya," ujar Erick sekali lagi. Terlepas dari semua hal yang telah Arfan lakukan, tentu dia tak akan melupakan betapa besarnya jasa lelaki itu dalam hidupnya.


Semuanya masih diam mendengar kata-kata Erick, termasuk Arfan. Lelaki bahkan tercenung dengan ingatan kembali ke masa lalu. Tiba-tiba saja dia seakan melihat lagi sosok Erick yang masih berusia belasan tahun, sosok remaja yang membuatnya kagum hingga dia memutuskan untuk menyekolahkan dan menarik remaja itu untuk menjadi orang kepercayaannya.


"Erick." Arfan akhirnya bersuara setelah sejak tadi terdiam, membuat Erick sontak mengangkat wajahnya.


"Aku juga telah banyak melakukan kesalahan padamu. Maaf untuk semuanya," ujar Arfan. Ucapan yang membuat semua orang terkesiap tak percaya saat mendengarnya, termasuk Erick.


Bersambung ....


Mohon maaf karena baru bisa update lagi. Sebenarnya udah dari beberapa hari lalu mau update, tapi ga memungkinkan. Perasaan masih up down, kadang disertai sama sensasi fisik juga. Kadang bisa dibawa tenang, kadang ga kelawan, bikin cemas dan was-was. Alhamdulillah ga sampe panic attack.


Sekali lagi maaf ya. Terima kasih atas supportnya♥️

__ADS_1


__ADS_2