The Broken Ring

The Broken Ring
Sebuah Tamparan


__ADS_3

Dengan langkah yang agak terburu-buru, Riani melangkah menyusuri koridor rumah sakit. Sebelumnya, dia telah bertanya pada resepsionis rumah sakit tersebut dan mendapatkan informasi mengenai ruangan tempat Larisa dirawat saat ini. Dada perempuan paruh baya itu tampak naik turun menahan segala emosi yang berbaur menjadi satu. Raut wajahnya juga tampak tegang, menandakan jika saat ini ia tidaklah sedang baik-baik saja.


Selang beberapa menit kemudian, langkah Riani akhirnya terhenti di depan sebuah ruang rawat inap yang merupakan tempat Larisa dirawat. Helaan napas pun keluar dari mulutnya tanpa bisa dicegah, sebelum akhirnya dia mengulurkan tangan untuk mendorong pintu ruangan tersebut.


Riani masuk dengan perasaan yang tak dapat dijabarkan dengan kata-kata. Bersamaan dengan itu, Larisa yang sedang berbaring menoleh karena menyadari kedatangan seseorang. Dia sendirian di sana tanpa ada yang menjaga. Sungguh, hati Riani langsung terasa seperti diremas dibuatnya. Kemarahan dan kekecewaan yang dirasakannya sejak semalam langsung berubah menjadi kesedihan yang tak terkira.


"Mama ...." Larisa berbisik dengan suara yang nyaris tak terdengar, tapi terdengar begitu jelas di telinga Riani.


Riani tak menanggapi panggilan Larisa, tapi kakinya perlahan melangkah ke arah putrinya yang tengah terbaring tak berdaya itu. Larisa sendiri terlihat pasrah. Jika dilihat dari ekspresi sang mama, sudah pasti saat ini perempuan paruh baya itu sudah mengetahui tentang kondisi dirinya dan apa penyebabnya. Borok yang selama ini berusaha ia tutupi, akhirnya sekarang ketahuan juga.


"Di mana Erick?" Itulah pertanyaan yang pertama kali keluar dari mulut Riani setelah berhasil menguasai dirinya. Mengingat Ericklah yang menghubunginya dan memberitahukan tentang kondisi Larisa, ia pikir akan menemukan lelaki itu sedang menjaga putrinya saat ini. Lelaki itu juga penyebab dari penyakit yang Larisa derita sekarang, jadi sudah semestinya dia bertanggung jawab meski hanya sebatas mengurus Larisa di rumah sakit. Rupanya tidak. Entah sedang berada di mana Erick saat ini.


Larisa yang ditanya hanya bisa diam. Sebelumnya, dia sempat tak sadarkan diri dan barusan siuman tanpa ada siapapun di sisinya. Saat matanya terpejam, hanya sepintas terdengar suara dokter dan seorang perawat sedang saling berbicara. Tampaknya itu saat dirinya pemeriksaan. Lalu di mana Erick yang sebelumnya terlihat sangat khawatir akan keadaan dirinya? Entahlah.


"Aku ... tidak tahu ...." Pelan Larisa menjawab. Terdengar nada keputusasaan dari suara lirihnya itu.


Riani duduk di sebuah kursi yang ada di samping brankar Larisa, menghadap persis ke arah putrinya yang tengah terbaring lemah itu. Dengan mata yang mulai berkaca-kaca, ia menatap Larisa, membuat Larisa merasa semakin bersalah dan menoleh pelan ke arah lain. Tak bisa digambarkan lagi hancurnya perasaan Riani saat ini, sampai rasanya tak sanggup lagi dirinya mengatakan apapun.


"Maafkan aku, Ma ...." Larisa berujar lemah dengan agak tersendat. Sebisa mungkin dia menahan diri agar tak menangis di hadapan sang mama.


Riani diam, tak tahu harus menjawab apa. Mampukah dia memaafkan Larisa yang telah menghancurkan kehidupannya sendiri seperti ini? Entahlah, karena di sisi lain Riani juga tidak mampu diri sendiri.


Sejenak Riani memejamkan matanya, sehingga air matanya jatuh tanpa bisa ditahan. Namun, segera ia seka kedua belah pipinya yang basah. Dia juga menghela napas sejenak sembari berusaha menguasai diri, barulah setelah itu kembali membuka mata.

__ADS_1


"Ada banyak hal yang ingin Mama katakan padamu, Risa. Tapi sekarang bukan saat yang tepat. Mama harus menemui dokter yang menanganimu terlebih dahulu. Katanya kamu harus segera dioperasi dan dokter membutuhkan persetujuan walimu," ujar Riani kemudian memecah keheningan. Perempuan itu lalu bangkit dari duduknya.


Larisa kembali menatap ke arah sang mama dengan ekspresi tak berdaya. Sepertinya dia ingin mengatakan sesuatu, tapi tak memiliki keberanian untuk mengeluarkan suara.


"Jangan katakan kamu tidak mau dioperasi, jika itu yang ada dalam pikiranmu saat ini. Turuti kata-kata Mama jika kamu masih menganggap kalau Mama ini ibumu," ujar Riani sembari membalik badannya dan meninggalkan Larisa.


Air mata Larisa mengalir tanpa diminta. Sakit rasanya melihat kekecewaan yang terlihat jelas di wajah mamanya saat berbicara padanya tadi. Tak ada kata lemah lembut seperti yang biasa ia dengar. Yang ada hanya kalimat dengan nada dingin dan begitu menusuk.


Sementara itu, Riani juga sedang terisak lirih sembari memegangi dadanya di balik pintu masuk ruang perawatan Larisa. Hatinya begitu sakit melihat betapa menyedihkannya Larisa saat ini. Ibu mana yang akan tahan menyaksikan putrinya menderita. Sebesar apapun kesalahan yang dilakukan seorang anak, tentu tak ada seorang ibu yang tega melihat penderitaan anaknya.


Setelah berhasil menenangkan dirinya, Riani pun pergi menemui dokter yang menangani Larisa. Rupanya kedatangannya sudah sangat ditunggu oleh dokter tersebut mengingat betapa seriusnya kondisi Larisa saat ini. Rahim Larisa yang terinfeksi parah harus segera diangkat karena jika ditunda lagi maka nyawa taruhannya.


"Jika Nyonya sudah menyetujui tindakan yang akan kami lakukan, maka setelah ini kami akan segera mempersiapkan operasi untuk Nona Larisa. Semakin cepat semakin baik, Nyonya. Takutnya nanti kondisi Nona Larisa semakin drop, malah tidak bisa dilakukan operasi," ujar dokter itu setelah menjelaskan kondisi Larisa secara menyeluruh.


"Baiklah, kalau begitu. Kami akan melakukan operasi pada Nona Larisa secepatnya," ujar dokter itu lagi.


Riani mengangguk, sebelum akhirnya pamit undur diri. Dia segera keluar dari ruangan dokter tersebut dan berniat kembali menuju ruang tempat Larisa dirawat.


"Mama." Sebuah suara membuat langkah Riani terhenti persis saat dia telah berada di depan ruangan Larisa.


Riani menoleh dan mendapati Erick berdiri tak jauh dari tempatnya berdiri saat ini. Seketika dia terkesiap dan dadanya bergemuruh tak menentu melihat lelaki itu.


"Kenapa Mama tidak mengabari saya kalau sudah sampai. Saya bisa jemput Mama di bandara," ujar Erick mendekati Riani.

__ADS_1


Entah bagaimana, darah Riani mendidih mendengar kalimat yang diucapkan oleh Erick barusan. Dia yang biasanya begitu penyabar kini begitu mudahnya tersulut emosi hanya dengan melihat wajah Erick saja.


"Apa tadi Mama sempat sarapan sebelum berangkat? Kalau belum, biar saya belikan dulu makanan untuk ...."


Plak!


Belum sempat Erick menyelesaikan kata-katanya, sebuah tamparan yang begitu keras tiba-tiba saja mendarat di pipinya, membuat lelaki itu kaget bukan kepalang.


Erick mengangkat wajahnya masih dengan ekspresi terkejut. Lebih terkejut lagi dia saat melihat wajah Riani yang biasanya sangat lembut, kini tengah menatapnya murka.


"Itu untuk luka yang kamu berikan pada Lalita," ujar Riani tajam.


Plakkk! Sebuah tamparan yang lebih keras kembali mendarat di pipi Erick yang satunya.


"Dan ini untuk penderitaan yang Larisa rasakan saat ini karena kebrengsekanmu!" geram Riani lagi dengan suara yang agak bergetar karena amarah.


Bersambung ....


Hai, apa kabar semuanya? Maaf baru bisa update lagi.


Alhamdulillah, sekarang saya sudah sedikit-sedikit bisa nulis lagi. Kondisi saya juga sudah jauh lebih baik daripada sebelumnya. Meskipun perasaan itu masih terus ada, tapi seenggaknya saya ga setakut waktu itu.


Insya Allah, Lalita akan lanjut, tapi saya ga bisa janji apakah bisa update tiap hari atau ga. Minta doanya aja pokoknya.

__ADS_1


Sehat-sehat semuanya, ya♥️


__ADS_2