The Broken Ring

The Broken Ring
Pendosa yang Memohon Pengampunan


__ADS_3

Sementara itu, Lalita yang telah sampai di rumah sakit tampak membantu Riani membereskan barang-barang Larisa yang akan dibawa pulang. Barusan dokter juga melakukan pemeriksaan terakhir pada Larisa. Hasilnya tak ada yang perlu dikhawatirkan. Kondisi Larisa dinyatakan sehat, hanya perlu waktu untuk pemulihan saja.


"Mama dan Kak Risa akan pulang ke rumah kita, kan?" tanya Lalita setelah selesai beres-beres.


Riani tampak menghentikan apa yang dia kerjakan, sebelum akhirnya berusaha tersenyum ke arah Lalita.


"Mama dan Risa akan pulang ke rumah lama Mama, Lita," sahut Riani.


Lalita tertegun sejenak.


"Pulang ke rumah lama Mama?" ulang Lalita.


"Iya. Tentu saja Mama dan Risa pulang ke sana. Sebelumnya, kami memang sudah tinggal di sana. Kamu tidak lupa kan kalau Mama dan Kakakmu kembali untuk sementara karena Papamu tiba-tiba sakit?" Riani balik bertanya.


Lalita sedikit menghela napas. Bukannya dia tidak ingat tentang apa yang telah terjadi sebelumnya. Hanya saja, karena sekarang situasi sudah berubah drastis, tentu dia berharap mama dan kakaknya bisa kembali pulang ke rumah mereka.


"Sekarang Papamu bisa dibilang sudah sembuh, Lita. Tugas Mama sudah selesai. Sekarang Mama juga harus fokus mendampingi Kakakmu agar dia cepat pulih," tambah Riani lagi sembari menoleh sekilas ke arah Larisa yang sedang duduk di pinggiran brankar.


Lalita masih terdiam. Dia ingin sekali membujuk Riani dan Larisa agar mau pulang ke rumah mereka, tapi entah apa yang mesti dia katakan. Memaksa mereka juga bukan hal yang pantas.


"Sekarang Kakakmu membutuhkan Mama." Sekali lagi Riani menambahkan.


Lalita mengangguk paham.


"Iya. Mama memang harus selalu mendampingi Kak Risa sampai Kak Risa benar-benar pulih." Lalita akhirnya menjawab sembari tersenyum tipis.


"Sejak dulu Mama lebih banyak memperhatikan aku daripada memperhatikan Kakak. Tentu saja sekarang Mama mesti lebih memperhatikan Kakak," tambah Lalita.


Riani tampak menunduk sekilas sembari menghela napas dalam. Rasa bersalah karena selama ini telah terlalu banyak mengabaikan Larisa kembali memenuhi hatinya.


"Kalian berdua tidak ada bedanya bagi Mama. Kalian sama-sama putri Mama. Meski mungkin cara Mama selama ini salah dan seperti pilih kasih, tapi rasa sayang Mama pada kalian tidak pernah pilih kasih," ujar Riani. Tentu saja kata-kata itu lebih dia tujukan untuk Larisa yang sejak tadi hanya mendengarkan saja.

__ADS_1


"Sudahlah, Ma. Tidak usah membicarakan hal-hal yang sudah berlalu. Meskipun dulu aku tidak bisa bermanja-manja pada Mama seperti Lita, tapi sekarang kan bisa. Dokter memintaku untuk lebih banyak beristirahat. Jadi apalagi yang bisa aku lakukan selain menjadi anak manja." Larisa akhirnya menimpali dengan sedikit bercanda.


Lalita sengaja menanggapi dengan tertawa kecil agar suasana menjadi cair.


"Kak Risa benar. Kalau dulu aku yang manja, sekarang giliran Kak Risa. Nanti tidak akan lama lagi, giliran cucu Mama juga yang manja pada Mama," sahut Lalita.


Riani tersenyum. Dalam hati perasaannya sedih dan bahagia bercampur menjadi satu. Entahlah, apa nanti dia bisa menimang anak yang dilahirkan Lalita sebagai cucu, mengingat mungkin setelah ini dirinya akan segera berpisah secara resmi dengan Arfan. Sebelumnya, sangat jelas lelaki itu telah menganggap dirinya tak berguna lagi. Meskipun Lalita pernah berkata pada Larisa jika Arfan telah berubah, tentu itu terlalu sulit dipercaya.


"Ya sudah, sekarang kita langsung pulang saja. Mama sudah memesan taksi dan sekarang taksinya sudah menunggu di parkiran rumah sakit." Riani menyudahi pembicaraan sembari beranjak.


"Aku ikut mengantar sampai ke rumah Mama, ya," pinta Lalita.


"Ya, baiklah. Asalkan Papamu nanti tidak marah," sahut Riani.


"Tentu saja tidak. Memangnya kenapa Papa marah?"


"Benar. Memangnya kenapa aku marah?" Sebuah suara yang menimpali ucapan Lalita membuat semua orang menoleh.


Di ambang pintu, tampak Arfan muncul dengan menggunakan kursi roda, didorong dari belakang oleh Erlan.


Arfan tak menanggapi keterkejutan semua orang. Dia bangkit dari kursi roda, lalu mengisyaratkan Erlan untuk menunggu di luar. Setelah itu, dia pun berjalan mendekat ke arah Larisa dengan bantuan sebuah tongkat.


"Bagaimana kabarmu, Risa?" tanya Arfan saat telah berada di hadapan gadis itu.


"Ba-baik," sahut Larisa dengan sedikit terbata. Dia tampak canggung berhadapan langsung dengan Arfan setelah sekian lama.


Arfan sendiri terlihat menatap Larisa dengan raut wajah yang tak bisa dijabarkan. Sesaat kemudian, lelaki paruh baya itu menundukkan pandangannya dengan sedih. Setelah lebih dari dua puluh dua tahun lamanya, ini kali pertama dia melihat Larisa seperti halnya dia melihat Lalita. Sungguh memprihatinkan keadaan gadis itu saat ini. Wajahnya pucat dan tubuhnya jauh lebih kurus daripada yang Arfan ingat. Belum lagi, sekarang Larisa juga sudah tak memiliki rahim. Kondisi yang cukup menakutkan bagi sebagian perempuan, terutama yang belum menikah.


Kini Arfan pun semakin menyadari jika telah begitu banyak kesalahan yang telah dia lakukan pada Larisa. Sosok yang sejak kecil telah dia berikan tekanan sedemikian rupa, hingga sekarang sosok itu nyaris saja hancur.


"Papa mohon, jangan pulang ke rumah lama Mamamu, Risa. Pulanglah ke rumah kita. Rumah itu terasa begitu kosong sejak kalian pergi," ujar Arfan kemudian. Kalimat yang tentu saja kembali membuat semua orang terkejut saat mendengarnya.

__ADS_1


"Ya?" Larisa tampak memperlihatkan raut wajah tak mengerti. Dia tak percaya dengan pendengarannya sendiri. Semenjak menyandang nama Larisa Baskara, baru kali ini dia mendengar nada bicara yang begitu lembut keluar dari mulut Arfan untuknya. Seolah lelaki paruh baya itu bukan berbicara padanya, tapi pada Lalita.


"Pulanglah ke rumah kita, Risa. Papa sungguh minta maaf atas semua kesalahan yang selama ini Papa lakukan padamu dan Mamamu. Maafkan Papa ...," ujar Arfan lagi.


Larisa terkasima. Sungguh, dia hampir tak percaya saat Lalita mengatakan padanya jika Arfan telah berubah. Tapi sekarang dia mendengar sendiri permohonan maaf lelaki paruh baya itu.


"Selama ini, Papa hanya memperlakukan kamu dan Mamamu seperti alat, tidak pernah sekalipun memperlakukan kalian layaknya keluarga. Tolong beri Papa kesempatan untuk menebus semua itu. Pulanglah ... rumah itu juga rumah kalian." Arfan kembali menambahkan.


Larisa tak tahu harus berkata apa. Dia sudah terbiasa dengan Arfan yang datar dan memperlakukannya dengan dingin. Agak tak siap rasanya ia menghadapi Arfan yang seperti ini.


"Terima kasih karena sudah berkata seperti itu, Pa. Tapi aku akan tinggal di mana Mama tinggal. Mama sudah memutuskan untuk keluar dari rumah Papa dan tinggal di rumah lamanya. Maka di sanalah tempat aku pulang," Larisa akhirnya menyahut setelah sejak tadi hanya terpana.


Arfan terdiam sejenak. Benar, Larisa adalah anak yang sangat berbakti pada ibunya. Selama ini, dia sanggup melakukan apa saja dan menahan apa saja hanya demi Riani.


Perlahan Arfan membalik badannya dan melihat ke arah Riani yang saat ini tengah menatapnya tak percaya. Lelaki paruh baya itu pun melangkah tertatih ke hadapan sang istri yang selama ini tak pernah dia anggap sama sekali selain perannya sebagai ibu untuk Lalita.


"Riani ...." Untuk pertama kalinya Arfan menyebut nama itu dengan segenap hati. Nama dari perempuan yang sejak lama mencintainya dalam diam, meski keberadaannya tak dihargai.


Riani sendiri menatap Arfan dengan raut wajah yang sulit dilukiskan. Matanya tampak memerah dan berkaca-kaca. Entah apa yang sedang dirasakannya saat ini.


"Maafkan aku, Riani ...." Arfan bergumam serak dan dalam.


Riani bergeming. Menolak percaya dengan apa yang didengar dan disaksikannya sejak tadi.


"Maafkan aku, karena tidak bisa melihat ketulusanmu. Maafkan aku karena telah bersikap tidak adil padamu dan Larisa. Maafkan aku karena membuat kalian banyak menderita ...." Kalimat Arfan kembali terjeda.


Sesaat kemudian, semua orang di ruangan itu tampak melebarkan mata mereka tatkala Arfan melepaskan tongkatnya dan berlutut di hadapan Riani layaknya seorang pendosa yang memohon pengampunan.


"Kumohon, Riani .... Teruslah berada di sisiku ... bukan hanya sebagai ibu untuk Lita, tapi juga sebagai istriku ...." Arfan memohon.


Riani masih bergeming dengan air mata yang mulai tak terbendung.

__ADS_1


"Sekali saja .... Kumohon sekali saja, beri aku kesempatan untuk bersikap layaknya seorang suami untukmu ...."


Bersambung ....


__ADS_2