
Farrell mendengar suara-suara asing ketika malam tiba. Suara tersebut berasal dari deru angin. Angin membawa badai salju. Serpihan salju menabrak jendela tanpa lelah. Mereka menimbulkan kebisingan dan suasana mencekam. Keheningan malam berubah karena cuaca buruk. Samar-samar, dia juga bisa mendengar suara hewan. Sejenis lolongan serigala.
Dihantui rasa tidak enak, Farrell membuka mata. Kamarnya masih dinaungi kegelapan. Tirai yang dia biarkan terbuka menunjukkan kerasnya badai yang sedang berkunjung. Mereka memukul kaca berulang kali. Farrell berpikir mungkin seharusnya tadi dia juga menutup daun jendela kayu, memastikan agar kaca tak pecah. Cuara ramah telah lama sirna. Dari sudut tempat dia berbaring, matanya hanya bisa melihat kegelapan bercampur warna putih salju. Tak ada awan, tak ada sinar bulan. Hanya ada tumpukan salju kelabu di kejauhan.
Mendadak, pikirannya teringat pada cuaca cerah di sisi lain penginapan. Ruang makan besar, yang beberapa saat tadi dia hampiri, terlihat begitu damai. Cuaca bersahabat, matahari bersinar lembut, salju tak bernoda menempel di sisi luar jendela. Rasanya nyaman sekali bila dibandingkan dengan kondisi malam ini. Mungkin Milo dan Libby bisa tidur nyenyak sekalipun dihampiri badai, tapi tidak dengan dirinya.
Saat itu, Farrell menyadari hal lain lagi. Dia sendirian. Farrell mengerjap mengusir kantuk. Dia berusaha melihat lebih jelas dalam kegelapan. Tapi, dia tak melihat kedua adiknya di sana. Milo serharusnya ada di ranjang sebelahnya, namun ranjang itu kosong. Selimutnya tersibak tanpa orang. Libby juga tadi tidur di ranjang besar. Sama seperti kondisi ranjang Milo, tak ada seorang pun di sana. Masih tak percaya, dia menyalakan lampu duduk di sebelah mejanya.
Sinar remang menaungi ruangan. Matanya tak menipu. Tidak ada seorang pun di sana selain dirinya. Sekalipun ada Toto di ranjang Libby. Dalam kebingungan, dia berusaha mendengarkan suara lain di tengah badai. Misalnya suara dari kamar mandi. Mungkin mereka ada di kamar mandi. Nyatanya, tak ada suara apa pun selain suara badai.
Farrell bangun dari ranjang. Begitu menyingkirkan selimut, rasa dingin menyerangnya. Buru-buru, dia mengambil jaket dan menutupi leher dengan scarf. Didorong rasa penasaran dan cemas, Farrell meninggalkan kamar. Ketika itu, jam menunjukkan pukul dua pagi.
Lorong hotel masih sama seperti tadi. Lorong ini dipenuhi cahaya kuning lampu. Dia mendapati kalau jendela di ujung lorong kini tertutup rapat. Bukan hanya jendela itu, dia juga menemukan jendela-jendela lain dalam kondisi sama. Daun jendela kayu menutupi kaca jendela. Meski tak bisa melihat ke luar, tapi Farrell masih bisa mendengarkan suara deru angin. Mereka seolah ingin memaksa masuk ke dalam.
Setidaknya pintu utama penginapan di lantai satu tidak demikian. Daun pintu kayunya masih terbuka sementara pintu kacanya dihantam badai salju. Untung pintu kaca itu cukup tebal dan ada pula bingkai kayu di sekelilingnya. Salju tipis sudah mulai menumpuk di teras. Entah berapa lama badai telah berlangsung dan akan berlangsung. Dalam hati kecilnya, Farrell berharap badai segera reda. Kegelisahan menghampirinya lagi. Rasa yang sama ketika dia menyetir kemari.
“Bisa kubantu?” Pegawai di balik meja resepsionis menghampiri Farrell yang turun ke lobby.
“Aku hanya mencari adikku,” katanya sambil melirik nama si pegawai. Masih sama seperti tadi siang,‘Emily’.
“Remaja laki-laki dan anak perempuan kecil, Milo dan Libby, benar? Aku belum melihat mereka sejak makan malam tadi. Apa mereka nggak ada di kamar?” Emily balik bertanya.
__ADS_1
“Mungkin mereka sedang mencari camilan. Milo sering melakukannya,” kata Farrell, separuh ditujukan pada dirinya. Ini kedua kalinya mereka menghilang hari ini tanpa bicara padanya.
“Apa aku perlu minta bantuan para staff lain untuk mencari mereka?”
Farrell menggeleng. “Nggak. Aku yakin mereka akan segera kembali.”
“Sebenarnya, restoran sudah tutup sejak pukul sepuluh tadi. Tapi, kamu tetap bisa memesan makanan untuk diantar ke kamar. Beritahu aku atau staff lain kalau butuh sesuatu.”
“Oke. Terima kasih—”
Belum selesai bicara, dari sudut matanya, Farrell melihat sosok Milo. Adiknya membuka pintu restoran dan baru keluar dari sana. Padahal tempat itu sudah tutup. Ruangannya juga gelap gulita tanpa setitik pun cahaya. Di belakangnya, Libby berjalan pelan dengan mata sayu.
Milo berhenti tanpa sedikit pun menoleh padanya. “Jalan-jalan mencari hal menarik,” ujarnya singkat dan datar. Matanya menerawang jauh ke depan seolah tak mau melihat kakaknya.
“Hal menarik di tengah malam begini?” sambung Farrell. “Bersama Libby?”
“Siapa tahu benda itu hanya muncul tengah malam.” Milo masih tak menoleh padanya. Tatapannya cenderung kosong, mengarah ke ruang duduk di depan sana.
“Tengah malam? Benda apa maksudmu?”
“Kamu seharusnya membantu kami menemukannya.”
__ADS_1
“Aku sama sekali nggak paham omonganmu.” Farrell melipat tangannya ke depan dada, “Milo! Libby! Apa kalian tidur sambil berjalan?”
Begitu namanya disebut, Milo tersentak. Dia menguap dan menoleh pada Farrell. “Hah? Apa? Oh! Di mana kita? Lobby? Tadi… Tadi aku keluar kamar… untuk apa ya?” Milo menggaruk belakang kepalanya, menguap lagi, lalu menoleh pada Libby. “Hei, tadi kita keluar kamar untuk apa ya?”
“Hah?” Libby menoleh padanya sambil mengucek mata. “Aku ngantuk.”
“Apa itu coklat?” Farrell melihat sedikit noda coklat di mulut adik perempuannya.
Libby mengusapnya dengan punggung tangan. Noda tersebut pindah ke sana bersama rasa lengket dan bau manis. “Kurasa begitu.”
“Itu seperti bekas chocolate maple bar tadi siang,” sahut Milo. “Apa tadi kita keluar untuk makan itu, ya? Mencari camilan malam?”
“Apa itu nggak termasuk mencuri? Lagipula kalau kalian mau, tadi Remy membawakannya ke kamar dan masih ada sisanya. Aku sudah memberitahumu soal itu. Kenapa kamu nggak ambil itu saja?” Farrell berkacak pinggang sekarang.
“Kami hanya makan tanpa izin bukan benar-benar mencuri. Lagipula, ini penginapan keluarga kita.” Milo bicara begitu santai. Saat melihat kakaknya siap berdebat, dia langsung menambahkan, “Tapi, kamu benar juga. Kenapa aku nggak habiskan yang ada di kamar dulu, ya?”
Emily ikut bicara, “Mungkin kalian lelah karena perjalanan jauh. Kurasa lebih baik kalau kalian segera kembali ke kamar dan istirahat. Cuacanya cukup buruk malam ini dan sangat dingin. Jangan sampai kalian masuk angin atau kena flu. Tak ada yang mau sakit saat liburan.”
Farrell mendesah dan mengangguk. “Ya benar, kita memang lelah. Ayo tidur!”
Milo dan Libby naik tangga duluan. Farrell menyempatkan diri untuk berterima kasih sebelum kembali. Ketika dirinya menaiki tangga, Farrell yakin mendengar kembali suara serigala di balik raungan badai.
__ADS_1