
Bliss mengajak mereka ke bagian belakang tea room. Di sana Farrell melihat susunan batu yang serupa dengan di taman. Mereka tertata di tengah lorong menuju dapur. Sebenarnya Farrell tergelitik bertanya kenapa Bliss sampai punya portal semacam itu ke toko ramuan lain. Tapi, firasatnya mengatakan akan segera tahu setibanya mereka di sana.
Farrell merasakan sensasi serupa yang dia rasakan beberapa saat lalu. Perubahan udara disertai hembusan angin dari bawah. Berikutnya, mereka tiba di sisi lain kota. Suasananya cukup berbeda. Mereka tak lagi berada di tengah kota. Tempat ini lebih sepi. Hanya beberapa orang terlihat berlalu lalang. Bangunannya tua dan kelihatan lebih kusam. Jalanannya diaspal namun sudah berlubang di beberapa sisi.
Mereka bediri di tepi trotoar menghadap sebuah toko tiga lantai yang suram. Dindingnya tersusun dari bata merah tanpa plester, membuatnya berbeda dari deretan lain yang berwarna kelabu. Jendelanya berawan serta dihiasi jaring laba-laba di berbagai tempat. Pintu kacanya berkusen kayu yang mulai menghitam. Di sanalah tertulis nama toko ‘Blub. Potion and Poison’.
“Milo pasti akan mengomentari nama toko ini,” gumam Farrell. “Blub? Serius?”
“Kalau masalah ini sudah beres, kita bisa ajak adikmu berkeliling dunia sihir. Kita lihat berapa lama dia akan bertahan mengomentari setiap nama toko.”
Farrell mengedarkan pandangan dan menyadari nama toko lainnya tak kalah unik. Toko tepat di samping kanan Blub bernama ‘Tick Tock, Knick Knack’. Setelahnya, ada toko baju ‘Ckris’ dan toko kue ‘Eat us meat’. “Mereka kreatif.”
Christo sudah berjalan lebih dulu ke pintu. Ketika dia membukanya, terdengar suara lonceng dari atas pintu. Di dalam toko, etalase panjang membentang dari setiap sisi, mengurung pengunjung dalam ruang persegi seluas sembilan meter. Etalase kaca tersebut berisi berbagai macam botol berisi ramuan aneka warna. Ada pula buku-buku tebal bersampul kulit, gulungan perkamen, tengkorak, lilin, dan beragam toples. Di balik etalase sendiri, masih ada deretan rak tebal menjulang hingga ke atas. Mereka memuat aneka kotak dan keranjang, bersandar pada setiap dinding.
Tak lama, Farrell mulai mendengar suara-suara keriapan. Dia tahu jelas karena Bliss sudah memperingatkan mereka sebelumnya. Laba-laba. Dia mulai melihat berbagai jenis hewan berkaki delapan itu muncul dari berbagai sudut. Celah tembok, balik lemari, hingga dari langit-langit ruangan. Ukurannya bervariasi. Ada yang sebesar piring makan dan ada pula yang sekecil gula kubus.
“Itu kelihatan beracun,” bisik Farrell sambil melirik satu laba-laba berwarna oranye berjalan di etalase mendekati posisi Christo.
“Laba-laba di sepatumu juga sama,” bisik Christo, mendongak pada sepatu Farrell.
Farrell terkesiap namun tak berani bergerak. Laba-laba sebesar kepalan tangan bergerak menaiki sepatunya. Sama seperti laba-laba di etalase, laba-laba ini juga memiliki bulu di sepanjang tubuhnya. Warnanya merah menyala dengan guratan-guratan hitam.
__ADS_1
“Tidakkah mereka cantik?” Seorang bapak tua muncul dari salah balik salah satu lemari. Rupanya lemari di tengah bisa berputar, berfungsi ganda sebagai pintu ke bagian dalam toko.
“Selamat siang, Anda pasti Hendrick,” sapa Christo.
Pria tersebut mengangguk. “Dan, kalian pasti kenalan Bliss. Aku sudah lama bekerja sama dengannya. Dia pesan beberapa ramuan spesial dariku, ramuan penumbuh rambut dan alis, misalnya.” Hendrick membuka topi baretnya, menunjukkan rambutnya yang tebal meski kelabu. Dia terkekeh setelahnya, membuat kerutan di wajahnya makin nampak. Badannya kecil, sedikit bungkuk, mengenakan kemeja lengan panjang kotak-kotak kelabu dengan suspender coklat. “Tapi, sepertinya kalian tidak perlu ramuan penumbuh rambut dariku. Jadi, apa yang bisa kubuatkan untuk kalian?”
“Kami butuh ramuan penawar.”
“Ehm, sebelum itu, pak Hendrik… Bolehkah kalau laba-laba ini bermain di tempat lain?” sahut Farrell sebelum pembicaraan berlangsung lebih jauh.
Hendrick tertawa lagi. Farrell mengira giginya banyak yang sudah tanggal, ternyata gigi Hendrick tua masih lengkap. Hendrick pun memanggil peliharaannya, “Kinky, kemarilah. Yang lain juga, jangan mengganggu dulu. Aku sedang ada tamu. Kami mau ngobrol.”
Entah bagaimana para laba-laba itu mengerti. Satu per satu mulai pergi dan kembali ke tempat mereka semula. Laba-laba di kaki Farrell beranjak turun. Dia menyusuri lantai kayu dan hilang di salah satu lubang pada dinding bagian bawah.
“Penawar dari ramuan pengaruh pikiran,” jawab Christo.
“Oh, itu akan sedikit sulit. Pertama, aku butuh contoh ramuannya. Aku harus tahu apa saja campuran ramuan itu dulu baru bisa membuat penawarnya. Harganya akan bergantung dari langka atau tidaknya bahan-bahan penyusun penawar.”
“Bagaimana kalau kalau tanpa contoh ramuan? Apa itu mustahil?” tanya Farrell. Dia tak begitu yakin kalau mereka bisa membawakan ramuan Denise pada Hendrick. Setidaknya saat ini, Farrell tak punya cara untuk melakukannya.
Hendrick mengangguk. “Kalau aku membuatnya asal, penawarnya bisa berubah jadi racun mematikan. Itu lebih buruk daripada pikiran yang dipengaruhi orang lain. Ngomong-ngomong, ramuan itu disebut ramuan manekin. Efeknya membuat si peminum menuruti keinginan si pembuat. Ramuan yang digunakan untuk mengontrol orang atau mengorek informasi dari mereka. Ya, tapi nggak sedikit juga orang awam menyebutnya ramuan pengaruh pikiran. Semakin sering meminumnya, semakin kuat efeknya.”
__ADS_1
“Memang, dari awal kami menduga kalau ramuan itu diminum terus, efeknya akan permanen. Apa itu benar? Bliss juga bilang semakin mendekati warna merah, semakin kuat ramuannya. Ramuan manekin yang kami lihat berwarna magenta,” Farrell memastikan.
“Magenta… seperti apa warna itu?” Hendrick menggaruk dahinya.
Farrell menunjuk salah satu botol ramuan berwana ungu cenderung merah, “Seperti itu.”
“Tidak begitu kuat rupanya, tapi cukup ampuh asal diminum berkala tiga kali sehari.”
Farrell bergumam pelan, “Sarapan, makan siang, makan malam, dan kudapan. Mereka mendapat ramuan lebih dari dosisnya.”
“Kalau begitu, kalian harus cepat.”
Farrell mendekati Christo dan separuh berbisik, bertanya, “Bagaimana caranya kita kembali ke sana dan mengambilnya dari Remy? Apa mungkin kalau kita minta bantuan Gizmo?”
Christo berpaling dan tersenyum padanya. “Tak perlu bertanya, langsung kita coba saja.”
Mereka pun bergegas kembali ke tempat awal dari semuanya, Eden’s Lodge. Untuk kembali ke sana, keduanya berjalan cukup jauh ke tengah kota. Farrell mengira mereka akan menggunakan portal lagi, benar dan juga salah. Mereka memang bisa menggunakan portal di tengah kota untuk kembali ke kota kecil dekat penginapan. Tapi, untuk mencapai portal, mereka harus berjalan lebih dulu.
Sekembalinya mereka di kota kecil, bahkan sebelum Farrell sempat bertanya di mana Gizmo, Christo mendadak mencengkram lengannya dan menariknya menjauh. Farrell sudah cukup bisa menangkap maksud Christo. Sesuatu buruk terjadi. Sesudah mereka berbelok ke luar jalan raya, Christo melepaskan cengkramannya dan berjalan cepat, memimpin. Mereka berpapasan dengan segerombolan turis, berjalan di antara mereka, lalu segera memisahkan diri pada persimpangan.
“Mereka di sini, aku melihatnya,” kata Christo sambil tetap berjalan, namun tak secepat tadi.
__ADS_1
“Jim dan Joe?”
“Tepat.”