
Farrell menatap kegelapan. Langit hitam kelam balik menatapnya dalam keheningan. Tidak ada bintang, tidak ada salju. Dedaunan pohon yang menghalangi separuh tatapannya pun nampak sama seperti gelapnya langit malam. Dia tak keberatan, sebaliknya dia malah menikmati kegelapan itu, berbeda dari biasanya. Pikirannya melayang tanpa arah. Hingga amarah kembali memenuhi benaknya.
Kini dia merasa tak lagi mengenali keluarganya. Jangankan keluarga, dia bahkan tak mengenali dirinya sendiri. Semua bagaikan mimpi. Mimpi buruk. Dia ingin bisa terbangun dari semua itu. Dia berharap terbangun di kamarnya dengan cahaya mentari cerah menanti di balik tirai. Ibu menantinya di bawah dengan sarapan, ayah minum kopi sambil membaca koran, Milo bicara soal pertandingan basket, dan Libby membawa Toto berkeliaran dalam rumah. Namun, Farrell sadar dia tengah terbangun saat ini.
Kebenaran pahit membuatnya tetap terjaga.
Sebagian hatinya ingin menangis dan berteriak. Sebagian lagi ingin pergi dan melupakan semuanya. Dia ingin kembali ke dunianya. Ke dunia tanpa sihir. Mungkin ada satu dua teman yang bisa mendengarkan ceritanya, membantunya mencari tempat tinggal baru, bahkan — mungkin — membantu mencari orang tuanya yang sesungguhnya. Dia penasaran dengan reaksi orang-orang itu saat mendengar ceritanya. Mungkinkah mereka akan memandanganya dengan hina atau justru berbelas kasihan? Dengan kenyataan baru terkuak seperti ini, Farrell tahu jelas kalau dia tak bisa pulang ke rumah seolah-olah tak terjadi apa-apa. Bagaimana dengan adik-adiknya? Milo dan Libby?
Tidak! Farrell berseru dalam hatinya. Mereka bukan keluarganya. Dia mengingatkan dirinya lagi untuk sadar bahwa dia bukan bagian dari keluara Eden lagi.
“Farrell Eden?”
Farrell mendengar suara seseorang di dekatnya. Dia menoleh, mendapati seorang pemuda berdiri tak jauh dari posisinya. Pemuda itu mengenakan coat hitam dan sedang berjalan mendekat.
“Farrell Eden? Benar ‘kan? Sedang apa kamu di luar gerbang kota?”
Farrell masih tak percaya seseorang mendekat padanya dan menyebutkan nama yang baru saja berusaha dia lupakan. Pemuda itu, Vincent, berdiri di depannya sekarang. Farrell tak berniat menjawab dan memang tak berniat mengatakan apa pun. Dia bergeming di kursi taman penuh salju dengan pohon sebagai atapnya. Canggung, dia pun mengalihkan pandangan ke bawah.
“Kamu… baik-baik saja?” Vincent berusaha melihat wajah lawan bicaranya.
“Ya.” Akhirnya Farrell bersuara, pelan dan sedikit serak.
“Apa ada sesuatu yang terjadi?” Vincent bertanya lagi, nadanya sedikit ragu. “Kamu kelihatan… lelah.”
“Nggak ada yang terjadi,” kata Farrell lebih tegas. Dia menatap Vincent dan menyunggingkan senyum tanpa ekspresi wajah.
Vincent pun mengangguk dan mulai melangkah mundur. “Oke. Sampai bertemu di penginapan,” katanya seraya berpaling.
__ADS_1
Farrell cukup senang dengan kedatangan Vincent. Dia sekarang tahu ada di luar gerbang kota. Sebelumnya, dia sama sekali buta dengan kondisi sekelilingnya. Sejauh mata memandang, hanya ada pohon berjajar di bukit dengan satu kursi taman yang sedang dia duduki saat ini. Meski begitu, dia tak butuh siapa pun saat ini, dia hanya ingin kembali ke dunianya. Dia lebih senang lagi ketika Vincent pergi.
Tapi, tak lama. Setelah beberapa langkah, Vincent berbalik dan kembali padanya.
Vincent menyodorkan botol mungil kaca transparan. Isinya tinggal separuh, cairan merah bening seperti anggur. “Kamu bisa membeku kalau terus menerus di sini. Ambil ini.” Farrell menatapnya bingung tanpa pertanyaan. Vincent pun menambahkan. “Ramuan ini bisa membuatmu hangat. Beberapa tetes saja cukup. Kecuali kalau kamu masih merasa kedinginan, kamu boleh minum lebih,” Vincent tersenyum dan melangkah pergi.
Farrell mengamati botol dalam genggamannya. Ada sebuah label putih di sana. Label serupa huruf ‘E’ dengan hiasan rumit melengkung di sekitarnya. Sesuatu bergerak dalam otak Farrell. Nama belakang Vincent. Farrell pun berdiri. “Tunggu! Siapa namamu lagi? Nama belakangmu?”
Vincent berhenti, berpaling dan masih tersenyum, “Elioscavea.”
“Elioscavea… Elioscavea!” Farrell menggumamkan nama itu sebentar sebelum bergegas berdiri. “Kamu penjual obat?”
Vincent terkekeh. “Bukan benar-benar penjual obat, sih. Kami membuat berbagai ramuan. Termasuk obat juga. Lucu saja mendengarkan orang menyebut kami sebagai pembuat obat. Kedengaran janggal.“
“Apa yang kamu lakukan di kota kecil seperti ini?” Farrell balik bertanya.
“Kamu sudah bertemu pamanku?”
Vincent menggeleng. ”Dia sangat sibuk. Padahal kupikir bisa bicara padanya sebelum aku pergi besok lusa. Kupikir kami bisa kerja sama.”
“Kerja sama dengan kalian?”
“Ya. Kerja sama dengan keluarga Elioscavea. Nama Elioscavea sepertinya baru pertama kali kamu dengar,” tebak Vincent. Farrell mengangguk kaku. Dahinya mengernyit. Vincent melanjutkan tebakannya. “Kamu juga terlihat baru dengan ini semua. Baru pertama kali ke dunia sihir juga?”
Farrell membuka mulutnya cukup lama untuk menjawab, “Aku nggak yakin.”
“Aku bukannya mau ikut campur urusanmu, tapi kamu kelihatan berantakan. Sesuatu terjadi di penginapan atau ada masalah di keluarga kalian?” tanya Vincent. Farrell mengatupkan mulut rapat-rapat dan kembali mengalihkan pandangan. Vincent tahu kalau dia baru saja mengeluarkan tebakan jitu. Vincent pun melanjutkan, “Ups… Maafkan aku, itu benar-benar nggak sopan. Kebiasaan buruk sejak aku kuliah psikologi. Kamu nggak perlu menjawabnya.”
__ADS_1
“Nggak! Sebenarnya—” Farrell berhenti. Mulutnya bicara spontan dan otaknya menghentikannya secepat mungkin. Hatinya sedang bimbang haruskah cerita pada Vincent tentang semuanya. Farrell sendiri merasa kalau nama Elioscavea cukup terkenal sampai penjaga gerbang saja tahu siapa mereka. Mungkin, Vincent bisa membantunya membuat ramuan penawar. Tapi, bukankah dia baru saja menegaskan dalam hati kalau dia bukan lagi bagian dari keluarga Eden?
“Nggak apa-apa.” Vincent meletakkan kedua tangan terbuka dekat dadanya. “Itu masalahmu dan kamu nggak perlu cerita padaku.
“Sebenarnya… kamu pernah dengar ramuan manekin?” Farrell tak menyangka kalau bibirnya akhirnya menyebutkan ramuan itu lagi.
“Itu ramuan menyebalkan. Kami sepakat nggak akan pernah menerima pesanan ramuan semacam itu.”
“Tapi, bisakah kamu membuat penawarnya?”
“Tentu. Banyak yang datang pada kami untuk dibuatkan penawar.”
“Berapa lama waktu yang kamu butuhkan?”
“Hmm… Asal aku sudah tahu komposisi ramuannya, kupikir bisa cepat.” Vincent mengedikkan bahu. “Beberapa jam?”
“Beberapa jam?!” Farrell yakin matanya terbelalak sekarang. “Bagaimana dengan bahan-bahannya?”
“Kami punya gudang persedian bahan sihir yang lumayan besar. Untuk mengirim bahan-bahannya ke sini, mungkin butuh waktu satu atau dua jam. Meraciknya sendiri perlu sekitar satu jam. Total tiga jam. Kira-kira seperti itu,” kata Vincent. “Jadi… itu masalahmu sekarang?”
“Kamu benar-benar bisa membuatnya?”
“Tentu saja.” Vincent mengangguk dan tersenyum. “Dari dulu, aku selalu tertarik dengan karakteristik manusia. Sejak belajar ramuan, aku menaruh minat khusus pada ramuan manekin. Ramuan penawarnya jadi salah satu keahlianku sekarang.”
“Serius?” Farrell mendesah lega.
“Itu pekerjaan utama keluarga. Aku nggak akan bercanda soal ramuan. Tapi, bagaimana ceritanya sampai kamu perlu ramuan penawar? Siapa yang kena ramuan manekin?”
__ADS_1
Farrell sedikit ragu ketika menyebut, “Adik-adikku.”