The Way Back Home

The Way Back Home
Walk Out


__ADS_3

“Kuharap kamu bercanda soal yang terakhir ini,” kata Farrell, masih melirik ke arah lorong.


“Nggak. Tapi, kalau kita tetap di sini. Itu bisa saja terjadi. Mereka punya penciuman tajam apalagi kalau menyangkut darah.” Christo melirik lukanya.


“Kita nggak bisa keluar sekarang tapi mereka bisa masuk kemari, seperti itu?”


“Kita bisa keluar dan mereka bisa masuk kemari. Kupikir itu lebih tepat. Keluar lebih berisiko buat kita. Tinggal di sini lebih aman sambil berdoa agar mereka tak kemari.”


“Kalau serigala benar-benar masuk dari lorong itu, kita nggak akan bisa lari. Kita seperti tikus dalam kurungan.” Farrell mengedarkan pandangnya ke sekeliling. Jalan keluar dari sana memang hanya satu. Sambil melipat tangan, Farrell bergumam, “Pasti ada jalan keluar lain. Aku nggak mau menunggu semalaman di sini dengan bahaya yang bisa masuk kapan pun.”


“Kalau kita bisa sihir, kita bisa melawan mereka. Serigala itu mudah dikalahkan, kata orang-orang.”


“Tapi, kamu bilang nggak bisa sihir.”


“Memang. Aku belajar sejak kecil dan nggak pernah berhasil mengendalikan sihir sekalipun mantranya benar. Maaf mengecewakan. Aku benar-benar nggak berbakat soal ini.”


“Ajari aku!”


Christo mengernyit. “Apa?”


“Kamu belajar sejak kecil dan tahu mantra yang benar. Ajari aku sihir.”


Christo malah tertawa, “Kamu akan membuat kita berdua terpanggang. Sihir nggak semudah itu digunakan. Salah sedikit dan kita berdua bisa terbunuh. Aku nggak akan ambil risiko itu.”


“Bagaimana dengan alat sihir? Kamu nggak punya sesuatu benda dengan kekuatan magis?”


“Ada. Tali yang bisa memanjang sampai ratusan meter dan kertas yang bisa menulis dirinya sendiri.”


Farrell mendesah. “Kalau begitu, kita harus pikirkan cara lain— Tunggu! Tempat ini ada di tepi tebing, bagaimana para penyihir bisa ke sini? Apa ada jalan besar kemari?”


“Hanya ada jalan setapak. Kota terdekat terletak sekitar tiga puluh kilometer dari sini. Nggak ada yang mau berjalan dari sana.”

__ADS_1


“Kalau begitu, mereka pasti menggunakan trik lain. Teleport atau portal, mungkin?”


Christo mengangguk. “Dugaanmu benar, ada portal sihir di dekat sini. Portal itu langsung terhubung ke kota. Kita bisa mengamankan diri, mencari penginapan di sana, menyusun rencana untuk kembali ke sini besok pagi. Hanya saja, ada dua masalah. Satu, portal itu juga berada di luar batas patung pelindung. Dua, hanya penyihir yang bisa menggunakannya.”


“Hanya penyihir. Apa maksudmu?”


“Hanya mereka yang tahu mantra portal yang bisa lewat.”


“Biar kutebak. Kamu tahu mantranya tapi nggak pernah berhasil menggunakannya.”


“Sembilan dari sepuluh percobaan, aku kesasar ke tempat lain. Hanya beberapa kilometer dari koordinat asli. Yang paling parah, aku pernah mendarat di tepi jurang. Lihat sisi baiknya, setidaknya aku berhasil memindahkan tubuhku, utuh.”


Farrell memutar bola matanya. Ucapan Christo membuatnya ngeri. Memaksa Christo menggunakan sihir hanya akan membawanya menuju bahaya yang lain. Dia ingin solusi dengan risiko terkecil. “Jadi, nggak ada satu sihir pun yang bisa kamu lakukan dengan benar?”


“Sebenarnya ada satu. Sihir pembesar. Aku bisa membuat sesuatu jadi berkali-kali lipat lebih besar. Sayangnya, kupikir sihir itu nggak berguna saat ini.”


Farrell mengedarkan pandangan dan tersenyum simpul. Matanya melihat Gizmo yang sedang memandangi mereka berdua. Christo ikut menoleh, mengikuti tatapan Farrell. Tanpa perlu bertanya, Christo bisa menebak apa yang sedang dipikirkan Farrell.


Christo menggeleng. “Kamu nggak berpikir untuk— “


“Kupikir aku nggak akan suka ide ini.”


 


 


Christo tidak tahu apa yang meracuni pikirannya sampai akhirnya dia menuruti ide Farrell. Pertama, mereka harus keluar dari gua. Gua itu hanya punya satu jalan dengan obor sepanjang dinding. Setiap kali melangkah, obor akan menyala dengan sendirinya lalu padam saat mereka menjauh.


“Apa ini api sungguhan?” tanya Farrell.


“Sungguhan atau tidak, yang pasti jangan sentuh dengan tangan telanjang.”

__ADS_1


Farrell merasakan suhu di sekelilingnya mulai turun dengan cepat. Nafasnya sendiri mulai mengeluarkan asap putih. Samar-samar, dia juga merasakan hembusan udara pelan dari depan. Mungkin tanda kalau mereka semakin dekat dengan pintu keluar. Juga ada suara. Suara angin yang meraung dengan kencang. Entah cuaca seburuk apa yang menanti mereka di ujung sana.


“Kamu nggak kedinginan?” tanya Farrell, melirik pegawai di sampingnya. Christo hanya mengenakan jas dan sarung tangan putih tipis.


“Aku pernah merasakan dingin yang lebih parah dari ini.”


“Jadi, Eden’s Lodge memang sering dikunjungi badai salju?”


“Kurasa karena letaknya berbatasan antara dua dunia, cuaca di sini jadi tidak stabil. Mereka memicu angin kencang dan salju.”


Keduanya terus melangkah. Farrell mulai merasakan lelah dan kantuk menyerang. Dia menepis keduanya dengan sugesti diri. Di tempatnya tadi, hari masih siang. Ini belum tengah malam dan belum saatnya tidur, Farrell berulang kali bicara pada dirinya sendiri sambil mengedarkan pandangan untuk mengusir bosan.


Gizmo ada di depan mereka. Dia terbang dari satu stalagmit ke stalagmit lain sambil menanti mereka mendekat. “Ceritakan aku tentang Gizmo,” pinta Farrell.


“Dia burung hantu peliharaanku. Aku menemukannya di hutan dekat penginapan beberapa tahun lalu. Sepertinya dia terpisah dari induknya. Jadi, kubawa dia dan kupelihara di sana. Aku suka burung. Elang, burung hantu, penguin.”


“Aku nggak melihat penguin dekat sini.”


Christo hanya mendengus geli. “Memangnya kamu pikir kita ada di mana?”


Mendengar cerita ini, Farrell paham kenapa Gizmo mau menemani mereka bahkan sampai ikut melarikan diri. Rupanya Gizmo peliharaan pribadi Christo. Itu mengingatkannya pada hal lain. “Saat Gizmo melihatku di ruang makan, apa dia memberitahumu?”


“Tentu saja. Kalau nggak, aku nggak akan langsung lari ke sana. Denise tahu kalau kalian bertiga tidak tahu soal pintu dan dunia sihir. Itu keuntungan buatnya. Dia juga melarang semua pegawai mengatakannya pada kalian. Sekalipun mengatur William agak sulit.”


“Aku sekarang jadi paham ucapan aneh William,” desah Farrell. Entah sengaja atau tidak, William sering keceplosan bicara. “Christo, kenapa ayah dan paman juga nggak pernah cerita pada kami?”


“Aku mengenal ayahmu. Aku yakin dia mau menceritakannya setelah waktu yang tepat. Dunia sihir ini berbahaya, apalagi untuk anak kecil. Kalau pamanmu…” Christo berhenti sebentar. “Kupikir pamanmu nggak sebaik yang selama ini kalian bayangkan. Dia berkali-kali bertengkar dengan ayahmu.”


“Tapi, mereka selalu kelihatan baik-baik saja. Kenapa? Apa karena ayah ingin melihat kami selalu akur? Aku ingat ayah berulang kali bilang agar kami saling menjaga, saling menyayangi, saling peduli. Bagaimana buruknya saudaramu, dia tetap keluarga.”


Christo berhenti mendadak. Farrell tak menyadarinya hingga beberapa langkah ke depan. Saat berpaling, dia pun ikut berhenti. Tak lama, Christo menghela napas dan menatapnya. “Syukurlah kalau kamu paham soal itu. Menyenangkan punya keluarga yang hangat.”

__ADS_1


“Kamu belum cerita soal keluargamu—”


“Ayo, cepat! Pintu keluar sudah dekat.” Christo tak membiarkan Farrell menyelesaikan kalimatnya dan malah memotongnya. Dia mengayunkan langkah lebih cepat hingga mendahului Farrell.


__ADS_2