
Bersama Milo, Farrell kembali ke penginapan mereka. Ketika mereka tiba di sana, matahari belum juga terbit. Langit gelap menurunkan salju perlahan dalam keheningan. Lampu jalan memancarkan cahaya kuning temaram. Eden’s Lodge nampak nyaman dalam keadaan dingin seperti itu.
Farrell membimbing Milo mendekati pintu depan. Dia tidak benar-benar mengharapkan datang tanpa ketahuan. Mengingat bagaimana Eden’s Lodge punya sihir lengkap dengan cermin yang bisa berfungsi seolah kamera pengawas, tampaknya itu hanya harapan kosong. Dekat tangga menuju pintu depan, Farrell bisa melihat bekas serangan Denise sebelumnya. Ada bagian menghitam seolah habis terbakar.
Ketika masuk, dirinya disambut ruang tamu luas. Interiornya masih sama persis. Perbedaan di sana hanyalah beberapa tamu yang sedang mengomel di sofa. Dari percakapan mereka, Farrell yakin mendengar mereka mengeluh soal tidak adanya makan malam. Persis seperti yang diduga Remy sebelumnya. Paman tidak bisa melakukan apa pun soal itu.
“Wah, wah. Coba lihat siapa yang datang!” Sambutan lain datang dari seorang pria besar dengan kumis. Joe muncul dari balik lorong. Sembari melemaskan tubuh, dia menyunggingkan senyum lebar. “Sepertinya kamu membawa apa yang diinginkan Denise.”
“Di mana dia?” Farrell bertanya lantang, menyembunyikan keraguan dan kegentarannya.
“Dia pasti sedang tidur. Tapi aku yakin dia akan langsung bangun kalau mendengarmu datang.”
“Di mana ibuku dan Christo?”
“Di salah satu kamar. Mungkin.”
“Aku ingin melihat mereka.”
“Itu nanti tergantung Denise. Ikuti aku, bocah!” Joe terkekeh. “Kuperingatkan sebelumnya, jangan berani macam-macam kalau ingin ibumu utuh.”
Farrell tak bereaksi. Milo sebaliknya. “Awas kalau kamu berani menyentuhnya!”
Joe memicingkan matanya. “Oh, sepertinya kamu punya nyali juga. Padahal sebelumnya kamu hanya seperti anak bebek tanpa induk.” Joe berbalik dengan santai. Dia tahu Milo tidak akan bertingkah aneh-aneh.
Mereka menyusuri lorong menuju Eden’s Lodge bagian Utara. Farrell mengenalinya dari petunjuk gantung di perempatan lorong. Dia ingat Christo bilang bagian ini tak lagi digunakan. Tak heran kalau debu tebal menutupi lantai, sarang laba-laba menghiasi sudut, juga tercium bau lembab. Banyak lorong dibiarkan gelap gulita. Mereka hanya masuk ke lorong-lorong yang diterangi.
Farrell tahu kalau Milo mengamati sekitar sama sepertinya. Dalam benaknya, Farrell bukan hanya menghafalkan rute perjalanan mereka, dia juga mengamati seandainya ada rute kabur yang lain. Dirinya cukup yakin, dia tidak akan melewati jalur yang sama, bila benar-benar mendapat kesempatan kabur besama ibu dan Christo. Kini, dia malah mengkhawatirkan Milo. Semoga mereka bisa bertindak kompak nanti.
Joe berhenti di satu perempatan lorong. Sambil menoleh pada satu lorong terang, dia berkata, “Tunggu di sana! Akan kupanggilkan Denise.”
__ADS_1
Baik Farrell maupun Milo tidak protes. Mereka memasuki lorong, terus berjalan hingga tiba di sebuah ruangan cukup luas. Pintu kembarnya sudah terbuka lebar. Ruangan ini memuat meja panjang lengkap dengan rak kaca di baliknya, sederet meja kursi, juga sebuah piano usang. Mungkin dulunya tempat ini merupakan bar atau sejenisnya. Pada satu sisi, ada pula deretan jendela tinggi yang tertutup tirai.
Milo menyingkap tirai, berusaha melihat ke bawah. “Jurang,” ucapnya tak bersemangat.
Farrell tak berniat duduk di atas kursi berdebu. Dia punikut berkeliling memeriksa. Selain dua lukisan bergerak serta perlengkapan bar dalam lemari terkunci, tak ada hal menarik lain.
“Denise.” Milo berbisik lagi.
Farrell berpaling. Denise datang tanpa paman dan bibi. Joe ikut di belakangnya, tangannya memegangi lengan ibu. Jim di belakangnya lagi bersama Christo. Sesekali, dia harus mendorong Christo agar mau melangkah maju. Wajah Christo lebam, ujung bibirnya malah berdarah. Dia kelihatan pucat. Begitu pula ibu. Ibu kelihatan lebih pucat dari biasanya.
Mata Denise melebar melihat map hijau di tangan Farrell. “Sertifikat Eden’s Lodge—”
“Bebaskan ibuku dan Christo dulu!” sahut Farrell. “Berikan juga penawarnya.”
Denise menyunggingkan senyum tipis. “Tentu, Farrell sayang.” Dia mengeluarkan sebuah botol kaca bening bersumbat gabus. Dalamnya berisi cairan biru kental dengan bintik berkilau.
Denise melangkah santai sementara kedua anak buahnya memegangi sandera di sudut ruangan. “Mana sertifikatnya, Farrell?”
Farrell bergeming. “Apa tujuanmu setelah mendapatkan Eden’s Lodge?”
“Mengembangkannya, tentu saja. Dimulai dari mengganti nama penginapan lalu membangun ulang bagian Utara ini. Albert tidak peduli sama sekali pada penginapan ini. Sebaliknya, aku peduli.” Denise berhenti beberapa langkah di depan Farrell. Matanya menatap mata Farrell. Milo menjaga jarak dari keduanya.
“Kamu hanya peduli pada pintu portal sihir,” balas Farrell.
“Tepat sekali. Tanpa pintu itu, penginapan ini sama seperti penginapan lain.” Denise tertawa kali ini. “Kalian mendapat anugerah yang tidak bisa kalian manfaatkan. Sangat disayangkan.”
“Apa itu sebabnya kamu menyebar serigala di dunia normal? Supaya tidak ada manusia biasa yang mendekati penginapan?”
“Oh, itu bukan ulahku, Farrell sayang. Itu ulah Olivia. Salah satu pelanggan penginapan.”
__ADS_1
“Saudara kembar Emily?”
“Benar. Emily benar-benar seorang kembar yang bodoh! Aku heran kenapa pamanmu memperkerjakan orang-orang tidak kompeten.”
“Apa maksudmu?”
“Emily sama sekali tidak sadar kalau Olivia masih hidup bahkan menggunakan identitasnya untuk berkeliaran dalam penginapan. Rekan-rekannya juga! Tidak satu pun sadar kalau mereka adalah dua orang berbeda. Akan kuganti semua pegawai di sini dengan orang-orang yang lebih layak.”
Farrell melirik Christo. Laki-laki itu mengalihkan wajah, seolah ingin menghindari tatapan Farrell. Farrell pun mengembalikan tatapannya pada Denise. “Kamu bekerja sama dengan seorang penjarah.”
“Dia hanya pelanggan yang suka membawa artefak dari dunia bawah ke dunia atas. Aku nggak peduli apakah dia penjarah atau bukan. Buatku, dia pelanggan tetap dengan nilai investasi tinggi. Dia rela membayar mahal.”
“Olivia menjaga agar tidak banyak orang mendekati Eden’s Lodge. Apa itu tidak masalah buatmu? Dia mengurangi pengunjung.”
“Pengunjung penyihir lebih menjanjikan. Kadang kita harus merelakan sesuatu untuk mendapat yang lebih besar. Uang kompensasi dari Olivia jauh lebih besar daripada semua kamar di Eden’s Lodge bagian atas dipenuhi tamu.”
“Kamu bisa masuk penjara karena melindungi kriminal seperti Olivia.”
“Kamu melaporkanku untuk penyalahgunaan sihir, Farrell. Jangan pikir aku tidak tahu soal itu. Aku punya para pengacara terbaik. Kamu nggak akan bisa menjatuhkanku dengan tuduhan apa pun. Lagipula, Albert dan Melanie ada di pihakku. Siapa yang akan percaya padamu? Dasar anak pungut!”
“Jaga bicaramu!” Milo berteriak. “Farrell jauh lebih baik dari paman!”
Farrell tak pernah menyangka Milo akan membelanya.
Denise ternyata setuju. “Benar, Milo sayang. Kakakmu lebih baik dari pamanmu. Sayangnya, kamu juga tidak lebih baik dari pamanmu. Kamu menuruti semua kemauanku dengan mudah di bawah pengaruh ramuan manekin. Kamu kelihatan sangat konyol waktu itu.”
Milo menggertakkan gigi. “Kamu akan menyesal pernah melakukannya!”
“Terserah! Sekarang, Farrell, mana sertifikatnya?”
__ADS_1