The Way Back Home

The Way Back Home
Runaway Kid


__ADS_3

Christo duduk di ruang tunggu. Pandangannya menerawang ke langit-langit. Tapi, jelas bukan melamun karena saat Farrell muncul dari lorong, dia langsung berdiri. “Farrell, apa semuanya baik-baik saja?”


Farrell tak tahu apa yang ada di wajahnya saat itu sampai Christo bertanya demikian. Dia hanya tersenyum tipis. Christo tak lagi bertanya, menunggunya bergerak lebih dulu. Jadi, dia bertanya. “Kamu cukup paham soal dunia sihir, ‘kan?”


“Lumayan, aku lahir di sini.”


“Kamu bilang kalau Milo dan Libby ada dalam pengaruh ramuan sihir. Artinya, pasti ada cara untuk membalik pengaruhnya. Ramuan sihir lain, mungkin? Semacam penawar?” tebak Farrell. Christo mengangguk. Dia pun melanjutkan, “Kamu kenal orang yang bisa membuat ramuan seperti itu?”


“Aku tahu satu dua toko semacam itu di ibukota.”


“Bawa aku ke sana.”


Christo menyanggupinya. Tapi, dalam lubuk hati, Farrell punya firasat kalau semua tak akan berjalan semudah itu. Kalau tidak, Christo pasti sudah membawakan mereka penawar sejak awal. Farrell tahu Christo bisa dipercaya. Itu membuatnya penasaran akan lebih banyak hal. Seiring mereka berjalan keluar, Farrell memutuskan bertanya latar belakang si pegawai hotel.


“Kamu membantuku lari dari Denise dan bertemu ayah. Kamu juga bilang akan membantuku agar Eden’s Lodge tak terjual. Kenapa? Kurasa itu bukan karena alasan takut kehilangan pekerjaan atau semacamnya.” Farrell mengutarakan pendapat sambil mengikuti langkah Christo yang makin cepat.


“Haruskah aku menjawab pertanyaanmu?”


Mereka melewati berbagai toko dan berpapasan dengan banyak orang. Kesibukan ibu kota membuatnya bingung. Tanpa peta dan penunjuk jalan, Farrell akan tersesat di sini. Sebaliknya, Christo nampak hafal seluk beluk tempat itu. Christo sesekali harus menunggu Farrell agar tak tertinggal jauh.


“Aku hanya penasaran. Lagipula, kamu tahu banyak tentang keluargaku. Tentang ayah dan paman, Eden’s Lodge, beserta portal sihir. Sedangkan aku nggak tahu apa pun tentangmu. Tidakkah kamu berpikir aku punya banyak alasan untuk nggak percaya padamu?”


Christo melirik Farrell setelah dia mengucapkan kalimat itu. “Kalau nggak percaya padaku, kamu bisa pergi sekarang.” Keduanya meninggalkan trotoar jalan utama dan berbelok ke gang gang kecil sepi. “Ini jalan pintas. Tanpa orang dan gelap. Aku bisa meracunimu seperti Denise atau bahkan membunuhmu.”


“Benar.”

__ADS_1


“Dan kamu tetap mengikutiku.”


Farrell mengedikkan bahu. “Percaya itu pilihan. Kamu membantuku sejauh ini dan nggak membunuhku sekarang. Kurasa itu cukup alasan untukku percaya.”


Christo tergelak. “Kamu seperti ayahmu, terlalu baik.”


Farrell mengamati sekitarnya. Mereka berada di lorong yang diapit dinding rumah pada sisi kiri dan kanan. Dinding tersebut terbuat dari susunan batu. Ukurannya lebih kecil daripada ukuran batu penyusun jalan tempat mereka berpijak saat ini. Lampu-lampu tergantung di bagian atas, menjuntai dari ujung ke ujung melalui tali. Bentuk lampu sama seperti lampu di jembatan. Mekanismenya pun mungkin sama.


Christo akhirnya kembali bicara setelah mereka cukup lama terdiam. “Ayahmu pernah menyelamatkanku saat kabur dari rumah.”


“Kabur dari rumah? Kamu?”


“Waktu itu umurku sekitar enam atau tujuh tahun. Aku lari tanpa arah. Tahu-tahu aku sudah berada di padang salju, sendirian, ketakutan, kedinginan. Lalu, aku bertemu dengan mereka. Pertemuan nggak terlupakan seumur hidupku.” Christo memelankan langkahnya dan mendongak pada satu dinding yang dicat merah.


“Bukan. Para serigala.” Christo kembali menatap ke depan. “Aku bertemu kumpulan, bukan seperti yang kita temui kemarin. Mereka menyerangku dan kurasa kamu sudah bisa menebak kelanjutannya.”


“Ayahku menolongmu?”


“Ayahmu menemukanku. Awalnya kupikir dia hanya sok pahlawan. Dia bukan penyihir tapi sok menolong anak kecil dari hewan sihir. Dia nggak bawa tongkat atau buku. Dia juga nggak mengeluarkan mantra sihir atau membuat bola api. Dia hanya orang biasa dengan pedang di satu tangan dan obor di tangan lain.”


“Aku baru tahu ayah bisa menggunakan pedang.”


“Sebenarnya nggak bisa sama sekali.” Christo berbelok ke kanan pada gang depan. Suasananya masih serupa dengan tembok rumah di sisi dan kanan serta tali lampu tergantung di atas. “Aku baru pertama kali melihat orang menggunakan pedang seperti itu. Dia payah dan sangat beruntung karena nggak memotong tangan atau kakinya sendiri.”


“Jadi, bagaimana cara ayah menyelamatkanmu?”

__ADS_1


“Obor dan pedang. Kurasa waktu itu kami memang beruntung. Serigala penyerangku bukan serigala dewasa. Hanya tiga serigala kecil. Ayahmu mengusir mereka sambil mengayunkan obor. Seingatku, ada satu serigala yang wajahnya kena pukul obor waktu itu. Mereka kabur. Sebelum mereka kembali mengajak serigala lain, ayahmu membawaku ke Eden’s Lodge. Waktu itu, gedungnya belum besar. Hanya pondok kecil berisi beberapa kamar. Kacanya retak dan pintu kayunya keropos. Pondok itu jelas berbeda dengan rumahku. Tapi, entah kenapa, aku merasa aman.” Christo terdiam sebentar dan melanjutkan, “Cerita ini membuatmu bosan. Lebih baik aku berhenti.”


“Sama sekali tidak,” sahut Farrell cepat. “Lanjutkan saja.”


“Kalau kuingat-ingat, ayahmu sama sepertimu. Dia juga nggak mendesakku untuk bercerita tentang keluarga, bagaimana aku bisa ada di sana, dan ke mana aku mau pergi. Dia memberikanku makanan dan tempat tinggal.”


“Lalu, kamu yang akhirnya menceritakan sendiri kisahmu?” Farrell bertanya agar Christo tahu jelas kalau dia menyimak ceritanya.


“Kurang lebih seperti itu. Ayahmu malah menawarkanku untuk bekerja padanya. Dia bilang nggak akan mendesakku untuk pulang dan aku bebas berada di sana kalau aku mau bekerja untuknya. Ya, kupikir itu bagaimana ceritanya aku bisa terjebak di Eden’s Lodge.”


“Ayahku nggak seharusnya memperkerjakan anak di bawah umur,” celetuk Farrell.


Di luar dugaannya, Farrell malah tersenyum geli. “Itu salah anak kecilnya. Dia bisa lari dari penginapan itu juga kalau mau.”


“Bagaimana dengan keluargamu?” Farrell buru-buru menambahkan, “Aku hanya penasaran apa kamu sudah mengontak mereka lagi. Karena menurutku tempat tinggalmu nggak jauh dari Eden’s Lodge. Anak kecil nggak bisa lari sejauh itu. Tapi… Kamu nggak perlu menjawab ini kalau nggak mau. Ini hal pribadimu.”


“Sebenarnya, aku sendiri sudah ikut campur urusan pribadimu. Jadi, kurasa kita impas.” Christo mengajak berbelok lagi ke gang kiri. “Keluargaku adalah keluarga penyihir. Mereka mencari nafkah dengan memantrai benda-benda. Misalnya, mantra penambah akurasi untuk anak panah, mantra anti putus untuk tali, dan semacamnya. Keluargaku nggak suka padaku karena aku payah menggunakan sihir. Bukannya membuat barang-barangnya lebih baik, aku malah menghancurkan mereka. Setiap hari ayah marah padaku dan ibu mengomel, saudara-saudaraku juga menindasku. Rumahku seperti neraka. Kupikir lebih baik aku lari.”


“Keluargamu nggak suka padamu hanya karena kamu payah dalam sihir?” Farrell sadar benar kalau beberapa waktu lalu, dia sendiri bersungut-sungut karena dia dibantu pegawai yang tidak bisa sihir.


“Farrell, di dunia ini, sihir adalah segalanya. Dalam arti sesungguhnya. Itu bakat paling diinginkan semua orang dan modal mendapatkan berbagai macam pekerjaan. Sihir menopang dunia ini. Rasa tidak suka keluarga padaku wajar. Sangat wajar. Justru aneh kalau sebaliknya. Aku anak nggak berbakat yang hanya lahir satu banding seratus ribu.”


Farrell menggeleng. “Nggak, Christo. Keluarga seharusnya saling menerima. Kurasa kamu seharusnya bangga karena satu banding seratus ribu itu.”


Christo terkekeh. “Ucapanmu akan bagus kalau ditulis di buku.” Christo berhenti di depan sebuah pintu merah terbuat dari metal. Pintu ini terletak beberapa meter dari mulut gang. “Kita sampai.”

__ADS_1


__ADS_2