
Alan Eden, ayah Farrell, pastinya tak menyangka kalau anaknya akan kembali secepat itu padanya. Ketika melihat Farrell kembali ke depannya, dia tercengang. Pertanyaan-pertanyaan mengenai pembebasan Milo dan Libby pun sirna. Matanya hanya bisa menatap Farrell yang acak-acakan. Rambutnya tak lagi rapi dan peluh membasahi keningnya.
“Kamu kenapa, Farrell? Apa yang terjadi?” Alan bertanya lebih dulu.
Farrell sudah membuka mulut namun tak satu kata pun berhasil dia keluarkan. Akhirnya dia malah membuang tatapannya ke bawah dengan mulut terkatup.
“Farrell?” Alan pun bertanya lagi. “Kamu kelihatan lelah. Apa ada hal buruk yang teerjadi? Tolong jangan menakut-nakutiku.”
Farrell tak bisa melihat penampilannya saat itu. Seandainya bisa pun, dia tak lagi peduli. Dia bisa merasakan tangannya terkepal. Farrell menelan ludah dan menghela napas dalam-dalam. Dia menatap ayahnya tepat di matanya, mengharapkan kejujuran. “Ayah, apa paman pernah ke sini dan minta sampel darah darimu?”
Alah mengelus janggutnya dan terdiam sesaat. “Nggak. Untuk apa pamanmu minta sampel darah dariku? Kalau ada yang pernah mengambil sampel darahku, paling-paling juga para petugas di sini. Kami diharuskan menjalani tes kesehatan setiap enam bulan sekali.”
“Aku menemui seorang ahli ramuan untuk membuatkan penawar ramuan manekin. Dia bilang kalau saat Denise membuat ramuan pengontrol pikiran, dia menggunakan darah ayah sebagai salah satu bahan penting sebagai pengikat.”
Alan mengangguk. “Itu masuk akal. Aku pernah dengar kalau darah seseorang bisa digunakan untuk menambahkan efek khusus ke berbagai ramuan. Apalagi darah penyihir. Kudengar efeknya bisa berkali-kali lipat. Astaga… Mereka memakai darahku?”
“Mereka menggunakan darah ayah karena ayah adalah orang tua mereka.”
“Itu juga masuk akal.”
“Ayah, aku juga makan makanan yang diberi ramuan itu tapi sama sekali tidak terpengaruh dengannya.” Farrell bicara sambil menatap lekat-lekat ayahnya serta mengamati setiap perubahan ekspresi. “Ayah, apa ada yang ayah sembunyikan dariku selama ini?”
“Ke— Kenapa kamu bertanya begitu? Haha…” Alan menggaruk leher. “Kalau boleh jujur, banyak sih. Aku nggak pernah jujur soal pintu rahasia penginapan, soal dunia sihir, soal pie yang kubuat waktu ibumu ulang tahun, lalu… Ehm… Banyak.”
“Ayah, kamu menyembunyikan banyak hal seolah kamu nggak percaya padaku.”
__ADS_1
“Aku hanya menunggu waktu yang tepat.”
“Termasuk jati diriku?” Farrell merasakan kalimatnya bergetar.
“Hah? Haha…” Alan memaksakan dirinya tertawa. “Kenapa, Farrell? Kenapa kamu bertanya begitu?”
“Ayah, ini saat yang tepat untuk jujur padaku. Kumohon, beritahu aku! Apa aku bukan anak kandungmu?” Kalimat ini juga bergetar.
Farrell melihat wajah ayahnya sudah berubah. Wajah itu tak lagi senang karena melihat sang anak, wajah itu pucat seolah ketakutan. Bahkan warna merah mulai terlihat di pipinya. Ayah menghindari tatapannya dengan menoleh ke kanan lalu ke kiri. Mulut ayah terbuka seolah ingin bicara namun tertutup lagi. Tak satu kata pun dia dapatkan dari ayahnya.
“Ayah, kenapa kamu diam?” Farrell mendesak.
Alan menggeleng. “Hanya sedang bingung dengan pertanyaanmu. Darimana kamu dapat ide seperti itu, Farrell? Kamu anakku. Kalau— Kalau soal kenapa ramuan itu tak bekerja padamu, mungkin— mungkin karena ada mantra yang salah Denise ucapkan saat membuatnya. Atau— Atau mungkin ahli ramuan itu salah mengira kalau ramuannya mengandung darahku. Oh, bisa saja kamu makan sesuatu yang beda dari mereka. Buah atau sejenisnya? Sesuatu yang membuatmu kebal dengan ramuan itu?”
Farrell menggeleng. “Tidak, ayah.”
“Ayah, kenapa kamu nggak mengatakan yang jujur saja padaku?” Farrell mengharapkan kejujuran tapi ayahnya malah mengutarakan berbagai kalimat aneh. Nadanya meninggi, suaranya mengeras. “Ayah, beritahu aku kenyataannya!”
“Ke— Kenyataan apa?”
“Sesulit itukah ayah mengatakan kalau aku bukan anak kandungmu?”
“Ka— Kamu— Kamu—”
“Siapa aku?!” Selama hidup Farrell, itu pertanyaan paling menyakitkan yang pernah dia dengar. Lucunya, dia jugalah yang mengucapkan kalimat tersebut. Hatinya serasa ditikam. Wajahnya panas entah karena sedih atau marah. Tenggorokannya sakit karena menahan air mata.
__ADS_1
Farrell mendadak merasa tak lagi mengenal sosok laki-laki di depannya. Ayah tak berani melihatnya. Padahal Farrell berharap sekali ingin melihat mata ayahnya, melihat sosok yang selama ini ada di sisinya saat kecil dan membesarkannya, sekaligus sosok yang menghilang tanpa kabar bertahun-tahun setelahnya. Farrell tak tahu kemana hilangnya rasa hormat serta rasa rindu pada ayahnya. Semua perasaan lenyap, seolah tanaman layu kering. Mati rasa.
“Farrell…” Alan hanya sanggup menyebutkan nama putranya saja. “Farrell…”
Farrell menggelengkan kepalanya. Dia merasakan hati dan pikirannya tak berfungsi, dibiarkannya isnting mengambil alih. Tanpa bicara lagi, Farrell berdiri dari kursi dan melangkah pergi. Sekalipun ayah berulang kali memanggil namanya, dia tak punya keinginan sedikit pun untuk berpaling.
Cukup! Sudah cukup!
Hatinya bercampur aduk. Pikirannya kacau balau. Dia tak mau merasakan atau memikirkan apa pun lagi. Badannya lelah juga dingin. Lapar dan haus tapi kenyang dan mual di saat yang sama. Rasa kantuk menemani, rasa lelah menghantui, namun tak cukup kuat untuk menguasai. Dirinya terjaga penuh tapi tak sadar ke mana langkah membawanya pergi menerobos kerumunan, melalui portal, menyusuri jalan, menuruni tangga, melintasi jembatan, melewati pepohonan. Berbagai suara mengiringi langkahnya tapi telinganya tak mau mendengar. Matanya melihat tapi tatapannya menerawang jauh ke bawah.
Beragam gagasan naik di permukaan. Gagasan terbaru ini diawali dari sebuah kisah.
Ayah dan Paman mendirikan hotel bersama di mana di dalamnya terdapat portal menuju dunia sihir. Suatu hari, ayah masuk ke penjara karena tuduhan kasus pembunuhan. Paman mengambil alih hotel, menjalankan bisnis sekadarnya, berjudi, berhutang, lalu membutuhkan uang. Paman pun ingin menjual hotel tapi ternyata sertifikat hotel disembunyikan ayah di tempat rahasia. Tempat rahasia ini hanya bisa ditemukan oleh keponakan-keponakannya. Paman memutuskan meracuni keponakannya sendiri demi uang.
Seperti itukah kira-kira kisahnya? Itu cerita keluarga yang saling berebut harta. Uang memang sering menimbulkan masalah. Sebagai guru, dia sering mendidik murid-muridnya agar berhati-hati soal ini. Kali ini, justru keluarganya yang mendapat masalah seperti itu.
Tunggu!
Farrell berhenti di tengah padang salju. Barisan pepohonan jarang mengamatinya dari jauh dan bulan menantikannya dari atas sana.
Tunggu sebentar!
Pikiran Farrell mendadak terbuka. Itu bukan keluarganya. Kisah tadi yang muncul bukan kisah keluarganya. Itu cerita dari sebuah keluarga bernama Eden. Itu masalah sebuah keluarga bernama Eden. Itu urusan sebuah keluarga bernama Eden. Farrell tak punya darah Eden dalam dirinya. Dia tak perlu lagi memikrikan bagaimana cara mempertahankan penginapan dari paman, tak perlu lagi mencari cara membebaskan dua anak dari ramuan sihir, tak perlu repot-repot menghadapi penyihir jahat bernama Denise.
Itu bukan lagi urusannya karena dia bukan seorang Eden.
__ADS_1
“Siapa aku?” Lagi-lagi kalimat itu meluncur dari mulutnya.