The Way Back Home

The Way Back Home
Tea Room


__ADS_3

“Tempat apa ini?”


“Bliss and Tea Room. Sejenis kedai minum teh. Ini pintu samping mereka.” Christo membuka pintu. Pintu metal tersebut lebih berat dari kelihatannya. Farrell bisa melihat Christo agak kesusahan saat mendorongnya.


Pemandangan di dalam tempat itu tak berbeda dari tea room pada umumnya. Farrell melihat kursi dan meja tertata berdekatan satu sama lain. Di dekat pintu depan, ada counter lengkap dengan display beragam cake, muffin, soes, pastry, dan kudapan menarik lainnya. Banyak benda cantik di sana. Pot bunga menghiasi setiap meja, teko serta cangkir berlukiskan bunga, dan bantal-bantal empuk.


“Selamat datang, meja untuk berapa orang?” seorang wanita pelayan mendatangi mereka dengan menu panjang bersampul kulit di tangannya.


Christo menggeleng. “Aku ingin memesan ramuan khusus.”


“Kalau begitu, mohon tunggu sebentar. Silahkan duduk dulu di sana.” Si pelayan menunjuk sisi counter yang punya kursi tinggi.


Keduanya beranjak ke sana dan duduk di kursi tinggi. Farrell mulai mengamati sekitar. Semua pengunjung di dalam sana mayoritas perempuan. Mereka bisa menampung empat puluhan orang di lantai satu. Ada tangga di ujung sana menuju ke lantai dua tapi terbentang pita di tengahnya, terikat pada anak tangga pertama. Sepertinya lantai dua hanya dibuka untuk acara khusus.


Di meja tempatnya berada saat ini, Farrell bisa melihat dua pelayan sedang membuat pesanan. Satu sedang menuang air panas di teko dan satu lagi sedang melayani pelanggan yang membayar. Di belakang counter, ada deretan rak tinggi dan panjang. Di sana terdapat beragam kotak juga kaleng teh. Ada pula toples kaca berisi cookies, kelopak bunga, dan butiran cahaya yang melayang.


Farrell memicingkan mata pada cahaya tersebut. Christo menyenggol tangannya. “Itu hanya kunang-kunang. Bukan sesuatu yang spesial.”


“Kunang-kunang sihir?”


“Setahuku mereka dimantrai agar bercahaya setiap waktu.”

__ADS_1


Tak berapa lama, si pelayan wanita kembali dengan si pemilik kedai. Wanita itu mengenakan gaun panjang era Victoria. Warnanya merah jambu sama dengan topi lebar penuh bunga yang sedang ia kenakan. Di bawah topi, rambutnya yang ikal bergelombang besar tertata terlalu rapi. Farrell berani bertaruh kalau wanita itu juga memantrai rambutnya. Wajahnya juga demikian, dirias dengan baik, menyamarkan usia.


“Selamat datang anak-anak, perkenalkan, namaku Bliss. Aku pemilik tempat ini. Ada yang bisa kubantu?” Bliss mengulurkan tangan, Christo mencium tangannya bak bangsawan. Sementara Farrell merasa canggung, jadi dia malah menjabat tangan itu. “Oh… Hohoho…” Bliss nampak menikmati perlakuan Christo padanya tapi tidak dengan Farrell. Namun, dia melupakannya. “Jadi, ramuan khusus apa yang kalian perlukan?”


“Namaku Christo dan dia Farrell, kami dari Eden’s Lodge.”


“Eden’s Lodge? Wow! Kalian bekerja di sana? Eden’s Lodge memang punya selera menakjubkan untuk mencari pegawai. Hohoho… Aku sendiri kesulitan mencari pemuda yang mau bekerja untukku. Bagaimana kalau kamu pindah kerja ke sini saja? Kita bisa bicarakan fasilitas dan upahnya nanti.”


“Ehem!” Farrell buru-buru menyela.


“Aku merasa terhormat, tapi sayang sekali kami masih terikat kontrak. Hari ini kami ke sini untuk menjalankan tugas dari pak manager. Kemarin, kami mendapat tamu hotel yang sedang dalam pengaruh sihir. Dia minta dicarikan obat penawar agar dia tak terus menerus menuruti pembuat ramuan itu.” Christo bicara tanpa sedikit pun keraguan dalam kalimatnya, seolah dia sudah terbiasa mengarang berbagai macam alasan.


“Oh, sayang sekali. Tapi, coba pikirkan lagi tawaranku setelah kontrak kerjamu habis. Oke?” Bliss masih berminat menarik keduanya menjadi pegawainya. “Nah, soal ramuan sihir itu… Jadi, tamu kalian berada dalam pengaruh ramuan sihir yang memaksanya patuh pada si pembuat ramuan. Apa dia juga dipaksa meminum ramuan itu terus menerus?”


Bliss membelai janggut bulatnya dan memilih duduk di samping Christo. “Buatkan kami teh, Supermoon,” katanya pada pelayan di counter. Lalu, dia menoleh kembali pada Christo. “Kami baru mendapatkan daun teh ini kemarin malam. Rasanya sangat lezat dan tentu saja langka. Jangan khawatir, aku yang traktir. Hohoho…” Seolah tersadar, Bliss pun berdehem. “Ehem… Ups, mari kita kembali ke topik utama. Coba kita lihat… Kamu tahu seperti apa wujud ramuan pengaruh itu?”


“Bubuk, ungu, berkilau seperti glitter.”


Farrell tersentak saat mendengar jawaban Christo. Dia ingat pernah melihat Remy menaburkan bubuk seperti itu ke atas makanan mereka. Tak heran kalau Remy lebih gugup daripada biasanya saat dia memergokinya. Dia pasti mengira Farrell mengetahui ramuan apa itu, padahal nyatanya tidak. Setidaknya, Farrell harus membenarkan sesuatu dari ucapan Christo. “Warnanya magenta bukan ungu.”


Christo tak berniat protes. Justru Bliss yang berkomentar. “Tunggu, magenta? Tadi aku membayangkan warnanya ungu seperti terong. Jadi, warnanya magenta dan berkilau? Ah, itu gawat! Saat meramu ramuan untuk mempengaruhi pikiran, warnanya hitam. Tapi, setelah kamu membacakan mantra, warnanya akan berubah mendekati merah. Semakin dekat dengan warna merah, semakin kuat ramuannya.”

__ADS_1


Farrell mengedikkan bahu, “Jadi?”


“Kurasa aku nggak bisa membantu kalian. Maaf. Aku hanya ahli membuat ramuan sederhana. Misalnya saja ramuan membuat kucing bicara atau mengubah warna bunga, warna pakaian, warna kertas. Sihir serumit itu bukan bagianku. Sayang sekali.”


Farrell mendesah dan membiarkan bahunya merosot.


Pelayan datang dan menuangkan satu per satu mereka teh lengkap dengan cookies di piring kecil.


Bliss tersenyum pada mereka, “Jangan khawatir, anak-anak. Aku tahu toko yang bisa membantu kalian, sekalipun aku nggak tahu berapa harga mereka untuk ramuan rumit semacam itu. Bilang saja kalau kalian temanku, mereka akan memberi kalian diskon lima belas persen.”


Christo ikut tersenyum. “Kedengarannya cukup menjanjikan.”


“Oh, tentu saja! Aku nggak mau mengecewakan pemuda-pemuda tampan seperti kalian. Kalian tahu apa yang lebih bagus lagi? Aku bisa mengantar kalian ke sana. Aku punya portal yang bisa langsung membawa kalian ke toko tersebut. Nama pemiliknya Hendrik. Hohoho…”


“Terima kasih banyak, nyonya Bliss,” Farrell ikut tersenyum.


Bliss melambaikan tangan. Pelayan counter membawa beberapa kotak teh kecil di dalam kantung kertas. “Nah, sebagai gantinya aku ingin kalian juga membantuku. Coba rekomendasikan teh-teh ini pada manager kalian. Kami punya banyak variasi teh untuk hotel dan aneka kue juga. Kurasa Eden’s Lodge butuh lebih baik sajian untuk restoran mereka.”


Farrell teringat Volcano pie dan sup bola mata. Dia sangat setuju kalau penginapan mereka menyuguhkan lebih banyak makanan normal seperti yang ada di tempat ini.


“Oh, aku hampir lupa,” sahut Bliss lagi. “Tidak ada yang mengidap arachnophobia ‘kan? Hendrick tua masih suka memelihara laba-laba. Hohoho… Kalau sampai tergigit, kalian bisa datang padaku.”

__ADS_1


Christo bertukar pandang dengan Farrell. “Kami akan berusaha tidak mengganggu mereka.”


__ADS_2