
“Tidak ada? Bagaimana bisa?” Farrell mengira dirinya salah dengar.
“Seharusnya manager penginapan punya kuasa atas semua barang yang ada di penginapan. Namun, pamanmu tidak pernah repot-repot memperbarui mantra dengan namanya. Padahal dia hanya perlu minta para supplier melakukannya. Mengganti nama Alan menjadi namanya sendiri, Albert, lalu merapal ulang mantra di setiap perabotan.”
“Jadi, kamu satu-satunya yang bisa mengontol perabotan dapur?”
“Saat ini? Ya.” Remy mengangguk. “Peralatan makan juga. Aku bertanggung jawab atas semua hidangan Eden’s Lodge. Sayangnya, tidak ada perabotan sihir di Eden’s Lodge bagian depan karena pertikel sihir di sana sedikit. Jadi untuk menyiapkan makanan di bagian depan, aku harus melakukannya manual. Ini rahasia. Tapi, kadang aku membuatnya di bagian belakang lalu membawanya ke depan. Christo akan marah kalau tahu soal ini. Dia bilang sihir tetap ada di bagian sihir, tidak boleh dicampur.”
“Apa Christo juga punya kontrol terhadap perabotan sepertimu?”
“Ya, tentu saja. Kami semua punya. Emily bisa mengontrol peralatan kantor. Will bisa mengontrol peralatan di luar penginapan, seperti sapu, kapak, pemecah es, semacam itu. Christo, dia spesial. Dia bisa mengontol perabotan di dalam, di luar, bahkan peralatan kantor. Will curiga kalau Christo sebenarnya dididik untuk jadi manager menggantikan ayahmu.”
“Mungkin saja. Dia tahu banyak.”
Sambil terus berjalan, Farrell memasukkan tangan ke saku agar lebih hangat. Saat itulah, Farrell merasakan jemarinya menyentuh sesuatu berbahan kain tebal. Dia pun mengeluarkan sebuah dompet merah jambu. Farrell mengambilnya saat dia berada di kamar Denise. “Remy, kamu tahu apa ini?”
“Biar kuingat dulu. Sepertinya itu milik Emily.”
“Emily? Aku mengambilnya di kamar Denise tadi.”
“Memang apa isinya?”
“Aku juga nggak tahu. Kupikir siapa tahu ada sesuatu yang berguna di dalamnya. Alat sihir, mantra, entahlah.” Farrell membuka dompet. Di dalamnya ada sebuah bola marmer kecil. Warnanya pink bercampur hitam dan putih seperti mutiara dengan motif gelombang. Selain itu, ada pula kartu coklat kecil. Isinya:
Bola Aureline
Merupakan batu permata yang biasa digunakan
para istri raja negeri Aureline pada mahkota mereka.
__ADS_1
Dipercaya mampu menyimpan mantra selama ratusan tahun tanpa memudar.
Selain itu, ada pula kertas terlipat. Sebuah ucapan terima kasih.
Senang bekerja sama denganmu, Denise.
Kutunggu pesananmu berikutnya.
Salam, Olivia.
“Nama Olivia yang ada dalam pikiranku hanya saudara kembar Emily. Tapi, dia sudah meninggal beberapa tahun yang lalu.”
Farrell berhenti. Separuh berbisik, dirinya bertanya, “Tunggu dulu. Jadi Emily kembar?”
“Ya, memang kenapa?” Remy ikut memelankan suaranya.
“Kamu nggak pernah berpikir kalau mungkin saja Emily bukan berkepribadian ganda tapi mereka adalah saudara kembar yang sering bertukar tempat?”
Remy mendengus geli. “Wil juga pernah berpikir begitu tapi Christo bilang kalau Emily hanya sedikit aneh, jadi kami nggak perlu memikirkannya. Aku setuju dengan Christo. Olivia meninggal dalam kecelakaan penggalian situs beberapa tahun lalu. Nggak mungkin kalau mereka bertukar tempat.”
“Penggalian situs? Dia seorang arkeolog?”
__ADS_1
“Sepertinya demikian. Kami nggak begitu akrab. Emily juga nggak pernah cerita soal keluarga. Aku berpikir mungkin Olivia bekerja untuk organisasi sihir divisi barang bersejarah. Mereka menyelamatkan banyak artefak bersejarah dan menyimpannya di museum.”
“Bagaimana kalau Olivia memalsukan kematiannya?”
Remy melongo sekarang. “Kenapa kamu berpikir sejauh itu? Untuk apa dia memalsukan kematiannya?”
“Patung-patung yang ada di kamarnya… Portal sihir pribadi untuk Christo… Lalu, bola ini…” Farrell diam, tak berani lagi melanjutkan. Dia takut pada pikirannya sendiri. Mendadak, Farrell merasa seseorang mengawasi mereka. Matanya juga sempat menangkap sekelebat bayangan dibarengi hawa dingin. Entah cuma sekedar perasaannya atau bukan. “Ayo, cepat! Kita harus segera sampai ke Bliss.” Farrell berjalan lagi, lebih cepat kali ini.
Remy masih kebingunan tapi tetap mengikutii Farrell.
Malam makin larut. Jalan berangsur-angsur mencekam. Hanya tinggal mereka berdua di sana. Farrell mengamati kondisi sekitar. Dia tahu kalau sudah dekat. Hanya tinggal perempatan terakhir dan mereka bisa melihat dinding cat merah milik Bliss and Tea Room. Sayangnya, perempatan itu tak mengantar mereka ke sana. Saat berbelok, Farrell menemukan jalan berbeda.
Dirinya sedikit bingung. Sambil terus berjalan, Farrell berusaha mengingat lagi jalan menuju Bliss and Tea Room. Mereka sudah berada di jalan yang benar. Farrell mengamati deretan toko. Toko bunga, toko sepatu, toko baju. Bangunannya berbeda satu sama lain. Dia ingat jelas dan yakin kalau mereka tidak tersesat. Farrell menenangkan hati, mungkin dia hanya salah menghitung belokan tadi.
Anehnya, hal ini terjadi lagi. Di perempatan depan, mereka berbelok dan kembali ke jalan semula. Farrell bisa melihat toko bunga, toko sepatu, toko baju. Deretan toko sama persis seperti yang baru saja mereka lewati. Dia pun berbalik. Remy ada di belakangnya.
“Kenapa?” Remy bertanya.
“Kamu nggak merasa kalau kita hanya berputar-putar?” jawab Farrell lirih.
Remy hanya bisa angkat bahu. “Aku nggak begitu memperhatikan.”
Farrell mendadak berlari. Remy tak punya pilihan selain ikut berlari. Kegelisahan memaksa Farrell bergerak cepat. Dirinya tahu ada yang tidak beres. Apalagi saat mereka kembali ke jalan yang sama. Lagi. Kali ini Remy baru menyadarinya. Farrell berhenti. Hatinya berdebar-debar. Sambil terengah-engah, dia memandang berkeliling. Matanya memperhatikan semua dengan seksama. Mereka hanya berputar-putar di jalan ini.
Remy tak berani bersuara. Dia menatap Farrell lekat-lekat dan hanya mampu menelan ludah dalam-dalam.
Farrell mengamati sekitarnya lagi dan lagi. Tak ada orang, tak ada binatang. Hanya ada keheningan tanpa angin. Suhu udara terasa sedikit lebih hangat sekarang. Mereka seolah-olah berada dalam sebuah ruang yang mengisolasi mereka dari dunia sesungguhnya.
“Siapa?” Farrell bertanya. Bukan kepada Remy, tapi pada keheningan. “Siapa di sana?” Farrell bertanya lagi dengan suara lebih keras. “Tunjukkan dirimu!”
Masih tak ada jawaban. Farrell mulai menebak-nebak. Nama pertama yang terlintas, Denise. Wanita itu menunggunya besok bersama Milo dan Libby. Sepertinya bukan dia. Farrell tak bisa memikirkan nama kedua. Kalau bukan Denise, pelakunya bisa siapa pun. Mungkin perampok. Tapi, kalau memang benar, kenapa perampok itu tidak langsung menyergap mereka? Kenapa harus membuat mereka berputar-putar? Pelakunya seolah tak ingin mereka pergi.
Entah apa yang terlintas dalam benak Farrell kali ini. Dia mengambil kantung berisi Aureline dan meletakkannya di lantai. Kemudian, dia mulai mengambil beberapa langkah mundur. Remy mengikuti semua yang dilakukan Farrell ditambah dengan kedua tangan ke atas. Tanda menyerah.
__ADS_1
Sambil mengedarkan pandangan, Farrell bicara lagi. “Kamu bisa mengambilnya kalau mau. Itu bukan milik kami. Itu milik Denise. Jadi, tolong tunjukkan dirimu!”