The Way Back Home

The Way Back Home
Sneak Out


__ADS_3

Matahari belum terbit. Farrell berusaha keras memejamkan mata. Kantuk tak kunjung datang menghampiri. Dirinya gelisah. Pikirannya melayang pada ayah, ibu, Christo, juga Eden’s Lodge. Mungkin lebih baik kalau dia segera memberikan sertifikat pada Denise. Lagipula, dia tidak perlu menunggu hingga pagi datang. Sertifikat sudah ada di tangan. Itulah tujuan kenapa Farrell minta kedua adiknya memunculkan sertifikat di sini. Dengan adanya sertifikat penginapan, Farrell bisa bebas kembali ke Eden’s Lodge seorang diri. Milo dan Libby akan lebih aman bersama nyonya Bliss saat ini. Begitu pula dengan Remy.


Farrell bahkan berpikir kalau seandainya dia memang diberkati seperti kata Ruberu sebelumnya, mungkin dia akan menemukan keberuntungan lain. Siapa tahu Jim dan Joe sedang terlelap, jadi dia bisa langsung membebaskan ibu juga Christo.


Melawan rasa dingin, Farrell menyibakkan selimutnya. Dia bergerak begitu pelan, tak ingin membuat keributan dan membangunkan orang-orang dalam ruangan. Dia mengambil jaket dan map berisi sertifikat lalu berjinjit membuka pintu. Dalam keadaan gelap, matanya masih bisa mengenali deretan meja kursi, dekorasi meriah kedai teh, juga tangga menuju ke bawah. Diam-diam, Farrell menapaki anak tangga.


Sambil bergerak, Farrell mengawasi sekeliling. Dia harus mencari kunci menuju pintu keluar. Baik pintu belakang maupun pintu depan jelas terkunci rapat. Kalau mau keluar, dia harus mendapatkan kunci lebih dulu. Setibanya di lantai satu, Farrell menghampiri counter depan berusaha mencari apa pun berupa anak kunci. Di sana, dia hanya menemukan mesin kasir antik juga laci-laci yang terkunci rapat.


Farrell hendak beranjak ke belakang. Saat itulah, dirinya dikejutkan sosok bayangan yang tengah duduk santai pada anak tangga. “Mau ke mana?”


Farrell mengenali si pemilik suara. “Milo? Sedang apa kamu?” balas Farrell sambil merendahkan suara.


“Mengikutimu. Apa lagi?” Milo turun dengan santai. Dirinya tak kalah siap dari sang kakak. Dia sudah mengenakan jaket lengkap dengan scarf juga sepatu. “Kita akan kembali ke penginapan bersama, ingat? Aku akan menemanimu ke Eden’s Lodge untuk membebaskan ibu.”


Farrell memutar bola matanya tak percaya. “Serius? Libby—”


“Dia masih tidur di kamar. Aku nggak membangunkannya.” Milo mendesah sambil berkacak pinggang. Matanya melirik jas hijau di tangan sang kakak.  “Ayolah, Farrell. Aku tahu kamu bermaksud ke sana sendirian. Kalau tidak, kenapa harus repot-repot memunculkan sertifikatnya di sini?”


“Kamu nggak tahu seberapa berbahaya Denise dan dua bawahannya.”


“Aku tahu. Aku menghabiskan waktu lebih banyak dengan mereka daripada kamu.”


“Milo—”


“Jangan perlakukan aku seperti anak kecil! Aku bisa membantu.”


Farrell mengernyitkan dahi. Ini berbeda dari rencana semula. Di satu sisi, Farrell tak ingin membuat adiknya berada dalam bahaya. Di sisi lain, Milo mungkin memang bisa membantu. “Baiklah. Kamu boleh ikut denganku. Sekarang, bantu aku mencari kunci pintu.”


Milo melempar senyum simpul. Dirinya tak bergerak dari tempat. “Aku sudah membuat diriku berguna.” Kepalanya mendongak pada salah satu lemari di bawah tangga. Tepat di sebelah lemari, ada pengait kecil tersembunyi bunga-bunga besar dalam pot. Pada pengait itulah, ada kunci pintu depan dan belakang Bliss and Tea Room.

__ADS_1


“Bagus!”


Farrell mengambilnya dengan mudah. Hanya ada dua anak kunci pada cincin tersebut. Keduanya sama-sama berbentuk klasik, terbuat dari besi, dengan ukiran sederhana pada ujung sisinya. Farrell memilih pintu belakang. Dia memutar kunci ke lubang. Setelah terdengar bunyi ‘klik’ pelan, Farrell mendorong pintu. Namun, pintu itu bergeming di tempatnya.


“Mungkin pintunya berkarat,” bisik Milo. Dia pun membantu kakaknya mendorong pintu. Tetap saja tak ada hasil. “Pintu ini seperti dinding saja.”


Farrell buru-buru berbalik. Dia merasakan seseorang mendatangi mereka dalam kegelapan. “Remy? Sekarang kamu juga terbangun?” Matanya bisa mengenali sosok ini pula dalam kegelapan.


“A— Aku mendengar suara-suara. Ku— Kukira perampok. Waktu bangun, Farrell su— sudah hilang…” Remy memicingkan mata seiring melangkah maju. “Ini masih gelap. Mau ke mana kalian—” Remy memotong ucapannya sendiri. “Kalian mau kembali ke Eden’s Lodge!”


“Ssst! Jangan berisik!”  Milo langsung menghardik tapi tak berani berteriak. Matanya memelototi Remy, membuat mantan koki itu beringsut mundur. “Kembali ke kamar. Kamu tidur saja!”


“Remy,” Farrell sebaliknya, malah memanggil. “Kamu familiar dengan sihir, ‘kan? Apa pintu ini juga dilindungi sihir?”


“Te— Tentu saja. Hampir semua orang menggunakan sihir untuk memastikan pintunya tak mudah dirusak.”


“Kalau begitu, kamu bisa membukanya?”


“Bantu kami membuka pintu ini, tolong.” Farrell menyingkir dari pintu. Remy tak lantas mendekat. Farrell pun menambahkan. “Jangan khawatir. Nanti kami akan menjelaskan semuanya pada nyonya Bliss setelah ini semua selesai.”


“Ka— Kalau begitu aku ikut kalian.”


Milo menepuk dahinya. “Sekarang kamu jadi ikut-ikutan?”


“Aku mungkin bisa membantu kalian.” Alasan Remy sama seperti alasan Milo.


Milo pun hanya bisa melempar pandangan pada kakaknya.


Farrell mengangguk. “Sepertinya kami memang akan butuh bantuanmu. Jadi, tolong, bukakan pintu ini dulu.”

__ADS_1


Remy mendekati pintu. Tangannya menyentuh gagang pintu sementara bibirnya membisikkan sesuatu dalam kata-kata asing. Farrell dan Milo tak tahu apa artinya. Mereka hanya tahu kalau ucapan itu membuat pintunya bisa terbuka sekarang. Ketiganya berjinjit keluar. Udara dingin dan hembusan angin kencang menyambut mereka. Hawanya menusuk hingga ke tulang. Agar tetap hangat, Farrell menggunakan ramuan pemberian Vincent. Dosisnya pas untuk mereka bertiga.


“Bo— Boleh kusimpan botolnya?” Remy melirik botol kosong di tangannya. Dia yang terakhir kali meminum ramuan tersebut.


“Kenang-kenangan?”


Ketiganya tersentak. Pertanyaan barusan tidak datang dari antara mereka, melainkan dari bayangan hitam yang kini kian mendekat. Milo bergidik ngeri. Remy bergerak mundur ke balik Farrell. Lagi-lagi, Farrell mengenali tamunya. Ini ketiga kalinya dalam malam ini dia ditegur.


“Ruberu? Kaukah itu?”


Bayangan ini mendarat ke depan Farrell. Sosoknya yang tegap membuat Milo waspada.


Seolah bisa memahami pikiran Milo, Ruberu melempar senyum tipis. “Seandainya kakakmu belum cerita siapa aku, namaku Ruberu dari kepolisian pusat. Senang berjumpa denganmu, Milo Eden.”


Mendengar nama itu, Milo lebih tenang. Dia sudah dengar nama itu dari kakaknya.


“Ada sesuatu yang mendesak?” tanya Farrell penasaran. Dia tidak tahu apakah biasanya polisi bekerja lembur hingga subuh seperti ini atau tidak. Di matanya, Ruberu bekerja penuh dedikasi. Seolah kasus yang dihadapi adalah kasus pribadi. Dia nampak berbeda dari polisi biasa.


“Aku terpikir menunjukkan sesuatu padamu. Mungkin kamu atau adikmu mengenal orang ini.” Ruberu mengeluarkan sebuah cermin bulat sebesar kepalan tangan. Ketika cermin itu diusap, muncul wajah pria gemuk. Baik Farrell maupun Remy hanya bisa mengernyit.


Milo malah terbelalak. “Orang ini ada hubunganya dengan kasus ini?”


“Di mana kamu melihatnya?” Ruberu langsung bertanya.


“Di internet. Aku membaca artikel mengenai kru TV yang diserang serigala dan badai. Dia adalah photografer yang nyaris diterkam serigala. Apa hubungannya dia dengan semua ini?” Milo balik bertanya.


Ruberu melempar tatapannya pada Farrell. “Apa kamu memikirkan yang kupikirkan?”


“Semuanya berhubungan.” Farrell bisa merasakan kengerian mulai merayapi punggungnya.

__ADS_1


“Denise tahu banyak hal.”


__ADS_2