The Way Back Home

The Way Back Home
Muffin


__ADS_3

Farrell mendengar kalimat terakhir Denise dari ujung koridor. Wanita itu mungkin bilang tidak akan ada seorang pun yang mati. Benar. Dia menginginkan seluruh keluarga Eden mati, bukan hanya satu. Mungkin seharusnya dia menyadarkan paman sebelum semuanya terlambat. Tapi, itu nanti setelah dia menyelamatkan ibu dari kedua bodyguard Denise.


Ketika rombongan itu keluar kamar, Farrell menyelinap di balik lemari sapu. Di sana, dia bisa melihat mereka melewati dirinya untuk menuju lobby penginapan bawah. Sekarang giliran Christo.


Farrell menanti di dalam lemari selama beberapa menit. Buatnya itu salah satu rangkaian menit paling lama dalam hidupnya. Hatinya cemas. Baik pada ibu maupun pada Christo. Christo menggunakan penyamaran sekadarnya. Mudah buat paman dan yang lain mengetahuinya. Semoga saja Christo bisa berkelit dengan baik. Ibunya sendiri berada dalam kamar tertutup. Jim dan Joe duduk di seberang kamar sambil bermain kartu.


Datanglah Remy. Dia membawa nampan berisi teh dan camilan. Remy berjalan menyusuri dinding dan mengetuk pintu lemari sapu dua kali. Tanda untu Farrell kalau kondisi di luar sudah aman. Lalu, Remy berjalan pergi lagi tanpa perlu menunggu balasan dari Farrell. Farrell sendiri menunggu beberapa detik dulu sebelum keluar untuk mengamati.


Remy sampai pada kedua penjaga berbadan besar. Seperti biasa, dia menarik napas dulu untuk menenangkan dirinya sebelum bicara agar tak tergagap. “Saya membawa camilan untuk Anda, tuan-tuan.”


Jim mendongak padanya. “Camilan apa maksudmu?”


“Ka— Kami biasa menyediakan camilan jam tiga sore di ruang makan belakang.” Remy berkata jujur. Eden’s Lodge menyediakan teh dan camilan untuk semua pengunjung. Mereka bebas mengambilnya di ruang makan. Biasanya waktu camilan berlangsung hingga jam lima. “Sa— Saya rasa Anda melewatkannya. Ja— Jadi, saya membawakannya kemari. Apalagi saat ini Anda sepertinya sedang sibuk.”


Joe menyipitkan matanya. “Tapi, ini belum jam tiga.” Joe sadar penuh soal perbedaan waktu. Di tempatnya saat ini masih baru lewat tengah malam. Artinya, di bagian belakang Eden’s Lodge juga baru lewat tengah hari. Jelas belum waktunya camilan.


“I— Itu… Itu karena… Karena saya pikir kalau saya memberikan setelah lewat jam tiga, Anda akan merasa ini makanan sisa. Ja— Jadi, saya bawakan lebih dulu.”


Jim tergelak mendengarnya. “Baik sekali dirimu, nak! Siapa namamu?” tanyanya sambil melirik plakat nama Remy. “Hei, Remy, berapa usiamu?”


“E— Enam belas, tuan,” jawab Remy. Setahun lebih muda dari ingatan Albert.

__ADS_1


“Kamu masih muda, apa yang membuatmu bekerja di sini?” tanya Jim lagi. “Tuntutan ekonomi?”


Remy meletakkan nampan berisi teh dan enam muffin mungil ke atas meja bersebelahan dengan tumpukan kartu. “Ya… Semacam itulah.” Remy menunduk.


“Kenapa nggak bekerja di rumah mewah para pejabat saja? Dijamin upahnya lebih besar.” Jim menuang teh dan mengambil satu muffin.


Joe malah sudah menggigit muffin hingga separuh. “Sekalipun biasanya mereka cerewet! Hahaha… Aku pernah bekerja sebagai pegawai di sana… dan… dan…” Joe berhenti. Dia menguap dan terjatuh. Kepalanya menabrak meja, membuat suara berdentum kencang.


Remy mundur selangkah demi selangkah.


Jim masih perlu waktu untuk mencerna semua kejadian itu. Dia mengguncang-guncang tubuh Joe, penasaran. Lalu, dia melirik Remy dan menatapnya penuh curiga.


Sayangnya, alasan itu tak berhasil. Jim menggebrak meja dan bangun. “Apa yang kamu masukkan ke dalam makanannya? Jawab!” seru Jim. Remy gemetar di tempatnya tak berani bicara atau melangkah. Jim pun menarik kerah baju Remy dan kembali berteriak. “Katakan! Kamu berusaha meracuni kami!?”


Remy tak mampu menjawab. Apalagi ketika melihat Jim mengepalkan tinju padanya, Remy hanya mampu pasrah dan memejamkan matanya, berharap semuanya lewat dengan cepat. Namun, itu tak terjadi.


Farrell menarik badan Remy menjauh sebelum Jim meninjunya. Akibatnya, Remy terjatuh ke tanah. Itu lebih baik daripada mendapat tinju. Farrell sendiri oleng tapi tak sampai terjatuh. Tinju Jim mengenai udara kosong.


Kontak mata terjadi. Farrell yakin melihat Jim melotot padanya. Pria bertubuh besar itu pasti tak menyangka kalau dirinya ada di penginapan. Nampaknya kehadirannya membuatnya lupa pada Remy. Dia malah mengayunkan tangannya untuk menangkap Farrell sekarang. Tentu saja Farrell langsung berlari. Kabur.


“Kembali kamu, Farrell Eden!” Teriakan Jim menggema di lorong.

__ADS_1


Farrell bersyukur paman, bibi, dan Denise ada jauh di bagian belakang penginapan. Kalau mereka ada di sini dan mendengar teriakan itu, Denise pasti akan melakukan sesuatu. Entah itu dengan sihir bola api atau ramuan lainnya. Ini mengingatkan Farrell pada benda lain pemberian Vincent. Kapsul peledak! Sebelum menjalankan rencana ini, Farrell membagi kapsul tersebut. Christo membawa tiga kapsul dan dirinya sendiri membawa dua. Namun, melemparkannya sekarang pada Jim hanya akan menimbulkan keributan.


Selagi berpikir, Jim sudah ada di belakangnya. Dia menangkap lengan Farrell dan mendorongnya ke dinding. Sebelum Farrell sempat bergerak, Jim sudah mencengkram lehernya. Farrell merasakan kerongkongannya tercekik. Susah payah dia berusaha mengambil udara ke paru-parunya.


“Hooo… Aku mendapat tangkapan bagus,” kata Jim. Wajahnya begitu dekat dengan Farrell. Dia juga menyeringai dan melotot di saat bersamaan. “Denise akan suka dengan hadiah yang kubawa. Farrell Eden. Kamu pikir kamu bisa lolos begitu saja setelah membuat kami tertidur di jalan? Hahaha…”


Farrell ingin mengoreksi. Sebenarnya waktu itu Christo dan Gizmo yang membuat mereka tertidur di gang. Namun, Farrell tak mampu bicara. Dia sibuk mencari udara. Cengkraman Jim padanya tak mengendur malah mengencang setiap detiknya. Matanya mulai berair, mengaburkan pandangannya. Dari sudut matanya, dia melihat bayangan hijau neon mendekat perlahan dari belakang. Itu Remy!


Remy mengulurkan tangan dari belakang Jim. Dia memencet hidung si bodyguard. Secara reflek, Jim membuka mulut. Saat itu, Remy langsung memasukkan satu muffin utuh ke dalam mulut Jim yang terbuka. Jim pun gelagapan. Secara reflek pula, dia mengecap, mengunyah habis muffin. Masih dengan mulut penuh, Jim berusaha protes. Kalimatnya tak terdengar jelas. Tahu-tahu, Jim sudah melepaskan cengkramannya pada Farrell lalu jatuh berdebum. Sama seperti Joe, Jim tertidur.


Farrell merosot di dinding sambil terbatuk-batuk. Dia menarik napas dalam-dalam sambil menenangkan diri. Dia juga mengejapkan mata berulang kali berusaha mengembalikan pandangan. Farrell melihat Remy jatuh terduduk, gemetar.


“Hei… Uhuk! Uhuk!” kata Farrell pelan, lehernya masih sakit. “Hei… Remy, kamu nggak apa-apa?”


Remy menatapnya balik dan mengangguk. Lalu, Remy malah tersenyum lebar padanya. “Aku— Aku— Aku berhasil menumbangkannya. Kamu lihat? Aku membuatnya tertidur!” Farrell hanya mampu mengangguk juga dan ikut tersenyum. Remy melihat Jim di kakinya. “Aku berhasil mengalahkan orang yang lebih besar dariku!”


“Kamu tahu, kualitas nggak selalu diukur dari kuantitas.”


Remy mengangguk lagi. “Terima kasih.”


Tapi, Farrell menggeleng. “Tidak, terima kasih. Sekarang saatnya bertemu ibu.”

__ADS_1


__ADS_2