The Way Back Home

The Way Back Home
Blood


__ADS_3

Jim dan Joe tak lagi berada di dekat portal menuju ibu kota. Jadi, Christo dan Farrell bisa kembali dengan mudah. Mereka bergegas kembali ke toko Hendrick dan membiarkan pria tua itu bekerja memeriksa ramuan manekin buatan Denise.


Hendrick mengambil sejumput bubuk dengan jari telunjuk dan jempolnya lalu membubuhkan di atas kertas. Matanya terpejam ketika dia mulai membaca mantra. Api muncul di atas ramuan tersebut. Semula hanya ada api tanpa asap. Baru setelah menunggu semenit, mulailah muncul asap hitam. Asapnya meliuk naik seolah menari. Farrell bisa melihat asap tersebut bergerak membentuk pola. Berbagai macam pola. Mulai dari bunga, bola mata hingga sesuatu seperti seringai lebar. Beberapa bentuk tak bisa dia kenali karena terlalu abstrak. Hendrick terdiam seperti itu selama beberapa menit.


Ketika dia membuka mata, dia mengambil kertas dan mulai mencatat sementara asap masih membentuk gambar-gambar. Sesekali dia menggeleng-gelengkan kepala atau mengernyit lalu kembali menulis. Setelah asap lenyap dan bubuk ramuan berubah jadi abu kelabu, dia menatap Farrell lalu tersenyum. “Kalian berhadapan dengan penyihir yang rapi. Dia meramu ramuannya dengan presisi. Mantra pengikatnya terlajin rapi. Aku sedikit kesulitan untuk menebak bahan ramuan yang dia pakai.”


“Kamu bisa membuat penawarnya?” tanya Farrell.


“Ini adalah daftar bahan yang digunakan si pembuat ramuan itu. Cukup banyak, cukup langka.” Hendrick menyodorkan kertas pada Farrell. Setidaknya ada tiga puluh bahan di sana. Hendrick mengambil kertas lain dan mulai menulis lagi.


Farrell menunjukkan kertas pada Christo yang hanya mengedikkan bahu.


Hendrik menyodorkan kertas kedua. “Ini bahan yang kubutuhkan untuk membuat ramuannya.” Daftar yang ada pada kertas kedua tidak kalah banyak dari kertas pertama. Isinya pun tak kalah aneh. Ada beberapa nama asing juga berbagai jenis bunga, bulu hewan, dan banyak lagi. Ada pula kata abstrak seperti ‘ingatan’ dan ‘mimpi’.


Farrell hanya bisa bertukar pandangan dengan Christo tanpa satu pun bicara.


Hendrick tersenyum lagi. “Kulihat sepertinya kalian tidak paham sama sekali soal ramuan jadi biar aku jelaskan sedikit. Beberapa pelanggan biasanya mau membantuku mencari bahan-bahan ini. Aku bisa memberi mereka diskon. Tapi, kalau tidak bisa juga tidak masalah. Aku akan mencari sendiri bahan-bahannya. Walaupun mungkin sedikit lebih lama.”


“Berapa lama?” sahut Farrell.


“Satu minggu paling cepat.”


Farrell terhenyak. Itu artinya pengaruh ramuan pada kedua adiknya sudah permanen. “Satu minggu? Tidak bisakah lebih cepat? Bagaimana kalau seandainya kami membantumu mencari bahan?”


“Sayang sekali. Ada bahan yang hanya tumbuh waktu bulan baru,” jawab Hendrick sambil menunjuk kertas dalam genggaman Farrell. “Kecuali kalau kalian kenal dengan orang-orang black market, mungkin hasilnya akan lain.”

__ADS_1


Christo pun angkat bicara, “Bagaimana kalau kamu membuat ramuan lain? Mungkin sesuatu untuk sekedar mencegah agar efeknya tidak begitu kuat atau ramuan manekin lain yang lebih kuat yang membuat peminumnya menuruti perintah kami?”


Hendrick terkekeh. “Kamu mau membuat ramuan manekin yang bisa melawan ramuan manekin pertama? Ide menarik, anak muda. Kupikir aku bisa melakukannya dan itu mungkin efektif. Tapi, aku nggak akan menyarankannya. Aku sudah bekerja dalam bidang ramuan berpuluh-puluh tahun. Saat suatu ramuan diminum tidak sesuai aturan, efek sampingnya tidak bisa kita duga. Apalagi bila dua ramuan berhubungan dengan pikiran orang.” Hendrick menggelengkan kepala. “Aku nggak akan menyarankannya.”


“Apa tidak ada cara lain untuk menghilangkan efek ramuan itu tanpa penawar? Sihir lain mungkin?” Farrell bertanya lagi, namun kali ini suaranya tak seantusias awal.


“Aku ahli ramuan bukan ahli sihir jadi jawabanku tidak.”


Farrell terdiam. Dia tidak tahu apa lagi yang harus dilakukan. Dia menatap kedua kertas yang ditulis Hendrick. Dibacanya satu per satu kata, berusaha mencari jalan keluar. Namun, justru dia mendapati hal menarik lain. Di kertas pertama di mana tertulis bahan ramuan manekin buatan Denise, dia menemukan satu kata janggal di akhir daftar. “Apa maksudnya dengan darah orang tua?” tanya Farrell.


“Darah orang tua… Ya, seperti yang kita tahu. Orang tua, ayah atau ibu. Pembuat ramuan tidak perlu mencampur darah orang yang ingin dituruti ke dalamnya. Cukup menyebutkan nama orang yang ingin dituruti saat membaca mantra sudah cukup. Sementara untuk ramuannya sendiri, digunakan darah orang terdekat untuk mengikat ramuannya jadi satu. Itu bahan paling penting dan penentu apa ramuannya berhasil atau gagal. Biasanya mereka menggunakan darah wanita.”


“Darah ibu?”


“Tapi, dalam ramuan kali ini, penyihir itu menggunakan darah laki-laki.”


“Oh, jadi ini masalah keluarga, eh?”


“Aku sendiri juga minum ramuan itu tapi sama sekali tidak terpengaruh. Apa… Apa mungkin Anda tahu apa penyebabnya, pak Hendrick?”


Hendrick mengangguk. “Banyak yang bisa menyebabkan sebuah ramuan tidak bekerja. Misalnya seperti ketahanan seseorang terhadap sihir atau kondisi tertentu yang tidak terpenuhi. Contohnya ada ramuan yang harus diminum saat ayam berkokok. Tapi, setahuku ramuan manekin tidak perlu kondisi-kondisi tertentu seperti itu.”


“Penyebab lainnya mungkin?”


Hendrick melipat tangan dan mulai menggelengkan kepala setelah berpikir sebentar. “Entahlah, sepertinya tidak ada.”

__ADS_1


“Farrell,” Christo menyela. “Kita nggak perlu membahas soal ini. Membuat ramuan penawar lebih penting—”


“Kamu tahu sesuatu?” Farrell balik menyela. Dia menatap Christo lekat-lekat. “Apa kamu menyembunyikan sesuatu dariku?”


Christo menggeleng, “Aku nggak—”


“Kamu bekerja cukup lama bersama ayahku. Kamu tahu banyak hal, Christo. Apa yang masih kamu sembunyikan dariku?” Farrell bertanya lagi tapi Christo tak menjawab. Farrell melanjutkan, “Christo, aku bukan penyihir. Aku nggak punya ketahanan apa pun terhadap sihir. Hendrick juga bilang kalau ramuan manekin tidak punya kondisi khusus saat diminum.”


“Apa yang kamu pikirkan?” Christo balik bertanya.


“Aku nggak punya hubungan darah dengan ayah.” Kalimat ini meluncur pahit di bibir Farrell. “Aku bukan anak kandung Alan Eden.”


“Kenapa kamu berpikir begitu?”


“Kalau darah orang tua adalah poin penting berhasil atau tidaknya suatu ramuan, itu alasan paling logis kenapa ramuannya tak mempan padaku.”


Christo menggeleng. “Farrell, kita nggak seharusnya membahas ini. Fokus terpenting sekarang adalah—”


“Kamu tahu soal ini?” sahut Farrell.


“Farrell, kita seharusnya—”


“Apa kamu sudah tahu kenyataan ini?” Farrell bertanya lagi. Christo mengatupkan mulutnya rapat-rapat. “Christo, apa kamu tahu kalau aku bukan anak kandung ayah?” Farrell memperjelas pertanyaannya.


Hendrick bergiliran menatap keduanya.

__ADS_1


Christo mendesah pelan dan hanya berkata, “Ya, aku sudah tahu.”


Farrell tak tahu apa yang ada dalam pikirannya lagi atau apa yang ada di wajahnya saat ini. Badannya bergerak tanpa izin. Tangannya meraih gagang pintu dan kakinya membawanya lari. Terus berlari.


__ADS_2