
Farrell berlari ke kamar, melewati Jim dan Joe yang tertidur di posisi masing-masing. Farrell tahu tak perlu mengetuk kamar. Saat pintu terbuka, hatinya bergetar. Di atas ranjang, dia melihat wanita yang senyumnya dia rindukan. Sekalipun selalu bertemu setiap hari, Farrell tak pernah sekalipun melihat ibunya tersenyum. Tidak juga hari ini. Hatinya malah perih setiap melihat ibu. Apalagi melihatnya di penginapan yang sedang penuh bahaya.
Farrell berlutut di depan ibunya. “Ibu…” bisiknya pelan.
Ibu tak bereaksi. Dia seolah tak merasakan kedatangan Farrell.
Farrell menyentuh tangan ibunya pelan. Tangan itu begitu kurus juga pucat. Farrell sudah lupa betapa riang serta renyah tawa ibu dulu. Mendapati kalau tubuh ibunya dingin, Farrell melepas scarf dan melilitkannya di leher ibu. “Ibu,” katanya lagi. “Ini aku, Farrell. Ibu, kita harus pergi.”
Kali ini bola mata ibu berputar padanya, “Siapa?”
Farrell tak menyangka kalau ibunya akan merespon. Rasanya seperti pertama kali dalam selamanya. “Ini aku, Farrell. Aku anakmu.” Farrell tak bisa menyembunyikan kegembiraannya. Meski begitu, dia berhenti setelah mengucapkan itu. Dirinya penasaran apakah ibu juga tahu kalau dia bukan anak kandungnya. Ah, tentu saja ibu tahu. Ibu pasti sama saja dengan ayah. Mereka merahasiakan soal hubungan darah ini darinya.
“Farrell?” Ibu menyebut namanya.
Meski tak dihubungkan dengan darah, Farrell tetap senang sekali ketika ibu mau menyebutkan namanya. Hal ini sudah dia nantikan begitu lama. Ibu biasanya tak menjawab saat ditanya. Dia selalu diam, kadang malah mengalihkan pandangan dari siapa pun yang berusaha melakukan kontak dengannya. Farrell tersenyum teringat kalau namanya baru saja disebut. Ibu melakukan kemajuan yang luar biasa baginya. Sayang sekali kemajuan itu justru terjadi pada saat seperti ini. Jauh dalam lubuk hati Farrell, ada rasa perih menyengat.
“Kita harus pergi dari sini,” kata Farrell lagi, mengabaikan kegelisahan hatinya. Farrell menggenggam tangan ibu dan mengajaknya berdiri. Ibu tidak protes. Wanita ini menuruti semua kemauannya. Dia menuntun ibu menuju pintu. Remy sedang berjaga di sana. Dia mengawasi sekeliling, memastikan tak ada yang datang untuk mengacau.
Farrell sempat melihat sekeliling ruangan. Dia melihat dua burung elang di dalam sangkar. Keduanya terjaga tapi tak membuat suara apa pun. Mata mereka memancarkan ketakutan. Mereka kehilangan aura pemburu dan terperangkap sebagai mangsa sekarang. Meski belum pernah berkenalan, Farrell tahu mereka berdua adalah Bailey dan Barney. Dengan kata lain, Farrell sedang ada di kamar Denise.
__ADS_1
Mungkin ini bukan saat tepat. Namun, Farrell menyempatkan diri untuk membuka kurungan kedua burung tersebut. “Kalian harus pergi!” katanya separuh berbisik sambil menggerakkan tangan mengusir mereka. Kedua burung bergeming di tempatnya.
Farrell mengedarkan pandanganya lagi. Dia tak menemukan barang pribadi Denise satu pun selain dompet merah jambu mungil di atas meja rias. Farrell menyempatkan dirin pula untuk mengambil benda tersebut. Dia bukan senang mengambil barang orang lain. Tapi, Farrell merasa ini kesempatan baik untuk mempelajari sesuatu dari Denise. Entah apa pun itu isinya.
Lalu, dia kembali berjalan menuntun ibu ke pintu. Belum sampai mencapai pintu, mendadak Remy menutup pintunya dan berbisik tanpa suara. “Di— Dia di sini…”
Farrell terkesiap. “Denise?”
Remy menggeleng. “E— Emily. Hari ini dia sedang kambuh. Ehm… Maksudku… Emily punya kepribadian ganda. Hari ini dia sedang jadi jahat. A— Aku melihatnya di ujung lorong sedang membawa pisau batu dengan permata merah di tengahnya. Menyeramkan...”
“Pisau batu? Apa itu artefak?”
“Jaga ibuku sebentar.” Farrell menyerahkan tangan ibunya pada Remy. Dia sendiri menghampiri pintu dan mengintip keluar.
Farrell tersentak ketika melihat Emily sudah ada di sana. Gadis itu berdiri tepat di depan pintu kamar. Matanya menatap Farrell lekat-lekat. Namun, tak ada rasa terkejut di sana. Dia hanya menatap Farrell tanpa bicara. Sebuah pisau batu sepanjang tiga puluh centimeter ada di pelukannya. Seperti kata Remy, ada permata merah di bagian tengah agak bawah dekat ke gagang pisau.
“Ha— Hai…” Farrell menyapanya dengan canggung.
Emily tak membalas sapaan tersebut. Dia melirik ke dalam kamar. Matanya menyapu sekeliling ruangan sekalipun sebagian tertutupi tubuh Farrell. Dia tahu Remy ada di dalam. Sepertinya dia sempat melihat Remy tadi. “Remy berani menentang Denise dan membantumu? Wow! Ini berita baru. Denise pasti sangat bodoh sampai bisa membiarkan amatiran menghalangi jalannya.” Emily terkekeh pelan.
__ADS_1
Farrell terperangah. Emily yang ada di depannya jelas memancarkan aura berbeda dengan Emily yang dia temui kapan hari. Emily ini bukan hanya terlihat berbeda tapi juga membuatnya takut. Tatapan matanya, senyumannya, raut wajahnya sangat berbeda. Farrell bahkan tak percaya kalau dia Emily yang menjaga counter resepsionis.
“Kenapa melihatku seperti itu? Tidak sopan!” gerutu Emily. Farrell menggeleng cepat. Emily menatapnya lagi. “Kalau aku boleh memberimu saran, lebih baik kamu segera pergi ke belakang sebelum orang-orang ini bangun atau Christo terbunuh.” Emily pun berjalan pergi tanpa bicara lagi.
“Di— Dia benar,” bisik Remy. “Kita harus segera pergi.”
Farrell bergegas keluar kamar bersama ibunya dan Remy. Remy berjalan di depan. Dia menyusuri lorong, membimbing mereka ke lantai tiga. Di sana, Remy membuka pintu portal lalu membawa mereka keluar. Berbeda dengan suasana di bagian depan yang gelap, bagian belakang masih terang benderang. Hari masih siang. Cahaya membanjiri setiap sudut ruangan. Beberapa pengunjung penginapan berlalu lalang di bagian bawah. Mungkin mereka baru selesai makan siang.
“Menurutmu kita akan menarik perhatian?” bisik Farrell.
“Mungkin. Jadi, lebih baik kita cepat.”
Remy memimpin jalan lagi. Mereka tak boleh melewati ruang makan karena Christo di sana bersama Denise, paman, dan bibi. Remy mengajaknya berputar melewati lorong lain. Lorong ini memutar ke kiri dan membawanya langsung ke lobby depan. Di lobby, Farrell sempat mengawasi sekeliling. Tak ada seorang pun di sana. Pengunjung yang tadi dia lihat mungkin kembali ke kamarnya. Tak ada Christo juga pegawai yang lain.
Remy membukakan pintu masuk untuk Farrell dan ibu. Detik berikutnya, dia berbalik dan berseru, “Lari! Dia—” Remy behenti, mematung di tempatnya dengan tangan masih memegang gagang pintu. Mulutnya terbuka tapi tak mampu bicara. Tubuhnya kaku tak bergerak. Hanya bola matanya yang mampu bergulir.
“Re— Remy?” Farrell tahu itu berita buruk.
Seseorang menyihir Remy. Pasti Denise! Farrell melihat Denise di ujung tangga bawah pintu masuk Eden’s Lodge. Wanita itu mengulurkan tangannya ke depan. Ketika melihat Farrell, sesuatu meluncur keluar dari tangan Denise. Sebuah gelombang putih bak semburan asap. Farrell menarik ibunya masuk ke dalam dan berlari sekencang mungkin. Di belakangnya, terdengar suara percikan. Sepertinya sihir Denise mengenai bangunan.
__ADS_1
“Farrell Eden!” seru Denise dari luar penginapan. “Tidakkah kamu bosan bermain kucing-kucingan terus denganku? Aku yakin kalau kamu sudah mengerti semua keinginan pamanmu yang kebetulan sama dengan keinginanku. Bagaimana kalau kita minum teh bersama seperti yang baru kulakukan bersama Christo? Peliharaan mungkilku ingin berkenalan denganmu.”