
“Kupikir itu wajar. Kamu bilang kalau kota ini terdekat dengan Eden’s Lodge. Lagipula, kemana lagi kita bisa pergi? Mobilku ada di tempat parkir penginapan. Kita juga tidak mungkin berjalan kaki menerobos badai dan kumpulan serigala di sekitar penginapan.”
“Tidak ada serigala di Eden’s Lodge bagian depan,” sahut Christo. “Maksudku, Eden’s Lodge tempatmu menginap. Kami biasa menyebutnya bagian depan sementara bagian di dunia sihir ini bagian belakang.”
“Aku dengar berita kalau kru TV yang mencoba meliput Octorino terjebak badai dan bertemu kumpulan serigala sehingga mereka memutuskan kembali. Kurasa review Eden’s Lodge di internet nggak akan bagus.” Farrell mendesah.
“Aku nggak pernah menonton TV dan nggak peduli berita apa pun di internet. Tapi, serigala hanya ada di bagian belakang Eden’s Lodge alias dunia sihir seperti yang menemui kita kemarin.”
“Mungkin kamu nggak pernah berkeliling di bagian depan.”
“Memang. Gizmo yang melakukannya untukku bersama Bailey dan Barney. Mereka nggak pernah melaporkan ada serigala di dekat sana. Nggak satu pun penyihir pelanggan Eden’s Lodge juga pernah cerita soal adanya serigala.” Melihat Farrell mengernyit, Christo melanjutkan. “Memang kamu sendiri melihat serigala saat menyetir ke Eden’s Lodge?”
Farrell hanya menggeleng. “Aku hanya pernah mendengar lolongan saja.” Dia pun memutuskan diam dan tak melanjutkan permasalahan serigala di bagian depan Eden’s Lodge.
Christo memimpin menyusuri jembatan dan keluar kota secepat mungkin. Ketika berada di tepi tanah lapang bersalju, Christo memanggil si burung hantu. “Gizmo!” katanya pelan pada langit kelabu. Hari mendekati sore dan mendung tebal sudah menggantung.
Tak lama, burung hantu putih menunjukkan wujudnya. Dia terbang melintasi puncak pohon lalu hinggap pada dahan di atas mereka.
“Sekarang apa?” tanya Farrell. “Apa kita akan membuatnya raksasa dan kembali ke Eden’s Lodge menaiki Gizmo? Tidakkah itu terlalu mencurigakan? Atau… mungkinkah kalau kita menulis surat pada Remy untuk minta bantuannya? Sekalipun aku nggak yakin kalau Remy mau membantu.” Farrell ingat Christo kemarin bilang kalau membawa kertas yang bisa menulis sendiri dirinya. Di sisi lain, Farrell juga ingat betapa gugupnya Remy. Mungkin dia sangat ketakutan pada Denise.
“Kamu tahu, aku hampir saja mengira kamu bisa sihir membaca pikiran.” Christo melemparkan senyum padanya.
__ADS_1
“Artinya?”
“Itu tepat seperti pikiranku. Aku akan menulis surat pada Remy.” Christo mengeluarkan sebuah gulungan kertas kecil. Bentuknya mirip dengan gulungan kertas untuk mesin bon. Dia menarik ujungnya dan mulai mendikte, “Bawakan aku sampel dari ramuan Denise. Farrell aman.” Secara ajaib, setiap ucapan Christo muncul di kertas seolah ada pena yang menuliskannya di sana. Huruf-hurufnya terkesan kuno tapi indah dipandang.
“Bisakah kamu menanyakan kabar Milo dan Libby?”
Christo menoleh sebentar lalu melanjutkan, “Bagaimana Milo dan Libby?” Setelah pesannya tertulis, Christo merobek kertas tersebut dan menggulungnya seramping mungkin. Dia memanggil nama Gizmo lagi dan si burung hinggap pada tangannya. Kertas tersebut dimasukkan pada tabung dan diikatkan di kaki Gizmo. Christo membawa tabung dan tali kecil tersebut ke mana pun karena sering menggunakan peliharaannya sebagai pembawa pesan.
“Menurutmu ini akan berhasil?” bisik Farrell.
“Harus.” Christo menatap langit kelabu. Satu per satu butiran salju mulai berjatuhan. “Pergi dan bawakan aku berita baik!” pintanya seraya menghentakkan tangan.
Farrell ikut menengadah ke langit. Matanya mengamati ke mana burung itu pergi. Dia terus menatapnya lekat-lekat sampai Gizmo lenyap di balik pepohonan. Barulah setelahnya Farrell mendesah pelan. Dia menarik dirinya ke pohon dan duduk di bawahnya. Beberapa butir salju berhasil menerobos dedaunan di atas lalu jatuh ke bahunya. Tapi, Farrell bergeming. Rasa lelah secara fisik dan psikis membantunya menghiraukan segala rasa dingin.
Farrell menggeleng. “Aku hanya perlu duduk sebentar.”
Christo pun ikut duduk di samping Farrell. “Kita belum makan siang, kalau kuingat.”
Jangankan rasa lapar, Farrell bahkan tak lagi merasa dingin sekarang. Pikirannya melayang ke berbagai tempat. Eden’s Lodge, penjara, Bliss and Tea Room, toko Hendrick, bahkan rumah. “Aku berhutang padamu. Aku nggak membawa uang dan—”
“Jangan bicarakan soal uang sekarang. Kamu akan mirip seperti pamanmu yang hanya memikirkan uang dan uang dan uang. Kamu berbeda, Farrell.”
__ADS_1
Farrell menatap ke atas. Langit kelabu tertutup dedaunan pohon di atas. Dia bisa melihat bagian bawah dahan pohon yang dekat dengannya. Keecoklatan di bawah dengan hijau pada lapisan kedua dan putih bersih di lapisan teratas. “Kenapa menurutmu Remy akan membantu kita? Apa dia juga peduli pada Eden’s Lodge sepertimu?”
“Ya, anggap saja begitu. Remy, William, dan aku sepakat kalau ramuan pengaruh pikiran — ramuan manekin, maksudku — adalah ramuan menyebalkan. Kami memang nggak tahu bagaimana menolong kalian tapi setidaknya kami sepakat soal satu hal itu. Jadi, percaya saja, Remy akan menolong kita.”
“Dia kelihatan penakut. Bukan. Dia kelihatannya orang yang mudah gugup.”
“Dia pernah membuat para pelanggan keracunan makanan. Salah bahan makanan. Tertukar antara jamur beracun dan tidak. Dia hampir dipecat gara-gara itu. Menurutku, bibimu punya andil salah. Dia yang memesan bahan makanan waktu itu.”
“Boleh kutebak bagaimana kelanjutannya? Kamu membelanya sampai tidak jadi dipecat?” Farrell menebak.
Christo tak menjawab. Farrell hanya bisa tersenyum. Dia mengejapkan matanya dan kantuk mulai datang. Farrell tak membiarkan dirinya terlelap. Dia seharusnya berjaga sampai Gizmo kembali. Namun, berjuang melawan rasa kantuk tanpa bantuan obrolan dengan Christo cukup berat, sangat berat malah. Setelah perjuangan beberapa menit melelahkan, Farrell menyerahkan rasa kecemasannya dan terlelap. Hanya sebentar. Farrell yakin dia tidak tidur lebih dari lima belas menit.
Farrell tersentak saat ada kumpulan salju sebesar kepalan tangan mendarat di bahunya. Matanya mengerjap cepat, mengusir kantuk. Dia menatap ke atas dan mendapati Gizmo ada di sana. Christo berdiri di sebelahnya, sedang melepas ikatan tabung bening lain dari kaki si burung.
“Cepat sekali dia kembali,” gumam Farrell.
“Jim dan Joe mencari kalian. Hati-hati. Milo dan Libby bersama Denise, masih dalam pengaruh ramuan. Maafkan aku.” Christo membacakan pesan singkat dari Remy lalu menyerahkan kertas pesan tersebut pada Farrell agar dia bisa membacanya sendiri.
“Kita harus cepat,” ujar Farrell.
“Ini yang kita perlukan.” Sekarang Christo menyerahkan tabung bening pada Farrell. Tabung tersebut memuat serbuk magenta dengan gemerlap serupa glitter. “Sekarang tinggal menyerahkannya pada Hendrick dan berharap dia sehebat ucapan Bliss.”
__ADS_1
Farrell terdiam dengan ramuan manekin ada dalam genggamannya. Saat itu, pertanyaan sama kembali muncul dalam benaknya. Seandainya benar kalau Remy mencampurkannya dalam semua makanan dan dia juga meminum ramuan itu, kenapa dia tak lantas menuruti Denise?