The Way Back Home

The Way Back Home
Broken Down


__ADS_3

Milo menggeleng pada kakaknya. “Jangan,” bisiknya pelan.


Farrell tahu apa yang dikhawatirkan Milo. “Kami nggak tahu itu penawar asli atau tidak.”


“Penuh kecurigaan sampai akhir. Kamu memang berbeda dengan pamanmu. Sama sekali nggak mengejutkan. Kamu nggak ada hubungan darah dengan mereka.” Denise mengangkat botol itu ke udara. “Tadi kukira bisa melakukan barter dengan lancar. Ternyata kamu lebih suka cara kasar. Sepertinya kamu nggak sadar kondisimu saat ini. Coba lihat! Kamu hanya berdua dengan adikmu. Anak-anak lemah tanpa sihir. Aku bisa menjatuhkan penawar ini ke lantai sekarang juga atau kugunakan sihir untuk merebut sertifikat itu darimu. Pilihanmu.”


“Itu bukan pilihan.” Farrell tak sadar tangannya mencengkram map hijau berisi sertifikat Eden’s Lodge. Dia sadar benar kalau Denise bukan lawan yang bisa ditekan begitu saja. Farrell sendiri tak ingin Denise memojokannya. “Aku tahu itu penawar palsu. Kamu ingin membunuh kami semua.”


Denise tertawa. Suaranya melengking membuatnya makin mirip nenek sihir di cerita dongeng. Dia nampak sangat menikmati permainannya. “Farrell sayang… Ternyata kamu juga lebih pintar dari pamanmu.”


“Tolong tepati janjimu, Denise! Aku akan memberikan sertifikatnya kalau kamu benar-benar membebaskan ibuku dan Christo! Kumohon!”


“Baik, baik. Ini adalah penawar yang asli.” Kali ini, Denise mengambil botol kaca lain berisi cairan hijau bening.


Milo masih tak percaya. “Darimana kami tahu kalau itu penawar yang asli? Kamu mungkin saja tidak punya penawarnya.”


“Menurutmu aku akan membawa laba-laba beracun tanpa penawar? Baik, karena hatiku sedang senang. Akan kutunjukkan pada kalian.” Denise mengeluarkan botol kecil berisi cairan hitam tempat laba-laba mungil dikurung. Dia menghampiri meja terdekat dan membiarkan si laba-laba hitam keluar mencari udara segar. Saat itu, Denise menuangkan setetes cairan hijau bening ke atasnya. Laba-laba itu menggeliat kesakitan. Tidak sampai sepuluh detik, tubuhnya terbalik. Aroma ganjil menyebar dari bangkai hewan beracun tersebut disertai kepulan asap tipis yang tak kunjung padam.


Milo buru-buru menutup hidunya.


Denise melanjutkan. “Puas?  Cairan ini akan membuat racun menguap. Tubuh peliharaan kecilku terdiri dari sembilan puluh persen racun. Kamu lihat bagaimana efek penawar ini padanya bukan?”


“Lepaskan ibu dan Christo!” Farrell masih bersikeras. “Tukar sertifikat dengan penawar.”


“Baik, baik. Jim, Joe, lepaskan mereka!”


Menuruti perintah Denise, kedua pria bertubuh besar ini melepaskan sandera mereka. Christo menghampiri ibu, menuntunnya menjauh dari Denise lalu mendekati Milo. Keduanya berjalan pelan. Christo berjalan lambat. Dia bukan sedang menyamakan langkahnya dengan ibu, dia sendiri nampak berjalan tertatih-tatih menahan sakit. Milo ingin sekali berlari pada ibu, namun dia takut kalau-kalau ada serangan. Jadi, Milo menanti setelah ibu melewati Denise, barulah dia membantu ibu menjauh.

__ADS_1


Denise menanti keduanya bergabung dengan putra kedua Eden. Mereka menjaga jarak dari dirinya juga Farrell. “Bagaimana? Aku sudah membebaskan mereka, Farrell. Sekarang, sertifikatnya!” Denise mengangkat botol lebih tinggi agar Farrell bisa melihat.


Farrell mengulurkan sertifikat dengan tangan kiri. Tangan kanannya sudah siap mengangkap botol seandainya Denise menjatuhkan botol penawar ke lantai alih-alih memberikan padanya. Rupanya Farrell salah. Denise meletakkan botol ke tangan Farrell sambil mengambil sertifikat dengan tangan lainnya. Farrell memandangi botol di tangannya. Masih tak percaya dengan transaksi yang terlalu mudah.


Denise berbalik pada kedua penjaganya. Sebelum meninggalkan ruangan, wanita itu berbalik untuk menyunggingkan senyum terakhir kalinya. “Senang berbisnis denganmu, Farrell.”


Entah kenapa, tapi Farrell tahu kalau Denise sudah menyiapkan tipuan lain. “Lari!” serunya.


Farrell menggendong ibu. Milo menarik Christo berlari ke arah pintu keluar. Baru berlari separuh, guncangan hebat terasa. Tak lama setelahnya, sebuah ledakan besar terjadi. Ledakan ini membuat atap runtuh bertahap dimulai dari sisi terdekat dengan pintu. Mereka terjebak!


Christo bergerak secepat yang dia bisa mendekati lemari kaca di belakang meja bar panjang. “Kemari!” katanya nyaris tak bersuara. Tangan Christo meraih salah satu gagang pintu lemari. Bukan menariknya, dia justru memutarnya searah jarum jam. Lemari pun bergeser, membuka celah ke arah lorong gelap. Aliran udara dingin pun menerobos ke luar.


Tanpa disuruh, mereka masuk ke dalam. Farrell lebih dulu. Dia sedikit kesusahan karena sedang menggendong ibu. Untungnya ibu begitu kurus dan ringan. Selanjutnya Milo, terakhir barulah Christo. Pintu rahasia di belakang mereka menutup. Berikutnya, lorong tersebut mulai diterangi cahaya obor pada kedua sisi dinding. Dindingnya nampak tak rata. Ukuran lorong pun tak begitu luas. Mereka salah kalau berpikir sudah aman. Guncangan merambat mendekat. Di belakang Christo, lorong itu pun mulai runtuh.


“Lari! Cepat!” Milo berseru di tengah kepanikan. “Denise bilang akan membangun ulang bagian Utara. Dia akan meruntuhkan semua bagian ini lebih dulu!”


“Pintu keluar!”


BRUK!


Farrell tersentak. Ketika menoleh ke belakang, dia melihat Christo sudah terjatuh.


Milo sedang mengguncang-guncangkan tubuhnya. “Bangun! Kamu nggak boleh jatuh di sini!”


Farrell pun menghampiri. “Christo! Ayolah, kita sudah dekat!”


Tubuh Christo gemetar ketika dipaksa bangun. Dia hanya mampu menyandarkan diri ke dinding. Wajahnya nampak seputih mayat, bibirnya mulai membiru. “Larilah tanpaku,” ujarnya lirih. “Aku… nggak akan bisa ke sana. Racunnya… sudah menyebar…”

__ADS_1


Milo terbelalak. “Racun? Apa Denise juga meracunimu? Jangan khawatir, kita punya penawar.”


“Nggak. Penawar itu… hanya cukup… untuk satu orang.”


“Ki— Kita bisa membaginya jadi dua. Benar, ‘kan, Farrell?”


Christo menggeleng. “Tidak, Milo…”


Guncangan mulai terasa lagi. Farrell bisa merasakan tanah mulai bergetar. Butiran air menuruni pipinya, entah peluh, entah air mata. “Kami nggak bisa meninggalkanmu di sini.”


Christo menggeleng lagi. Tangannya mengambil jam saku lalu memberikannya pada Milo. “Ini milik ayahmu... Kembalikan padanya…”


“Kamu gila!?” Milo berteriak. “Aku nggak mau dengar permintaan terakhir siapa pun hari ini!”


Farrell mengulangi ucapannya. “Christo, kami nggak akan membiarkanmu mati di sini! Kita akan keluar bersama bahkan kalau harus menyeretmu.”


“Penawarnya—”


“Itu kita pikirkan nanti.” Farrell menyerahkan ibu pada Milo. Dia tahu bisa mengandalkan adiknya pada saat-saat seperti ini. “Lari ke pintu keluar! Jangan menoleh ke belakang!”


Milo menurut. Dia berlari lebih dulu, meninggalkan Farrell yang memapah Christo.


“Kenapa… berbuat sejauh ini… untuk orang sepertiku?” Christo berbisik pelan.


“Dulu ada yang bertanya padaku. Apa menurutmu hubungan keluarga selalu terikat dengan hubungan darah? Tidak.” Farrell mengabaikan segala rasa letihnya. Dia bisa melihat Milo sudah tiba di ujung. Garis terang di depan kini berubah jadi lubang persegi menyilaukan. “Christo, kita akan keluar bersama karena kamu juga bagian dari keluarga Eden.”


“Farrell… Kamu… benar-benar… persis ayahmu.”

__ADS_1


__ADS_2