The Way Back Home

The Way Back Home
Brave Man


__ADS_3

Sama dengan jalan yang dilalui paman pagi tadi, Farrell tiba di kota kecil melalui portal. Remy tak tahu kemana mereka harus pergi. Dia mengikuti ke mana pun Farrell pergi. Keduanya membisu dalam terpaan matahari senja. Warnanya agak pudar di balik langit kelabu. Setelah cukup lama berjalan, mereka akhirnya tiba di depan Bliss and Tea Room. Farrell memandangi bangunan tersebut sesaat lalu berpaling pergi.


“Tunggu,” sahut Remy. “Bukankah Milo dan Libby ada di sini. Kamu mau ke mana?”


“Penjara.”


“Pe— Penjara?” Remy mengulangi kata tesebut. Farrell beranjak. Dia pun bergegas mengikuti. “Penjara? Penjara tempat pak Alan?”


Farrell tak menjawab. Kakinya terus melangkah menuju portal lain lalu tiba di ibu kota. Remy tetap bersamanya dan tak berani bertanya apa-apa. Wajah Farrell tak menunjukkan emosi apa pun. Wajahnya cenderung pucat. Sama pucatnya dengan warna bulan. Tak ada salju di ibukota, hanya langit malam tak berbintang.


Si petugas penjara mendesah malas ketika melihat Farrell datang ke sana. “Kamu putra Alan Eden, ya? Para sipir membicarakanmu, lho. Sayangnya, tidak ada jam kunjungan malam,” katanya tak ramah.


Farrell membuka mulut untuk menjawab, namun tak satu kata pun keluar.


Remy hendak membela Farrell lagi, sayangnya dia tak tahu harus bicara apa. Lagipula dia tidak suka melanggar aturan lalu berurusan dengan penegak hukum.


“Kubilang nggak ada jam kunjungan malam!” petugas itu bicara lebih keras.


“Kumohon…” hanya satu kata itu berhasil keluar dari dirinya.


Melihat wajah Farrell, si petugas mendesah lagi. Dia melirik rekan-rekan petugas lain yang juga ada dalam ruangan. Ketika mereka mengangguk, barulah dia bicara. “Oke. Cuma sebentar, ya. Sepuluh menit, seperti biasanya. Jangan meminta lebih. Untung saja kepala penjara sedang pergi, kalau tidak aku pasti kena omel.” Si petugas keluar dari ruangan. Ketika melihat Remy ikut berjalan di belakang Farrell, dia langsung menyahut, “Satu orang saja. Kamu tunggu di sana!”


Remy pun duduk di ruang tunggu sementara si petugas mengantar Farrell.

__ADS_1


“Kali ini akan kutunggu di ujung lorong. Kalau kepala penjara datang, kamu harus segera pergi. Mengerti? Aku nggak mau kena sanksi.” Si penjaga melangkah ke ujung belokan sebelum lorong.


Alan Eden muncul di depan Farrell. Keduanya diam sejenak setidaknya satu menit. Alan mengulurkan tangan menyentuh kaca. Dia melihat putranya hanya menunduk. “Farrell,” katanya. “Farrell, anakku. Maafkan ayah. Maafkan aku. Farrell… Farrell, maafkan aku.” Hanya itu yang mampu dia keluarkan.


Farrell mengangkat kepala dan menggeleng. Sama seperti ayah, Farrell juga hanya mampu berkata, “Nggak. Maafkan aku.”


Alan melihat wajah Farrell mulai memerah. Dia kenal reaksi itu. Reaksi yang pernah dibuat Farrell kecil ketika memecahkan lampu antik miliknya. Takut, rasa bersalah, kesedihan, bingung. Semuanya bercampur jadi satu. “Farrell, apa yang terjadi?”


“Aku… membuat semuanya makin kacau.” Tenggorokan Farrell mulai terasa sakit. Dia menahan kesedihan dan segala emosinya sekuat tenaga. Kalimatnya mulai bergetar. “Aku berhasil menolong Milo dan Libby. Tapi… Tapi, sekarang paman malah menangkap ibu… Maafkan aku.”


Alan memilih diam sekalipun matanya terbelalak. Dia memandangi anaknya.


Farrell berusaha melanjutkan. “Aku… Aku nggak tahu apa yang harus kulakukan. Kupikir setelah menolong Milo dan Libby, semuanya akan berjalan lebih baik. Tapi… ternyata aku gagal. Aku nggak bisa mempertahankan Eden’s Lodge. Sekarang ibu malah ikut terlibat. Denise bahkan meracuni ibu. Aku… Aku…”


Pada akhirnya, Farrell hanya mampu bertanya. “Bolehkah aku tetap memanggilmu ayah?”


Alih-alih menjawab, Alan Eden mengalihkan pandangannya pada si petugas.


Farrell menundukkan kepala. Mungkinkah yang dia minta terlalu berlebihan? Farrell teringat masa-masa hidup tanpa bimbingan ayah maupun ibu. Dia selalu berpikir kalau dirinya sudah dewasa dan mandiri. Tanpa kehadiran ayah dan ibu, dia mampu berdiri sendiri. Namun, saat ini semua pemikirannya terbukti salah. Masalah mendesaknya kembali ke benteng pertahanan terakhir. Keluarga. Dia membutuhkan ayah, ibu, dan kedua adiknya. Farrell tak mau kehilangan mereka.


Sepasang tangan meraih leher Farrell. Dirinya jatuh ke dalam pelukan orang yang selama ini dirindukannya. Ayah mendekapnya erat-erat. Tak lagi ada dinding kaca di antara mereka.


“Farrell… Farrell…” Ayah memanggil namanya berulang kali. “Farrell… Kamu anakku dan akan selalu jadi anakku. Maafkan aku karena menyembunyikan semuanya darimu. Itu semua karena aku takut kamu pergi setelah tahu kenyataannya. Kamu boleh memanggilku ayah dan memang hanya itu panggilan yang akan kuterima darimu... Farrell, anakku.”

__ADS_1


“Maafkan aku, ayah…” bisik Farrell dalam dekapan ayah.


Sudah tak ada lagi rasa sakit di tenggorokan Farrell. Dia menyerah dan membiarkan air matanya mengalir. Farrell teringat ketika ayah memeluknya saat kecil. Pelukan yang dia dapat setelah mengakui kesalahan. Pelukan penuh pengampunan dan kasih sayang. Pelukan yang mengusir rasa takut dan bersalah. Pelukan itu masih sama. Hangat serta membangunkan aroma rindu begitu kuat.


Farrell tidak tahu berapa lama dia terisak dalam pelukan ayah. “Maaf…”


“Farrell, aku yang seharusnya minta maaf. Ini terjadi karena keegoisanku. Aku nggak seharusnya melibatkan kalian. Aku nggak akan menukar keluarga dengan apa pun. Bahkan dengan Eden’s Lodge sekalipun.” Ayah melepas pelukan, melihat wajah putranya. Wajah itu merah dan dirundung kesedihan. Ayah memegang kedua bahu Farrell dan menatap matanya lekat-lekat. “Kamu tahu arti nama Farrell? Laki-laki pemberani.”


Farrell tak bisa menahan dirinya dari tersenyum geli. “Lucu rasanya mendengar itu saat aku menangis di depanmu, ayah.” Farrell merasakan masih ada sebutir air matanya menuruni pipinya ketika bicara.


Ayah ikut tersenyum. “Menangis tidak membuatmu lemah. Itu justru bukti kalau kamu sudah berjuang menantang bahaya. Kamu jauh lebih berani juga jauh lebih kuat daripada yang kamu pikir, Farrell. Jangan takut. Ayah mendukung semua keputusanmu.”


“Sekalipun harus menyerahkan Eden’s Lodge?”


“Ya! Ya! Ibumu, Libby, Milo, dan dirimu jauh lebih berharga daripada penginapan itu. Aku membangunnya untuk mencari nafkah bagi kalian. Tidak ada gunanya kalau aku punya Eden’s Lodge tapi kehilangan kalian. Biarkan pamanmu dan wanita itu mendapatkan Eden’s Lodge. Kita bisa memulai semuanya lagi dari awal. Bersama. Sebagai satu keluarga. Nggak ada kebohongan lagi.”


“Keluarga. Benteng pertahanan terakhir.”


“Benar. Itu yang selalu dikatakan kakekmu.”


Farrell mengangguk. “Aku mengerti. Terima kasih, ayah.”


Di akhir percakapan, Alan minta putranya berjanji. “Farrell, kamu harus kembali dengan selamat. Berjanjilah padaku!”

__ADS_1


__ADS_2