The Way Back Home

The Way Back Home
Tied


__ADS_3

Di ruang tunggu, Remy dengan gusar menggosok-gosok tangannya. Hatinya sedikit menyesal karena membuang jas seragam. Kini, dia hanya mengenakan kemeja putih tipis. Padahal suhu udara di luar sana semakin turun. Dia tak bisa membayangkan bagaimana kalau harus kembali ke kota kecil bersalju. Tak lama setelahnya Farrell muncul. Dia tak tahu bagaimana wajahnya saat menghampiri Remy. Begitu melihatnya, si koki langsung berdiri dan menatapnya cemas. “Kamu baik-baik saja?”


Farrell tersenyum. “Ya. Terima kasih dan maaf.”


“Untuk apa?”


“Untuk semuanya. Kamu bahkan keluar dari Eden’s Lodge gara-gara aku.”


“Bukan salahmu. Aku nggak mau bekerja untuk orang jahat,” jawab Remy pelan. “Kamu pasti berpikir aku ini lemah, iya ‘kan?”


“Kenapa begitu?”


“Aku sering ditindas sejak kecil. Aku sering dijadikan bahan olok-olok di sekolah karena sulit bergaul dan status ekonomi. Keluargaku hanya keluarga sederhana. Ayah pekerja bangunan dan ibu seorang koki kue. Mereka bekerja keras untuk kelima anaknya. Aku yang paling muda. Aku sudah terbiasa menerima hinaan, diremehkan, dipandang sebelah mata, ditertawakan. Aku tahu betapa sakitnya ditertawakan orang lain tanpa bisa membalas.”


“Kamu nggak lemah.” Farrell menepuk bahu Remy. “Mudah gugup, mungkin. Lemah? Kurasa nggak. Apa yang kamu lakukan tadi sungguh luar biasa. Aku sama sekali nggak menyangka kamu berani membelaku di depan paman dan bibi.”


Remy melongo mendengar ucapan Farrell. Dia butuh beberapa saat untuk bereaksi. “Terima kasih. Ini pertama kalinya ada yang bilang begitu padaku.” Remy tersenyum tipis. “Sayang sekali, kita gagal menolong ibumu.”


“Lebih baik gagal daripada tidak pernah mencoba.” Farrell menghibur Remy dan dirinya sendiri. Farrell merasa lebih ringan setelah bicara dengan ayah. Dia sudah siap melepaskan Eden’s Lodge asal bisa mendapatkan ibu kembali. “Aku akan kembali ke Bliss and Tea Room. Bagaimana denganmu, mau ikut denganku?”


Remy mengangguk malu. “Aku nggak tahu harus kemana setelah keluar dari Eden’s Lodge. Jadi, sebelum dapat pekerjaan baru… kalau tidak merepotkan…” Remy membiarkan kalimatnya menggantung.


“Kamu sama sekali nggak merepotkan. Jangan khawatir, aku akan mencari cara membantumu. Aku yakin nyonya Bliss mau menerima kamu bekerja di tempatnya. Apalagi kamu pintar membuat makanan.”


“Menurutmu begitu?”

__ADS_1


“Tentu. Seperti Milo, aku juga sangat suka chocolate maple bar buatanmu.”


Remy tersenyum lagi, lebih lebar kali ini. “Terima kasih.”


Farrell dan Remy meninggalkan penjara. Keduanya menyusuri jalan kembali ke Bliss and Tea Room. Beruntung  buat Remy karena Farrell menyodorkan botol ramuan kecil padanya. Botol ramuan penghangat tubuh dari Vincent. Awalnya Remy menolak, tapi setelah Farrell menjelaskan kalau perjalanan mereka masih cukup jauh dan ramuan tersebut merupakan buatan Elioscavea, Remy pun meminumnya.


“Aku penasaran apa Christo sering mengunjungi ayahku,” Farrell mulai membuka percakapan ketika mereka berbelok di perempatan. Sudah tidak banyak orang berlalu lalang. Kebanyakan para pekerja sudah pulang. Bagian kota ini jadi sepi, bertolak belakang dengan kondisi siang hari.


“Nggak, mungkin hanya setahun sekali. Mengatur penginapan sebesar itu hanya berempat sangat melelahkan. Tapi, dia selalu menyempatkan diri. Menurutnya, kami seharusnya patuh pada ayah bukan pamanmu. Dia sering mengunjungi ayahmu diam-diam,” kata Remy sambil mengembalikan botol ramuan pada Farrell.


“Bagaimana caranya? Bukankah dia nggak bisa pakai portal karena tidak paham mantra?”


“Christo punya alat sendiri di kamarnya. Sebuah portal pribadi ke desa kecil dekat ibu kota.” Remy bicara begitu pelan seolah takut ada yang mendengar.


“Ssssst!” Remy buru-buru meletakkan telunjuk di bibirnya. “I— Ini rahasia! Emily yang memberikannya. Mu— Mungkin Emily suka padanya. Alat seperti itu sangat mahal dan rumit. Sekalipun bisa dipakai berulang kali dan pulang pergi, tujuannya hanya cuma satu tempat saja.”


“Oke... Christo nggak cerita soal alat itu padaku.” Farrell memutar bola matanya. Dia sempat penasaran kenapa Christo nggak memakai alat itu saat mereka kabur. Mungkin karena letak kamarnya jauh atau karena alasan lain. “Jadi, kamu nggak pernah bertemu ayahku?”


Remy menggeleng. “Nggak, Will dan Emily juga. Kami hanya mendengar ceritanya dari Christo. Dari yang kudengar, ayahmu sangat baik. Sama sepertimu. Sulit dipercaya kalau kamu bukan anak kandungnya. Seperti katamu tadi, kamu berjuang untuk keluarga yang tidak ada hubungan darah. Itu sangat baik dan berani. Ini pujian, bukan lelucon.”


Farrell teringat ucapan ayah. Laki-laki pemberani. “Mungkin itu memang alasan kenapa aku ditempatkan di keluarga ini.”


“Oh ya, aku… A— Aku benar-benar minta maaf karena sudah meracuni adikmu.” Kepalanya tertunduk menatap jalan. “Sejak awal, Christo minta pada kami untuk nggak mendukung rencana pak Albert. Tapi, kami… Aku terlalu takut. Kami tahu apa yang benar, tapi kami nggak berani melakukannya.”


“Kamu sudah berbuat banyak untukku, membawakan sampel ramuan manekin, bahkan membuatkan chocolate maple bar tanpa kelapa dan tanpa ramuan manekin untukku.”

__ADS_1


“Bagaimana kamu tahu kalau aku nggak memasukkan ramuan itu ke dalamnya?”


“Karena Milo dan Libby nggak tertarik. Mereka seperti ketagihan kudapan itu.” Farrell ingat saat kedua adiknya keluar tengah malam untuk mencari camilan tersebut.


“Maaf.”


“Nggak. Kalian sudah berbuat banyak untukku. Sebaliknya, aku malah membuat kalian celaka. Christo… Bahkan dia… Kuharap aku bisa berbuat lebih untuk ayah, ibu, Milo, Libby, kamu, semuanya.”


Remy menggeleng. “Kamu nggak perlu khawatir soal Christo. Will ada di sana. Will pasti menyelamatkan Christo. Mungkin sekarang mereka sedang bersembunyi atau makan malam di suatu tempat… Ah!” Remy mendadak berseru. “Gawat! Aku lupa sama sekali soal makan malam. Astaga… Bagaimana dengan para tamu penginapan? Mereka pasti kelaparan gara-gara aku…”


Farrell tersenyum geli. “Kamu masih memikirkan soal itu? Kamu baru saja mengundurkan diri dari Eden’s Lodge. Biarkan saja pak manager Albert Eden yang mengurus semua.”


“Ya, memang. Tapi, semua perabot di sana masih terikat dengan namaku. Setidaknya, mereka baru bisa menggantinya besok. Itu pun kalau pak Albert tahu bagaimana cara memanggil supplier kami. Dia nggak pernah belajar bagaimana caranya mengurus penginapan. Dia nggak tahu apa-apa.” Lalu, Remy cepat-cepat meralat. “Eh, maaf. A— Aku nggak bermaksud menghina pamanmu.”


“Nggak apa-apa. Dia memang payah.” Farrell berbelok di perempatan depan dan menemukan jalan utama kota. Di sisi kota ini, masih banyak orang berkeliaran. Mereka melihat beberapa orang mengenakan coat. Sekumpulan pria mengenakan jaket di ujung sana. Ada pula yang menggunakan sihir untuk mencegah salju turun ke atas kepalanya. Untungnya trotoar cukup lebar untuk menampung semua orang. Mereka melewati deretan kios dan restoran lengkap dengan bar kecil di samping toko peralatan rumah tangga. Ketika trotoar mulai sepi, Farrell melanjutkan pembicaraan. “Ceritakan lagi soal perabotan ajaib kalian.”


“Kami punya banyak. Mulai dari panci ukuran super besar sampai wajan mungil, teko, palu daging, penggiling, berbagai ukuran pisau, semua kualitas pertama. Peralatan makannya juga.”


“Bagaimana cara mereka bekerja? Perabotan di Eden’s Lodge dibubuhi sihir agar bisa bergerak sendiri, bukan?”


“Ya. Kata Christo, ayahmu mengaturnya demikian. Koki bisa mengontrol semua peralatan memasak. Pelayan bisa mengatur perabotan makan. Kepala dapur punya kontrol penuh terhadap semua perabotan di dapur dan ruang makan. Kami tinggal memikirkan sesuatu dan mereka langsung mengerjakannya. Kira-kira dulu seperti itu. Namun, sejak pamanmu yang bertanggung jawab di Eden’s Lodge, jumlah pegawai berkurang banyak. Tinggal empat orang saja.”


“Paman adalah manager penginapan. Perabotan apa yang patuh padanya?”


Remy mengedikkan bahu. “Tidak ada sama sekali.”

__ADS_1


__ADS_2