The Way Back Home

The Way Back Home
Renewed


__ADS_3

Kalau surga selalu digambarkan dengan awan dan warna putih, penampakannya agak berbeda bagi Farrell. Bukan warna putih, tapi warna coklat. Di depannya, dia melihat wajah ibu sedang tersenyum lembut padanya. Jemari ramping ibu membelai rambut putranya berulang kali. Wajah itu nampak penuh damai juga memancarkan kebahagiaan. Farrell sudah lama tak melihat ibunya seperti itu. Senyum ibu jauh lebih indah dibandingkan yang dapat dia ingat.


“Ibu? Benarkah ini ibu?” Farrell merasakan suaranya terdengar begitu lirih.


“Iya, ini ibu, Farrell.” Ibu masih tersenyum. Tatapannya penuh kehangatan dan mungkin sedikit rasa haru. “Semua sudah selesai.”


Farrell membalas senyum ibu. “Aku merasa sangat lelah,” bisiknya.


“Tidak apa-apa. Ini saatnya istirahat.”


Mata Farrell terasa basah sekarang. “Maafkan aku.”


“Kenapa kamu minta maaf?”


“Aku membuat penginapan jatuh ke orang yang salah.”


“Ssst… Itu bukan salahmu. Jangan salahkan dirimu.”


“Aku juga nggak bisa menyelamatkanmu…”


Ibu hendak bicara, namun ada suara lain dari samping ranjang.


“Ya, secara teknis memang nyonya Bliss yang menyelamatkan kami.”


Farrell berpaling pada sisi di seberang ibu. Dia melihat Christo sedang meletakkan baki berisi teko dan perlengkapannya di atas meja. Farrell memicingkan mata, mengamati si pegawai lekat-lekat. Christo tidak nampak sakit. Dia nampak sangat sehat dengan sedikit keangkuhan persis seperti ketika pertama kali bertemu di ruang makan penginapan bagian bawah. “Christo?”


“Kamu ingat nyonya Bliss pernah bilang kalau sampai tergigit laba-laba Hendrick, kita harus datang padanya? Ternyata nyonya Bliss punya koleksi ramuan obat hampir sebanyak koleksi tehnya. Aku nggak tahu harus bilang apa.” Christo menggelengkan kepala. “Harus kuakui aku sangat bersyukur dengan koleksi uniknya. Juga untuk hal-hal lain. Setidaknya semua berakhir baik. Ya, mungkin tidak semua.”


Farrell mengernyit. Bola matanya mulai mengamati sekeliling lebih seksama. Dia jelas tidak berada di surga melainkan sebuah kamar penginapan. Interiornya mirip interior kamar Eden’s Lodge di bagian atas. Nuansa kayu membuat ruangan begitu nyaman. Perabotannya juga terbuat dari kayu. Sebuah jendela besar membentang pada satu dinding. Dari sana, pemandangannya menampakkan sinar matahari yang hangat menyinari tebing-tebing gunung.


“Tunggu sebentar,” sahut Christo. “Kamu nggak berpikir kalau sudah mati, kan, Farrell?”

__ADS_1


Ibu tidak tersenyum, kali ini ibu justru tertawa kecil. Dia berpaling ke belakang lalu berseru. “Milo, Libby, kemarilah. Kakak kalian sudah bangun.”


Farrell kini tidak tahu harus bereaksi seperti apa.


Libby berlari langsung ke samping ibu. “Kak Farrell!”


Milo menyusul. “Hei! Kamu membuatku cemas setengah mati. Waktu itu, kamu kelihatan pucat seperti mayat. Darahmu banyak sekali waktu itu. Awalnya kupikir kamu sudah tewas.”


“Aku… Kupikir aku juga sudah tewas.” Farrell mengakui kekeliruannya.


Omongan Milo langsung memancing lirikan tajam dari ibu. “Bisakah kita melompati bagian detil lukanya?”


Milo pun menambahkan, “Baiklah. Aku nggak begitu paham sisanya. Intinya Ruberu memanggil dokter, mereka merawatmu,  lalu kamu bangun.”


Mendengar Ruberu disebut, Farrell pun bertanya. “Di mana Ruberu?”


“Kamu mau dengar kelanjutan ceritanya?”


“Semua berakhir bahagia!”


“Apa maksudmu?”


Libby langsung menyahut. “Ayah akan pulang bersama kita!”


Farrell malah mengernyit pada Milo. “Apa ini serius?”


“Tentu saja!” Milo duduk di ranjang tempat kakaknya berbaring.


Gerakan ini memicu Farrell berusaha duduk pula. Ibu menyentuh bahu putra sulungnya sambil menggelengkan kepala.


“Begini,” kata Milo memulai cerita. “Kamu ingat soal suara teriakan bibi Melanie? Ruberu ke sana bersama William. Mereka menghentikan Denise membunuh paman dan bibi. Kalau kamu tanya di mana mereka sekarang, jawabannya ada di penjara. Ruberu menahan mereka semua untuk diperiksa. Mulai dari Olivia, Emily, Dennis, Jim, Joe, bahkan paman dan bibi. Dia juga bilang akan memulai pencarian di dunia atas untuk orang bernama Barren Trow. Menurutku, mereka sudah menangkapnya sekarang.”

__ADS_1


“Si pria botak? Kenapa kamu yakin?”


“Kamu harus melihat aksi Ruberu. Dia luar biasa. Sihirnya kuat juga cepat. Semuanya melayang begitu saja. Pokoknya luar biasa! Dia juga bilang kalau punya rekan-rekan di dunia normal yang siap membantu. Barren Trow nggak akan kabur, deh! Aku penasaran apa semua polisi dunia sihir seperti itu.”


Christo menggeleng. “Nggak. Aku sempat ngobrol dengan Ruberu. Ternyata dia berasal dari kepolisian pusat di ibu kota sihir, Sinwillow. Kemampuan polisi Sinwillow berada di puncak. Nggak sembarang orang bisa jadi polisi di sana. Kita benar-benar beruntung dapat bantuan dari orang sehebat Ruberu.”


“Oh, juga Vincent!” tambah Milo. “Vincent memberikan ibu teh ajaib yang membuatnya pulih dalam hitungan jam. Ramuannya juga luar biasa! Dia bilang dia berasal dari keluarga pembuat ramuan. Aku sama sekali nggak menyangka kamu punya teman seperti dia.”


Farrell tersenyum. “Menurutku, kiita bukan beruntung. Kita diberkati.”


Ibu menggenggam tangan Farrell. “Kamu berkembang jauh lebih dari yang ibu harapkan. Ibu tidak menyangka kamu bisa berbuat sejauh itu untuk keluarga kita. Milo menceritakan semuanya. Ibu benar-benar bangga padamu, Farrell. Kamu benar-benar menghidupi arti namamu.”


“Laki-laki pemberani?”


Ibu mengangguk. “Ibu juga berharap kamu bisa segera pulih. Kamu tentunya ingin ikut kami menjemput ayah dari penjara. Seharusnya ayah bisa keluar dalam minggu depan. Ruberu bilang akan segera memberi tahu kita kalau prosesnya selesai.”


“Aku bisa membantu memeriksa kelanjutan prosesnya, bu Natasha,” kata Christo lirih. “Kupikir, aku akan sering bolak balik ke kantor polisi.”


Farrell menangkap kecemasan baik dari ucapan maupun gerak gerik Christo. Apalagi ketika Libby bertanya, “Apa Ruberu juga akan menahanmu?”


Christo menggeleng lagi. “Dia hanya ingin aku memberikan keterangan terkait Olivia dan Emily. Seharusnya aku yang minta maaf. Aku benar-benar pegawai yang payah!” Christo mendesah sambil menggaruk kepalanya. “Seharusnya aku bisa membongkar kejahatan mereka lebih cepat. Kalau saja aku lebih pintar, aku bisa membantu pak Alan keluar lebih cepat juga.”


“Kamu sudah sangat membantu keluarga kami, Christo. Terima kasih karena tetap setia bertahan di Eden’s Lodge. Di saat pegawai lain dipaksa keluar, kamu memilih tetap di sini. Kalau tidak ada kamu, aku yakin akhir cerita ini akan berbeda.” Ibu membesarkan hati Christo.


Farrell sangat setuju dengan ucapan ibunya. “Tanpa kamu, kupikir aku sudah lari meninggalkan semua. Aku berhutang padamu. Nggak akan kubiarkan Ruberu menahanmu.”


Pernyataan Farrell membuat Christo mendengus geli. “Oh, apa aku mendengar ucapan sombong barusan?”


“Benar!” Milo melompat turun dari ranjang. Sambil membusungkan dada serta tangan di pinggang, dia memulas senyum simpul. “Karena transaksi kemarin dibatalkan, Eden’s Lodge tetap berada di bawah kepemilikan Alan Eden. Kata orang-orang, ayah terkenal di dunia sihir. Pasti ayah bisa melakukan sesuatu dengan pengaruhnya agar kamu bebas dari tuduhan.”


“Aku bersyukur dengan kebenaran yang sekarang terungkap. Aku hanya ingin diperlakukan sesuai dengan perbuatanku. Kalau memang aku salah dan layak dihukum…” Christo membiarkan kalimat ini menggantung. “Intinya, aku tidak akan kabur. Ruberu bisa menemuiku kapan pun dia mau.”

__ADS_1


“Semuanya akan baik-baik saja.” Farrell melempar tatapannya ke luar jendela. “Percayalah.”


__ADS_2