The Way Back Home

The Way Back Home
Tiny Town


__ADS_3

Mereka terbang melintasi langit malam. Salju turun perlahan dari langit membasahi tubuh. Bulan menyembul tipis dari balik awan seolah enggan memancarkan cahaya. Gizmo bergerak stabil tanpa percepatan dan guncangan. Malam begitu tenang. Tak ada suara angin, tak ada suara hewan. Hanya suara kepakan Gizmo sesekali terdengar.


Penerbangan itu hanya sebantar, tidak sampai lima belas menit. Sebuah sungai nampak mengalir di bawah mereka. Ada jembatan batu besar serta kokoh membentang di atasnya. Tak jauh dari sungai, cahaya-cahaya mungil dapat terlihat. Kebanyakan berasal dari lampu jalan. Mereka tersebar di sekeliling jembatan. Pos penjaga ada di ujung dekat kota, menempel pada dinding yang mengelilingi kota.


Christo menyuruh Gizmo mendarat sebelum jembatan. Ada sebuah tanah lapang besar di sana. Salju menghampar menutupi setiap sisi sementara beberapa pohon secara acak mengisi ruang kosong. Salju masih turun perlahan ditemani udara mengigil. Selagi Christo melepas mantra dari Gizmo, Farrell memilih berkeliling sambil menggoyangkan tangannya yang pegal karena berpegangan.


Farrell mengedarkan pandangan. Hutan ada di belakang mereka dan kota di depan mereka. Bentuk kota mengingatkannya pada zaman pertengahan. Dinding tebal dari susunan batu, jembatan besar, menara segienam tinggi dengan atap runcing, lampu jalan klasik berukiran dengan lilin di dalamnya. Dia juga melihat pos lengkap dengan penjaganya. Dua penjaga keluar ketika melihat mereka mendarat.


“Apa burung raksasa hal normal di sini?” tanya Farrell.


Gizmo hinggap di tangan Christo, lelah setelah perjalanan jauh dalam bentuk raksasa. Christo hanya melemparkan senyum. “Cari tahu saja sendiri.”


Farrell menganggapnya sebagai ‘ya’.


Christo memimpin jalan. Keduanya melintasi jembatan pelan-pelan. Farrell memandang sekeliling. Lilin yang semula dia kira merupakan sumber lampu ternyata bukan lilin sungguhan. Di dalam ruang kaca tersebut, hanya ada api melayang tanpa batang. Sumber cahayanya bukan lilin melainkan sihir. Mereka terkadang bergerak mendekat mereka bagai orang-orang yang menoleh.


“Selamat malam.” Christo menyapa kedua penjaga di depannya.


“Selamat malam. Sudah lama aku tak melihatmu. Christo, ya?” Salah satu penjaga balas menyapa.


Christo pun tersenyum. Mereka tidak lebih tinggi dari Christo, berusia sekitar empat puluh tahun dengan postur tubuh kekar. Pakaian mereka terbuat dari kain tebal lengkap dengan tudung serta pelindung bahu keras. Penampilan rapi tanpa kumis maupun jambang. “Kupikir biasanya gerbang dibuka setiap waktu.” Christo melirik gerbang besi kembar yang tertutup.


Si penjaga ikut menoleh ke arah gerbang. “Ya, biasanya begitu. Tapi, belakangan ini gerbang harus ditutup saat malam. Banyak para penjarah lewat sini.”

__ADS_1


“Penjarah? Mereka merampok kota?”


Penjaga menggeleng. “Mereka tidak menjarah kota kecil seperti ini. Tidak ada apa-apa di sini. Paling mereka hanya bisa mendapat beberapa permata di rumah walikota. Mereka menjarah tempat lain lalu lari kemari. Kami dapat kabar ini langsung dari dewan sihir. Ada kumpulan penjarah yang cukup lihai. Mereka merampok situs bersejarah lalu lewat sini untuk rute pelarian. Walikota berang mendengarnya. Jadi, sekarang kami menutup gerbang setelah lewat jam sepuluh malam.”


“Aku baru dengar berita ini.”


“Tentu saja. Terakhir kali kamu ke sini sekitar sepuluh tahun yang lalu atau bahkan lebih. Biasanya kami hanya melihat William atau Remy kemari membeli keperluan penginapan. Jadi, malam ini kamu yang bertugas membeli bahan makanan atau apa?”


Farrell merasa harus membiasakan dirinya dengan fakta kalau semua pegawai Eden’s Lodge tahu tentang dunia sihir. Tidak mengejutkan bila para William atau Remy mondar-mandir di kota ini. Tidak mengejutkan pula kalau mereka tahu mantra portal sihir. Tidak mengejutkan juga kalau bukan Christo yang bertugas membeli keperluan mengingat parahnya kemampuan sihirnya.


Christo mengangguk. “Semacam itu. Ehm… Sebenarnya kami mau mempersiapkan pesta kejutan untuk pak Albert. Tidak ada orang lain yang tahu soal ini. Jadi, aku akan sangat menghargai kalau… Kupikir kamu menangkap maksudku.”


Penjaga itu terkekeh. “Aku paham, aku paham. Jangan khawatir. Aku nggak memberitahu siapa pun soal kedatanganmu malam ini. Mulut kami terkunci. Benar, ‘kan?” Si penjaga menyenggol bahu temannya. Baru setelah itu, dia melihat Farrell. “Dan, dia adalah?”


Farrell membuka mulut tapi tak berhasil mengeluarkan satu kata pun.


“Oh, pantas saja. Belum dapat seragam rupanya.”


Farrell memaksakan dirinya tersenyum.


“Kenapa tanganmu?” si penjaga bertanya lagi ketika melihat darah di lengan Christo.


“Kecelakaan kecil, barusan. Aku nggak sempat ganti baju karena buru-buru kemari.”

__ADS_1


“Kelihatannya lukamu cukup besar. Kusarankan segera temui dokter, tempatnya dekat dari pintu gerbang ini. Atau, kalau kamu beruntung, kamu bisa bertemu dengan salah satu Elioscavea dan membeli obat darinya. Dia datang siang tadi dan belum kembali sampai sekarang. Mungkin bermalam di sini.”


“Elioscavea?” Farrell menggumamkan nama tersebut, nama itu terdengar tak asing di telinganya.


“Terima kasih sarannya,” sahut Christo. “Aku akan segera menemui dokter setelah mendapatkan penginapan.”


Si penjaga tergelak. “Penginapan? Hahaha… Lucu rasanya membayangkan seorang pegawai penginapan mencari tempat lain untuk menginap. Dedikasi pekerjaan, eh, untuk pesta kejutan? Kukira kamu akan langsung kembali setelah membeli barang. Aku heran kenapa sampai sekarang kamu nggak diangkat jadi manager Eden’s Lodge.”


Christo menggelengkan kepala. “Maaf. Kami lelah, terutama dia. Kita lanjutkan lain waktu,” katanya sambil melirik Gizmo.


Si penjaga bertolak ke belakang. Dia mengetuk gerbang dua kali dengan buku jarinya. Suatu seperti selaput bening yang menutupi gerbang bergetar. Lalu, ada suara klik keras seperti gembok terbuka. Gerbang di sisi kiri bergerak sendiri, terdorong ke dalam, seolah ada orang yang menariknya.


“Baik,” kata si penjaga lagi. “Nikmati kunjunganmu.”


Christo melewati gerbang. Farrell berada di belakang, tak berani menjauh darinya. Mereka berjalan di atas jalan batu yang tersusun rapi dengan rumah-rumah tinggi di sisi kanan dan kiri. Bentuk rumah di sini pun mirip dengan abad pertengahan. Dinding putih, aksen kayu, sedikit ukiran. Lampu jalan serupa di jembatan juga menemani perjalanan mereka.


“Kamu hafal tempat ini?” tanya Farrell memecah keheningan.


“Lumayan. Wajar kalau seorang pegawai penginapan sepertiku menghafalkan penginapan lain. Kami rival.”


Farrell merasakan kalau kakinya mulai protes. Telapak tangan dan kakinya sangat dingin. Mereka enggan bergerak. Dalam pikiran Farrell, terlintas minuman hangat dan selimut. “Apa tempatnya masih jauh?”


Christo menggeleng. “Nggak. Kita sampai.”

__ADS_1


Farrell tak menyangka keinginannya terkabul secepat itu. Christo sedang membuka pintu penginapan. Bangunan ini mirip dengan bangunan lainnya, kecuali teras besar dengan pilar batu di bagian depan. Di balik pintu masuk, mereka disambut ruangan besar berlantai kayu. Kehangatan di sini begitu kontras dengan hawa dingin di luar. Christo menuju meja resepsionis. Begitu mendapat kamar, mereka masuk ke sana, memilih ranjang masing-masing, dan terlelap.


Ini pertama kali dalam hidup, Farrell bisa tidur cepat.


__ADS_2