
Tepat saat itu, Libby muncul bersama nyonya Bliss dan Remy. Libby membawa piring kecil berisi sepotong strawberry shortcake, nyonya Bliss ada di belakangnya, dan Remy ada di belakangnya lagi dengan baki berisi lima gelas coklat hangat lengkap dengan krim dan marshmallow. Farrell tahu ini saat yang tepat untuk mencoba trik baru.
Libby menghampiri kedua kakaknya. Remy membagikan coklat hangat untuk mereka semua. Nyonya Bliss duduk bersama mereka. Remy memilih berdiri di samping meja.
Melihat Remy, Farrell merasa terganggu. “Kamu bukan pelayan di sini. Duduk saja.”
Remy menggeleng.
Nyonya Bliss tersenyum padanya. Dia memindahkan dua gelas coklat hangat ke meja sebelah dan mengajak si koki duduk di sana. “Kamu bisa menemaniku di sini.” Remy menggeleng lagi. Nyonya Bliss mengernyit dibuatnya. Merasa tidak enak, barulah Remy mendekat dan duduk di seberang pemilik tea room. Nyonya Bliss melemparkan senyum lagi, kali ini pada Farrell. “Jangan hiraukan kami anak-anak, kalian bisa lanjut ngobrol.”
Farrell mengangguk. “Baiklah. Jadi, aku perlu bantuan kalian untuk menemukan sertifikat.”
Milo mengangguk. Tangannya mengambil gelas dan mencicipi coklat hangat. Nyonya Bliss tidak berbohong saat bilang akan membuat coklat hangat lezat, rasanya memang tidak terlupakan. Rasa coklatnya begitu pekat tapi tidak membuat eneg. Samar-samar ada rasa kacang dan mint tercampur di dalamnya. Tanpa disadari, Milo sudah meminumnya cukup banyak. Krim menempel di bibirnya sekarang.
Libby cekikikan sebentar ketika melihat Milo. Ketika menatap Farrell, dirinya tersenyum tipis tanpa berkata apa pun. Tangannya memegang garpu dan mulai memotong shortcake.
Milo pun meletakkan gelas. Dengan gerakan cepat, dia menyahut garpu Libby dengan potongan kue dan melahapnya. Adiknya langsung membuka mulut untuk protes. Namun Milo sudah lebih dulu bicara.“Ssst… Kak Farrell mau bicara, jangan berisik.”
Bibir mungil Libby mengerucut. Dia menerima garpu kosong dan meletakkannya di atas piring.
Hal serupa memang sudah biasa terjadi. Farrell tahu tidak perlu mengomentarinya. “Baiklah, kita perlu mencari tahu di mana keberadaan sertifikat Eden’s Lodge. Hanya sertifikat itu yang akan mengembalikan ibu pada kita.” Farrell sengaja tak melihat Libby saat mengucapkan kalimat barusan. Dia tidak mau salah bicara lagi. “Sertifikat itu disembunyikan ayah di suatu tempat dengan semacam sihir. Hanya kita yang bisa menemukannya.”
“Aku bahkan nggak tahu bagaimana bentuk sertifikat,” bisik Libby. Matanya menatap kue di piring.
“Hanya lembaran kertas,” sahut Milo. “Tapi, bagaimana caranya? Kita bukan penyihir.”
Farrell angkat bahu. “Entahlah. Mungkin kita harus bersama-sama konsentrasi dan memikirkan bentuknya. Lembar-lembaran kertas di dalam map, tersimpan rapi entah di mana.” Farrell mengulurkan tangan. Dia menggenggam tangan Milo di satu tangan dan tangan mungil Libby di tangan lainnya. “Ayo pejamkan mata dan coba pikir di mana kalian akan menyimpan kertas penting?”
__ADS_1
Libby yang terakhir menutup mata. Dia tak tahu apa yang harus dia lakukan. Benda penting dalam pikirannya hanya boneka pemberian ayah. Boneka yang menemaninya bermain setiap hari dan menggantikan posisi ayah yang tak pernah dia temui sebelumnya. Itu benda berharga dalam pikirannya bukan kertas-kertas.
Beberapa detik berlalu, canggung dan sepi. Farrell mulai gusar. Dalam pikirannya, tak ada satu bayangan pun terbentuk selain beberapa lembar kertas dalam map kertas biasa tersimpan rapi dalam laci. Di mana lagi dia akan menyimpan surat penting? Mungkin map itu akan lebih baik berada di dalam laci di balik lukisan atau semacamnya. Ada beberapa lukisan tergantung di lorong Eden’s Lodge. Tapi, tak satu pun kelihatan aman. Ranjang king size Libby kelihatan lebih baik.
Entah darimana, tapi perasaan itu muncul. Farrell tahu sertifikatnya ada di bawah ranjang Libby, di kamar mereka di penginapan bagian depan. Farrell membuka mata dan mendapati kedua adiknya juga sedang menatapnya. Mereka tahu!
“Wow. Apa itu tadi? Kalian melihatnya?” sahut Milo.
“Kupikir kita melihat hal yang sama. Sertifikat itu ada di bawah ranjang Libby.” Semua berjalan jauh lebih mudah dari bayangan Farrell.
“Tapi, itu mustahil! Setahuku kamar penginapan selalu dibersihkan sehabis dipakai. Harusnya ada yang tahu kalau sertifikatnya di sana.” Milo sangsi. “Kecuali sertifikat itu hanya muncul saat kita memikirkannya.”
“Itulah yang ingin kupastikan. Benda itu disembunyikan di suatu tempat. Tidak ada yang tahu selain kita. Mungkin… Mungkin kita bisa mengganti tempatnya.”
“Maksudmu?”
“Kita akan lakukan seperti tadi. Kali ini, kita coba membayangkan sertikat — map itu — di atas meja ini.”
“Aku mau kita mengganti lokasi persembunyiannya.”
“Ya, sama saja.” Milo memutar matanya. “Aku nggak yakin akan berhasil.”
“Kita nggak akan tahu kalau nggak dicoba.”
Sekali lagi, ketiga Eden itu memejamkan mata dan kembali membayangkan map hijau berisi sertifikat. Farrell bisa membayangkan map tersebut berada di bawah kasur lalu berputar-putar. Dia pun mulai membayangkan meja bulat di hadapannya sekarang dengan sertifikat di atasnya. Dilihatnya map hijau berputar-putar. Lalu, lagi. Hanya itu. Map hijau berputar-putar seolah mau mengolok-olok mereka.
Tak lama, Milo pun membuka mata dan tergelak. “Kalian lihat itu? Map itu berputar seperti gasing. Sudah kubilang, ini nggak akan berhasil.”
__ADS_1
“Mungkin kita harus memikirkan tempat yang tersembunyi. Tempat aman untuk menyimpan berkas penting. Laci atau semacamnya.” Farrell mengedarkan pandangan. Dia melihat sebuah lemari hias berbahan kayu tak jauh dari posisi mereka. “Itu! Bayangkan map hijau ada di dalam laci teratas lemari putih di sana. Kalian lihat, kan?”
Libby mengernyit tapi tak berani protes.
“Oke, jadi kita akan mencobanya lagi?” tebak Milo.
Farrell mengangguk. Dia memimpin kedua adiknya memejamkan mata kembali. Kali ini jauh lebih mudah. Hanya ada satu gambar muncul di kepalanya. Map hijau neon dengan lembaran kertas di dalamnya. Kali ini pun, kedua adiknya membuka mata lebih cepat dan menatapnya.
“Nggak mungkin…” Milo berbisik lirih sambil menggeleng-gelengkan kepala.
Farrell berjalan, sedikit ragu, ke arah lemari yang ada di ujung ruangan. Libby mengikutinya karena penasaran. Milo melihat kedua saudaranya sambil menggigit bibir.
Saat membuka laci paling atas lemari, benda itu terlihat jelas. Map hijau neon berbahan dasar plastik. Bagian ujungnya agak kusam termakan usia. Libby terkesiap. Farrell mengulurkan tangan dan mengeluarkan map. Dia berbalik, mengangkatnya agak tinggi agar yang lain bisa melihat.
“Kamu pasti bercanda!” seru Milo girang. Dia melompat dari kursinya dan menghampiri Farrell.
Farrell pun membuka map hijau tersebut. Isinya berlembar-lembar kertas sertifikat penginapan lengkap dengan denah lokasi dan keperluan lainnya. Penasaran, Remy dan nyonya Bliss ikut mendekat. Farrell kini bukan hanay dikelilingi tapi juga jadi pusat perhatian. Semua mata tertuju padanya.
“Sekarang apa?” tanya Milo. Matanya bolak balik melirik lembaran pada kakaknya.
“Tidur.” Farrell menoleh sambil tersenyum. Raut wajahnya mendadak tak segelap sebelumnya.
“Tidur?” Milo membiarkan mulutnya menganga.
“Sekarang waktunya tidur.” Farrell mengulangi ucapannya. “Aku lelah. Kita semua perlu istirahat. Besok akan jadi hari yang melelahkan.” Dia teringat ucapan Ruberu sebelumnya.
“Besok, kami ikut denganmu, ‘kan?”
__ADS_1
Farrell tak menjawab, hanya memberi anggukan pelan.
Saat itu, Milo sadar niat tersembunyi kakaknya.