The Way Back Home

The Way Back Home
Black Blue


__ADS_3

“Aku akan menemanimu ke kantor polisi,” kata Christo di akhir sarapan pagi mereka.


Christo dan Farrell keluar dari pintu belakang. Sebelumnya, Christo sudah menyuruh Gizmo terbang berkeliling. Denise bersama kedua anak buahnya tidak terlihat lagi. Mungkin mereka kembali ke penginapan atau sedang mencari mereka di tempat lain. Yang pasti mereka sudah tidak ada di posisi awal ketika Christo membuat mereka tertidur. Setelah mengambil kesimpulan kalau kondisi cukup aman, barulah mereka keluar dari Bliss dan Tea Room.


Farrell sempat mengira kalau Christo akan membawanya kembali ke penjara untuk melapor, tapi ternyata kantor polisi berbeda dengan tempat ayahnya ditahan. Christo mengajaknya ke kantor polisi terdekat. Satu-satunya yang ada di kota kecil itu. Mereka berjalan cepat. Tidak boleh membuang waktu. Christo takut bila Denise kabur tapi Farrell lebih khawatir kalau Milo dan Libby terbangun sebelum dia kembali. Mungkin Milo masih bisa paham, tapi pastinya tidak akan mudah bagi Libby. Lebih enak buatnya bergerak sendirian saat ini.


Untuk sesaat, Farrell sempat kembali ragu apakah dia harus melapor. Dia bukan di posisi yang berhak menuntut paman. Dia bukan anak kandung Alan. Tapi saat ini memang Farrell satu-satunya yang bisa menghentikan pamannya menjual Eden’s Lodge.


Mereka tiba di sebuah gedung kelabu dua lantai dengan halaman luas. Pagar besi tinggi mengitari kantor polisi. Ada sejenis cap aneh di bagian bawah, mungkin sejenis mantra atau semacamnya. Gedung kelabu itu bergaya victorian, kuno tapi kokoh, tua namun terawat. Ketika menaiki tangga, pintu kantor polisi terbuka sendirinya seolah mempersilahkan masuk.


Interior di dalamnya juga bergaya victorian. Deretan sofa besar lengkap dengan meja kopi, perabotan kayu, lampu gantung, tirai panjang. Ada sebuah meja tinggi di depan mereka, mirip dengan counter resepsionis Eden’s Lodge. Seorang polisi wanita berdiri di baliknya dan menatap kedua tamunya.


“Ada yang bisa kubantu?” tanya wanita berseragam hitam tersebut. Seperti polisi umunya, dia mengenakan setelan lengan panjang, celana panjang, juga sepatu boot, topi. Namun, dengan tambahan pelindung bahu serta aksesoris rantai. Atasan mereka serupa jas penuh ornamen pada bagian ujung.


“Kami ingin melaporkan seseorang atas tuduhan penyalah gunaan ramuan sihir.”


Christo mengurus surat laporan, menyebutkan nama ini itu, memberitahukan hal perkara dan kronologi kejadian, sementara Farrell hanya diam. Hatinya gelisah. Sesuatu menggelitik benaknya. Ada yang salah dengan semua ini. Pikirannya melayang tak karuan selama pembuatan surat laporan itu terjadi. Dia bahkan tak paham perbincangan apa yang sedang terjadi antara si polisi dan Christo. Sampai akhirnya seorang pria usia dua puluhan ikut menimbrung pembicaraan mereka.


“Ini petugas Ruberu dari kepolisian pusat, dia yang akan membantu kalian,” kata si petugas wanita seraya menyerahkan map coklat padanya.

__ADS_1


Farrell mengalihkan tatapannya pada si petugas. Ruberu mirip penyihir yang selama ini ada dalam benaknya. Seorang pria berambut panjang sepunggung dan tongkat di tangan kanan. Dia tidak mengenakan seragam seperti polisi lainnya. Ruberu mengenakan coat navy blue dengan penutup bahu hitam. Di baliknya, dia mengenakan kemeja hitam dan celana putih serta boot kulit coklat. Warna rambutnya tak kalah heboh. Rambut pria ini berwarna hitam dengan biru di bagian ujungnya. Warnanya sedikit lebih tua dari Vincent. Tanpa perlu belajar tentang sihir, Farrell tahu pria ini mengeluarkan aura berbeda dari orang lain.


“Ada sesuatu yang salah denganku?” Ruberu bertanya tanpa menoleh. Bola mata kelabunya masih sibuk membaca berkas. Suaranya dalam dan berat.


Farrell menggeleng. “Nggak. Sama sekali nggak ada.”


Setelah membaca, Ruberu menatap kedua kliennya bergiliran. “Jadi, di sini kamu pihak pelapornya, Farrell Eden?” tanyanya langsung pada Farrell. “Aku nggak akan bilang ini sebuah kehormatan, tapi aku sangat tertarik dengan kasus di Eden’s Lodge. Semoga aku bisa membantu,” katanya lagi sambil mengulurkan tangan untuk berjabatan.


Farrell hanya bisa menyambutnya dan tersenyum tipis. “Kuharap begitu.”


“Bisa kita bicara di sana? Ada beberapa hal yang ingin kutanyakan,” Ruberu menengok ke salah satu set sofa di sudut ruangan.


Ruberu memulai percakapan dengan hal yang tidak enak untuk Farrell, “Jadi, ayahmu dipenjara karena tuduhan pembunuhan. Sekarang kamu melaporkan pamanmu atas tuduhan penipuan dan penyalah gunaan ramuan sihir.”


Farrell melirik Christo. Dia tak menyimak ketika laporan tersebut dibuat. Dia tak tahu perihal apa saja yang dilaporkan Christo mengenai pamannya.


“Pamanmu dibantu wanita bernama Denise,” lanjut Ruberu. “Apa yang kamu ketahui soal wanita ini? Apa dia suka dengan barang-barang sihir dan artefak bersejarah?”


Farrell tak bisa menjawab, jadi Christo memberikan jawaban sebagai gantinya. “Kami hanya tahu kalau dia wanita kaya, pemilik beberapa tempat perjudian dan bar besar. Mungkin dia berkenalan dengan Albert Eden di salah satu casino miliknya.”

__ADS_1


“Dari data yang kami simpan, Denise merupakan salah satu lulusan terbaik sekolah meramu.”


“Masuk akal. Ramuan manekinnya cukup bagus.”


“Selama kamu bekerja di Eden’s Lodge, apa Denise sering ke sana? Apa yang sering dia bicarakan dengan Albert Eden?”


“Awalnya, dia hanya mengunjungi Eden’s Lodge satu kali sebulan. Namun, setahun belakangan dia datang hampir setiap minggu. Aku nggak pernah menguping pembicaraan mereka. Hanya pernah beberapa kali lewat saat mereka berbincang. Mereka membicarakan soal bisnis. Seperti pembukaan casino baru, tarif kamar di Eden’s Lodge, harga bahan pokok untuk makanan dan minuman, lalu uang, uang, dan uang lagi.”


“Jadi, menurutmu Denise hanya berminat membeli Eden’s Lodge untuk melebarkan bisnisnya?”


Christo mengangguk. “Kurasa sudah bukan rahasia kalau Eden’s Lodge punya pendapatan besar setiap bulannya. Sekalipun angkanya menurun sejak Albert Eden mengambil alih.”


Ruberu menarik dirinya dan bersandar. “Kalau cuma masalah jual beli penginapan, kasus ini lebih sederhana.”


“Lebih sederhana?”


“Eh?” Ruberu terdiam seolah terkejut pada ucapannya sendiri. Takut dianggap meremehkan, Ruberu menggeleng dan melanjutkan, “Ah, tidak. Maksudku kasus ini bukan kasus rumit. Albert Eden ingin menjual penginapan, Denise ingin membelinya, tapi Alan Eden tidak setuju. Jadi, Albert Eden terpaksa menghalalkan segala cara.”


Farrell diam sedari tadi. Dia tidak bicara bukan karena tidak tahu apa yang ingin dibicarakan melainkan karena sedang mendapat firasat buruk. Ruberu yang membantu mereka sekarang merupakan petugas dari kepolisian pusat. Tidak mungkin dia diperbantukan untuk kasus sederhana seperti ini. Bukan tidak mungkin kalau sebenarnya Ruberu ada di kota kecil ini untuk menyelidiki Eden’s Lodge. Farrell merasakan ada sesuatu yang lebih rumit dan gelap dari sekedar masalah jual beli.

__ADS_1


Pertanyaannya, kalau bukan soal perebutan kepemilikan Eden’s Lodge, lalu apa?


__ADS_2