The Way Back Home

The Way Back Home
Brother


__ADS_3

Farrel bukannya langsung mulai tapi malah terdiam. Pikirannya tahu hal penting lain untuk diungkap. Hal yang tidak kalah penting dari masalah sertifikat Eden’s Lodge. Setelah menetapkan hati, barulah dia bicara. “Sebelumnya, ada satu rahasia yang kupikir perlu kamu tahu. Hanya kamu, Libby nggak. Maksudku, belum. Dia masih terlalu kecil. Bisakah aku mempercayakan rahasia ini padamu, Milo?”


“Aku sudah muak dengan permainan rahasiamu, Farrell. Katakan saja langsung!” Nada Milo meninggi tapi suaranya malah memelan.


“Ini sangat serius dan penting.”


“Seserius kebenaran kalau ayah ternyata ada di penjara dan fakta kalau paman jahat? Kurasa nggak ada yang lebih parah dari itu.” Seolah tersadar oleh perkataannya sendiri, Milo mendesah. Tangan kanannya mengusap wajah. “Ya, ampun. Liburan kita mendadak dipenuhi kejadian buruk. Paman dan bibi jadi jahat, muncul nenek sihir bernama Denise, ada ramuan boneka — atau apalah itu namanya —, lalu dunia sihir. Oke, aku cukup suka bagian terakhir. Intinya, aku sudah terlalu banyak dapat kejutan. Rahasia apa pun kali ini nggak akan membuatku terkejut. Aku bisa jaga rahasia, bahkan mungkin lebih baik darimu. Kamu tahu itu. Jadi, katakan saja rahasia-serius-penting apa ini?”


Farrell membuang tatapannya ke meja. Cangkir berisi teh milik Libby memantulkan wajahnya sendiri. “Apa yang akan kamu lakukan kalau seandainya aku orang luar?”


“Hmmm… Aku nggak mengerti. Maksudmu, kamu seperti polisi dalam penyamaran, begitu?”


“Ya, semacam itu.”


Milo tergelak. “Hahaha… Lelucon bagus!”


Farrell menggeleng. “Milo. Aku nggak bercanda. Aku…”


Milo berhenti, menunggu kakaknya bicara. Dia menanti selama beberapa saat. Namun, karena tak kunjung mendapat jawaban, Milo pun bertanya lagi. “Apa lagi sekarang?”


Farrell kembali menatap Milo lalu balik bertanya, “Kamu tahu kenapa ramuan manekin Denise tidak mempan padaku?”


Milo angkat bahu. “Entahlah. Dunia sihir ini baru buatku. Mana kutahu.”


“Aku juga. Aku baru saja diberi tahu kalau faktor utama ramuan manekin adalah darah orang tua. Sepertinya Denise menggunakan darah ayah dalam ramuan manekinnya. Itu yang membuat kalian terpengaruh ramuan manekin dan menuruti Denise.”


“Aku bukan ahli kimia. Aku nggak bisa menebak ke mana arah pembicaraanmu.”


“Ini bukan soal kimia, Milo—”

__ADS_1


“Oke. Jadi soal ini biologi?” Milo menyahut lebih dulu. “Kamu mau bilang kalau darah ayah nggak mengalir dalammu? Kamu bukan anak kandung ayah dan ibu jadi kamu kebal dari ramuan manekin. Begitu?”


Hari ini Milo menebak semua dengan baik, jauh lebih baik dari dugaannya semula. Farrell tahu suatu saat rahasianya akan terbongkar. Tidak ada salahnya memberi tahu Milo sekarang. Dia justru penasaran bagaimana reaksi Milo setelah tahu semuanya. Apakah Milo akan bersikap seperti paman dan menjauh darinya? Farrell menarik napas dalam-dalam seperti yang biasa dilakukan Remy untuk menghilangkan keresahannya. Barulah dia melanjutkan, “Benar. Aku bukan anak kandung ayah dan ibu.”


Mata Milo terbelalak dan mulutnya menganga. “Wow…”


“Tebakanmu jitu lagi, eh?” Farrell menarik dirinya menjauh dari meja. Punggungnya bersandar ke bantalan kursi, matanya menerawang ke atas, hidungnya menarik napas dalam-dalam. Dia tak ingin melihat wajah Milo setelah mendengar pengakuan.


Milo mengatakan kalimatnya perlahan-lahan. “Kamu. Pasti. Bercanda.”


Farrell tetap tak merespon. Dibiarkannya keheningan menaungi mereka. Dia masih tak berani menatap Milo atau mentap cangkir teh. “Kuharap aku bercanda,” gumamnya lirih.


Milo menggeleng-gelengkan kepala, masih dengan mata terbelalak, “Itu keren sekali!”


Farrell mengembalikan tatapannya ke depan. “Apa? Apa barusan kamu bilang?”


“Itu keren!”


“Justru itu! Karena itu kubilang ini keren sekali! Kamu berada di keluarga Eden, menjadi kakakku dan Libby, tumbuh bersama kami, mengorek keburukan paman, dan menemukan di mana ayah. Kamu bahkan sekarang siap melawan Denise. Itu sangat sangat sangat kebetulan!” Milo menatapnya sambil tersenyum lebar. Tak lagi ada kekesalan di wahnya. Rahasia Farrell justu membuatnya bersemangat. “Ya, walaupun aku nggak percaya dengan yang namanya kebetulan, sih.”


Farrell mengernyit. “Kamu nggak membenciku?”


“Membencimu? Biar kupikir sebentar…” Jari Milo membelai dagunya. Kemudian, dia malah tertawa. “Hahaha… Tentu saja nggak. Untuk apa aku membencimu?”


“Aku nggak seharusnya ada di sini.”


Milo tertawa lagi. Farrell makin melongo dibuatnya. Milo meninju lengan kakaknya dan tersenyum lebar. “Ayolah, memang masalah ini sebesar itu? Memang kenapa kalau kamu bukan anak kandung ayah dan ibu? Kamu dibesarkan bersamaku dan Libby, artinya kamu tetap keluarga. Tetap kakakku. Tetap seorang Eden. Keluarga seharusnya tetap bersama. Tempatmu seharusnya memang di sini.”


Farrell kehilangan kata-kata. Dia tidak menyangka Milo bisa bicara demikian. Milo berubah dari bocah menyebalkan menjadi adik manis. Ucapan Milo mengembalikan senyuman ke wajahnya. “Keluarga, ya? Benteng pertahanan terakhir…” gumam Farrell.

__ADS_1


“Wow! Itu ucapan bagus dari kakek. Jadi, masih merasa kamu nggak seharusnya di sini?”


Farrell menyunggingkan senyum simpul. “Nggak. Seharusnya sekarang kita di rumah menikmati liburan. Aku akan segera menyelesaikan semua masalah ini.”


“Kita!” Milo berdehem dan meralat. “Kita akan menyelesaikan masalah ini, membawa ayah dan ibu pulang, menikmati liburan bersama di rumah. Aku nggak sadar betapa merindukan ponsel, game, internet, TV kabel, bahkan dering bel rumah. Lengkap dengan pengantar pizza di depan.”


“Akan kutraktir makan pizza sepuasnya sepulang kita dari sini.”


“Yeah! Itu baru kakakku.” Milo meninju udara.


“Sekarang, aku perlu meralat ucapanmu.” Farrell kembali pada topik semula. “Aku nggak akan melawan Denise. Maksudku, kita. Kita nggak akan melawannya. Denise menangkap ibu dan Christo. Dia bahkan membuat ibu digigit laba-laba beracun.”


“Apa!?” Milo berteriak.


“Ssst! Aku nggak mau Libby mendengar pembicaraan ini.” Farrell melanjutkan. “Kalau kita menyerahkan sertifikatnya besok, Denise akan memberikan penawarnya pada ibu.”


“Oke. Jadi kita akan menurutinya?”


“Ya, kita nggak punya pilihan. Kita harus menuruti kemauannya.”


“Kamu yakin nenek sihir itu akan memberikan penawarnya? Bagaimana kalau sejak awal, penawarnya memang nggak ada?” tanya Milo, namun kakaknya tak menjawab. Milo tahu ucapannya membuat Farrell lebih tertekan. Sekarang, dia juga mulai merasakan tekanan. Milo mendesah panjang dan mengganti topil. “Kalau begitu, setidaknya beritahu di mana sertifikatnya.”


Farrell meletakkan kedua tangan di atas meja lalu membenamkan mukanya sendiri ke dalam telapak tangan. Dia mengeluarkan desahan yang tidak kalah panjang dari Milo. “Aku nggak tahu. Dunia sihir ini baru buat kita semua. Christo bilang, kita bertiga yang menentukan lokasinya.” Sedetik kemudian Farrell tersadar akan ucapannya sendiri. “Tunggu dulu… Sertifikat itu bisa ada di mana pun yang kita mau. Termasuk… Termasuk di sini!”


“Maksudmu? Aku nggak paham.”


“Kita bisa memanggil sertifikat itu di sini.”


“Lalu, apa gunanya? Kita tetap harus menyerahkannya pada Denise besok.”

__ADS_1


“Mungkin… Sebelumnya, ada hal yang harus kupastikan lebih dulu.”


__ADS_2