The Way Back Home

The Way Back Home
Blame On


__ADS_3

Farrell pun terpaksa berhenti.


“Hah! Kamu pikir bisa membuat mereka tertidur semudah itu dan menipuku? Aku lihat semua pergerakanmu di sini, Farrell.” Denise menunjukkan sebuah cermin kecil. Bayangan di dalamnya menunjukkan lorong kamar tempat ibu berada tadi. “Sudahlah, menyerah saja. Lihat sekelilingmu! Kamu sendirian.”


Farrell melihat sekelilingnya seperti saran Denise. Paman dan bibi bersama Denise. Jim dan Joe menangkap ibunya. Remy gemetar di sudut ruangan. Farrell benci mengakuinya tapi Denise benar. “Jadi, sekarang apa maumu?” Farrell merasakan suaranya bergetar karena kemarahan bercampur kesedihan.


Denise tersenyum. Dia berjalan melewati Farrell dan langsung menuju ibu. “Kamu sudah tahu apa yang kuinginkan.”


“Sertifikat penginapan?”


“Tentu saja. Aku dan pamanmu punya perjanjian jual beli yang harus segera dilaksanakan. Rencana ini sudah tertunda bertahun-tahun karena ayahmu ngotot tidak mau menjualnya. Kalau kamu mau menyalahkan seseorang karena berada di posisi seperti sekarang, salahkan ayahmu saja. Dia yang memulai semua masalah ini dengan menyembunyikan sertifikat. Salahkan dia karena membuat kalian sebagai pemegang kunci. Kalau tidak, mungkin saat ini kamu sedang menikmati liburan nyaman di tempat lain.”


“Paman, jangan lakukan ini.” Farrell berharap pamannya berubah pikiran. “Denise hanya menginginkan penginapan ini. Dia akan membunuh kita semua setelahnya.”


Denise mengernyit. “Membunuh? Darimana kamu dapat ide konyol seperti itu? Aku dan pamanmu berteman baik.” Mata Denise bergulir pada Remy. Si koki menahan napas dan tak berani bergerak.


Paman menggeleng. “Farrell, Denise dan aku sudah membicarakan ini sejak lama. Eden’s Lodge akan lebih aman bila dikelola seorang penyihir seperti dirinya bukan kita.”


“Berhentilah berbohong, paman. Aku tahu paman hanya butuh uang penjualannya.”


Paman melongo. “Aku—”


Denise tersenyum. Jemarinya menyusuri wajah ibu. “Albert, keponakanmu lebih pintar dari dugaanmu. Farrell, aku harus jujur kalau sangat terkesan dengan dirimu. Kamu bukan saja kebal dengan ramuan manekin buatanku, kamu bahkan bisa sampai sejauh ini. Aku tidak menyangka sama sekali kalau kamu sampai berhasil merebut Libby dan Milo dari kami. Juga hampir membebaskan ibumu. Padahal semuanya ini situasi baru untukmu.”


Farrell tahu seharusnya tidak membahas soal ramuan tersebut, namun entah kenapa dia membiarkan mulutnya bicara sendiri. “Apa kalian tahu kenapa ramuan manekin tidak mempan padaku?”


Paman dan bibi bertukar pandang. Saat itu, tahulah Farrell kalau paman dan bibi ternyata tidak mengerti bahwa dirinya tidak punya hubungan darah dengan ayah. Sementara Denise hanya angkat bahu. “Entahlah. Terkadang itu terjadi pada orang-orang yang punya kekebalan tubuh terhadap sihir.”

__ADS_1


“Tapi, aku bukan penyihir.”


“Aku tahu. Farrell, aku bicara soal kekebalan yang didapat seseorang saat lahir bukan kekebalan sihir yang kamu dapatkan dari mantra. Itu kelebihan yang diinginkan banyak penyihir. Bagaimana kalau kamu belajar sihir lalu bekerja untukku?”


Farrell mendengus geli. “Huh! Bermimpi saja!”


“Seharusnya aku memerintahkan Remy memberikan dosis ramuan lebih banyak lagi untukmu. Mungkin dengan begitu, obrolan ini bisa lebih lancar.”


Farrell menggeleng. “Percuma, ramuanmu tetap nggak akan mempan padaku.”


“Oh! Kamu mau menantangku sekarang?”


“Aku hanya mau memberi tahu kalau bahan ramuanmu salah. Aku bukan anak kandung Alan Eden,” kata Farrell. Dia tak menyangka bisa mengatakan kenyataan itu begitu lancar. Padahal bibirnya lagi-lagi terasa pahit. Farrell bisa melihat reaksi paman dan bibi dengan jelas. Mereka melongo, saling bertukar pandang, lalu menatapnya lekat-lekat dengan dahi berkerut.


Denise tertawa dan bertepuk tangan. “Ya ampun! Itu kejutan hebat! Ternyata kamu bukan anak kandung Alan Eden? Itu jawaban sangat logis. Aku tidak berpikir ke sana sama sekali. Benar-benar mengejutkan!”


Denise menggeleng. “Mantra yang menyembunyikan sertifikat dan ramuan manekin buatanku itu dua hal berbeda. Ramuan manekin menggunakan darah sebagai pengikatnya. Tapi, mantra yang digunakan kakakmu itu berdasarkan nama seseorang.”


Farrell memandang paman dan bibinya yang sedari tadi diam. “Paman, tidakkah kamu malu? Aku melakukan sejauh ini untuk ayah yang tidak ada hubungan darah denganku. Sedangkan paman… paman rela meracuni keponakan paman sendiri. Hentikan permainan ini paman, kumohon.” Suara Farrell bergetar. Hatinya sedih dan perih. Dia berharap bisa menyadarkan paman dengan memberitahu siapa dirinya.


Sayangnya, harapan itu tidak terwujud. Setelah diam beberapa saat, paman malah berkata, “Farrell, kalau kamu bukan anak kandung Alan, kenapa aku harus mendengarkan ucapanmu?”


Sebuah pukulan telak bagi Farrell. Dirinya hanya tertegun.


Denise tertawa lagi. Melihat atasannya tertawa, Jim dan Joe ikut tertawa pula. Tawa mereka menggelegar di lobby. Paman dan bibi awalnya hanya tersenyum, tapi akhirnya mereka tertawa juga. Ini pertama kalinya Farrell merasa benci pada dirinya sendiri. Ditertawakan orang lain jelas bukan hal menyenangkan. Apalagi paman dan bibi yang selama ini dia percayai ikut menertawakannya. Semua hanya karena dia tidak punya hubungan darah dengan keluarga Eden.


“Cu— Cukup!” Ramy berteriak mengatasi semua tawa. “Kalian tertawa seperti para orang gila. Dasar penjahat!”

__ADS_1


Tawa itu pun berhenti.


Denise masih senyum-senyum. “Jahat atau tidak itu relatif, nak, tergantung dari kacamata setiap orang.”


“Di kacamataku, kalian semua orang jahat! Seharusnya dari awal aku nggak menuruti perintahmu untuk memasukkan ramuan manekin, Denise.” Mata Remy berkaca-kaca. Dia melepas jas hijau neon dan melemparkannya ke lantai. “Aku nggak sudi bekerja padamu, Albert Eden! Aku keluar!” Remy berteriak. Air matanya menyusuri pipi dan dagu.


“Silahkan saja. Aku bisa mencari koki lebih baik darimu.” Denise tergelak lagi. Lalu, dia menatap Farrell. “Kenapa kamu masih diam, Farrell Eden? Jemput adik-adikmu dari Bliss and Tea Room. Bawa mereka kemari. Kalian harus menemukan sertifikatnya untukku.”


Farrell bergeming di tempat.


Denise mengambil botol berisi cairan hitam dan membukanya di bahu ibu. Sebuah laba-laba kecil berjalan menyusuri baju. Matanya merah dan punggunggnya punya guratan-guratan hijau. Denise menarik lepas scarf Farrell yang tadinya dikalungkan di leher ibu.


“Jangan…” bisik Farrell pelan. Suaranya seolah tercekat di tenggorokan.


“Aku hanya memberikanmu dorongan semangat, Farrell. Racun laba-laba ini nggak akan membunuh ibumu asal dia meminum penawarnya tepat waktu.”


Farrell tak tahu kemana semua energinya. Dia merasa begitu tak berdaya. Dirinya hanya bisa melihat laba-laba bergerak ke leher. Ibu mengerjap sesaat. Laba-laba itu pasti barulah menggigitnya sekalipun gerakannya tak terlihat. Denise mengulurkan botol kecil dekat ke kerah baju. Laba-laba mengenal baunya dan masuk kembali ke dalam. Denise pun menutup kembali botolnya.


“Kamu punya waktu dua puluh empat jam untuk membawakan aku sertifikat Eden’s Lodge.”


“Paman… kamu akan membiarkan ibu jadi korban?” ujar Farrell pelan. Suaranya nyaris tak keluar.


“Nggak. Tentu saja nggak. Dia kakak iparku. Kalau dia sampai celaka, itu semua gara-gara kamu Farrell. Jadi, jangan berlama-lama. Cepatlah bawa Milo dan Libby ke sini!” pinta paman. “Ah, satu lagi. Jangan panggil aku paman. Kita nggak punya hubungan darah sama sekali.”


Farrell tak bicara lagi. Kakinya mulai melangkah. Bahunya terasa begitu berat seolah ada beban tergantung di sana. Punggung dan lehernya lemas seakan tak mampu menahan kepala. Wajahnya tertunduk malu dan sedih. Ketika sampai di pintu, Farrell mendapati Remy sudah ada di sana.


Muka Remy masih merah. Bekas air mata juga terlihat di sana. Meski begitu, Remy menetapkan hatinya untuk berkata. “Aku ikut denganmu.”

__ADS_1


__ADS_2