
Farrell mendudukkan ibu di sofa bagian dalam. Lalu, dia sendiri berjalan ke dekat jendela yang terbuka. Dia bisa melihat Denise dan Denise juga bisa melihatnya dari situ.
“Kamu ingin aku ke sana atau kamu yang akan kemari, Farrell sayang?” Denise terkekeh.
“Apa yang kamu lakukan pada Christo?” tanya Farrell.
“Entahlah. Aku lupa.”
Farrell memutuskan bicara pada paman. “Paman, bibi, kenapa kalian bekerja sama dengannya? Kenapa kalian menutupi kalau ayah ada di penjara? Kenapa kalian menjual Eden’s Lodge tanpa izin ayah?”
Paman hanya terperangah tanpa bisa menjawab.
Denise maju selangkah. “Biar aku yang jawab. Karena pamanmu lebih butuh uang daripada keluarganya. Lihat kondisimu sekarang, Farrell. Kamu berusaha mati-matian untuk membebaskan adik-adikmu dan ibumu hanya untuk mencegah penginapan ini terjual. Padahal kamu sendiri nggak punya kenangan khusus bahkan kamu baru tahu rahasia Eden’s Lodge. Jangan keras kepala, nak. Jual saja penginapan ini padaku. Kamu nggak akan rugi. Uang yang kutawarkan jauh lebih banyak daripada yang bisa kamu dapatkan seumur hidupmu.”
Kebalikan Denise, Farrell mundur selangkah. “Nggak.”
“Kenapa kamu berjuang mati-matian untuk Eden’s Lodge hanya karena nama belakangmu juga Eden?”
“Karena tempat ini penting untuk ayah. Apa yang penting untuk ayah juga penting buatku.” Farrell tak tahu darimana dia bisa bicara seperti itu. Tapi, dia tak menyesal ketika kalimat tersebut keluar dari dirinya. Dia memang tidak tahu persis kenangan ayahnya dengan Eden’s Lodge. Dia hanya tahu kalau Eden’s Lodge berharga bagi ayahnya dan ayah penting bagi dirinya. Itu sudah cukup jadi alasan untuk mempertahankan penginapan. Ditambah lagi, paman menggunakan cara curang untuk mendapatkan tempat ini.
Denise pun menghela napas. Dia mulai melangkah maju dan menaiki tangga menuju pintu masuk. “Sudah kubilang dari awal kalau semua keponakan Albert itu menyebalkan. Dari awal seharusnya kugunakan cara kasar saja.”
“Berhenti di sana! Aku nggak mau menyerangmu!” sahut Farrell.
Denise tergelak. “Menyerangku? Maaf, apa aku nggak salah dengar? Aku bisa sihir dan kamu hanya anak biasa. Apa yang kamu bisa lakukan padaku?”
__ADS_1
Denise tak berhenti. Farrell pun terpaksa bertindak. Denise salah kalau merngira Farrell hanya menggertak. Dia punya kapsul berisi ramuan peledak dari Vincent. Ketika Denise tetap maju, Farrell mau tak mau harus bertindak. Dia pun melemparkan kapsul itu.
Kapsul peledak melayang mulus pada Denise. Awalnya Denise tak menyadari apa itu. Baru setelah kapsul tersebut terbuka, dia tahu apa isinya. Denise meneriakkan sesuatu. Bukan teriakan takut atau kaget. Tapi, suatu mantra. Ledakan pun terjadi. Bola api tercipta di tengah kepulan asap hitam. Ada pula kilau biru di tengahnya. Dan setelahnya, api pun lenyap. Farrell menyipitkan mata. Dia melihat bayangan Denise. Denise aman dari ledakan. Sebuah kubah biru melindunginya.
Mengetahui kalau triknya tidak berjalan lancar, Farrell pun mundur. Dia menarik ibu dan membawanya masuk ke dalam penginapan.
“Haruskah kita melanjutkan permainan kucing-kucingan ini lagi?” Denise mendesah. Namun, dia tak mengejar Farrell. Dia berdiri di samping Remy yang masih mematung dan berseru, “Kembalilah kemari kalau tak mau anak ceroboh ini celaka!”
Farrell pun berhenti. Dia sudah ada di lorong. Denise tak bisa melihatnya dan dia juga tak bisa melihat Denise. Meski begitu, Farrell tahu kalau Denise berani bicara karena yakin dirinya akan kembali. Farrell menatap ibu yang ada di belakangnya. “Apa yang harus kulakukan?” bisiknya pada ibu. Farrell tak mengharapkan jawaban. Dia tidak tahu apa yang diharapkannya ketika bicara pada ibu.
Ibu hanya balas memandangnya dalam keheningan.
“Ayolah! Aku nggak punya waktu seharian!” seru Denise lagi.
“Farrell, kita bisa menyelesaikan ini baik-baik. Di mana Milo dan Libby?” paman bertanya.
Paman bicara tanpa rasa bersalah sama sekali. Ini membuat Farrell makin muak dengan pamannya. “Kenapa paman bertanya begitu? Paman pikir aku akan menjawabnya?”
“Farrell, pamanmu tidak berniat jahat. Kami hanya melihat peluang bisnis. Kita tidak kehilangan segala sesuatunya. Paman hanya mau menjual separuh penginapan pada Denise,” ujar bibi. “Kamu tahu ‘kan kalau kita bukan keluarga penyihir padahal semua tamu kita adalah penyihir. Jadi, menurut paman, kita perlu bekerja sama dengan orang yang bisa sihir juga.”
“Benar, itu yang kupikirkan. Tapi ayahmu nggak mau dengar. Padahal kalau kita bekerja sama dengan penyihir, kita akan lebih aman,” tambah paman.
Farrell merasakan emosinya mulai naik. “Lebih aman karena bekerja sama dengan penyihir jahat seperti Denise? Aku nggak akan percaya alasan semacam itu, paman! Aku tahu kalau paman berniat menjual seluruh penginapan untuk bermain judi lagi.”
“Ju— Judi? O— Omong kosong! A— Aku nggak bermain judi.”
__ADS_1
Melihat pamannya gelagapan, Farrell tahu kebenarannya. “Eden’s Lodge tidak dijual, Denise!”
“Albert, kalau kamu tidak bisa mengurus keponakanmu, aku yang akan turun tangan.” Denise mulai memainkan jemarinya. Percikan api terlihat di sana.
“Farrell, ayolah. Ini demi kebaikan bersama. Hasil penjualan akan kita bagi,” lanjut paman. “Delapan puluh persen untukku, dua puluh sisanya untukmu—”
“Tidak!” Farrell bersikeras. “Paman, katakan pada Denise kalau penginapan ini tidak dijual. Suruh dia juga melepaskan Remy. Remy tidak ada hubungannya. Jangan gunakan dia.”
“Oh, Farrell yang naif. Aku menggunakan apa pun yang bisa kugunakan.” Denise tersenyum.
“Termasuk ibuku?”
“Termasuk ibumu, ayahmu, adik-adikmu, juga dirimu.” Denise mengulurkan tangannya pada Farrell. Di sana terbentuk asap putih lagi.
Sebelum asap putih terbang padanya, Farrell maju lebih dulu. Dia menolak ke kiri, menghindari sihir, dan tiba di depan Denise. “Cukup!” seru Farrell. Tanpa niat berbuat kasar, Farrell menangkap tangan Denise.
Tentu saja wanita itu langsung berontak. Dia mendorong Farrell. Dirinya memang berhasil melepaskan diri dari Farrell, tapi kehilangan keseimbangan sebagai dampaknya. Ketika Denise terjatuh, Remy bisa bergerak lagi. Remy langsung berlari menjauh sebelum dirinya terkena sihir lagi. Mengetahui sihirnya lepas, Denise buru-buru mengeluarkan sihir lain. Kali ini sebuah bola api kecil terbentuk dalam genggamannya.
Paman langsung berseru, “Jangan! Kamu bisa menghancurkan tempat ini!”
“Akan kuperbaiki nanti!” Denise tak menghiraukan seruan paman. Dia tetap melemparkan bola api.
Farrell berlari menghindar. Akibatnya, bola api itu mengenai sebuah kursi dan membakarnya. Bibi berteriak histeris. Paman protes lagi. Farrell tahu ini kesempatan untuk meringkus Denise. Sayangnya, sebelum sempat menghampiri Denise, dia mendengar suara Joe di belakangnya.
“Berhenti Farrell Eden atau ibumu akan menerima akibatnya!” sahut Joe dari ujung lorong. Tangannya memeluk bahu ibu. Dia bersama Jim. Keduanya sudah terbangun dari ramuan Remy. Rupanya efek ramuannya hilang lebih cepat dari dugaan Farrell.
__ADS_1