
Milo terlelap di kamar sehabis mendengarkan separuh cerita Farrell lalu dipaksa meminum obat. Setidaknya sekarang dia dan Libby tahu dua hal penting. Pertama, penginapan mereka terhubung dengan dunia sihir. Kedua, saat ini mereka ada di dunia sihir. Farrell sebenarnya juga ingin bercerita mengenai tentang ayah mereka, tapi Milo bersin-bersin lagi. Dia pun memutuskan untuk melanjutkan cerita setelah Milo bangun. Libby memilih tidur menemaninya.
“Kamu nggak mau istirahat juga?” tanya Christo padanya.
Farrell berdiri di ambang pintu kamar di mana kedua adiknya sedang tertidur. Dia pun balik bertanya, “Bagaimana denganmu, nggak lelah?”
“Belum.”
Farrell mendengus geli.
Bliss muncul dari balik koridor dan tersenyum pada keduanya. “Kalau kalian belum mau tidur, bagaimana kalau menemaniku sarapan?”
Farrell dan Christo jelas tak bisa menolak permintaan dari pemilik tempat mereka berada saat ini. Para pelayan menyiapkan teh lengkap dengan makan pagi di meja dekat jendela. Dari sana, mereka bisa menikmati waktu makan sambil melihat pemandangan kota. Farrell mendapati jendela tersebut dilapisi stiker. Artinya orang luar tidak bisa melihat apa yang mereka lakukan saat ini.
Sarapan pagi mereka terdiri dari roti, telur, sosis, ham, dan sup kacang. Farrell tak akan berkomentar soal rasanya. Semua makanan itu sangat lezat baik di mata maupun lidahnya. Kecuali sup kacang. Farrell memilih menghindari kacang. Terlebih lagi dalam keadaan perutnya yang lapar. Teh yang menemani mereka pagi itu beraroma mint dan sedikit vanilla. Christo berusaha melayani Farrell, mungkin karena Farrell merupakan putra pemilik sekaligus kebiasaannya sebagai pegawai hotel.
“Kami sangat berterima kasih atas bantuan Anda, nyonya Bliss. Tempat ini, sarapan, semuanya,” kata Farrell. “Saya nggak tahu harus bilang apa.”
Bliss menggeleng. Dia mengelap bekas makanan di ujung bibirnya menggunakan serbet sebelum tersenyum lembut. “Tidak usah bilang apa-apa. Sudah sewajarnya kita saling membantu.” Bliss menoleh pada Christo, “Apalagi pada putra Alan Eden. Kamu seharusnya cerita lebih awal.”
Christo tak menjawab, hanya mengangguk. “Maaf, nyonya.”
“Anda mengenal ayah saya?” tanya Farrell.
__ADS_1
“Tentu, Farrell. Kurasa hampir semua orang di kota ini mengenal ayahmu. Dia orang baik, jujur, bisa dipercaya. Semua orang ingin bekerja padanya. Sayang sekali, tidak banyak yang bisa diterima kerja karena ayahmu memutuskan menggunakan perlengkapan sihir. Dia menolongku membuka toko ini.”
“Sungguh?” Farrell dan Christo serentak bertanya.
Bliss pun tertawa kecil. “Hohoho… Kalian mau dengar ceritanya?” Setelah Bliss melihat anggukan, dia pun melanjutkan. “Waktu itu, aku masih lugu dan polos. Hanya perempuan muda yang membuka toko di pinggir jalan sama seperti orang-orang lain. Suatu ketika, ada seorang pemuda datang ke toko. Dia sering membeli daun teh dariku. Aku senang sekali mendapat pelanggan tetap sepertinya sekalipun dia tidak beli banyak. Aku nggak pernah tahu kalau dia pencuri. Ayahmu yang memberitahuku. Dia melihat ketika pemuda itu mengambil kotak teh lain ketika aku sibuk mencari uang kembalian. Dasar pencuri!”
“Kurasa ayah saya nggak sampai menangkap pencuri itu,” gumam Farrell.
“Tidak, tentu saja tidak. Begitu pemuda itu tahu kalau aksinya ketahuan, dia langsung lari. Sejak saat itu, dia nggak pernah datang ke tokoku. Aku menangis setelah menyadari kalau selama ini dialah penyebab barangku sering hilang. Aku seharusnya merapal mantra di sekitar kios seperti yang lain. Kamu tahu apa yang dilakukan ayahmu setelahnya?” Mata Bliss berbinar-binar ketika melanjutkan, “Dia memberiku pie!”
“Pie? Bukan volcano pie, ‘kan?” tebak Farrell.
Bliss terkekeh. “Hohoho… Bagaimana kamu bisa tahu?”
Farrell langsung melongo. “Oh.”
“Apa dia sungguh sebaik itu?”
“Kamu meragukan kebaikan hati ayahmu, Farrell?” Bliss langsung berkacak pinggang.
“Nggak. Hanya saja—”
“Lucu sekali! Kamu pikir darimana kebaikan hatimu muncul? Pasti dia yang mengajarimu, bukan?”
__ADS_1
Farrell terdiam sesaat ketika mendengarnya. Kalau Farrell belum tahu dia tidak ada hubungan darah dengan Alan Eden, mungkin dia akan langsung setuju. Tapi, setelah sekarang dia tahu kalau bukan anak kandung, Farrell tak tahu harus bicara apa. “Saya baru bertemu ayah setelah sekian lama,” katanya. “Setidaknya sejak dia masuk penjara.”
“Ah! Penjara! Itu konyol. Orang sebaik Alan Eden tidak mungkin membunuh orang. Omong kosong! Ayahmu pasti dijebak dan orang itu menyuap polisi agar memenjara ayahmu.”
“Apa Anda tahu kejadiannya?”
Bliss memelankan suaranya. “Aku dengar kalau ada orang terbunuh di penginapan, seorang pedagang alat tulis. Tapi, sebenarnya identitas palsu. Beredar kabar kalau sebenarnya orang itu adalah salah satu penjual di black market. Orang seperti itu pasti punya banyak sekali musuh. Siapa pun bisa membunuhnya.” Bliss pun menoleh pada Christo. “Bagaimana denganmu? Apa kamu sudah bekerja di Eden’s Lodge waktu itu terjadi?”
Christo mengangguk. “Waktu itu malam hari. Pak Alan baru selesai menghitung aggaran bersamaku. Kami berpisah. Aku kembali ke kamar dan seharusnya pak Alan juga. Tak lama setelahnya, aku dengar suara ribut. Ternyata ada polisi yang menangkap pak Alan dengan tuduhan pembunuhan. Mereka bilang menemukannya di dalam kamar bersama jenazah itu. Pak Alan bilang kalau dia sedang kembali ke kamarnya sendiri saat melihat salah satu pintu kamar penginapan terbuka serta ada bau aneh tercium. Ketika mengintip ke dalam, dia melihat seorang pria terbunuh di dalam. Lalu, polisi datang dan menangkapnya.”
“Lihat! Itu pasti jebakan. Tidak mungkin polisi bisa datang secepat itu,” sahut Bliss.
“Sayangnya, tidak ada bukti yang bisa membebaskan pak Alan.”
“Para polisi pasti berpikir daripada tidak menangkap pelaku sama sekali, lebih baik mereka menangkap ayahmu. Dia saksi sekaligus satu-satunya orang yang bisa dijadikan tersangka. Dia dijatuhi hukuman dua puluh tahun penjara. Dia kelihatan pasrah. Mungkin karena merasa adiknya bisa melanjutkan mengurus keluarga dan penginapan,” lanjut Bliss. “Aku nggak menyangka kalau ternyata adiknya jauh berbeda dengan Alan. Orang macam apa yang meracuni keponakannya demi uang?”
“Kurasa banyak kejadian serupa. Manusia-manusia tamak berpikir uang adalah segalanya dan bisa menyelesaikan semua masalah. Sangat konyol,” Christo meniru ucapan Bliss. “Jadi, bagaimana selanjutnya? Mau melaporkan Denise dan pamanmu ke polisi?”
Farrell menggeleng. “Entahlah. Haruskah polisi dilibatkan—”
“Tentu saja! Sudah kubilang kalau kamu terlalu baik, Farrell, persis seperti ayahmu,” sahut Bliss diakhiri senyuman. “Aku setuju kalau masalah keluarga harus dibicarakan baik-baik. Tapi, menggunakan ramuan sihir seperti itu sudah keterlaluan. Sebuah tindak kriminal. Pamanmu harus diberi pelajaran!”
Farrell terdiam lagi dan hanya bisa menunduk.
__ADS_1
“Kenapa Farrell? Apa yang kamu pikirkan?” tanya Christo.
“Tidak ada.” Itu yang diucapkan Farrell. Namun dalam lubuk hatinya, dia tahu semuanya nggak akan berjalan mudah.