The Way Back Home

The Way Back Home
Angsty


__ADS_3

Farrell akhirnya tiba kembali ke Bliss and Tea Room.


“Tidakkah kamu berhutang banyak penjelasan pada kami?” Kalimat itu adalah kalimat pembuka yang diterima Farrell ketika menjumpai Milo dan Libby di lantai dua Bliss and Tea Room. Bulan sudah tinggi tapi kedua adiknya tak kelihatan mengantuk sama sekali. Milo malah sedang melipat tangan sambil menatapnya berjalan mendekat. Libby memasang wajah cemberut. Dia meletakkan wajah di atas meja di dekat cangkir tehnya.


“Ya. Aku berhutang cerita panjang pada kalian,” Farrell setuju.


Nyonya Bliss yang duduk semeja dengan Milo dan Libby tersenyum. “Akan kuambilkan beberapa cangkir lagi. Bagaimana dengan camilan? Kalian mau kue?”


Libby menggeleng. Milo baru membuka mulut. Farrell sudah lebih dahulu menjawab, “Jangan repot-repot, nyonya.”


“Oh, tapi aku memaksa. Akan kuambilkan sesuatu untuk menghangatkan malam yang dingin ini. Juga juga. Atau makan malam. Kamu sudah makan malam?” Nyonya Bliss beranjak dari kursinya. Dia melewati Farrell langsung ke arah Remy yang tak berani menatapnya. “Boleh kutahu siapa ini?” Matanya mengamati dengan seksama. “Aku mencium aroma manis darimu.”


“Salah satu pegawai Eden’s Lodge. Dia koki,” kata Farrell.


“Mantan,” bisik Remy pelan meralat ucapan Farrell.


“Oh! Seorang koki? Bagaimana kalau membantuku menyiapkan teh dan camilan?” Nyonya Bliss tersenyum lagi. Tangannya melambai pada Remy, sebuah isyarat agar dia ikut. Remy pun mengangguk. Keduanya menuruni tangga, meninggalkan ketiga Eden di lantai dua.


Setelah keduanya hilang dari pandangan, Milo bertanya lagi. “Jadi?”


Farrell menarik napas dalam-dalam. Dia sebenarnya tak yakin darimana harus memulai. Hal terpenting untuk diketahui kedua adiknya sekarang adalah bahwa paman tak sebaik pikiran mereka. Dia memlih memulainya dari sana. Dimulai tentang rencana paman dan bibi bersama Denise. Ramuan manekin dan pelariannya bersama Christo. Bagaimana Bliss menolongnya, perjalanan ke Blub, pertemuannya dengan ayah, hingga bagaimana dia bisa menyadarkan mereka berdua. Mendengar nama ayah disebut, reaksi Milo berubah apalagi Libby. Tanpa mengatakan alasannya, Libby mulai terisak.


Milo kelihatan terganggu. “Kenapa kamu menangis? Bukankah itu bagus kalau kita tahu ayah di sini? Ayah masih hidup. Kamu nggak ingin bertemu ayah? Kamu belum pernah bertemu dengannya, ‘kan? Sekarang kamu bisa bicara padanya bukan cuma bicara pada boneka.”


“Aku dapat Toto dari ayah. Aku nggak menangis.” Libby membela dirinya seiring sebutir air mata menuruni pipinya.


“Berhentilah menangis!” suara Milo meninggi.

__ADS_1


“Milo!” Farrell memelototi adiknya.


Milo memutar bola matanya. “Kenapa? Apa kamu juga akan menyembunyikan lokasi ayah dari kami? Kamu seharusnya cerita semua lebih awal. Aku nggak mengerti situasinya dan nggak kenal siapa-siapa di sini. Saat kami bangun tadi, kamu malah menghilang! Aku bahkan sempat berpikir kalau kamu nggak akan kembali ke sini. Kamu nggak mau cerita semua karena menganggap kami anak-anak, ‘kan? Atau lebih buruk. Kamu nggak percaya pada kami?”


Farrell menggeleng. Milo terkadang bisa begitu menyebalkan dan arogan. “Aku percaya pada kalian. Tapi, kalian nggak akan percaya pada ceritaku. Paman dan bibi sangat baik pada kita, kalian percaya padanya. Apalagi saat itu kalian ada di bawah pengaruh Denise, kalian nggak mendengarkanku. Sama sekali.” Untuk sesaat, Farrell merasa ada di posisi Christo yang ingin cerita kenyataan namun takut tak dipercaya.


Milo pasang wajah cemberut. “Oke. Aku agak setuju soal itu. Aku memang nggak percaya kalau paman jahat. Denise pasti memengaruhinya.”


“Baik. Aku mengaku salah. Aku seharusnya nggak meninggalkan kalian tadi.”


“Aku ingin bertemu ayah!” Milo balas memelototi kakaknya.


“Mungkin nanti. Nggak sekarang.”


“Biar kutebak, kamu baru saja pergi menemui ayah?”


“Kamu nggak akan cerita pada kami soal masalah darurat apa pun itu juga?”


Farrell mengatupkan mulut. Dia melihat Libby dan Milo bergantian. Sebagian hati kecilnya melarangnya bercerita, tapi sebagian lagi menuntut agar kebenaran diungkap. Apalagi dengan adanya tekanan dari Milo, Farrell pun memutuskan memberi tahu alasannya pergi. “Ibu ada di sini.”


“Ibu?” Libby menatap kakaknya lekat-lekat. “Ibu di sini? Di mana?”


“Dia—” Farrell menghela napas panjang sambil mencari kata yang tepat. “Bersama paman.”


“Paman menyekap ibu?” sahut Milo.


Tebakan Milo jitu tapi berdampak buruk. Mendengar itu, Libby malah menangis. Air matanya berderai-derai menuruni wajah dan membasahi bajunya. Farrell menggelengkan kepala sambil menghela napas lagi. Dia merasa bersalah mengatakannya di depan Libby. Farrell mendekat dan memeluk adik perempuannya. “Kita akan bertemu kembali dengan ibu. Juga ayah. Semua akan baik-baik saja. Aku janji”

__ADS_1


“Kamu bohong!” tukas Milo. “Kamu nggak tahu bagaimana caranya!”


Farrell memelototi Milo lagi.


Nyonya Bliss dan Milo sedari tadi rupanya berada di tangga menuju lantai dua. Nyonya Bliss muncul perlahan dengan baki berisi sepiring penuh kue mangkuk. Di belakangnya, Remy membawa baki berisi teko dan dua cangkir, lengkap dengan guci susu dan gula.


“Libby sayang, kenapa kamu menangis? Kamu lelah?” kata Nyonya Bliss pelan seraya meletakkan baki di atas meja. “Bagaimana dengan kue mangkuk mawar? Coba lihat ini, sangat cantik.” Kue mangkuk itu memiliki krim di atasnya berbentuk mawar aneka warna. Di bagian bawah setiap mawar, ada pula krim berbentuk daun.


Libby meliriknya sebentar namun tetap bergeming dalam pelukan Farrell.


Farrell pun melepas pelukan. Dia mengusap pipi adiknya yang merah. “Bagaimana dengan coklat hangat? Seingatku nyonya Bliss juga punya minuman itu? Kamu mau?” Farrell melirik pada nyonya Bliss.


Seolah bisa memahami keinginan Farrell, nyonya Bliss melemparkan senyuman lembut pada Libby. “Ayo ikut aku ke bawah, Libby. Akan kubuatkan coklat hangat terlezat yang pernah kamu minum. Kita bisa menambahkan krim dan marshmallow. Kamu juga bisa memilih camilanmu sendiri. Aku sedang memanggang cookies. Bagaimana? Aku membuatnya dengan sihir, lho.”


Akhirnya, Libby pun berdiri dari kursi lalu mendekati nyonya Bliss. Kedua perempuan itu saling memeluk, menapaki anak tangga perlahan, dan hilang dari pandangan. Remy merasa canggung. Tak lama setelahnya, di pun ikut turun ke bawah.


Milo masih nampak kesal. “Apa sekarang?” Dia tahu jelas kalau kakaknya sengaja mengusir semua orang.


Farrell menarik kursi dan duduk di seberang adiknya. “Tebakanmu tepat. Kamu senang?” Farrell bisa melihat perubahan raut lagi di wajah Milo. Sekalipun sebentar, Milo sempat membuang tatapannya ke bawah. Milo juga tak lagi melipat tangannya. Farrell berkata lagi, “Kamu memang masih anak-anak, tapi aku percaya padamu. Jadi, aku akan menceritakan semuanya. Kita akan mendiskusikan ini.”


Milo makin cemberut. “Aku sudah lima belas tahun.”


“Tepat.” Farrell menatap mata Milo.


Milo menghindari tatapan kakaknya. “Jadi kamu mau diskusi soal sertifikat?”


“Semua,” ralat Farrell.

__ADS_1


“Oke, mulai saja.”


__ADS_2