
Farrell membuka mata dan mendapati ruangan kamar sudah terang. Dia mengerang ketika menyadari lelah belum pergi dari kakinya. Badannya masih terasa pegal tapi terima kasih kepada kasur dan selimut yang hangat, rasa dingin tak ikut menusuk badannya. Ketika duduk, dia bisa melihat teman sekamarnya sudah berganti pakaian. Christo tak lagi mengenakan jas hijau terang seragam penginapan. Dia mengenakan jaket hitam dan celana coklat. Alih-alih membahas baju, Farrell memilih menanyakan keadaannya.
“Bagaimana lukamu?” tanya Farrell.
“Lebih baik.” Christo beranjak ke meja. Di sana sudah ada keranjang berisi beberapa roti bulat dan dua butir apel. Ada pula teko lengkap dengan cangkir. “Sarapan?”
“Jam berapa sekarang?”
Christo membawakan keranjang roti pada Farrell. “Hampir jam tujuh.”
Farrell tak berpikir dirinya akan terbangun secepat itu, dia sempat mengira sekarang sudah pukul sepuluh atau lebih. Dirinya duduk di tepi ranjang dan menoleh ke jendela tepat di samping. Mereka ada di lantai dua. Jendela menunjukkan jalanan depan hotel. Di sana terlihat orang-orang berlalu lalang, para penjual sedang menyiapkan toko mereka, anjing berlarian dengan anak-anak kecil. Jalanan masih tertutup salju tipis namun tak akan lama karena matahari tengah bersinar cerah. Hujan salju semalam bagai ilusi. Sekarang kehangatan matahari membanjiri setiap sudut.
Farrell menatap Christo dan mengambil satu roti. “Fasilitas hotel?”
“Lebih baik daripada tidak ada sama sekali.” Christo mengedikkan bahu. “Sekarang apa rencanamu?”
Farrell hanya menunduk sambil memandangi roti bulat tanpa isi di genggamannya. Dia tak tahu apa yang harus dia lakukan. Dia buta sama sekali dengan dunia sihir. Lebih parahnya lagi, dia ditemani pegawai hotel yang juga buta dengan sihir itu sendiri. “Aku harus kembali.” Hanya itu yang bisa dia ucapkan. “Aku harus menemui paman lalu menolong Milo dan Libby.”
“Bagaimana caranya?”
Farrell tak menjawab. Nafsu makannya yang tadi sempat muncul sekarang lenyap entah kemana. Dia tak punya jawaban, tak punya rencana, tak punya informasi, hanya tujuan. Jelas itu tidak cukup.
“Kamu nggak tahu apa tujuan pamanmu?” Christo bertanya lagi.
Farrell masih tak menjawab. Jangankan tujuan paman, hatinya bahkan belum bisa menerima kenyataan kalau paman bekerja sama dengan Denise yang rela memantrai mereka. Bagaimana kalau sebenarnya paman juga korban dari Denise? Bagaimana kalau semua kebaikan paman pada mereka selama ini memang nyata? Mungkin saat ini paman malah sedang panik mencarinya.
__ADS_1
“Nggak ada bayangan sama sekali?” Christo melanjutkan pertanyaannya.
“Justru karena itu, aku harus kembali. Aku ingin memastikan semuanya.”
“Kamu nggak percaya semua ceritaku?”
“Aku percaya kalau Denise berniat buruk. Aku melihatnya kemarin. Tapi, paman…” Farrell berhenti. Sejak ayahnya menghilang dan ibunya jatuh sakit, paman menjadi pendukung utama finansial mereka. Memang keluarga dari ibunya juga membantu, tapi tidak sebesar bantuan yang mereka terima dari paman. Bahkan mobil double-cabin mereka juga pemberian dari paman setelah dia berhasil mendapat izin mengemudi. “Aku hanya… belum tahu kebenarannya.”
“Paman benar-benar meracuni pikiranmu atau kamu yang terlalu polos sampai nggak bisa melihat kenyataan? Segitu besar kepercayaanmu pada pak Albert dan melupakan pak Alan, ayahmu sendiri? Aku nggak mau membayangkan kekecewaan ayah—”
“Ayah meninggalkan kami sesaat setelah Libby lahir. Dia pria nggak bertanggung jawab,” sahut Farrell cepat. Saking cepatnya sampai Farrell sendiri terkejut dengan ucapannya. Selama ini, dia memilih tidak pernah membahas mengenai ayah di depan siapa pun. Tidak di depan Libby, tidak di depan Milo, tidak di depan paman, dan jelas tidak di depan pegawai sok tahu seperti Christo. “Aku nggak mau membicarakan orang yang pergi begitu saja tanpa kabar.”
Christo mengernyit. “Meninggalkan? Kalian yang meninggalkannya.”
Farrell mendengus geli. “Meninggalkan bagaimana? Dia selalu ada di penginapan dan jarang pulang ke rumah. Lalu, tiba-tiba saja dia menghilang tanpa kabar.”
“Lewat apa? E-mail?” Farrell mulai jengkel.
“Tidak ada sinyal di dunia sihir, tuan muda Farrell Eden, kurasa kamu perlu catat itu. Jadi, ayahmu terpaksa menggunakan cara primitif, surat. Apa lagi?”
Sesuatu menggelitik pikiran Farrell. “Dunia sihir? Ayahku ada di dunia sihir?”
“Ayahmu ada di dunia sihir selama bertahun-tahun dan kamu nggak tahu? Oh ya, aku lupa. Ayahmu bahkan nggak memberitahu kalau penginapan kalian bisa terhubung ke dunia sihir. Hah! Dia pasti tidak mau anak-anaknya yang lembut terluka di sini,” Christo tergelak.
“Kamu tahu di mana ayahku berada?”
__ADS_1
“Tentu saja. Semua orang tahu di mana ayahmu berada. Remy, Emily, William. Bagaimana mungkin kamu nggak tahu? Ayolah, Farrell, jangan bercanda lagi. Itu memuakkan.”
“Aku benar-benar nggak tahu!” Farrell merasakan nadanya meninggi.
“Kamu serius?”
“Kamu pikir aku akan bercanda untuk hal seperti ini?!” Farrell nyaris berteriak. Hatinya pilu diserang rasa kesal dan sedih. Entah mana yang lebih dominan. Dia merasa seperti anak kecil yang tak tahu apa-apa.
Christo terdiam sebentar lalu mulai mengutarakan hal-hal yang terjadi. “Setelah kasus itu terjadi, pak Albert menggantikan posisi pak Alan, ayahmu, sebagai general manager di Eden’s Lodge. Dia selalu bilang pada pegawai agar tak menyinggung soal pintu ke dunia sihir pada kalian. Alasan keamanan. Kalian bukan penyihir, pamanmu bukan, ayahmu juga bukan. Lalu, dia juga bilang agar tak bicara mengenai ayah kalian sama sekali karena itu akan membangkitkan kenangan pahit. Pamanmu bilang kalau kasus ayahmu adalah urusan keluarga. Kami nggak perlu khawatir dan ikut campur.”
“Kasus apa?”
“Pembunuhan.”
Farrell merasa suatu perasaan tidak enak mulai merayap naik. Tangan dan kakinya dingin seolah habis terbenam dalam salju. Bukan hanya nafsu makannya yang lenyap, sekarang dia bahkan lupa kalau memegang roti. Roti itu terlepas dan jatuh di atas selimut. “Pembunuhan?” dia mengulangi kata tersebut dengan suara bergetar. “Dia… Dia…” Farrell tak mampu melanjutkan. Pikirannya membentuk dua kata yang tak mau dia sebutkan. Kata pertama, korban. Kata kedua, pelaku.
“Kamu benar-benar nggak tahu?” Christo masih tak percaya. Ekspresinya sedikit melembut ketika melihat wajah merengut Farrell. “Mungkin… Mungkinkah pamanmu menyembunyikan kenyataan ini dari kalian?” Christo mengucapkan kalimat yang juga sempat keluar dalam benak Farrell. Dugaan buruk tentang paman.
Farrell tak siap ketika ayahnya menghilang tanpa kabar. Seiring berjalannya waktu, dia mulai membiasakan diri dengan absennya sang ayah dan kemungkinan-kemungkinan terburuk. Dia sudah siap mendengar berbagai kabar buruk mengenai ayah mereka. Namun, hari ini, entah kenapa Farrell merasakan kesiapannya sirna. Dia tak siap mendengar kenyataan. Karena itu, kalimat selanjutnya bergetar pula, “Christo. Ayahku… Apa dia masih hidup?”
“Ya.”
Hati Farrell tak lantas tenang. Mengetahui kenyataan kalau ayahnya masih hidup hanya menghilangkan satu dugaannya. Ayah bukan korban pembunuhan. Jawaban itu pula yang menguatkan dugaan lain Farrell. “Bisakah kamu membawaku ke tempat ayah?”
Christo perlu sedikit waktu sebelum menjawab. “Tentu.”
__ADS_1
Farrell merasa pikirannya tak lagi bekerja dengan baik. Bukannya berhasil memikirkan rencana untuk menolong kedua adiknya, dia sekarang malah dihadapkan kenyataan lain. Otaknya tak mampu memikirkan langkah selanjutnya. Kini, dia terpaksa menuruti kata hati. Hatinya mengatakan ayah terlibat dalam masalah ini sejak awal. Semua berhubungan. Semakin cepat bertemu ayah, semakin cepat Milo dan Libby bisa terbebas. Dia harus segera bersiap-siap pergi ke mimpi buruk bagi para kriminal.
Penjara.