
Farrell terdiam, memutar otaknya. Mungkin dia bisa minta bantuan Vincent lagi kali ini. Tapi, mencarinya di sini akan sulit. Lagipula, dia sendiri tidak tahu ingin minta bantuan seperti apa. Untuk sesaat, Farrell berharap bisa melakukan sihir. Mungkin dengan begitu, dia bisa mengimbangi Jim dan Joe, bahkan meringkus Denise sekaligus. Namun, jangankan melakukan sihir, dia bahkan belum paham sepenuhnya bagaimana sihir bekerja di sini.
Saat ini, yang berada di pihaknya hanya Christo dan Remy juga Gizmo. Seandainya Farrell mengatakan semua rencana pembunuhan Denise pada paman, paman tidak mungkin percaya padanya. Farrell merasa tak berdaya. Mereka kalah jumlah. Mereka bertiga. Oke. Berempat dengan burung hantu. “Kupikir William akan membantuku,” gumam Farrell, teringat pada pegawai lain Eden’s Lodge.
Remy menunduk. “Kasihan William. Dia membantu Denise karena terpaksa.”
“Terpaksa? Dia juga kena ramuan manekin?”
“Nggak… Denise nggak perlu memberikan ramuan manekin pada kami. Dia— Dia bisa menekan kami dengan cara lain yang lebih mudah — dan hemat. Dia bisa mengancam kami. William tidak takut. Dalam kaus ini, dia memakai Bailey dan Barney. William mau tidak mau harus membantu Denise.” Remy mengedikkan bahu.
“Bailey dan Barney? Elang pengirim pesan?” tebak Farrell.
“Norhtern Goshawk.” Christo menyebutkan jenis kedua burung tersebut. “William pecinta binatang. Dia biasa mengurus burung-burung di sini, termasuk Gizmo. Astaga! William, dia memilih burung ketimbang manusia? Memang apa yang dilakukan Denise pada para elang? Dia nggak membunuhnya, ‘kan?”
Remy menggelengkan kepala. “Kita nggak tahu. Mungkin belum,” katanya lirih. “Saat kalian pergi dari Eden’s Lodge, Denise menyuruh melepaskan mereka untuk mencari kalian. Mereka kembali tanpa kabar baik. Denise kelihatan kesal. Dia mengurung keduanya di kamarnya sendiri. Tanpa makanan, tanpa minuman. Seharusnya mereka masih hidup, asalkan Denise nggak menjadikan mereka bahan ramuan.”
“Ramuan? Itu kejam.”
“Aku nggak melihat mereka saat masuk ke kamarnya. Entah dimana Denise menyembunyikan mereka. Lebih parah lagi, Jim dan Joe tidak suka pada mereka. Christo, kamu juga lihat melihatnya, kan? Saat pertama kali kesini, mereka menyerang tanpa alasan.”
__ADS_1
Christo mengangguk. “Hewan lebih sensitif dengan aura sihir daripada manusia. Mereka pasti merasakan aura jahat dari ketiga monster itu.”
Mendadak, terdengar suara seperti denting lonceng kecil. Suaranya berasal dari cermin yang digantung di dekat pintu masuk dapur. Lebih tepatnya, berasal dari pintu depan Eden’s Lodge di dunia normal. Cermin tersebut menunjukkan keadaan bagian depan Eden’s Lodge. Salah satu benda sihir lain yang digunakan di penginapan.
“Mereka di sini,” bisik Remy.
“Kita terlambat. Mereka sudah sampai.” Christo mengepalkan tangannya.
Farrell terperangah. Dia melihat sosok ibunya. Ibunya yang dulu bersemangat dan senang tersenyum, sosoknya berubah jadi wanita pucat kurus. Dia berjalan dengan tatapan mata kosong seperti biasanya dalam balutan gaun putih. Bibi Melanie menuntunnya ke dalam. Mereka pun menghilang dari pemandangan di dalam cermin. Tak lama setelahnya, William juga masuk ke dalam lobby.
“Bagaimana sekarang?” bisik Remy lagi.
“Supermoon!” celetuk Farrell. “Christo, di mana kamu simpan teh pemberian Bliss?” Farrell mendadak merasa pertanyaannya cukup bodoh. Dia tidak melihat Christo membawa kantung apa pun. Tentunya teh tersebut ditinggalkannya di suatu tempat.
Namun, ketika mempersiapkan diri untuk mencari ide lain, Christo merogoh kantong di balik jaketnya. Dia mengeluarkan lipatan kertas berbentuk jaring-jaring kubus. Dia melipatnya, memunculkan bentuk kotak sebesar kepalan tangan. Dibukanya kotak tersebut dan dimasukkannya tangan ke dalam. Ketika menarik tangannya keluar, tangan Christo menggenggam tas kertas pemberian Bliss lengkap dengan teh Supermoon. Tas kertasnya sedikit lusuh karena dipaksa melalui lubang yang lebih kecil.
Farrell hanya bisa terperangah.
“Aku lupa kalau membawa ini juga di balik jas seragamku. Aku jarang sekali menggunakannya,” Christo tersenyum simpul. “Apa rencanamu dengan teh langka ini?”
__ADS_1
“Menyampaikan keinginan Bliss. Tawaran kerja sama. Remy, aku butuh bantuanmu,” kata Farrell seraya mengeluarkan kotak teh dari tas kertas. “Suguhkan ini pada paman dan Denise. Katakan kalau pemilik Bliss and Tea Room menawarkan kerja sama dengannya dan sekarang nyonya Bliss sedang menunggu mereka di lobby penginapan bagian belakang!”
“A— Aku?” Remy kembali kelagapan. “Ka— Kalau mereka tahu—”
“Ya, cuma kamu yang bisa. Nggak mungkin Christo atau aku yang datang pada membawa teh ini pada paman, ‘kan?” lanjut Farrell. “Kamu hanya perlu menyuguhkan teh dan minta paman menemui nyonya Bliss di lobby bagian belakang.”
Christo melipat tangannya. “Tunggu sebentar, kupikir ini nggak akan berhasil. Pamanmu tidak berminat dengan kerja sama seperti itu. Dia sama sekali nggak peduli bagaimana mengembangkan Eden’s Lodge. Apalagi ada Denise bersamanya kali ini. Kamu hanya akan membuat nyonya Bliss bohong-bohongan ini menunggu.”
“Mereka pasti akan datang kalau melihat ini.” Farrell melepas jam tangan pemberian bibi yang dia kenakan. “Letakkan ini di nampan bersama teh. Kujamin bibi Melanie mengenalinya. Dia akan membuat paman dan Denise terpancing saat melihatnya. Lebih bagus lagi kalau kamu bisa membuat bibi Melanie sekalian pergi juga.”
“Ta— Tapi… Kalau mereka ke bawah dan nggak melihat siapapun…” Remy berhenti sejanak. “A— Aku nggak yakin mereka akan puas de— dengan alasan kalau tamunya su— sudah pergi.”
“Sebentar Farrell. Anggaplah pak Albert, bu Melanie, dan Denise terpancing. Bagaimana dengan Jim dan Joe? Berani taruhan mereka pasti diminta menjaga ibumu. Ibumu nggak mungkin dibiarkan sendiri,” sahut Christo. “Mungkin lain ceritanya kalau kita masih punya kapsul berisi ramuan tidur dari Vincent.”
“Vi— Vincent Elioscavea? Aku belum melihatnya kembali ke penginapan. Apa— Apa dia juga terlibat dalam masalah ini sekarang?” Remy bertanya dengan suara bergetar. Farrell sempat berpikir kalau dia ketakutan lagi, ternyata tidak. “A— Aku penggemar berat keluarga Elioscavea. A— Aku banyak membaca buku tentang ramuan yang mereka buat.” lanjutnya lagi dengan mata berbinar-binar. “Apa kalian minta ramuan darinya?”
“Lebih tepatnya, aku meminta Vincent membuat ramuan penawar untuk Milo dan Libby. Lalu, dia memberi ramuan peledak dan ramuan tidur sebagai bonus,” jawab Farrell. “Remy, buku macam apa yang kamu baca tentang mereka?”
“Resep ramuan sihir?” bisiknya lirih. “Aku— Aku tahu nggak seharusnya membaca buku se— seperti itu. Christo melarangku berkali-kali…”
__ADS_1
“Nggak kali ini!” sahut Christo cepat.