
Sebuah hawa dingin menerpa keduanya dari belakang. Hawa dingin ini melesat disertai sekelebat bayangan hitam. Bayangan tersebut berhenti lalu berputar-putar di atas kantung batu Aureline. Seiring dengan gerakannya, kantung mulai terangkat ke udara. Sang bayangan hitam perlahan mulai mengambil wujud. Kantung pun mendarat di atas sebuah tangan kokoh seorang pria berambut panjang. Sosok bayangan kini sepenuhnya lenyap digantikan postur pria tegap berambut panjang hitam biru.
“Ruberu?” Farrell bertanya, sekedar memastikan sambil menyipitkan mata menerobos keremangan malam. Dia baru bertemu si polisi sekali. Dirinya tak mampu mengenali sosok ini dengan baik dalam gelap apalagi memahami apa tujuannya menjebak dirinya.
Ruberu melangkah maju hingga dia berada di bawah tiang lampu jalan. Sinar lampu menunjukkan wajahnya lebih jelas. Raut wajah dingin disertai tatapan mata tajam penuh tekanan. “Aku terkesan kamu bisa menebak siapa penyihir yang memainkanmu dalam labirin, Farrell.”
Remy berbisik pada Farrell. “Siapa dia?”
“Seorang polisi. Seharusnya.”
“Seharusnya? Apa maksudmu?”
Ruberu melempar senyum setipis kertas. “Lama berada di dunia sihir pasti membuatmu lebih peka pada sihir. Kamu beradaptasi dengan cepat. Bahkan mungkin partikel sihir di sini membuatmu merasa lebih segar tanpa kamu sadari. Kamu pasti punya bakat jadi penyihir.” Ruberu mengatakan hal yang tak disadari Farrell sebelumnya. Sulit dijelaskan, namun dia memang merasa lebih sehat setiap berpindah ke dunia sihir. “Kamu merasakan aura sihirku?” Ruberu mengira Farrell bisa menebak auranya. Tidak sepenuhnya benar.
Farrell menggeleng. “Tidak. Aku nggak tahu bagaimana caranya. Aku hanya merasa kalau sihirmu barusan membuat kami berputar-putar di tempat. Seperti kucing mempermainkan tikus atau seperti polisi yang nggak ingin tersangkanya kabur.”
“Tepat sekali. Aku memang nggak ingin kalian kabur.”
“Kamu mengikuti kami?”
Ruberu tak menjawab. Matanya hanya terfokus pada Farrell. Tangan kirinya menuangkan isi kantung ke tangan kanan. Diangkatnya bola tersebut ke atas agar Farrell juga bisa melihatnya lebih jelas. “Batu ini hilang dari situs penggalian artefak seminggu yang lalu. Bagaimana benda ini bisa ada padamu, Farrell Eden?”
“Aku sudah bilang padamu. Itu bukan milikku. Itu milik Denise.” Farrell mengulang pernyataannya.
“Apa Denise adalah wanita yang berusaha membeli Eden’s Lodge?”
“Benar. Dia orangnya.”
“Kenapa benda ini ada padanya?”
__ADS_1
“Aku nggak tahu. Tapi, ada surat di dalamnya.”
“Denise membelinya darimu?”
“Tentu saja nggak! Baca saja suratnya, bukan aku yang memberinya.”
“Tadi aku sempat mendengar berita menarik mengenai seorang bernama Olivia. Olivia adalah saudara dari Emily. Emily merupakan salah seorang pegawai penginapanmu. Itu menjadikanmu secara tidak langsung atasan mereka. Mungkinkah Emily atau Olivia memberikan ini pada Denise atas perintahmu?”
“Apa? Perintahku? Aku bahkan baru ke Eden’s Lodge seteah bertahun-tahun. Aku juga baru tahu soal Olivia. Remy bilang dia sudah tewas.”
Ucapan Farrell membuat Remy menelan ludahnya keras-keras. “Beritanya memang seperti itu.”
Ruberu menyipitkan mata. “Sangat menarik. Baiklah. Denise mendapatkannya dari orang lain di situs penggalian sementara kamu mencuri darinya?”
“Aku nggak—” Farrell berhenti. Dia tidak mau disebut pencuri, tapi Ruberu ada benarnya. Farrell baru saja mengambil benda itu tanpa izin dari pemilik, entah itu Olivia atau Denise. Bagaimana pun, perbuatan Farrell bisa masuk kategori pencurian.
“Namaku Ruberu, seorang petugas dari kepolisian pusat. Aku ditugaskan untuk menangani kasus hilangnya artefak kuno yang belakangan ini makin menjadi-jadi. Kami menduga para penjarah menggunakan Eden’s Lodge untuk menyelundupkan barang-barang bersejarah ke dunia atas. Tindak kriminal tingkat tinggi. Apalagi portal sihir Eden’s Lodge tidak dijaga seperti portal lain yang menghubungkan dua dunia paralel. Jadi, wajar kalau aku curiga pada semua orang yang keluar masuk Eden’s Lodge. Terutama pada orang dalam. Seperti kalian.”
“A— Aku baru saja mengundurkan diri,” sahut Remy cepat. “Fa— Farrell baru tahu soal dunia sihir. Ka— Kami nggak bersalah. Sungguh.”
“Kalian bisa saja salah satu penadahnya.”
“Apa? Nggak. Su— Sungguh… Ka— Kami— Kami nggak terlibat.”
Selagi Remy gelagapan dengan tuduhan Ruberu, Farrell justru merasa sedikit lega. Setidaknya Ruberu polisi sungguhan. “Kami bukan penjarah, Ruberu. Tapi, kupikir kami bisa membantumu menangkap penjarah sesungguhnya.”
“Kenapa aku harus mendengarkan kata-katamu, Farrell? Kamu mungkin salah satu teman mereka.”
“Ruberu, penjahat nggak akan minta bantuan ke polisi. Padahal, aku ke kantor polisi kemarin untuk melaporkan pamanku dan Denise.” Farrell menunjuk bola di tangan Ruberu. “Lagipula, kalau aku benar penjarah, aku pasti sudah kabur dan nggak membiarkanmu mendapatkannya.”
__ADS_1
Ruberu tersenyum. “Permainan logika yang menarik sekalipun tidak sepenuhnya benar. Aku senang bertemu orang-orang pintar.”
Farrell tak berniat menanggapi ucapan lawan bicaranya.
“Akan kusimpan ini sebagai barang bukti.” Ruberu memasukkan bola kembali ke kantungnya. Kemudian, kantung tersebut disimpan di dalam coat hitamnya. Ruberu melangkah mendekat. Wajah dan tatapannya tak lagi memancarkan tekanan. Namun, Farrell juga tak bisa mengartikan apa arti raut wajah itu sekarang. Ruberu mulai berjalan santai sambil mengamati sekeliling. “Bariklah, Farrell. Kamu bisa cerita apa pun padaku. Saat ini, tempat ini diselubungi pelindung sihir buatanku. Tak ada yang bisa melihat dan mencuri dengar pembicaraan kita.”
Remy masih waspada. “Jadi kita terjebak dalam kubah sihir?”
Farrell berusaha bersikap lebih santai. Dia berjalan mendekati si polisi berambut panjang. “Aku butuh bantuanmu.”
“Menangkap Denise?” Ruberu berhenti, menanti Farrell lebih dekat.
“Menolong ibuku, itu prioritas saat ini. Denise membuat ibuku digigit laba-laba beracun. Dia ingin aku menukar sertifikat Eden’s Lodge dengan penawar. Aku hanya ingin Denise menepati janjinya.”
Ruberu mengernyit mendengar itu.
“Kenapa? Apa menurutmu dia nggak punya penawarnya?” Farrell menebak isi pikiran Ruberu.
“Entahlah, aku nggak bisa menebak pikiran orang.” Ruberu menyilangkan tangannya. “Tadi, kamu bilang kantung itu kamu ambil dari kamar Denise. Apa dia bagian dari para penjarah?”
Farrell berpaling ke belakang, melihat Remy. Spontan, Remy hanya bisa menggelengkan kepala sambil angkat bahu. Koki itu sama sekali tidak paham soal para penjarah. Farrell pun kembali melihat Ruberu. Sekarang hanya tinggal pada pemikirannya sendiri. “Ini hanya dugaanku,” katanya, sedikit ragu.
“Ceritakan!”
“Kurasa salah seorang pegawai Eden’s Lodge terlibat. Namanya Emily. Mungkin dia pelakunya atau mungkin hanya sekedar komplotannya atau mungkin hanya korban pemalsuan identitas. Dia punya saudara kembar bernama Olivia. Kata Remy, Olivia meninggal beberapa tahun lalu di situs penggalian. Kupikir bisa saja Olivia memalsukan kematiannya. Mereka sering bertukar tempat untuk menyelundupkan barang. Pegawai penginapan lain pernah melihatnya membawa barang-barang kuno seperti patung.”
“Teori menarik, Farrell. Jadi, pegawai penginapanmu terlibat? Tidakkah kamu berpikir aku bisa menangkapmu atas tuduhan melindungi penjahat?”
“Apa? Aku nggak—” Farrell menyerah pada berbagai tuduhan Ruberu. “Terserah. Kuambil risiko itu. Asal ibuku tertolong.”
__ADS_1