
Ruberu tersenyum lagi, sebuah senyum simpul. Entah menunjukkan sebuah ejekan atau rasa senang. “Nama Olivia memang tercantum dalam daftar korban penggalian situs bersejarah. Dia sebenarnya adalah salah satu anggota dewan sihir divisi penelitian. Dewan sihir memang sempat mencurigainya. Sayangnya, sebelum polisi memeriksanya, dia tewas.” Farrell dan Remy bertukar pandangan. Ruberu pun melanjutkan, “Dugaanmu mungkin ada benarnya.”
“Ini gila…” bisik Remy. “Aku bertemu Emily setiap hari dan nggak pernah menyadari kalau mereka ada dua. Kami kira dia hanya punya kepribadian ganda.”
Farrell memilih tidak menanggapi ucapan Remy. Sebenarnya Christo yang memberi tahu teman-temannya kalau Emily punya dua kepribadian. Kini Farrell menangkap kesan kalau Christo seolah ingin membantu menutupi identitas Emily. Bisa jadi portal pribadi yang diberikan Emily padanya adalah upah tutup mulut.
“Bagaimana dengan ayahmu?” tanya Ruberu lagi. Dia nampaknya juga tertarik memeriksa hal lain. “Aku yakin kamu juga bilang kalau dia nggak bersalah.”
“Ayahku bukan pembunuh. Apa kamu juga tahu mengenai kasus ayahku?”
“Nama Eden cukup terkenal di sini, Farrell. Apalagi setelah ayahmu terkena kasus. Siapa yang tidak tahu Alan Eden? Dia pemilik penginapan dengan portal menuju dunia atas. Penginapan istimewa. Suatu hari, pria gemuk menghubungi kepolisian dan minta tolong, katanya dirinya akan dibunuh. Saat polisi tiba di tempat, pria ini sudah tewas. Tewas di kamar penginapan Eden’s Lodge. Ayahmu, Alan Eden, berdiri di samping korban dengan tangan berlumuran darah. Nama korban Barren Trow. Apa nama ini berarti sesuatu untukmu?”
Farrell menggeleng. “Nggak.”
“Wajar saja. Kejadian ini sudah cukup lama.”
Farrell mengganti topik soal ibu. “Bagaimana dengan ibuku? Bisakah kamu membantuku?” sahut Farrell cepat.
“Perlu kuingatkan lagi, tuduhan yang kamu laporkan atas Denise adalah penyalah gunaan sihir. Itu perlu penyelidikan mendalam. Menangkap Denise tanpa bukti jelas mustahil.”
“Denise meracuni ibuku. Ibu bisa tewas kalau nggak dapat penawarnya tepat waktu. Aku berniat menuruti kemauan Denise tapi aku nggak yakin Denise akan menepati janjinya.”
“Kalau begitu, kusarankan lebih baik kamu cari penawar sendiri.”
Farrell tahu tak seharusnya mengandalkan Ruberu. Polisi tidak akan bergerak secepat keinginannya. Dia berada di posisi lemah, bukan siapa-siapa dan tidak memiliki apa-apa di sini. Bukan seperti Vincent. “Kamu tahu dimana Vincent Elioscavea? Mungkin dia bisa membantuku membuat penawarnya.”
“Aku berulang kali dengar namanya. Tapi, aku belum pernah bertemu langsung.”
__ADS_1
Harapan Farrell lagi-lagi pupus. Dia pun hanya bisa diam sekarang. Dalam hati kecilnya, ada keraguan kalau Denise punya penawar. Bukankah dari awal Denise ingin menghabisi keluarga Eden? Kalau itu benar, sekalipun Denise memang punya penawar, dia tetap tidak akan menyerahkan penawar pada mereka.
“A— Apa rencanamu sekarang, Farrell?”
Farrell hanya menggeleng pelan disertai desahan panjang. Pertama kali dalam hidupnya, dia merasa begitu tak berdaya. Jalan keluarnya memang hanya satu. Menyerahkan sertifikat dan percaya pada Denise. “Bukankah jawabannya sudah jelas?”
“Ka— Kamu akan menyerahkan Eden’s Lodge padanya?”
“Memangnya aku punya pilihan?” Farrell berkata lirih, seolah tak ingin mengucapkannya.
Remy menggeleng.
“Ngomong-ngomong… Sepertinya ada yang mencari kalian.” Ruberu menengadah ke atas kegelapan malam. “Burung malang ini terus berputar-putar di atas kita. Burung hantu putih peliharaan Eden’s Lodge.” Ruberu melambaikan tangan. Langit di atas mereka membuka sebuah lubang kecil. Setelah burung hantu putih masuk ke dalamnya, lubang kembali menutup seolah tak pernah ada di sana.
Mata Remy menangkap lebih dulu bayangan putih yang mendekati mereka. Seekor burung hantu. Dia kenal betul siapa itu. “Gizmo!” serunya. “Sebenarnya, Gizmo peliharaan Christo, bukan Eden’s Lodge.”
Gizmo terbang rendah ke arah Remy lalu mendarat di atas pompa air tak jauh dari posisi Farrell berdiri. Dia pun bergegas menghampiri lalu membuka gulungan surat di kaki burung hantu itu. “Dari William!” serunya lagi. Baris pertama surat itu membuyarkan seri-seri di wajahnya. Dia melemparkan pandangan pada Farrell yang balas menatapnya dengan cemas. “Kamu nggak akan suka ini,” bisiknya lirih. “Denise menyekap ibumu lagi. Jim dan Joe memukuli Christo. William bertanya… apa yang akan kamu lakukan?” Remy menyebutkan kalimat terakhir lebih pelan. Dia tak mau lebih membebani Farrell.
Farrell hanya menunduk, dia makin murung akibat berita tersebut.
Remy ikut menunduk. Dia membiarkan Farrell larut dalam pemikiran tanpa berani mengajaknya melanjutkan perjalanan. Berbeda dengan Farrell, dia tidak punya apa pun yang dipertaruhkan di sini. Hal yang menekannya hanya rasa bersalah. Tidak bisa disangkal kalau rencana Denise berjalan karena Remy menurutinya. Dia memang sudah minta maaf pada Farrell dan Farrell tampak tak mempermasalahkannya. Meski begitu, dalam hati kecilnya, Remy justru berharap Farrell marah besar atau malah memukulnya. Mungkin itu meringankan sedikit perasaan bersalahnya.
Selagi keduanya berpikir, Ruberu berdehem. “Jadi, Denise bukan hanya menyalahgunakan sihir, eh? Nampaknya sekarang dia sedang melakukan penculikan. Kupikir penyalahgunaan sihir dan penculikan adalah dua hal berbeda. Penculikan harus segera ditangani. Sekarang ceritanya jadi berbeda.”
Farrell menangkap maksud si polisi. “Kita bisa melaporkan Denise untuk hal berbeda.”
“Benar. Aku bisa membantumu mengubah laporan penyelidikan. Tapi, kita tidak bisa langsung menggerebek penginapan begitu saja. Denise punya sandera. Dia berbahaya dan bisa berbuat nekat. Kita harus hati-hati kalau mau menangkapnya.” Ruberu menunjuk kertas di tangan Remy. “Surat dari temanmu bisa jadi barang bukti sekalipun tidak begitu kuat.”
__ADS_1
Farrell menatap mata kelabu Ruberu. Dirinya yakin saat ini. “Kamu akan membantuku menolong ibu dan Eden’s Lodge.”
“Oh? Kenapa kamu berpikir begitu?”
“Kamu bilang ditugaskan menyelidiki artefak yang hilang. Itu kasus utamamu, bukan membantuku melindungi Eden’s Lodge.”
“Benar. Kasus utamaku adalah meringkus para penjarah yang telah mencoreng wajah dewan sihir.”
“Kalau benar artefak itu diselundupkan lewat portal sihir Eden’s Lodge, kamu nggak bisa membiarkan Eden’s Lodge jatuh pada Denise. Dia mungkin ada hubunganya dengan para penjarah. Memberikan portal sihir padanya akan mempermudah dirinya menyelundupkan barang-barang. Mungkin juga akan mempengaruhi tindak kriminalitas pada kedua dunia. Bukan begitu?”
“Seperti kubilang tadi, aku senang bertemu orang pintar.” Ruberu tersenyum lebih lebar. “Aku akan kembali ke markas. Akan kulihat apa yang bisa kulakukan, mulai dari membuat laporan soal Denise. Di mana aku bisa menemuimu setelahnya?”
“Bliss and Tea Room.”
“Kedai millik nyonya Bliss? Hmm… Kamu benar-benar diberkati.” Ruberu mengusap dagu runcingnya. “Kuharap kamu bisa diganggu setiap waktu.”
“Aku nggak berpikir bisa tidur malam ini.”
“Kamu harus tidur. Besok akan jadi hari yang sangat melelahkan.”
Farrell mengangguk pelan. “Terima kasih mau membantu kami, Ruberu.”
“Itu tugasku. Tapi, kuharap kamu tidak salah paham. Tidak semua hal datang dengan gratis. Ada syarat yang harus kamu penuhi, Farrell.”
“Syarat?”
“Ah, bukan syarat. Ini lebih kepada janji.” Ruberu meralat ucapannya sendiri. “Kalau kamu mau menanda tangani surat perjanjian denganku, aku akan membantumu.”
__ADS_1