The Way Back Home

The Way Back Home
Prison


__ADS_3

Farrell mengikuti Christo menyusuri jalan kota. Christo memimpin mereka berjalan melewati jalan besar, lalu berbelok ke gang kecil, melewati sungai, kemudian kembali ke jalan besar. Farrell tak mengingat arahnya. Pikirannya campur aduk dan sekarang perutnya ikut-ikutan.


“Kita sampai.”


Ucapan Christo mengejutkannya. Dia mengira mereka telah sampai di tujuan, namun ternyata belum. Mereka berada di taman. Jalanannya disusun dari batu. Bagian tengah taman merupakan suatu ruang luas. Kursi taman tertata di keempat sudut berjauhan memberi ruang kosong. Susunan batu pada bagian tengah ini bervariasi dan tersusun dalam bentuk ornamen. Tepat di tengah, ada sebuah podium batu kecil dengan potongan batu merah di atasnya. Pengunjung taman tak banyak. Hanya ada beberapa orang saja. Mereka sekadar lewat atau santai menikmati suasana taman di pagi hari.


“Kukira tadi kamu bilang ayahku ada di penjara,” kata Farrell pelan, separuh berbisik.


“Oh, memang. Tapi, kamu nggak berpikir kita akan berjalan ke sana, bukan? Penjara ada di ibu kota. Jaraknya ratusan kilometer dari sini.” Christo melepas sarung tangan kirinya dan memasukkan ke dalam saku jaket hitam. Kemudian, dia menyentuh batu merah dengannya. Batu merah itu sedingin es.


“Batu apa itu?” tanya Farrell.


“Batu ini menunjukkan portal sihir. Saat warnanya hijau, berarti portal aktif dan bisa digunakan. Saat ini, kita berada di portal yang menuju ke ibukota. Dewan sihir menyediakan portal buatan ini di setiap kota. Mereka membuat podium dan meletakkan batu ini di atasnya agar bisa diakses siapa pun. Gratis dan tidak perlu mantra. Tinggal putar, tunggu warnanya berubah, dan kita akan berpindah.” Dengan satu gerakan mudah. Christo memutar batu.


Saat itu, batu tak lagi berwarna merah. Sesuatu bergerak-gerak di dalamnya. Bentuknya seperti asap yang menari-nari. Mereka meliuk naik lalu turun ke bawah berputar lalu lenyap. Tak lama, hal tersebut terjadi lagi. Farrell pernah melihat fenomena itu sebelumnya. Tepat di pintu Eden’s Lodge yang menghubungkan kedua dunia. Pintu tersebut memiliki batu yang sama persis.


Tak lama, Farrell merasakan perubahan udara di sekelilingnya. Suatu hembusan angin muncul dari bawahnya. Dia yakin melihat salju di sekitarnya ikut terangkat. Lebih tepatnya, semua yang berada di atas ornamen selebar dua meter ikut terangkat. Meski begitu, tekanannya tak cukup kuat untuk membuatnya dan Christo melayang. Lalu, ada pula sensasi aneh terasa di kupingnya selain suara desiran asing. Dan, matanya juga. Farrell merasa pandangannya kabur. Perutnya terasa makin campur aduk. Badannya merinding karena hawa dingin. Lalu, semua lenyap.


Farrell mengerjap tak percaya. Pemandangan di depannya berubah total. Dia tak lagi melihat taman dan bangku-bangkunya, tak ada pepohonan serta salju, tak ada jalanan berbatu. Di depannya, terhampar jalan kelabu mulus bagian dari gang kecil buntu.


Chirsto memimpinnya keluar dari gang. Kini, mereka bisa melihat kemegahan ibukota. Gedung-gedungnya  megah. Tinggi juga lebar. Dinding-dinding kokoh berukiran aneka warna, putih, gading, coklat, marmer, dan ada satu gedung hitam di ujung jalan. Farrell tak suka warnanya. Dia lebih tak suka lagi karena Christo mengajaknya menuju ke sana.

__ADS_1


Mereka berjalan di trotoar lebar bersama orang-orang lain. Lalu lalang cukup padat di sini. Berbeda dari taman tadi, orang-orang berjalan cepat. Mereka terlihat sibuk dengan urusan masing-masing. Kondisi ini mengingatkan Farrell pada sibuknya kota metropolitan di pagi hari. Tak sedikit orang yang membawa berkas dan berlari-lari kecil. Christo memilih melepas kedua sarung tangan karena cuacanya lebih hangat. Farrell pun mengikutinya.


Saat mengadah ke atas, Farrell melihat gelombang asap yang bergerak cepat. Mereka seperti ditembakkan dari sebuah cerobong. Satu asap mendarat tak jauh di depannya dan berubah wujud jadi manusia. Di sisi lain, Farrell melihat seorang pria bertopi tinggi sedang berjalan di atas mereka, melayang. Di sudut sana, ada wanita menunggangi burung. Mungkin itu cara yang benar untuk menunggangi burung hantu. Ngomong-ngomong soal Gizmo, Farrell belum melihatnya sejak mereka keluar dari penginapan. Namun, dia tak berniat menanyakannya. Ada hal lebih penting untuk diurus saat ini.


Christo tiba di depan gedung persegi hitam kelam. Tak ada jendela, tak ada penjaga, hanya pintu lebar dari kaca. Christo mendorongnya dan mereka tiba di ruang depan penjara dunia sihir. Farrell tak tahu apa yang bisa dia harapkan. Berbeda dengan kemegahan kota di luar, tempat itu sederhana. Ruangannya tak begitu besar. Ubin putih polos, meja kayu, kursi tanpa bantalan, petugas berseragam dan bertopi hitam di balik jendela berjeruji di ujung.


“Kami mau mengadakan kunjungan,” kata Christo pada si petugas.


Petugas melirik jam tangannya dan bertanya, “Nama?”


“Dia Farrell Eden,” kata Christo lagi sambil menunjuk Farrell. “Dia ingin menemui ayahnya.”


“Nama?” si petugas bertanya kembali.


“Bukan! Nama orang yang ingin ditemui. Aku tak peduli siapa kalian,” jawabnya tak ramah. Si petugas ini punya postur badan bagus sekalipun kurus. Wajahnya keriput termakan usia dan ada bekas luka memanjang di pipi kiri. Potongan rambutnya cepak, tersembunyi di balik topi.


“Alan Eden.”


Si petugas diam sebentar sebelum menyemburkan tawa. “Eden? Kalian keluarga pemilik hotel itu?”


“Dia anaknya, aku hanya pegawai.”

__ADS_1


“Hahaha… Nggak kusangka setelah sekian lama, akhirnya ada anaknya yang mau mengunjungi dia.” Si petugas berdiri, tingginya sedikit di atas Christo. Dia membawa kunci di tangan kanannya. Sementara tangan kirinya menunjuk Farrell. “Nak, ayahmu banyak cerita tentang keluargamu pada tahanan lain. Kamu tahu apa yang dikatakan mereka padanya? Omong kosong! Hah! Tak seorang pun anaknya mau datang padanya. Hari ini pasti akan turun hujan.”


“Aku—” Farrell mengatupkan mulutnya setelah meloloskan satu kata. Dia keberatan dengan ucapan si penjaga tapi sayangnya tak tahu di mana letak keberatan tersebut. Dia juga tak punya satu alasan pun untuk membantah.


Si penjaga keluar dari posn dan menuju lorong di samping ruangan. “Ikut aku!”


Farrell menelan ludahnya, cemas.


Christo menepuk bahunya. “Aku nggak tahu apa kalimat ini cocok, tapi… semoga beruntung.”


Farrell mendesah. Dia mengambil langkah pertama dan mengikuti si penjaga. Mereka menyusuri lorong panjang kelabu tanpa celah. Hanya lampu putih di atasnya yang memberikan sinar di sana. Si penjaga berbelok ke kanan, lalu ke kiri, dan kanan lagi. Si penjaga berhenti di tengah lorong. Lorong ini unik, sisi kanannya terbuat dari kaca hitam pekat sementara sisi kiri dinding kelabu seperti lainnya. Si penjaga menjentikkan jari. Entah darimana datangnya, kini ada kursi di dekat kaki Farrell.


“Tunggu di sini,” kata si penjaga.


Farrell duduk menghabiskan waktu beberapa menit dalam keheningan. Kecemasannya naik tak terbendung ditemani ketakutan serta kebingungan. Farrell tak sadar sudah meremas tangannya sendiri. Saat sadar, tangannya memerah dan si petugas sudah kembali.


“Waktumu sepuluh menit. Tak ada pembicaraan soal rute strategi pelarian. Aku akan memanggangmu hidup-hidup kalau berani mencoba melepaskan tahanan. Paham?”


Farrell tak menjawab, hanya mengangguk.


“Bagus.” Si penjaga menjentikkan jari lagi.

__ADS_1


Kini, dinding hitam pekat lenyap digantikan dinding kaca transparan dari ujung bawah hingga ke atas. Farrell melihat sosok pria tua duduk persis di depannya. Seperti paman, tapi lebih kurus. Rambutnya berantakan dan jenggotnya serta kumis tubuh jarang, seolah dipotong sekedarnya. Matanya berkantung dan kulitnya berkerut. Pakaiannya hanya kaus dan celana panjang lusuh juga sepatu kusam. Farrell tak percaya siapa yang ada di depannya saat ini.


__ADS_2