The Way Back Home

The Way Back Home
Pocket Watch


__ADS_3

Farrell bisa merasakan segala sesuatunya berjalan begitu cepat. Matanya terpejam erat. Salju menggores pipi dan keningnya. Tubuhnya berputar tanpa arah. Saat berhenti, Farrell merasakan kaki dan tangannya kelu karena lelah dan tegang. Dia ada di sisi lain yang penuh dengan pohon. Kali ini, deretan pohonnya lebih rapat dibandingkan sebelumnya. Dia ada di dasar lembah dengan para serigala di atas.


Para serigala belum kehilangan minat padanya. Farrell pun mau tak mau harus berlari lagi. Dia memaksakan kakinya bergerak sekalipun tak sanggup. Dia hanya mampu berlari pelan lalu terjembab lagi. Farrell tak punya pilihan selain berbalik dan menghadapi para pemburunya. Serigala berhenti ketika melihatnya berbalik.


Farrell menarik salah satu dahan pohon terdekat dengannya. Dia menjadikannya sebagai senjata. Farrell tahu tongkat itu tak akan menyelamatkannya. Setidaknya, sekarang dia punya senjata. Serigala pertama melompat padanya, Farrell tak sanggup menghindar. Dia bahkan tak punya tenaga untuk mengayunkan dahan di tangannya. Serigala tersebut jatuh di atas tubuhnya. Ini memaksa udara keluar banyak dari paru-parunya. Dada dan perutnya sesak karena tertindih serigala. Untung saja, Farrell masih sempat menahan mulut serigala dengan dahan. Kalau tidak, dia pasti sudah tergigit.


Dengan sekuat tenaga, dia mendorong dahan dan berusaha menjauhkan serigala dari dirinya. Sekalipun, dia tahu itu sia-sia. Tenaganya mulai sirna. Matanya berair dan kepalanya pusing. Farrell tak tahu apa lagi yang dia harapkan.


Namun, justru saat itulah, Farrell melihat sesuatu berwarna hijau neon bergerak dekatnya. Entah bagaimana, tapi para serigala itu seolah ketakutan karenanya. Mereka menggeram. Serigala di atas Farrell beralih dari badannya dan mundur perlahan.


Farrell bangun dan terbatuk-batuk. Dia menarik udara sebanyak yang dia bisa untuk menggantikan yang tadi keluar. Padangannya kabur karena kepala yang pusing serta rasa takut. Dia perlu beberapa saat untuk menormalkan pandangannya. Farrell baru menyadari kalau warna hijau neon tersebut berasal dari Christo. Christo sedang berjalan padanya dengan membawa sebuah bandul. Bandul tersebut tak lain adalah jam saku yang biasa dikenakan Christo. Sekarang, jam tersebut berkilau seolah memancarkan fosfor di dalamnya.


“Christo?”


Christo tak menjawab. Dia membantu Farrell berdiri lalu mengajaknya berjalan meninggalkan para serigala. Serigala tak lagi berniat mengejarnya. Mereka diam di posisi sambil mengawasi kedua pemuda itu berjalan pergi begitu saja.


Farrell dan Christo naik ke atas bukit. Farrell bisa merasakan sekujur badannya lemas. Dia berhenti dengan tangan bertumpu pada salah satu pohon. Dia sempat berpikir kalau Christo akan meninggalkannya lagi, tapi ternyata tidak.


“Maafkan aku. Kamu nggak apa-apa?” Christo bertanya.


“Hanya lelah…” Farrell bicara dan menyembulkan asap putih tipis dari mulutnya.


“Kurasa bercandaku barusan agak keterlaluan.”


“Bercanda?” Farrell nyaris tak percaya kata yang baru saja diucapkan Christo padanya. “Apa maksudmu? Kamu tadi sengaja meninggalkanku?”


“Ya, semacam itulah.”

__ADS_1


Farrell tak tahu harus bicara apa. Dia mengawasi Christo bergerak beberapa langkah di sampingnya dan melihat ke lembah di bawah.


“Aku juga jatuh di sana,” kata Christo. “Ini adalah tempat ayahmu menyelamatkanku dari para serigala.”


Farrell mengernyit.


“Ayahmu pernah menyelamatkanku di sini, seorang anak entah dari mana. Ayahmu sangat baik. Dia khawatir setengah mati padamu, Farrell. Karena itu, kupikir kalau kamu paham bagaimana rasanya diselamatkan dari kumpulan serigala oleh orang asing, kamu akan paham betapa baiknya ayahmu. Mungkin dia nggak mau mengakui kalau bukan ayah kandungmu karena dia memang tidak mau. Maksudku, dia tak peduli dengan itu dan menganggapmu sebagai anak kandungnya sendiri.”


“Tapi…” Farrell berhenti. Sebenarnya apa yang dia inginkan? Pengakuan dari ayah kalau mereka memang tidak punya hubungan darah? Permintaan maaf ayah karena selama ini menyembunyikan kenyataan kalau mereka tidak sedarah?


“Bagaimana denganmu?” Christo bertanya lagi.


“Bagaimana denganku?”


“Apa kamu sudah nggak menganggap Alan Eden sebagai ayah?”


“Apa hubungan darah sepenting itu untukmu?”


“Bukahkah seharusnya begitu?”


“Lebih penting dari kasih sayang?”


Farrell terdiam. Tidak. Dia jelas tahu jawaban pertanyaan tersebut. Tanpa mampu dia tahan, Farrell merasakan sesuatu yang panas mengalir dari matanya, menuruni pipi, dan jatuh ke dagu. Dia menggelengkan kepala perlahan. Tenggorokannya sakit dan tercekat. Kalau memaksa bicara, suaranya pasti tidak karuan.


“Kurasa banyak orang berharap ada di posisimu saat ini. Banyak orang yang tak punya keluarga di luar sana. Kamu punya satu. Ayah yang menyayangimu, ibu yang selalu menunggu di rumah, dan saudara yang memerlukanmu saat ini. Kamu di sini karena suatu alasan.”


Farrell masih tak sanggup bicara. Dia juga tak sanggup menghentikan air matanya. Dia hanya mampu berpaling agar Christo tak melihatnya. Farrell berpaling ke arah pohon sementara Christo masih memandangi lembah di bawahnya. Farrell membiarkan dirinya jatuh. Wajahnya masih menghadap ke pohon dan satu tangannya masih tertahan di sana sebagai tumpuan.

__ADS_1


Christo tak lagi bicara. Mereka membiarkan keheningan melingkupi selama beberapa saat.


Hingga akhirnya Farrel berhasil menenangkan diri. Dia pun memecah keheningan dengan pertanyaan, “Bagaimana caramu mengusir para serigala?”


Christo duduk menghadap lembah. Dia merogoh kantung dan mengambil jam sakunya kembali. “Berkat jam saku dari ayahmu juga sedikit bantuan dari penjaga pintu gerbang. Mereka menuliskan mantra sementara di sini dan membuatnya jadi jimat anti serigala. Sayangnya, efeknya hanya bertahan paling lama dua belas jam.”


Farrell sendiri duduk bersandar di pohon. “Kamu percaya kalau segala sesuatu ada untuk suatu alasan?”


“Ya, tentu saja.”


“Apa menurutmu aku ada di sini sekarang untuk menyelamatkan Eden’s Lodge?”


Christo menggeleng. “Kamu di sini untuk menyelamatkan adik-adikmu, bukan Eden’s Lodge.”


“Apa menurutmu ayahku lebih memilih keluarganya daripada penginapan?”


“Kamu serius bertanya? Apa menurutmu orang yang memilih menyelamatkan seorang anak asing dari serigala akan memilih benda mati dan uang ketimbang anak-anaknya?”


Farrell mendengus geli. “Kalau segala sesuatu tercipta untuk suatu alasan, menurutku kamu ada di sini untuk menyadarkanku banyak hal.”


“Aku sudah bilang, aku di sini hanya untuk membantu. Tapi, semua keputusan ada di tanganmu, Farrell.”


Farrell menghela napas panjang. Dia menatap ke langit dan tersenyum. “Aku akan kembali pada ayah dan minta maaf padanya. Itu sudah pasti. Lalu, aku harus kembali ke Eden’s Lodge untuk menyelamatkan Milo dan Libby. Aku nggak sadar betapa merindukan mereka.”


“Langkah pertama masih mudah dilakukan, tapi kita masih perlu rencana untuk langkah kedua.”


“Ah, soal itu, apa kamu pernah dengar nama Elioscavea?”

__ADS_1


__ADS_2