
Milo mengerjapkan mata. Dirinya berusaha memahami di mana posisi mereka. Dia berada di sebuah ruangan besar dipenuhi meja dan kursi. Jendela besar tak bertirai menunjukkan pemandangan menakjubkan. Matahari baru saja terbit. Sinar keemasan menyinari awan dengan warna yang memukau. Sayangnya, mereka tak punya waktu untuk menikmati semua keindahan tersebut. Milo tahu dirinya harus berlari ke sisi penginapan yang lain.
“Cepat, Farrell!” pintanya.
Farrell baru keluar dari lorong rahasia. Milo berlari lagi. Mereka berlari bersama dalam gedung yang berguncang tanpa arah. Milo tidak tahu mana arah ke penginapan bagian Selatan, tapi dia tahu telah berlari ke arah yang tepat karena guncangan semakin lama semakin pudar. Tak lama setelahnya, dia mendapati lorong sama yang tadi mereka lewati. Ini adalah lorong dari perempatan antara sisi Utara dan Selatan.
Milo mencapai perempatan lebih dulu. Ketika dia berbalik, dia bisa melihat reruntuhan mengejar kakaknya. “Cepat, Farrell! Cepat, cepat!”
SKREEEEE!
Suara elang menggema di depan. Sepasang burung predator tersebut menghampiri mereka. Milo mengenali Bailey dan Barney. Keduanya terbang berputar sebentar sebelum berbalik ke arah kedatangan mereka. Tak sempat bertanya-tanya, Milo memilih mengikuti elang tersebut.
Mereka berlari lagi hingga benar-benar tiba di tempat aman. Bukan lobby. Farrell tak mengenali sisi penginapan ini. Sebuah lorong panjang sepi terbentang di depannya. Deretan jendela berbaris rapi pada satu sisi. Pada sisi lain, terdapat beberapa pasang kursi mengapit meja. Ada pula pot-pot besar berisi tanaman hias. Dia tak begitu peduli di mana posisi mereka. Badannya lelah bukan main. Dia mendudukan Christo di lantai. Si pegawai duduk bersandar pada dinding, bergeming, dadanya naik turun cepat. Bailey dan Barney terbang ke atas, hinggap pada salah palang kayu atap.
William berlari berjinjit dari ujung lorong lain. “Kukira kalian sudah tewas! Syukurlah!” Dia menunduk pada Christo. “Kita harus mencari penawar untuk Christo dan ibumu. Mereka nggak akan bertahan lebih lama lagi.”
“Sebenarnya kami sudah dapat. Tapi, kata Christo ini hanya dosis satu orang,” bisik Farrell.
Milo mendudukan ibu di salah satu kursi yang ada di sana. “Kita mungkin bisa membagi penawarnya,” sahut Milo. “Maksudku, kita bisa beri mereka masing-masing separuh dosis. Nanti kita baru mencari penawar selanjutnya.”
“Aku nggak yakin mereka akan bertahan selama itu.” William melirik Christo, namun berbisik pada Farrell. “Christo pasti menyuruhmu memberikan penawar pada ibumu.”
Farrell tak ingin menjawab pertanyaan itu. Kemudian, dia meletakkan telunjuknya di bibir. “Kamu dengar itu? Ada suara teriakan. Suara bibi Melanie! Mungkinkah Denise—”
“Denise berniat menghabisi paman dan bibimu begitu transaksinya selesai. Kupikir Denise hanya butuh tanda tangan pak Albert,” ujar William. “Mungkin sekarang transaksinya sudah selesai.”
__ADS_1
Farrell tak tahu apakah dia siap dengan segala berita buruk ini.
“Benar sekali. Kalian selanjutnya!”
Farrell tak percaya siapa yang muncul dari ujung lorong tempatnya datang tadi. Seorang perempuan mengenakan seragam pegawai Eden’s Lodge berjalan pada mereka. Ada sebuah bola merah membara lengkap dengan lidah-lidah api melayang di atas tangan kanannya. Ini pertama kalinya Farrell melihat bola api sungguhan. Dalam sekali lihat, dia juga tahu kalau itu bukan Emily melainkan Olivia.
“Tunggu!” sahut William. “Kamu juga ingin membunuhku, Emily?”
“Dia bukan Emily, dia Olivia.”
“Apa? Tapi, Olivia sudah mati.”
“Olivia memalsukan kematiannya. Dia dan Emily sering bertukar tempat. Mereka bekerja sama menyelundupkan barang jarahan menggunakan portal Eden’s Lodge. Mereka bahkan punya kaki tangan di dunia normal. Apa aku benar?”
“Bisnis keluarga?”
“Benar sekali. Ayahku sampai harus pura-pura mati pula untuk membuat ayahmu dipenjara.” Olivia menggelengkan kepala sambil berdecak.
Farrell merasakan tangannya terkepal. “Barren Trow! Dia ayahmu?”
“Itu namanya sekarang. Dia tinggal di dunia atas.” Olivia melangkah maju. William dan Milo mundur perlahan. Sementara Farrell bergeming, Olivia berkata, “Aku masih ingat dia menggunakan cairan sihir berbau aneh untuk memancing ayahmu datang. Alan, ayahmu, mulai mencurigai aktivitas kami waktu itu. Kamu harus bersyukur kami tidak menghabisinya.”
“Kamu… Kalian penjahat sesungguhnya!”
Olivia tertawa lagi. “Mau tahu hal yang lebih lucu lagi? Christo tidak pernah mengira kalau kami yang membuat idolanya dipenjara. Cukup dengan satu portal pribadi saja, dia memilih tutup mulut. Dia percaya saat kubilang aku harus merahasiakan identitas karena tuntutan dewan sihir. Sangat polos.”
__ADS_1
“Kamu keterlaluan! Kamu memanfaatkan Christo!”
“Siapa memanfaatkan siapa? Christo menggunakan portal untuk menemui ayahmu.” Olivia menatap Farrell lekat-lekat. Dia sungguh-sungguh kali ini. “Aku melakukan apa pun untuk keluargaku. Bukankah sama denganmu? Kamu melakukan banyak hal untuk keluargamu dengan menanggung semua risiko. Bahkan, kamu terus melakukannya sekalipun tahu kalau tidak punya hubungan darah dengan mereka. Farrell, aku yakin kamu akan melakukan hal sama kalau ada di posisiku—”
“Nggak!” tukas Farrell. “Aku di sini untuk menghentikan pamanku. Aku nggak mendukung perbuatan jahatnya! Aku justru ingin membuka matanya.”
“Benar. Harus kuakui aku salut padamu. Kamu berbeda jauh dengan Albert. Pamanmu lebih mencintai uang daripada keluarganya. Denise juga. Dia akan jadi partner kerja sempurna bagi kami.”
“Cepat atau lambat, kejahatan kalian akan terungkap.”
“Mungkin. Karena itu, aku harus menghentikannya.” Olivia tersenyum. “Sebenarnya, aku menyesal telah menolak saran ayah untuk membunuh kalian. Harusnya kubunuh kalian sejak awal. Sekalipun penginapan ini tidak jadi milik kalian lagi, kalian tetap berbahaya bagi kami. Kupikir aku terlalu meremehkanmu, Farrell. Aku nggak menyangka kalau kamu bisa tahu sejauh itu. Mengagumkan dan berbahaya. Maaf. Kamu akan jadi korban pertama!”
“Berlindung!” seru Farrell.
Perintah tersebut jelas lebih mudah diucapkan daripada dilakukan. Tidak banyak benda yang bisa digunakan untuk berlindung di sana. Memang ada beberapa pasang kursi dan meja juga pot tanaman hias. Apa artinya dibandingkan sihir bola api Olivia?
Kebalikan Farrell, William justru berteriak. “Remy! Sekarang!” Entah dari mana, deretan wajan melesat berterbangan. Wajan-wajan besar tersebut berbaris rapi, mereka jadi perisai sempurna bagi bola api Olivia. Bola api pun meledak ketika mengenai peralatan dapur tersebut. Deretan wajan ini hangus berlubang lalu jatuh berserakan ke tanah.
“Menunduk!” William berteriak lagi.
Berikutnya, kumpulan pisau melesat berterbangan. Mulai dari pisau dapur hingga pisau roti. Mereka mengarah lurus pada Olivia. Merasa terancam, gadis itu pun terpaksa kabur. Deretan pisau menancap ke dinding yang dia lewati.
Saat pisau habis, Olivia buru-buru berbalik. Dia siap menyerang lagi. Namun, belum sempat melakukan apa-apa, Olivia bisa merasakan tangannya ditarik ke belakang punggung. Badannya didorong jatuh ke tanah. Dia pun tak bisa melakukan apa-apa. Berbalik untuk melihat siapa pelakunya pun juga tidak bisa.
“Olivia Farmel, kamu ditangkap atas penipuan dan pencurian. Kusarankan kamu bekerja sama dengan kami. Aku yakin daftar kejahatanmu lebih banyak dari itu!”
__ADS_1