The Way Back Home

The Way Back Home
Two Side


__ADS_3

“Kamu bisa membuat ramuan obat tidur?” lanjut Farrell.


Remy mengedikkan bahu. “Mungkin… Aku memang menyimpan beberapa bahan ramuan sihir. Aku… Aku pernah… mencobanya sekali… Maksudku, mencampurkannya ke dalam makanan. Lalu… Lalu, hasilnya tidak seperti yang kuharapkan…”


“Tunggu sebentar. Jangan-jangan kamu memasukkan ramuan sihir ke dalam Volcano Pie dan membuat beberapa pelanggan keracunan dulu. Kasus yang hampir membuatmu dipecat itu ternyata bukan karena bahannya tertukar dengan jamur beracun? Ya ampun, Remy! Ramuan apa yang kamu masukkan ke dalamnya!?” Christo melotot.


“Ehm… Volcano pie juga dibuat dengan ramuan, ‘kan. Ka— Karena itu kita bisa mengatur kepedasannya dengan mantra pialovovi. Ja— Jadi kupikir aku bisa memasukkan ramuan lain ke dalamnya. Aku… Aku memasukkan ramuan penghangat untuk tambahan… Se— Seharusnya ramuan itu menjaga makanannya tetap hangat. Ja— Jadi… Jadi kupikir kalau memasukkan ramuan ke dalam Volcano Pie, rasanya akan lebih enak…”


Christo menepuk dahinya. “Perbuatanmu sangat ceroboh! Ramuan volcano pie itu kita beli dari supplier. Tingkat keberhasilannya dijamin.”


“A— Aku tahu, aku tahu! Ku— Kumohon, jangan beritahu pak Albert. A— Aku nggak mau dipecat.”


“Kalau aku mau kamu dipecat, aku nggak akan membelamu waktu itu. Seandainya pun sekarang aku mau membuatmu dipecat, memang kamu pikir aku bisa melakukannya? Pak Albert pasti lebih memilih memecatku daripada kamu.”


Remy menunduk, takut kena omelan susulan dari Christo.


“Oke. Kembali ke ramuan tidur… Remy, apa kamu bisa membuatnya?” tanya Farrell setelah obrolan Remy dan Christo yang melenceng dari pembicaraan awal.


Remy mengangguk. “Aku… pernah memberikannya pada tupai dan dia… tertidur. Kurasa itu berhasil. Dan… Se— sebenarnya… aku masih menyimpan sisa ramuan yang kubuat waktu itu.”


“Kamu seharusnya bilang ini lebih awal!” sahut Christo jengkel.


“Ma— Ma— Maaf… Jadi… apa aku masih perlu mengantar teh supermoon pada pak Albert dan Denise?”


Farrell terdiam lagi. Pikirannya menyusun dengan rapi rencana tersebut. Bayangan-bayangan kejadian silih berganti terputar di otaknya. Hingga akhirnya, dia berkata, “Kita perlu mengubah sedikit rencana.” Farrell menoleh ke Christo sekarang. Meski merasa tidak enak, Farrell tetap melanjutkan, “Aku butuh bantuanmu sebagai umpan. Tapi, ini cukup berbahaya.”


“Hei, kami ini pegawai ayahmu. Berarti kami juga pegawaimu. Cukup berikan perintah saja. Benar, ‘kan, Remy?” tanya Christo yang dijawab anggukan pelan Remy.

__ADS_1


Farrell tak mampu tersenyum. Kecemasan memenuhi benaknya lebih daripada kelegaan menemukan teman yang setia. Dia malah mengepalkan tangannya secara tidak sadar. Kemudian, barulah dia menjabarkan kembali rencananya. “Remy, aku ingin kamu menyiapkan jamuan teh di lobby bawah juga camilan untuk Jim dan Joe. Semuanya harus diberi ramuan obat tidur. Lalu, pergilah pada paman dan Denise. Tunjukkan kotak teh beserta jam tanganku. Suruh mereka turun ke lobby. Selanjutnya… Christo, kamu yang akan menggantikan nyonya Bliss untuk minum teh bersama mereka. Temui mereka dan katakan kalau kamu menangkapku. Kamu mau menyerahkanku asal ditukar dengan uang. Paman dan Denise suka permainan seperti ini, jadi kita berikan pada mereka.”


“Peranku kedengaran cukup menantang.” Christo malah tersenyum simpul.


“Itu kedengaran berbahaya untuk sebuah peran…” bisik Remy.


“Nggak juga, asal ramuan obat tidurmu benar-benar bekerja dengan baik. Bagaimana Farrell, apa kamu percaya pada kemampuan Remy mengolah ramuan?”


Farrell tahu seharusnya dia tersenyum. Namun, hatinya masih berdebar di tengah kecemasan dan keraguan. Dia hanya mampu menatap Remy dan berkata, “Aku percaya kamu bisa membuat ramuan obat tidur yang ampuh seperti membuat maple chocolate bar yang enak.”


“Su— Sungguh?” Remy menatap Farrell dengan mata melebar.


Melihat itu, Farrell merasakan ketegangannya sedikit merosot. Dia mengangguk dan tersenyum. “Terima kasih sudah membuatkanku chocolate maple bar tanpa kelapa. Rasanya sangat enak. Aku suka.”


Remy tersenyum lebar mendengar itu. “A— Aku benar-benar merasa terhormat.


“Kamu bisa jadi koki yang hebat, Remy. Atau peramu. Tapi, kalau boleh jujur, aku lebih suka kamu jadi koki. Lebih bagus lagi kalau kamu nggak meracuni siapa pun,” gumam Farrell lirih.


Remy masih tersenyum. Dia pun mulai menyiapkan berbagai macam peralatan. Farrell dan Christo mengamati pekerjaanya. Dia menjerang air, menyiapkan teko dan cangkir, lalu mengelurkan pie dan cake coklat dari kulkas. Dia menatanya pula di atas piring tiga tingkat yang biasa digunakan untuk jamuan teh. Mereka melayang ke posisi yang diingkan Remy tanpa perlu bicara. Seolah semuanya dikontrol oleh pikiran semata. Dengan cara seperti itu, Remy bisa menyiapkan jamuan teh seorang diri.


Setelah menyiapkan camilan dan teh, dia keluar untuk menata meja.


“Sebenarnya, berapa pegawai yang dipekerjakan di sini?” tanya Farrell selagi menunggu semua disiapkan.


“Empat.”


“Empat puluh orang?”

__ADS_1


“Empat orang.”


“Empat orang? Serius?”


“Emily di bagian reservasi, Remy di dapur, William mengurus bagian luar, dan aku bagian dalam. Ah, aku lupa menyebutkan ketiga peliharaan kami. Dua seharusnya. Bailey dan Barney bekerja untuk penginapan. Gizmo bukan peliharaan resmi. Belum. Sementara ini, dia masih peliharaan pribadiku.”


“Kamu nggak pernah cerita soal Emily.”


“Dia berbahaya.”


“Dia kelihatan seperti perempuan biasa yang suka menggigit bibir.” Farrell memang tidak pernah berbincang langsung dengannya. Emily hanya pernah sekedar menyapanya atau memberikan info. Di mata Farrell, Emily kelihatan biasa saja, jauh dari kata berbahaya.


“Emily punya dua kepribadian.”


“Hah?”


“Dia bisa mendadak baik di satu hari dan jahat di hari lain. Perubahannya sangat ekstrim. Menurutku, dia hanya menggigit bibir saat sedang baik. William, Remy, dan aku menyadari itu. Jadi, kami memilih menjauh saja darinya demi keamanan. Saat dia sedang baik, Gizmo bahkan mau bertengger di tangannya. Tapi, saat sisi jahatnya muncul… Dia jadi sangat dingin, cuek, mendadak malas mengerjakan sesuatu, dan hanya mondar-mandiri dekat pintu portal. Aku penasaran apa perbatasan dua dunia ini yang membuatnya seperti itu.”


“Aku nggak pernah belajar soal kepribadian ganda… tapi kedengarannya menarik.”


Christo mengangguk. “Sangat menarik juga menyeramkan. Dia bisa suka dengan stawberry shortcake di satu hari dan membencinya keesokan harinya. Di satu hari, dia menata bunga di ruang makan bersama Remy sambil bersenandung dan di hari lain membawa-bawa patung batu seram sambil celingak-celinguk. Saat sisi jahatnya keluar, dia selalu membuatku merinding.”


“Patung batu? Aku nggak melihat patung batu di sekitar sini.”


“Memang nggak. Kami nggak memajang patung batu di sini. Ayah dan pamanmu nggak suka dengan patung. Jadi, kami hanya memajang beberapa lukisan saja. Ah, tidak. Pamanmu nampaknya juga tidak suka lukisan atau barang seni. Mungkin patung itu milik pribadi Emily yang dia koleksi di kamarnya. Apa aku sudah pernah cerita kalau semua pegawai tinggal di sini?”


“Aku bisa menebak. Tapi, untuk apa Emily menyimpan patung batu di kamarnya?”

__ADS_1


Christo angkat bahu. “Entahlah. Kamu nggak bisa menebak hobi seseorang.”


Farrell tak mau menerka lebih jauh, tapi pembicaraan ini mengingatkannya pada para penjarah.


__ADS_2